
PBTB 23 - Pernikahan Ji Ho
Setelah menikmati kegiatannya di Istana Ma, Fei Chen menjadi saksi bisu pernikahan Ji Ho dengan Hea Eun Jung. Bukan hanya Fei Chen tetapi Ji Xiuha dan beberapa istri Fei Chen turut hadir menyaksikan pernikahan yang digelar secara tertutup itu.
Lokasi pernikahan Ji Ho dan Hea Eun Jung digelar di Kota Jisa atau lebih tepatnya Kerajaan Munjong. Pernikahan keduanya berjalan dengan lancar tanpa gangguan yang berarti.
“Aku mengira calonnya adalah yang sebaya dengannya tetapi dia tidak berbeda dengan Ayah tirinya.” Ning Guang mencubit perut Fei Chen hingga membekas kemerahan walaupun dapat disembuhkan dengan mudah.
“Apa kau mengaji hal yang aneh-aneh, anak nakal,” bisik Ning Guang.
Fei Chen menggelengkan kepalanya dan Xhin Li Wei yang melihat ini hanya menghela nafas.
“Kau seperti seorang Ibu yang memarahi anaknya, Nyonya Ning.” Xhin Li Wei berkata dan memutuskan untuk menikmati hidangan khas Kerajaan Munjong.
“Chen‘er, aku akan kembali bersama Shieshie. Kami ada urusan di Lembah Pedang,” ucap Luo Rou lalu wanita itu mengecup pipi kanan Fei Chen sedangkan Qie Shie mengecup pipi kiri Fei Chen.
“Apa perlu kuantar?” Fei Chen menawarkan diri.
Qie Shie tersenyum tipis, “Tidak perlu, Suami. Jika kau yang mengantar kau akan lama kembalinya.”
Mendengar itu Guan Ai tertawa kecil bersama Song Na.
“Benar, yang ada kau tidak akan kembali kesini Suami.” Guan Ai meledek Fei Chen.
“Aku juga akan kembali dengan cepat.” Xi Taouhua sekarang yang berpamitan.
__ADS_1
Fei Chen menatap Xi Taouhua dan tersenyum hangat. Sudah lama dia tidak melihat wanita ini karena Qiao Mi dan para pendekar Istana Bunga Persik fokus melakukan pelatihan tertutup.
“Aku juga pamitan, Suami. Kami harus fokus pada tujuan kami karena sebagai istrimu tentu saja kami ingin memiliki anak darimu,” ujar Hua Ying.
“Bukan hanya aku saja dan pendekar dari Istana Bunga Persik tetapi semua istrimu berharap bisa membahagiakanmu.” Hua Ying menambahkan walau dia tidak memungkiri semua istri Fei Chen yang sudah paruh baya tidak keberatan tidak memiliki anak dari Fei Chen, namun mereka yang matang dan segar tentu berharap bisa mendapatkan keturunan dengan Fei Chen.
Fei Chen mengerti dan mempersilahkan satu demi satu istrinya berpamitan. Mengetahui kondisi tubuhnya yang istimewa membuat Fei Chen merasa bersalah pada Xhin Li Wei, Ning Guang, Liu Xianlin, Qie Shie, Luo Rou, Guan Ai, Song Na, Ji Xiuha, Lu Shin Rui dan yang lainnya.
“Kau tidak usah terlalu keras berpikir. Kami sendiri sudah sepakat untuk semua ini. Lagipula anak Xiuxiu dan mereka merupakan anak kita semua. Kita adalah keluarga.” Ning Guang berusaha menenangkan Fei Chen.
“Daripada itu biarkan Ho‘er menikmati masa mudanya dengan istrinya,” bisik Ning Guang.
Kemudian Fei Chen bersama semua istrinya pergi untuk membiarkan Ji Ho melewati malam pertama. Fei Chen sendiri membeli rumah sederhana yang ada di Kota Jisa dan kembali memikirkan rencananya kedepan untuk mengejar Zmeya.
Disana ada Ning Guang, Ji Xiuha dan Xhin Li Wei. Sementara itu Ning Guang berpikir hal lain yakni ingin memperbaiki hubungan Fei Chen dan Xhin Li Wei. Bisa dibilang keduanya hubungan keduanya renggang sejak kejadian delapan tahun lalu.
“Li Wei, apa kau tidak tertarik untuk ikut bersama Suami?” Ning Guang bertanya.
Xhin Li Wei mengernyitkan keningnya. Jelas dia tidak ingin ikut karena dirinya berperan penting membantu pemerintahan Kekaisaran Ma bersama Ning Guang dan Liu Xianlin.
“Dibandingkan diriku bukankah lebih kau mengajak Tuan Putri, Suami?” Xhin Li Wei menolak dan memberikan saran lain kepada Fei Chen.
Ji Xiuha yang sedari tadi mendengar Ning Guang dan Xhin Li Wei berdebat akhirnya buka suara.
“Kalian berdua bisa diam? Kita harus menyadari bahwa di setiap perjalanan Suami, dia selalu membawa istri baru. Kalian sudah mendengar cerita Xiuxiu bukan?” Ji Xiuha mengingatkan Ning Guang dan Xhin Li Wei agar harus ada orang yang menjaga dan memberikan kebutuhan kepada Fei Chen.
__ADS_1
“Kalau tidak salah da ingin memiliki istri lebih dari lima puluh. Sekarang saja sudah tiga puluh lebih.” Ji Xiuha berkata sambil menatap Fei Chen serius.
‘Hei, Xiuha‘er, kau mengatakan itu seolah-olah aku ini pria hidung belang...’ Fei Chen membatin dan mendengarkan ketiga istrinya bertukar pendapat.
“Aku setuju dengan Xiuha. Kalau begitu kita akan membicarakan hal ini dengan yang lain.” Ning Guang terlihat antusias dan menatap Fei Chen tajam.
“Bukankah ada hal lain yang lebih penting?” Fei Chen memotong pembicaraan ketiga istrinya.
“Apa yang lebih penting?” Ning Guang bertanya.
Fei Chen tersenyum dan menyilangkan salah satu kakinya.
“Ho‘er sedang melewati malam yang panjang. Bukankah kita bisa melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan? ” Fei Chen ingin ketiga istrinya berhenti berdebat karena jujur saja dia cukup kewalahan meladeni para istrinya yang mahir berbicara.
Xhin Li Wei berdiri dan menatap Fei Chen rumit.
“Aku akan menunggu dikamar. Kau bisa memulainya dengan yang lain.” Setelah itu Xhin Li Wei pergi.
Ning Guang dan Ji Xiuha saling menatap satu sama lain sebelum menghela nafas ringan.
“Jadi siapa yang duluan?” tanya Ji Xiuha.
“Kau duluan Xiuha. Setelah itu barulah aku.” Ning Guang berdiri lalu menunggu didalam kamar.
Fei Chen akhirnya bisa berpikir tenang sambil menunggu informasi dari Deshe yang telah dia nantikan. Sementara Ji Ho memulai ritual malam pertamanya dengan Hea Eun Jung, Fei Chen memulai pertempuran malam yang entah keberapa melawan Ibunya Ji Ho.
__ADS_1