Penguasa Benua Tujuh Bintang

Penguasa Benua Tujuh Bintang
PBTB 21 - 2+1=3


__ADS_3

PBTB 21 - 2+1\=3


Fei Chen mengerang cukup keras karena kenikmatan yang diberikan Guan Ai dan Ji Xiuha. Nafas Fei Chen terengah-engah menikmati pelepasannya. Fei Chen menahan nafas saat melihat Guan Ai menghisap kuat dan menelan semuanya hingga habis sedangkan Ji Xiuha melanjutkan sisanya.


“Ini... Mmmm...” Fei Chen mengumpat dan tidak dapat menahan gejolak yang meluap.


Akhirnya Fei Chen menarik tubuh Ji Xiuha dan langsung menindih nya dengan cukup kasar.


“Akh! Pelan-pelan suamiku! Aku tidak akan melarikan diri!” Ji Xiuha memekik dan hanya tersenyum gemas saat Fei Chen melepaskan semua kain yang menutupi tubuhnya.


“Sepertinya suami kita kesetanan. Ingat ada dua wanita disini dan bukan hanya Xiuha,” ledek Guan Ai yang langsung duduk disamping Fei Chen sambil melepaskan pakaiannya.


Song Na tampak ragu dan malu-malu, namun Guan Ai menariknya dan membantu melepaskan pakaiannya.


Fei Chen meraba tubuh Guan Ai dan Song Na dari samping dengan masing-masing tangan yang meremas gunung kembar mereka. Kemudian Fei Chen membisikkan sesuatu pada keduanya untuk bergantian karena dia akan memulai pertempuran pertama dengan Ji Xiuha.


“Tunggu... Chen‘er... Gege! Ini besar sekali! Kenapa punyamu jadi semakin besar!” Ji Xiuha nampak panik karena menyadari betapa perkasanya Fei Chen.


“Kita sudah melakukan ini berulang kali Xiuha‘er jadi jangan malu-malu lagi.” Fei Chen mencondongkan badannya kedepan dan menempelkan pusakanya pada celah Ji Xiuha yang membusung indah.


Fei Chen menyukai ekspresi wajah keibuan Ji Xiuha yang panik. Terlebih saat dia mulai membenamkan kepala sang naga kedalam sarangnya, mata indah milik Ji Xiuha menyala kaget.


Fei Chen memeluk dan langsung menenangkan Ji Xiuha yang khawatir dengan besar dan panjangnya keperkasaan miliknya. Keduanya mengecup rongga mulut masing-masing dan terbuai dalam kenikmatan mereka, hingga akhirnya kepala sang naga mulai membelah celah sempit Ji Xiuha.


Fei Chen melepaskan pagutan pada mulut Ji Xiuha dan melihat ekspresi Ji Xiuha yang membuat darahnya berdesir.


“Aaaahhhhhh!” jerit Ji Xiuha tertahan dengan mata yang terbelalak saat melihat ke bawah celah sempit nya seperti berusaha menelan kepala naga Fei Chen.


Fei Chen kembali membenamkan dan membuat badan Ji Xiuha gemetaran, akhirnya dia merasakan milik Ji Xiuha sangat mencengkeram kuat dan basah.


“Rapat dan nyaman sayang... Kau masih menggoda...” Fei Chen berbisik sambil menggigit telinga Ji Xiuha.


Ji Xiuha merasa malu dan bangga. Secara tidak sadar celah sempit nya seperti meremas keperkasaan Fei Chen dengan sangat kuat hingga keduanya saling menatap satu sama lain penuh kerinduan.


Akhirnya Fei Chen bergerak secara pelan dan pasti sebelum mempercepat temponya dan bertenaga. Ranjang tempat Ji Xiuha tidur berderit keras diiringi suara jeritan dan erangan wanita beranak satu itu.


“Haaaaggghhh! Pelan Chen‘er! Gege!” Ji Xiuha yang biasa memanggil Fei Chen dengan sebutan, Chen‘er menjadi bingung karena dalam posisi seperti ini dan dilihat oleh Guan Ai dan Song Na.


“Xiuha! Argh!” Fei Chen mengeram nikmat dan merasakan cengkeraman celah sempit Ji Xiuha yang semakin erat dan basah.

__ADS_1


“Ooohhh! Sudah! Sudah!” Ji Xiuha menggelepar saat Fei Chen menggerakkan tubuhnya dengan kuat dan bertenaga.


Pelepasan yang Ji Xiuha rasanya membuat dirinya merasakan kenikmatan tiada tara. Gerakan lembut di bawah sana menandakan jika Fei Chen masih menahan kenikmatan dan beralih ke pertempuran selanjutnya.


Melihat Guan Ai yang sedang berbaring sambil melihat dirinya bergulat dengan Ji Xiuha, Fei Chen langsung melepaskan penyatuan dengan Ji Xiuha dan menuju ke arah Guan Ai.


“Sepertinya aku selanjutnya yang menjadi sasaran suami muda kita,” ucap Guan Ai dan dengan senang hati melebarkan kedua kakinya.


Namun Fei Chen melipat paha Guan Ai dan membuat wanita paruh baya itu berbaring menyamping. Kemudian Fei Chen mulai menggesekkan kepala sang naga pada celah sempit Guan Ai dengan pelan.


“Bibi Guan... Kita lihat seberapa rapat milikmu sayang.” Fei Chen sengaja menghembuskan nafasnya dengan kasar ke pipi Guan Ai.


“Jangan remehkan aku, Chen‘er! Aku akan membuatmu mencapai puncak!” ujar Guan Ai.


“Istriku selalu mengatakan itu dan aku yang menang,” ledek Fei Chen sambil bersiap menghujamkan celah sempit Guan Ai yang sudah sangat basah.


“Jangan sombong dulu- Haaaakkkk! Aaaahhh!” Mata Guan Ai terbelalak saat merasakan sebuah benda seperti tongkat masuk kedalam tubuhnya.


Badan Guan Ai menggeliat dengan kedua mata berair menatap Fei Chen yang asyik meraba gundukan kenyal yang sekal miliknya.


“Chen‘er!” Guan Ai ingin protes tapi mengetahui Fei Chen mengagumi tubuhnya akhirnya membuat wanita itu menggoyangkan pinggulnya.


Dari belakang tubuh Guan Ai, Fei Chen memompa tubuhnya dengan cepat dan hal ini membuat Song Na menjadi semakin ingin bergabung karena melihat besarnya keperkasaan Fei Chen masuk dan keluar secara alami didalam celah sempit Guan Ai.


“Aaaahhh! Chen‘er! Chen‘er! Aku.... Ooohhh!” Guan Ai memegang paha Fei Chen yang terasa kokoh menghentak dengan kuat ke bokong indahnya.


Nafas Guan Ai tidak teratur dan menikmati pelepasannya, Fei Chen tidak segera beralih ke Song Na karena dia akan mencapai pelepasan kedua. Benih sang Naga yang perkasa akan kembali menyemburkan cairan cintanya dan Fei Chen langsung menindih tubuh Guan Ai tanpa melepaskan penyatuan.


“Mmmmssshhhh... Chen‘er...” Guan Ai menggeliat saat Fei Chen menghisap kuat gunung kembarnya secara bergantian.


Kemudian Fei Chen mulai bergerak dengan buas diatas tubuh Guan Ai hingga membuat nafas Ji Xiuha dan Song Na berhenti melihat bagaimana Guan Ai meronta dan Fei Chen mengeram kenikmatan.


Tak lama Guan Ai memeluk tubuh Fei Chen sangat erat dengan kedua kaki jenjang yang menggelepar berusaha mengunci pinggang Fei Chen.


“Guan Ai! Aaaahhh!” Fei Chen yang merasakan celah sempit Guan Ai mencengkeram sangat kuat dan dapat hanya bisa mengeram.


“Chen‘er! Chen‘er! Gege! Suamiku! Aku! Aku aaaahhh!” Guan Ai sudah tidak dapat berpikir jernih dan hanya mengeluarkan suara lenguhan tidak jelas seiring gerakan yang dilakukan Fei Chen.


Guan Ai melenguh dan mengembik saat menyadari gerakan Fei Chen semakin tidak teratur. Benar saja tiga menit kemudian Fei Chen melakukan pelepasan didalam tubuh Guan Ai dan menikmati perasaan hangat pelukan mereka.

__ADS_1


“Kau seperti.... Mmmm... Ingin menghancurkan tubuhku... Chen‘gege... ” Guan Ai mengelus belakang kepala Fei Chen dan tersenyum bahagia.


Fei Chen membiarkan miliknya menikmati pelepasan didalam perut Guan Ai sebelum ia melepasnya dan berbaring sambil melirk kearah Song Na.


Ji Xiuha dan Guan Ai menghela nafas saat melihat keperkasaan milik Fei Chen masih berdiri tegak kearah langit.


“Sayang, naik keatasku,” ucap Fei Chen kepada Song Na.


Song Na segera menuruti ucapan Fei Chen dan mulai jongkok tepat di hadapan keperkasaan Fei Chen yang berdiri tegak. Song Na memegang dengan tangannya yang lembut dan membimbingnya masuk kedalam luang kenikmatan miliknya.


“Emmmm...” Suara lembut dan indah Song Na terdengar saat kepala sang naga berusaha menyeruak masuk kedalam luang sempit Song Na.


Fei Chen melihat Song Na ragu-ragu segera memegang bongkahan indah pinggul Song Na dan ia menghentakkan pinggulnya keatas. Seketika sang naga terbenam kedalam luang kenikmatan tiada tara.


“Haaaakkkk!” Mata Song Na terbelalak dan wajahnya meringis kesakitan.


Berangsur-angsur tubuhnya mulai jatuh menimpa Fei Chen. Dari ketiga istrinya yang sedang melayaninya, harus Fei Chen akui Song Na yang paling pasif tetapi dia menyukai wanita ini. Belaian dan cengkeraman rapat yang memberikan kenyamanan ini membuat Fei Chen mulai melanjutkan pertempuran menuju alam surgawi bersama Song Na.


“Bergeraklah sayang...” ucap Fei Chen lembut setelah mengecup singkat bibir Song Na.


Akhirnya Song Na bergerak lembut dan pelan. Fei Chen menikmati hal ini dan melihat gunung kembar Song Na terguncang kesana kemari mencari pejantan yang memegang.


Melihat pergumulan Fei Chen dan Song Na membuat Ji Xiuha dan Guan Ai merapat. Akhirnya Fei Chen mulai memegang bongkahan pinggul Song Na yang besar dan indah, lalu dia membantu dengan gerakan naik turun yang lebih cepat.


Hanya dua gerakan itu Song Na dibuat melayang oleh Fei Chen dan suara lenguhan nya yang lembut membuat Fei Chen benar-benar merasakan kenikmatan yang tiada tara.


Menyadari dirinya masih mampu karena kondisi tubuhnya yang sangat istimewa, Fei Chen membalikkan tubuh Song Na dan menindih nya lalu mulai menggerakkan tubuhnya naik turun.


Song Na hanya melenguh dan mengembik karena mencoba mengimbangi pergerakan Fei Chen. Pengalamannya yang pasif ini justru menjadi kenikmatan tersendiri bagi Fei Chen sebelum akhirnya Fei Chen melepaskan penyatuan dan langsung menarik tubuh Song Na sambil berdiri.


Song Na yang mengerti membelai, meremas dan memanjakan inti Fei Chen yang sangat keras itu. Akhirnya wajahnya basah dan penuh dengan aroma kental sang Raja Neraka.


“Kau sangat nakal, Chen‘gege...” Song Na tersenyum lembut sambil mengecup ujung inti Fei Chen.


Fei Chen hendak berbaring namun dia melihat Ji Xiuha dan Guan Ai yang sedang dalam posisi sangat menggoda.


“Chen‘er... Apa kau tidak ingin mencobanya dari belakang?” ucap Ji Xiuha dan Guan Ai bersamaan. Tubuh keduanya menelungkup diatas ranjang pertempuran.


Fei Chen menahan nafas dan kali ini inti keperkasaan miliknya bertambah keras saat melihat keindahan bentuk bongkahan pinggul Ji Xiuha dan Guan Ai yang membulat indah.

__ADS_1


“Siapa takut?” Fei Chen meremas bongkahan padat kedua istrinya itu dan menampar agak keras. Kemudian dia dengan penuh semangat melanjutkan pertempuran mereka hingga titik nikmat penghabisan.


__ADS_2