Penguasa Benua Tujuh Bintang

Penguasa Benua Tujuh Bintang
PBTB 24 - Alunan Malam Pertama Yang Tenang


__ADS_3

PBTB 24 - Alunan Malam Pertama Yang Tenang


Kedepannya cerita baper yang bikin gemeter gue tindakan ya guys. Gue dapat teguran dari editor hehe. Nikmati alurnya dan jangan lupa dong guys bantu baca Leo Avalon.


_____


Serpihan kilauan matahari perlahan memudar, hembusan angin malam datang menyapa. Kicauan burung mulai tak terdengar dan hangatnya mentari yang tenggelam datang menerpa. Heningnya malam dan yang terus beranjak membuat udara dingin semakin menyeruak. Dinginnya malam membuat kedua insan yang baru saja mengucap janji suci mekar dengan sendirinya.


Keheningan malam di Kota Jisa menjadi saksi bisu atas pasangan sah pemuda dan wanita yang umurnya terpaut jauh darinya sebagai suami istri. Malam semakin larut dan suara indah kedua insan berhenti saat tengah malam tiba. Suara serangga sesekali terdengar dan nampak sang pemuda beranjak bangun dari ranjang sambil membunyikan lehernya.


‘Jadi seperti ini rasanya... Ayah Fei selalu merasakan hal ini...’ Ji Ho membatin dan tidak menyangka akan melewati malam yang indah bersama Hea Eun Jung.


“Eun Jung, apa kau lelah?” Ji Ho bertanya.


Hea Eun Jung yang berbaring tersenyum lemas dan menatap Ji Ho yang gagah rupawan dimatanya. Bagaikan seorang gadis yang baru merasakan jatuh cinta, Hea Eun Jung merasakan betapa bahagianya menjalani hidup saat Ji Ho memperlakukan dirinya layaknya seorang Ratu.


“Aku tidak menyangka jika Ayahmu adalah Kaisar Ma yang terkenal akak sebutan Raja Neraka.” Hea Eun Jung bangkit dari tidurnya dan memeluk suami mudanya dari belakang.


“Masih mau lanjut?” Hea Eun Jung menawarkan.


Ji Ho tersenyum penuh arti dan mengangguk seperti seorang anak yang menuruti Ibunya.

__ADS_1


“Sekarang aku akan mempraktekkan yang kau ajarkan padaku Eun Jung.”


Kemudian Ji Ho dan Hea Eun Jung melanjutkan kegiatan malam mereka. Keduanya menikmati alunan ketenangan malam yang bersenandung indah dengan suara Hea Eun Jung dan lantunan keras suara lembutnya.


Sementara Ji Ho dan Hea Eun Jung melanjutkan perjalanan malam mereka menuju alam surgawi, Fei Chen juga sudah melewati malam yang indah bersama Ji Xiuha dan Ning Guang.


“Kalian berdua sepertinya kelelahan. Kita istirahat dulu lalu melanjutkan kembali.” Fei Chen mengambil minuman lalu memberikan minuman tersebut kepada kedua istrinya.


“Melanjutkan lagi? Bocah nakal, apa kau tidak puas membuat tubuh kami remuk?” Ning Guang menerima minuman pemberian Fei Chen dan tersenyum manja.


“Tetapi lebih baik kau memberikan sisa tenagamu kepada Li Wei, anak nakal.” Ji Xiuha mencubit hidung Fei Chen dan memberikan saran.


Fei Chen sebenarnya ingin namun mengingat berapa hancurnya perasaan Xhin Li Wei, akhirnya Fei Chen merasa bersalah.


Belum tentu Xhin Li Wei dinodai penculik tersebut, namun semenjak itu hubungan keduanya renggang. Ji Xiuha juga mengingatkan Fei Chen agar menerima dengan tulus wanita seperti Xhin Li Wei.


“Li Wei sama seperti diriku. Kau pernah memiliki seorang Ibu bukan? Jika kau seorang pria kau harus bertanggung jawab dan jangan melukai perasaannya.” Ji Xiuha kembali memberikan nasihat.


“Aku beruntung memiliki istri seperti kalian. Sepertinya aku yang terlalu lama memendam. Terimakasih Xiuha‘er, Guang‘er.” Setelah itu Fei Chen berdiri dan memakai pakaiannya kembali.


Fei Chen bergegas menuju ke kamar Xhin Li Wei dan mengetuk pintu dengan halus.

__ADS_1


“Masuklah, Suami.” Suara lembut Xhin Li Wei terdengar.


Kemudian Fei Chen membuka pintu dan melihat Xhin Li Wei menggunakan pakaiann yang sangat sopan dan menutupi setiap bagian indah tubuhnya.


Fei Chen menghambat Xhin Li Wei dan duduk disamping wanita paruh baya tersebut. Lalu Fei Chen memegang tangan Xhin Li Wei dan membisikkan sesuatu.


Akhirnya malam itu Fei Chen menceriakan bagaimana penyesalan dan perasaan bersalahnya kepada Xhin Li Wei. Hati Xhin Li Wei terbuka untuk Fei Chen karena sejujurnya dia merasa sangat bersalah karena gagal melindungi janin didalam rahimnya dan hampir saja dia ternoda oleh para penculik dimasa lalu.


Jika bukan karena Fei Chen mungkin saat ini Xhin Li Wei lebih memilih mati karena trauma masa lalunya itu. Xhin Li Wei berpikiran Fei Chen sama seperti pria yang lain karena semenjak itu keduanya tidak pernah melakukan hubungan suami istri, namun ternyata dugaannya salah.


Selama ini Fei Chen juga merasa bersalah. Keduanya perlu waktu untuk bicara dan saling terbuka. Malam ini Fei Chen menangis menumpahkan semua penyesalannya kepada Xhin Li Wei begitu sebaliknya.


“Xhin Li Wei, apa kau akan memaafkan suami bodohmu ini?” Fei Chen menatap sendu wajah Xhin Li Wei yang keibuan dan sejuk.


Xhin Li Wei mengangguk dan membenamkan kepala Fei Chen ke dadanya.


“Fei Chen, kau kumaafkan.”


Keduanya menikmati hangatnya malam dan tidur saling menghangatkan satu sama lain setelah sekian lama.


____

__ADS_1


Jangan lupa guys baca karyaku yang lain judulnya Leo Avalon.


__ADS_2