Pengantin Tuan Ashoka

Pengantin Tuan Ashoka
Terheran-heran


__ADS_3

Sepulangnya dari sekolah, Ayu mengajak Ayna untuk menyambangi toko buku yang tidak jauh dari sekolah. Seperti yang dipikirkan kemarin malam, bahwa ia ingin membeli beberapa buku untuk diri sendiri dan buku mengaji untuk Ayna.


"Mama mau beli buku apa?" Ayna bertanya setelah melihat Mama Ayu melihat-lihat buku yang terjejer rapih di rak toko.


"Buku iqro buat kamu belajar mengaji, dan buku cerita tentang para Rasulullah," Ayu mengalihkan atensinya dari semula melihat-lihat buku iqro beralih pada Ayna yang sedang berdiri tepat di sebelahnya.


"Apa cerita para Rasul itu bagus Ma?" Ayna bersitatap dengan sorot mata Mama Ayu.


"Tentu saja, kita bisa mengenal lebih siapa-siapa Rasul Allah dan siapa saja sahabat-sahabat nabi, bukan hanya itu. Kita jadi lebih mengenal seperti apa perjuangan para wali Allah," jawab Ayu lembut, ia ingin Ayna lebih mengenali agamanya. Dan bukan hanya kehidupan di dunia fana saja.


"He'hem..." Ayna manggut-manggut tipis, lalu melihat buku-buku cerita yang kiranya mengasikan untuk dilihat. "Ma, Ayn boleh lihat-lihat buku cerita 'kan?" ditunjuknya buku-buku cerita bergambar kartun Winnie the Pooh dan yang lainnya. Gadis kecil ini sudah menunjukkan kemampuan dalam kefasihan cara bicaranya, dari yang menyebut huruf R selalu L, kini lebih benar dan lebih jelas.


"Iya, tapi jangan jauh-jauh yah. Setelah kamu mendapatkan buku yang kamu suka, kembali ke sini lagi ya," balas Ayu melihat Ayna mengangguki ucapannya tanda gadis kecil ini paham. Maniknya melihat Ayna berjalan menuju rak buku cerita.


"Sepertinya aku harus mencari referensi buku cerita para Rasul yang bergambar untuk menarik minat anak itu," gumamnya lirih. Ayu kembali memegang buku bersampul hitam dengan tulisan latin Arab.


Entah mengapa melihat Ayna terbesit ingatan saat pagi ini Ashoka menciumnya. Sangat lembut seperti sentuhan marshmellow. Ayu segera menggelengkan kepalanya.


"Ayu, ingat! Jangan bawa perasaan. Dia melakukannya hanya karena sekedar Refleks, dan bukan berarti dia menganggap mu istrinya." sarkas Ayu pada dirinya sendiri. Lantas kembali sibuk melihat-lihat buku yang ada didepannya.


Setelah memilih buku yang diperlukannya, Ayu dan Ayna berjalan menuju kasir dengan membawa beberapa buku yang sudah dipilihnya. Ayu mengeluarkan dompet dari dalam tasnya, lantas melihat kartu yang diberikan Ashoka semalam.


Ayu menghentikan langkahnya, sebelum di meja kasir sampai langkah Ayna juga ikut terhenti. Ayu terdiam sejenak sembari berpikir apakah ia boleh menggunakan uang di dalam kartu ini untuk keperluan membeli buku? Diingatnya lagi kata-kata Ashoka semalam. Bahwa suaminya itu memberikannya untuk keperluan hidup selama menjadi istri Ashoka.


Seharusnya aku tidak perlu ragu, dia itu kan suamiku, tapi kenapa aku masih saja takut? Andai saja aku menikahinya berlandaskan cinta, pastilah tidak seperti ini rasanya.


Tapi karena takut tindakannya salah, dan lagi-lagi pernikahan karena hutang terus menerus terngiang-ngiang seperti bumi yang berputar di orbitnya seperti mengelilingi matahari, alhasil sebelum mengambil tindakan yang bisa jadi mengundang kemarahan Ashoka. Ayu mengeluarkan ponselnya.


"Mama kenapa, kok kelihatannya bingung?" Ayna melihat gelagat Mama Ayu yang nampak gelisah yang jelas terpancar di wajah Mamanya.

__ADS_1


Ayu tersentak mendengar pertanyaan Ayna. Dilihatnya gadis kecil yang mempunyai bola mata seperti sang Ayah.


"Tidak apa sayang... Mama akan menelepon Dady terlebih dahulu sebelum membayar buku-buku ini," ujar Ayu lalu mencari nomor kontak suaminya.


"Assalamualaikum," untuk pertama kalinya selama menjadi istri Ashoka inilah kali pertama ia menelepon suaminya. Perasaan Ayu saat ini bisa di gambarkan berdebar-debar, hingga membuat wajahnya menghangat, apalagi jika mengingat first kiss nya pagi ini.


Ayu mendengar Ashoka menyahut dari seberang telepon.


"Bolehkah saya membeli buku dengan memakai uang yang ada di dalam kartu pemberian anda?" Ayu bertanya dengan perasaan was-was. Dan kembali dia dengarkan Ashoka menjawabnya. Selama mendengarkan Ashoka menjawab, Ayu melihat wajah Ayna yang sedang menatapnya.


"Baiklah, terimakasih. Assalamualaikum." ucap Ayu untuk yang terakhir kalinya, lantas mematikan sambungan telepon.


"Gimana Ma?" Ayna bertanya seraya melihat Mama Ayu meletakkan ponsel ke dalam tas. Dilihatnya Mama Ayu tersenyum simpul.


"Dibolehin." Ayu tersenyum senang.


***


"Jadi, seperti ini konsepnya Tuan Ashoka, ada taman di dekat rumah sakit. Taman ini langsung mengarah pada kamar-kamar setiap pasien, jadi para pasien setiap pagi dapat membuka jendela dan merasakan sirkulasi udara sejuk." seorang bagian dari divisi perencanaan menjelaskan konsep sebuah bangunan rumah sakit yang sedang dirancang.


Ashoka dan yang lainnya terus memperhatikan apa yang sedang disampaikan oleh Monika, salah seorang divisi perencanaan.


Akan tetapi untuk sesaat, meeting nya harus tertunda saat mendengar dering ponsel Ashoka berbunyi. Ashoka membulatkan matanya saat melihat nama yang tertera di layar ponsel yang menyala-nyala.


Oh untuk apa dia menghubungi ku?


Ashoka melihat para bawahannya yang sedang memperhatikannya. "Tunggu sebentar."


Sepuluh orang yang sekarang berada di dalam ruangan meeting terdiam dan melihat bahwa bosnya itu terlihat berseri-seri.

__ADS_1


Begitu pula dengan Tarjo yang juga sedang memperhatikan ekspresi wajah Ashoka. Orang kepercayaan Ashoka atau bisa jadi sekretaris Ashoka ini melihat sang atasan sempat terkejut saat mendapati siapa gerangan yang menelponnya.


Eh, tumben-tumbenan Ayu menelepon. Sepertinya selama menikah, dan selama saya mengawasi Tuan Ashoka maupun Ayu tidak ada sekalipun mendengar mereka berbicara di sambungan telepon, apakah ini merupakan suatu kemajuan tentang hubungan mereka yang terlihat kaku?


Sssshhh semoga saja? Desah Tarjo terus mengamati Ashoka yang mulai menempelkan ponsel di dekat telinga.


"Ya Wa-waalaikumussalam." Ashoka menjawab salam dari Ayu bernada suara kaku, setelah beberapa saat terdiam saat mendengar suara Ayu yang menyapanya dengan sambutan kata salam.


Tarjo membulatkan matanya mendengar Ashoka menjawab salam.


Eh salam? Seorang Ashoka menjawab telepon dengan salam? Apakah telingaku bermasalah?


Yasalam! Terlalu lama melihat Tuan Ashoka yang kaku, saya jadi merasa gemas.


Bukan hanya Tarjo, sepuluh orang yang sekarang ini berada di ruangan meeting juga terheran-heran mendengar sang atasan sangat lugas dalam menjawab salam.


"Kau boleh menggunakannya semau mu, tanpa ada batasan dan bila perlu kau boleh membelanjakannya seratus juta dalam sehari, asalkan kau tidak membeli narkoba," jawab Ashoka setelah sejenak tadi mendengar Ayu bertanya diseberang telepon.


Ashoka mendengar bahwa Ayu menjawabnya sangat girang. Setelah itu, dia menutup sambungan teleponnya.


"Heran kenapa otaknya sangat lola dalam mencerna ucapanku, kenapa dia bertanya padaku. Bukankah aku sudah memberinya kuasa untuk membelanjakan kartu yang kuberikan." sungut Ashoka sembari meletakkan ponselnya di atas meja. Tatapannya beralih menatap para karyawannya yang sedang menatapnya dengan tatapan terheran-heran.


"Ada apa dengan kalian? Lanjutkan penjelasan yang sedang kalian kerjakan?" kata Ashoka membuat semua karyawannya tergelak, lantas celingusan.


"Baik tuan." jawab beberapa karyawan.


Ashoka melihat Tarjo tersenyum. "Kalau aku melihatmu tersenyum seperti itu, akan ku rontokan gigimu!"


Tarjo terhenyak mendengar peringatan Ashoka. "Maaf tuan." Tarjo kembali sibuk dengan laptop dan berkas yang ada di depannya.

__ADS_1


...*****...


Bersambung


__ADS_2