
PBTB 49 - Kerinduan Sayuri
Cahaya mentari menyinari Pelabuhan Mizuha dengan terang. Suara burung pun berkicauan diiringi para nelayan yang mulai melaut. Suara langkah kaki menggema di jalanan kota dan beberapa orang berwibawa berbaris disana.
”Selamat datang Tuan Besar Yamazaki!” Sekitar dua puluhan samurai berbadan kekar menyapa pria berambut biru yang berjalan dengan santainya.
”Pastikan kalian menggosok gigi sebelum bekerja, sialan!” ujar Yamazaki ke anak buahnya.
Setelah dikuasai Onigari palsu, kini Negeri Kai bisa dibilang makmur namun para penduduk tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di pemerintahan.
”Tojo sialan! Dia benar-benar ingin memperistri Emi Kagura dan Shirayuki! Apa dia belum puas memiliki wanita secantik Mio!” gerutu Yamazaki sebelum memasuki kediamannya.
Saat masuk kedalam Yamazaki disambut wanita berwajah keibuan yang berpakaian sopan dan rapi. Kecantikan wanita ini belum luntur termakan usia, ia adalah Futaba yang merupakan teman akrab Sayuri dimasa lalu.
”Selamat datang, Suami.” Futaba langsung menyambut Yamazaki dan merapikan pakaian suaminya itu.
”Istriku, kau sudah mengetahui berita itu bukan? Apa kau baik-baik saja?” Yamazaki bertanya tentang masalah yang terjadi di Negeri Api.
”Aku yakin Sayuri dan yang lainnya baik-baik saja. Lagipula kau membantu mereka bukan Suami?” Futaba sangat mempercayai Yamazaki karena pernah ditolong pria ini empat tahun lalu.
Yamazaki menelan ludah. Dia bukan menolong Sayuri, melainkan berniat menjadikan Sayuri sebagai selir rahasianya.
”Kau tahu, dunia samurai sangatlah keras. Kita sisa-sisa orang buangan dari masa lalu tidak dapat berbuat banyak jika tidak memiliki seorang Tuan. Tojo Minamito yang merupakan Onigari dan telah membebaskan negeri ini adalah orang yang kami nantikan.”
Lalu Yamazaki menatap Futaba tajam dan kembali berkata, ”Seperti perkataannmu dan tindakan mereka, kalian mengatakan Raja Neraka adalah Onigari. Kebenarannya adalah Onigari lenyap tepat setelah membunuh Sun Yelong. Kita tidak menemukan Onigari di manapun dan beberapa hari orang itu muncul dengan kekuatan dahsyatnya. Kau harus berhati-hati karena jika orang lain yang mendengar, maka bisa saja aku juga akan terkena imbasnya.”
”Suami, apa kau tidak percaya padaku?” Futaba merasa sedih karena situasi yang rumit ini.
”Aku percaya hanya saja aku lebih memikirkan keselamatan keluarga kita, sayang.” Lalu Yamazaki memeluk tubuh Sayuri dan mendekapnya erat.
__ADS_1
”Aku ingin makan.” Yamazaki berkata pelan.
”Mari kita makan, Suami.”
Sementara itu Fei Chen mengirim mata-mata ke berbagai wilayah di Negeri Kai. Tentu saja dengan kemampuan Deshe yang mahir, Fei Chen mendapatkan berbagai macam informasi. Fei Chen menggunakan kesempatan ini sebagai kesempatan untuk mencari seorang rekan yang penting dan Emi Kagura bersama bawahannya adalah orang yang tepat, setelah itu orang-orang dari Klan Fuyumi.
Namun Fei Chen mendengar kabar jika sekarang Negeri Es dikuasai para samurai kuat yang bernama Elang Es. Bahkan kehadiran para samurai ini membuat orang-orang dari Klan Fuyumi menyembunyikan diri.
”Guru, jika benar apa yang kau katakan maka pria bernama Tojo Minamito hanya bonekanya Xiao Ho Chi untuk melakukan pembantaian pada penduduk di ketiga wilayah,” kata Chu Meilan.
”Cairan yang dapat mengubah manusia menjadi Iblis? Ini sangat mengerikan,” sahut Ma Mingyan.
”Tujuh hari sebelum Festival Api, kita akan menyelesaikan semuanya. Aku bisa saja menyelesaikan semua ini dengan mudah tetapi aku ingin melihat perkembangan kalian berdua, Yanyan, Lanlan,” ucap Fei Chen.
”Murid tidak akan mengecewakan Guru!” Ma Mingyan dan Chu Meilan menjawab serentak.
”Baiklah, kita akan membagi tim menjadi dua. Tim pertama kalian bertiga dan tim kedua aku sendiri.” Lalu Fei Chen menjelaskan secara rinci jika ia akan menuju Negeri Es dan Negeri Api.
Sedangkan masalah Negeri Air akan diserahkan kepada Ma Mingyan dan Chu Meilan.
”Kau tidak perlu khawatir Guru, kami akan menjaga Bibi Sayuri.” Chu Meilan terlihat meyakinkan.
Lalu Ma Mingyan menegur adik seperguruannya itu.
”Lanlan, kali ini kau harus mendengarkanku dan kita harus saling bekerjasama... Kau mengerti?”
”Kau tidak perlu khawatir, Kakak Yanyan. Aku akan membungkam mereka dengan pukulanku ini.”
Ma Mingyan hanya menghela nafas karena Chu Meilan masih tidak mengerti betapa bahayanya misi yang diberikan Fei Chen.
__ADS_1
”Kalian berdua pergi cari tempat persembunyian yang aman di Pelabuhan Mizuha, aku akan membicarakan sesuatu dengan istriku terlebih dahulu.” Fei Chen menyuruh Ma Mingyan dan Chu Meilan pergi lalu mendekati Sayuri.
”Suami... Eimi dan Ichiba menyuruhku meminta bantuan pada Suami Futaba. Apakah aku melakukan kesalahan?” Sayuri merasa gundah karena tidak sejalan dengan Fei Chen.
”Aku sendiri tidak mengetahuinya. Hanya saja aku merasa khawatir jika istriku disentuh pria lain. Itu saja. Kalian bisa mengandalkanku, sayang.” Fei Chen membelai pipi Sayuri lalu mencium keningnya lembut.
”Boleh aku memintanya?” ujar Fei Chen.
”Eh?” Sayuri tersentak kaget.
”Tetapi ini tidak tepat-”
”Tidak, semua akan baik-baik saja.”
Fei Chen membelah klon menjadi tiga. Satu mengawasi Ma Mingyan dan Chu Meilan, satunya pergi menuju Negeri Api dan yang satunya pergi menuju Negeri Es.
”Suami... Kamu benar-benar...” Sayuri memerah wajahnya karena Fei Chen telah menyiapkan semua ini.
Tanpa menunggu jawaban Sayuri, Fei Chen membawa istrinya itu ke Gunung Menangis. Disana Fei Chen menuntaskan kerinduan kepada Sayuri dan menggapai alam surgawi berkali-kali.
Setelah hari menjelang sore dan mengetahui Ma Mingyan dan Chu Meilan mendapatkan tempat peristirahatan yang aman, barulah Fei Chen mengantar Sayuri menggunakan teleportasi.
Setelah itu Fei Chen tersenyum lega karena rasa pening dikepalanya telah menghilang.
”Eimi dan Ichiba aman... Mereka dibawah pengawasan Emi Kagura..” Fei Chen duduk santai berendam di kolam siksa petir setelah melakukan kegiatan indah bersama Sayuri.
Namun saat Fei Chen sedang mencoba melihat klonnya yang menuju Negeri Es, ia dikejutkan dengan sosok bocah cilik yang pernah ia temui di Kekaisaran Ma dan langsung mencekik leher klonnya tersebut.
”Fei Chen! Kau datang kesini rupanya! Sudah kukatakan padamu kau akan menyesal jika berurusan denganku!” pesan dari sosok bocah cilik itu sebelum membunuh klon Fei Chen.
__ADS_1