Penguasa Benua Tujuh Bintang

Penguasa Benua Tujuh Bintang
PBTB 20 - Ibunya Ji Ho


__ADS_3

PBTB 20 - Ibunya Ji Ho


Setelah merasa baikan Fei Chen menemui Ji Ho yang sedang bersama Hea Eun Jung di penginapan. Mendapati Fei Chen yang memintanya untuk bertemu, Ji Ho keluar penginapan sendirian.


“Ho‘er, setelah ini aku ingin kau kembali menemui Ibumu dan meminta izin untuk tinggal disini.” Fei Chen berkata kepada Ji Ho sambil menatap Istana Munjong.


“Kenapa aku harus melakukan hal itu Ayah Fei?” tanya Ji Ho.


“Apa kau mencintai Hea Eun Jung?” Fei Chen menatap Ji Ho dalam dan membuat pemuda itu mengangguk pelan.


“Aku bangga padamu Ho‘er.” Fei Chen memegang pundak Ji Ho lalu berkata mengeledek.


“Seleramu tidak buruk juga...”


“Ayah Fei!” Ji Ho merasa sangat malu.


Sementara itu Fei Chen tertawa dan terus mengeledek Ji Ho. Hingga akhirnya Fei Chen memutuskan untuk kembali ke Ibukota Mafei karena dia akan membawa Ji Xiuha ke Kerajaan Munjong.


Fei Chen mengatakan sesuatu kepada Ji Ho dan membuat pemuda itu terkejut. Ji Ho mengikuti saran Fei Chen dan justru dia sudah siap karena dia akan membuktikan keseriusannya kepada Hea Eun Jung.


“Ayah Fei... Apa menurutmu Ibu akan merestui hubunganku dengan Eun Jung? Eun Jung seumuran dengan Ibu dan aku takut dia tidak merestui.” Ji Ho berkata kepada Fei Chen dan meminta saran.


Bukannya mendapatkan saran Ji Ho justru baru menyadari jika Fei Chen sendiri baru berumur dua puluh lima tahun sedangkan Hea Eun Jung berumur empat puluh satu tahun hanya berbeda setahun dari Hea Eun Soo yang merupakan adiknya.


“Tunggu, aku sendiri baru berumur dua puluh lima tahun dan calon istrimu itu lebih tua dariku...” Fei Chen mengerutkan keningnya dan berpikir.


“Tenang saja Ho‘er, Ibumu pasti merestui semua ini.” Fei Chen menenangkan Ji Ho dan memberikan keberanian kepada pemuda itu.

__ADS_1


‘Hmmm...’ Ji Ho hanya mengikuti saran Fei Chen dan kembali ke penginapan sedangkan Fei Chen berniat akan berada di Kekaisaran Ma selama dua hari.


Setelah menempatkan beberapa titik teleportasi di Kerajaan Munjong akhirnya Fei Chen memutuskan kembali ke Kekaisaran Ma atau lebih tepatnya dia melakukan teleportasi ke kamar pribadi Ji Xiuha.


‘Gege!’ Batin Ji Xiuha nampak terkejut melihat Fei Chen yang tiba-tiba berdiri didepan pintu.


Bukan hanya saja Ji Xiuha saja yang sedang berada didalam kamar melainkan disana ada Guan Ai bersama Song Na yang sedang mencoba beberapa pakaian tipis dan berenda. Mengingat umur ketiganya yang paruh baya namun terlihat masih muda dan nampak seperti berumur tiga puluhan tahun itu sangat berbeda dengan usia yang sebenarnya, membuat Fei Chen tersenyum bangga karena istrinya selalu mencoba menyenangkan dirinya.


Ji Xiuha hendak menegur Song Na dan Guan Ai namun ia melihat Fei Chen menggelengkan kepalanya.


“Song Na, sepertinya bocah nakal itu sangat menyukai pakaian yang sopan dan menutupi tubuh kita semua?” ucap Guan Ai sambil memegang gunung kembarnya.


“Apa kau pernah mencobanya Guan Ai? Aku sendiri belum pernah dan hanya melayani Chen‘gege. Aku selalu dibuat semakin jatuh cinta dengan sosoknya itu,” ujar Song Na.


“Pakaian ini sangat memperlihatkan lekukan tubuh kita. Aku sangat malu saat memakainya,” lanjut Song Na.


“Chen‘gege!” Seketika Guan Ai dan Song Na langsung menatap ke arah pintu dan menemukan Fei Chen yang menatap buas ketiga istrinya itu.


“Apa kalian bertiga berdandan seperti ini untuk menyambut kedatanganku?” Fei Chen berjalan mendekati ketiga istrinya itu dan tidak dapat menahan betapa bahagianya dia memiliki istri yang sangat pengertian.


“Jangan salah sangka bocah nakal! Jangan mentang-mentang kau memiliki istri yang banyak kau melupakan kewajibanmu! Kami berdandan seperti ini untuk seseorang!” Guan Ai menyahuti ucapan Fei Chen dan membuat pria itu berhenti berjalan dengan ekspresi syok.


“Jangan bilang kalian bertiga...” Fei Chen terlihat begitu syok karena pikiran sudah memikirkan hal yang bukan-bukan.


Guan Ai menahan tertawa begitu juga dengan Ji Xiuha dan Song Na. Mereka bertiga merasa bangga karena di umurnya yang sudah tidak bisa dibilang muda namun Fei Chen tetap melihat mereka sebagai istrinya yang menarik dan selalu memberikan mereka kebahagiaan batin dan fisik.


“Kau kena tipu bocah nakal!” Guan Ai memencet hidung Fei Chen dan tertawa cekikikan.

__ADS_1


Fei Chen yang merasa lega membalas Guan Ai dengan mencubit ujung gunung kembarnya yang masih terbungkus dalam kain tipis itu.


“Aaaahhhh! Jangan dicubit!” pekik Guan Ai.


“Ini hukumanmu Ai‘er karena telah mencoba membohongiku.” Fei Chen berkata dengan nada dingin sambil melepaskan semua pakaiannya.


“Kalian berdua juga,” ucap Fei Chen.


Lalu Fei Chen duduk di tepi ranjang dan memberi isyarat kepada Ji Xiuha, Song Na dan Guai untuk memanjakan dirinya. Dari belakang Ji Xiuha memeluk tubuh Fei Chen dan membenamkan kepala pria itu pada gunung kembarnya, sedangkan Song Na duduk disamping Fei Chen dan mulai meraba dada Fei Chen sambil mengecup bibir pria itu.


“Mmmmmsssss...” Song Na menggeliat saat tangan kiri Fei Chen meremas gundukan indah yang terbungkus dalam pakaian tipis.


Sementara itu Guan Ai jongkok didepan Fei Chen dan mulai memanjakan keperkasaan milik Fei Chen yang siap bertempur penuh dengan semangat.


Fei Chen yang mendapatkan keindahan ini tersenyum dalam hati, ‘Melakukan ini dengan ketiga istriku teringat mereka bertiga...’ Fei Chen mengingat Hea Eun Soo, Park Mi Kyung dan Nam Yoon Ji yang seperti gadis saat saling cemburu walau usianya empat puluhan tahun.


Dengan penuh semangat masing-masing tangan Fei Chen meraba gundukan kenyal Song Na secara bergantian sedangkan yang satunya mengelus rambut Guan Ai penuh kelembutan dan sesekali dengan sengaja Fei Chen menekan kepala Guan Ai ke bawah.


“Mmmmpppphh!” Guan Ai kelihatan kesulitan bernafas dan Fei Chen berhenti menekan kepalanya.


“Bocah nakal, sepertinya kau akan kewalahan menghadapi kami bertiga malam ini.” Guan Ai tersenyum manis dan meremas keperkasaan Fei Chen yang semakin membesar itu.


“Lihat ini sangat besar dan panjang. Xiuha bantu aku...” ajak Guan Ai dan Ji Xiuha segera mengikuti saran Guan Ai.


Fei Chen yang melihat kedua wanita paruh baya ini duduk bersimpuh dihadapannya hanya menahan nafas, terlebih kenikmatan tiada tara yang dia rasakan membuat keperkasaan Fei Chen sudah siap untuk digunakan untuk pertempuran panjang.


____

__ADS_1


__ADS_2