
PBTB 43 - Tempat Sakral
Setelah berpamitan dengan Fu Diao, Fu Jun membawa beberapa anggota Pasukan Bayangan untuk menemani dirinya.
“Jun‘er, jika kau dalam bahaya aku akan langsung kesana. Aku tidak akan memastikan dirimu mati.” Fei Chen memberitahu Fu Jun.
“Tenang saja, Yang Mulia. Aku Fu Jun tidak akan mengecewakanmu.” Fu Jun tersenyum dan membalas harapan Fei Chen.
Lalu Fei Chen membuka sebuah portal. Klon bayangannya masuk kedalam portal tersebut disusul Fu Jun dan Pasukan Bayangan. Setelah semua masuk barulah portal teleportasi itu menghilang.
Selepas kepergian Fu Jun, Fei Chen masuk kedalam rumah Fu Jun dan membuat beberapa klon untuk bertugas.
“Sepertinya hari ini dan besok aku akan berlatih di Gunung Menangis.” Fei Chen tersenyum sebelum menuju kedalam kamar Fu Diao.
Disana terlihat wanita paruh baya yang terbaring lemah. Fu Diao nampak malu saat Fei Chen mengunci pintu seluruh rumahnya.
“Bibi Fu... Apa kau yakin dengan keputusanmu ini? Apa kau bersedia menjadi pasanganku?” Fei Chen bertanya untuk memastikan.
Fu Diao tidak menjawab namun rona merah wajahnya berseri.
“Yang Mulia, jangan sampai aku menjawabnya. Ini memalukan. Seharusnya aku yang tidak pantas menjadi istrimu Yang Mulia. Aku sudah tua, ternoda dan cacat. Aku sama sekali tidak pantas untukmu.” Fu Diao berkata dipenuhi perasaan tak menentu.
__ADS_1
Fei Chen hanya tersenyum dan mengangkat tubuh Fu Diao dengan lembut.
“Manusia tidak ada yang sempurna Bibi Fu. Aku bukanlah orang yang suci dan lemah terhadap wanita. Aku jauh lebih ternoda dan bukan hanya kau saja. Selain itu kau terlihat lebih muda dibandingkan umurmu.” Fei Chen membelai rambut Fu Diao sebelum keduanya berpindah tempat di Rumah Yin Yang.
Fu Diao terkejut dan melihat dirinya berada diatas ruangan terbuka yang ada di lantai atas. Pemandangan indah Gunung Menangis membuat Fu Diao kagum.
“Ini adalah tempat yang sakral untuk diriku dan istriku melakukan malam pertama...” Hanya ucapan itu seketika Fu Diao langsung terdiam seribu bahasa.
Fu Diao memahami apa yang akan Fei Chen lakukan padanya. Setelah menyelamatkan Fu Jun tentu saja Fu Diao sudah bersiap dengan semua ini sejak delapan tahun lalu namun Fei Chen hanya mengunjunginya dan memastikan kesehatannya saja.
“Yang Mulia... Aku tidak pantas...” Fu Diao masih ragu.
Fei Chen tersenyum dan membawanya menuju kamar lalu membaringkan tubuhnya penuh kasih sayang. Fu Diao tersipu malu dengan perhatian Fei Chen yang menunjukkan ketulusannya.
Bukannya melepaskan pakaian Fei Chen malah terdiam.
“Bibi Fu, tunggulah sebentar. Aku akan membuat ramuan untukmu.” Fei Chen mengeluarkan beberapa bahan berkhasiat seperti Ginseng Dewa, Jahe Dewa dan Telur Elang Langit.
Kemudian Fei Chen memanggil dua dayang yang menjadi orang kepercayaan Ning Guang dan Su Xiulan. Kepala pelayan yang bernama Bei Chin datang bersama wanita yang lima tahun lebih muda darinya diitugaskan untuk memandikan Fu Diao dan memberi Fu Diao ramuan yang telah dibuat.
Saat memandikan Fu Diao, Bei Chin kagum karena kulit Fu Diao lebih mulus dibandingkan usianya. Selain itu Bei Chin mengerti alasan mengapa Fei Chen menyiapkan semua ini.
__ADS_1
“Nyonya, betapa beruntungnya dirimu karena Yang Mulia melirikmu.” Bei Chin memuji sambil memandikan Fu Diao dengan air bunga yang telah dibuat Fei Chen.
“Nyonya, jangan mengatakan hal yang memalukan.” Fu Diao tersipu malu akan perkataan Bei Chin.
Setelah selesai Bei Chin langsung memberitahu Fei Chen yang sedang memegang guci. Terlihat Fei Chen membawa guci kecil dan langsung menatap Bei Chin hangat.
“Lapor Yang Mulia, hamba sudah selesai melaksanakan tugas Yang Mulia berikan.” Bei Chin memberikan laporan.
“Bagus, pelayan. Kalian berdua bisa minum air yang ada di guci itu, selain dapat menambah stamina itu akan membuat kulit kalian lebih mulus dan kencang.” Fei Chen memberitahu dan langsung menuju kamarnya.
Bei Chin segera mengambil air hangat yang dimaksud Fei Chen dan mengajak pelayan yang lain itu untuk minum.
“Shin‘er, minumlah.” Bei Chin menawarkan.
“Tetapi Kakak, apa Yang Mulia tidak menaruh hal yang aneh ke dalam minuman?” Pelayan bernama Bei Shin terlihat ragu.
“Minumlah, Shin‘er. Tidak perlu takut. Ini sudah menjadi tugas kita untuk melayani seorang Kaisar. Walau Yang Mulia tidak pernah meminta hal yang aneh, tetapi kita sebagai pelayanannya harus siap. Itulah mengapa Nyonya Su memilih beberapa pelayan seperti kita untuk menjadi pelayan istana.” Bei Chin menjelaskan.
Sementara Bei Shin mengikuti arahan Bei Chin, Fei Chen masuk kedalam kamarnya dan menemukan Fu Diao yang mengenakan pakaian tipis dengan warna putih yang berenda.
“Cantik...”
__ADS_1
Itulah kata yang keluar dari mulut Fei Chen saat melihat betapa cantiknya Fu Diao malam ini.