Penguasa Benua Tujuh Bintang

Penguasa Benua Tujuh Bintang
PBTB 44 - Ekspresi Yang Terbaik


__ADS_3

PBTB 44 - Ekspresi Yang Terbaik


Mendengar ucapan Fei Chen tentu saja membuat Fu Diao merasa malu terlebih Fei Chen dengan sangat berani duduk di tepi ranjang dan perlahan naik.


“Yang Mulia... Tunggu...” Fu Diao menahan Fei Chen yang menindih nya lembut.


“Hmmm...” Fei Chen memandang wajah Fu Diao yang malu-malu.


“Aku tidak pantas melakukan ini denganmu...” Fu Diao menatap Fei Chen dengan perasaan bersalah dan menceritakan masa lalunya yang memilukan.


Fei Chen memegang kedua tangan Fu Diao dan merenggut kesucian bibirnya sebagai jawaban.


“Lupakan masa lalu itu, Bibi Fu. Sekarang kau harus membuka hatimu untukku dan memulai lembaran hidupmu yang baru. Aku menerimamu.” Fei Chen berkata dengan lembut dan membuat Fu Diao semakin malu.


“Tapi... Tapi aku sudah tua!” Fu Diao masih mencoba menahan Fei Chen.


Fei Chen tersenyum dan membelai rambut Fu Diao lalu menghirup wanginya.


“Kau tidak setua itu sayang...” Lalu Fei Chen pun memulai aksinya itu.


Fu Diao hanya pasrah saat Fei Chen menghisap lehernya dan telinganya. Kedua tangan Fei Chen juga mulai meraba keindahan tubuhnya dan menyentuhnya dengan sangat hati-hati.


“Mmm...” Fu Diao merasa geli saat Fei Chen mulai meraba perutnya dan naik keatas gundukan kenyal yang membusung indah.


Fei Chen menahan nafas saat mengetahui betapa kencangnya gunung kembar Fu Diao.

__ADS_1


‘Ini terbaik...’ Fei Chen membatin dan menelan ludah melihat ekspresi Fu Diao saat ini.


“Yang Mulia... Jangan terlalu berharap padaku... Walau aku sudah tua dan memiliki anak tetapi aku tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya...” ucap Fu Diao ditengah serbuan Fei Chen pada lehernya.


“Mmm... Kau tidak perlu khawatir Bibi Fu. Aku akan membimbingmu.” Fei Chen mengendus leher Fu Diao sebelum melepaskan kain yang menghalangi tubuhnya.


Akhirnya malam itu Fei Chen melewati malam yang indah bersama Fu Diao. Fei Chen mengatakan kepada Fu Diao untuk melakukan pengobatan selama seminggu dan mereka tidak pernah melewatkan kegiatan itu hingga Fu Diao dapat berjalan kembali.


Kedua pelayan istana yang menemani Fei Chen hanya bisa menahan saat mendengar majikan mereka melewati malam yang indah. Di hari ketujuh Fei Chen dan Fu Diao kembali ke kediaman Fu Diao dan membicarakan sisa-sisa pendekar Aliran Pedang Iblis.


”Yang Mulia... Mmmm.... Chen‘gege... Izinkan aku ikut bersamamu.” Fu Diao menatap Fei Chen dengan tatapan memohon.


Fei Chen memegang kedua tangan Fu Diao dan menggelengkan kepalanya.


”Tetapi Chen‘gege, aku belum siap...” Fu Diao masih merasa malu untuk menghadap kepada banyaknya istri Fei Chen.


Fei Chen tidak memaksa dan berpisah dengan Fu Diao untuk sementara. Fei Chen yang menciptakan beberapa klon dengan mudah dapat melakukan teleportasi. Sementara tubuh aslinya mengarungi indahnya tujuh hari tujuh malam perjalanan ke alam surgawi bersama Fu Diao, semua klon Fei Chen bekerja menggantikannnya.


Sisa-sisa pasukan Aliran Pedang Iblis yang bergabung dengan Bendera Iblis Dendam ditemukan markasnya oleh Fei Chen.


”Kaisar Ma! Tidak mungkin bagaimana kau ada disini!”


Sekitar seratus pendekar kalang kabut melihat Fei Chen ada ditengah-tengah mereka.


”Keparat! Kami baru saja ingin menculik salah satu istrimu tetapi kau sudah muncul disini!”

__ADS_1


Fei Chen pun menatap dingin mereka.


”Sepertinya kalian ingin mati dengan sangat menderita! Baiklah, aku sudah mengerti garis besarnya dan sepertinya seseorang ingin mencari masalah denganku!” Fei Chen tersenyum begitu dingin setelah berkata demikian.


Tanpa bergerak saja Fei Chen sudah membunuh para pendekar yang dihadapannya dan hanya menyisakan satu saja.


”Bagaimana mungkin?! Iblis!” Pendekar yang tersisa ketakutan dan menatap Fei Chen tak berdaya.


Melihat bagaimana orang-orang disekelilingnya terpotong-potong tubuhnya tentu saja membuat pendekar tersebut langsung syok. Terlebih Fei Chen membunuh semuanya tanpa bergerak dan hanya menggunakan Pedang Tanpa Wujud.


”Katakan padamu siapa yang membuatmu mengambil tindakan bodoh seperti ini?” tanya Fei Chen dingin.


”Aku... Aku hanya mengikuti arahan seorang bocah cilik, Baginda! Dia mengatakan padaku jika dengan menculik dan merebut istrimu maka kau akan kalah!”


”Baginda? Terserah. Orang dewasa bodoh yang mau mendengarkan ucapan bocah cilik!”


Fei Chen menendang wajah pria tersebut lalu kembali memegang kepalanya.


”Kau hendak menyentuh istriku, maka itu berlaku juga padaku yang dapat menyentuh istrimu.” Setelah itu Fei Chen menyerap ingatan pria tersebut dan menyadari sosok bocah cilik yang dimaksud.


”Dia... Kemampuannya tinggi dan setara denganku bahkan lebih..” Fei Chen menggumam sebelum akhirnya dia tersadar oleh klonnya yang digoda Yang Xiaomi dan Ling Ye.


”Olahraga sebentar...” Fei Chen tersenyum sambil membagi klonnya.


”Carilah bocah itu, aku akan pemanasan dulu.” Fei Chen memberikan perintah pada klonnya sendiri sebelum melakukan teleportasi.

__ADS_1


__ADS_2