
PBTB 46 - Terlalu Banyak Sarang
Beberapa hari kemudian sisa-sisa pendekar Aliran Pedang Iblis kebanyakan tewas ditangan Fei Chen. Setelah mendapatkan informasi yang cukup akhirnya Fei Chen memberanikan diri untuk menuju Kerajaan Historia.
Dua orang yang memaksa untuk ikut bersama Fei Chen adalah Ma Mingyan dan Chu Meilan. Fei Chen sendiri ingin melakukan perjalanan ini sendirian untuk menghindari hal-hal yang tidak inginkan namun keduanya bersikeras memaksa.
”Guru, izinkan aku ikut bersamamu!” Chu Meilan memaksa.
”Tuan Putri, kau tidak boleh memaksa Gurumu itu.” Mu Rong menegur.
”Tetapi Bibi Mu, Guru sudah berjanji!” Chu Meilan tetap memaksa.
”Dasar bocah. Tentu saja Chen‘gege tidak membutuhkan beban sepertimu Lanlan.” Ma Mingyan mengeledek.
Melihat kepribadian Ma Mingyan dan Chu Meilan membuat Fei Chen menghela nafas. Keduanya terlihat selalu bersaing dalam hal apapun walaupun Ma Mingyan selalu yang lebih unggul dari Chu Meilan.
Akhirnya Fei Chen memutuskan mengajak keduanya dan izin ini diterima Ning Guang dan Mu Rong sebagai pengasuh kedua Tuan Putri itu.
”Suami, ingat jangan berbuat hal yang aneh disana seperti menambah istri apalagi menambah dua istri dari kedua muridmu ini.” Ning Guang berkata lirih dan membuat Fei Chen tersenyum kecut.
”Kau pikir aku lelaki apaan, Guang‘er?” kata Fei Chen.
__ADS_1
”Lelaki yang setiap melakukan perjalanan akan menambah wanitanya bukan? Atau lelaki yang tertarik pada wanita dewasa.” Ning Guang malah semakin menjadi-jadi mengeledek Fei Chen.
”Cukup, aku mengerti. Tenang saja aku tidak akan melakukan hal yang aneh.” Fei Chen berharap Ning Guang tidak lagi mengeledeknya.
Setelah itu Fei Chen menyuruh Ma Mingyan dan Chu Meilan untuk bersiap. Kemudian Fei Chen berpamitan dengan semua istrinya termasuk Fu Diao dan Hong Zi Ran sebelum pergi meninggalkan Kekaisaran Ma.
Rute yang Fei Chen tuju bukan langsung menuju Kerajaan Historia melainkan menuju Kekaisaran Kai. Dengan menggunakan Fengxue sebagai kendaraan pribadinya yang handal, Fei Chen terbang menuju Kekaisaran Kai bersama Ma Mingyan dan Chu Meilan.
”Ini pertama kalinya aku ke Kekaisaran Kai. Aku mendengar dari Bibi Ning jika ada Bibi yang lain disana. Berapa istrimu disana Chen‘gege?” Pertanyaan Ma Mingyan membuat Fei Chen tersedak.
‘Guang‘er mengatakan hal yang tidak perlu.’ Fei Chen membatin.
”Guru, jadi kau memiliki istri di Kekaisaran Kai...” Chu Meilan menatap Fei Chen rumit.
”Aku memiliki tiga istri disana.”
”Tiga? Heeeh... Baru tiga ya hihihi... Iya kan Kakak Yanyan?” Chu Meilan menanggapi bingung.
“Apa Chen‘gege tidak ingin menambah dua?” Tiba-tiba Ma Mingyan mengajukan pertanyaan.
”Dua? Hmmm... Belum kupikirkan.” Fei Chen tidak bisa memberitahu jika sebenarnya dia memiliki calon istri lebih dari dua.
__ADS_1
”Daripada itu kenapa kalian berdua tidak mencari seorang kekasih. Kalian sudah menjadi orang terpandang dan pendekar yang hebat,” ucap Fei Chen dan membuat Ma Mingyan jengkel.
“Aku memiliki janji dengan seorang pria yang akan menikahiku suatu hari nanti. Tetapi aku sadar jika pria itu hanya tertarik pada wanita berumur dan tidak tertarik pada wanita yang lebih muda darinya.” Ma Mingyan pun cemberut.
”Yanyan...” Fei Chen kebingungan melihat sikap Ma Mingyan.
‘Apa dia memendam perasaan itu selama ini? Yanyan aku memiliki istri yang lebih dari satu dan kau mungkin ada diurutan entah yang keberapa. Aku tidak ingin kau memiliki suami sepertiku ini yang tidak setia pada satu wanita.’ Fei Chen membatin dan merasa bersalah.
”Guru, boleh aku meminta hadiah darimu untuk ulang tahunku?” Saat Fei Chen dan Ma Mingyan merasa canggung, Chu Meilan masuk kedalam perbincangan.
”Hadiap apa itu Lanlan?” Fei Chen bertanya.
”Aku ingin Guru menatapku sebagai seorang wanita dan bukan sekedar murid.” Permintaan Chu Meilan membuat Fei Chen menelan ludah karena ditatap gadis yang menawan ini.
”Aku juga, Chen‘gege!” Ma Mingyan tidak mau mengalah.
Fei Chen terdiam membisu saat Ma Mingyan dan Chu Meilan memperebutkan dirinya.
‘Tuanku, kau memiliki terlalu banyak sarang...’ ledek Fengxue melalui telepati.
”Berisik, atau kau akan kubakar!” Fei Chen menegur Fengxue dan membuat Ma Mingyan dan Chu Meilan terdiam.
__ADS_1
”Maaf...” Fengxue, Ma Mingyan dan Chu Meilan menjawab serentak.
”Yanyan, Lanlan, kalian tidak perlu minta maaf.” Fei Chen menghela nafas karena membuat kedua gadis itu merasa bersalah.