Penjual Pecel Milik Dokter Handsome

Penjual Pecel Milik Dokter Handsome
Penjual Pecel di Kantin


__ADS_3

Ayi yang menghampiri dokter Fatih di ruangannya


“sudah bertemu Ayi sama tetangga kamu itu?” tanya dokter fatih kepada bang ayi


“sudah dokter,”


“mau apa dia kesini ayi,”


“itu pak, tetangga saya mau jualan pecel di kantin rumah sakit. Hehehe”


“nanti dokter coba ya, pecel buatan tetangga saya, enak loh pak”


Dokter fatih tersenyum kepada bang ayi yang menandakan iya menerima tawarannya itu untuk makan pecel buatan tetangganya itu.


Ayi teringat bahwa ia harus menyampaikan salam mbak Alif kepada dokter Fatih. Ayi menyampaikan salamnya itu kepada dokter fatih.


“dokter, ada salam.”


Fatih yang terheran dengan mengangkat kedua alisnya siapa yang berani- berani titip salam untuknya.


“iya dokter, salam dari mbak Alif,”


“Alif tetangga kamu itu, bagaimana dia tahu saya.”


Tanya dokter penasaran


“oh bukan dok, dia temannya tetangga saya yang ikut mengantar tadi siang.”


“mbak alif bilang, dia pernah berobat disini dan ketemu sama dokter.”


“iya kah, saya lupa.”


Dokter mengirimkan salam baliknya terhadap Alif, hanya sekadar untuk menghargainya itu. ayi berpamitan pulang kepada dokter untuk Kembali pulang.


...***...


Pasar senin,


Alif mengantarkan Mira ke pasar untuk berbelanja kebutuhan buat dagangannya. Mira sudah bisa berjualan di kantin rumah sakit mulai besok. Mira ditemani alif untuk berbelanja kebutuhannya. Bau pasar sudah khas di hidung. Uang di dompet selayaknya harus segera pergi dari huniannya. Mira yang Sudah membuat daftar list belanjaan jadi cepat mereka akan belanja.


“apa lagi nih, sudah kah belanjaan mu Mir,?”


Tanya alif yang telah melihat begitu banyak yang diborong dan ada digenggaman.


Alif mengangguk dan mereka bergegas pulang. Hari Pun mulai petang. Mereka tidak mau harus sampai terlalu malam.


Sesampai dirumah mereka menaruh kakinya untuk beristirahat. Hari yang melelahkan saat itu.


“besok, biarkan aku jadi tester pertamamu untuk pecel buatan mu ya? Hahaha” alif menggoda


“siap bos ku,”


“jam berapa besok kamu harus stay sana,?”


“jam 5 aku harus stay, aku bareng bang ayi, jadi nanti bang ayi akan jemput aku kesini”


Alif merasa tenang dan bisa merasakan tidur nyenyak malam ini. Mira membuka handphonenya dan mengabari vina yang sedang asik berduaan sepertinya dengan mbok Nah. Mira merindukannya.


“hello, Vin bagaimana kabar kamu dan mbok? Sehat”


Mira dengan mata yang hampir habis watt nya.


“hei, buset gak pernah telpon. Jadi bos sekarang,”

__ADS_1


Ledeknya


“tentu, besok aku jadi bos pecel keren kan”


Mira mengucap dengan nada sombong.


“idih, pecel lagi kamu. Sana sini pecel”


“memang rejeki, habis ini lah geser dokter. Haha"


Dalam obrolan mereka yang sangat lama, tertidur lagi mereka dengan pulas. Mira dan vina ketiduran setelah mereka ngobrol yang cukup lama.


Jam 3 pagi mira harus bangun untuk memasak. Bang ayi yang Sudah diberitahu harus menjemputnya di kontrakan Alif pukul 5 pagi.


...-----...


Keesokan harinya jam 05.30 pagi. Kantin sangat terlihat rame banyak sekali pedagang yang menjual dagangannya. Mira baru tahu bahwa rumah sakit sangat rame ini bak pasar malam. Mira menata dagangannya dibantu bang ayi.


“sudah nanti kamu disini saja, jual pecel kamu. Laku tidak urusan belakang seng penting dungo”


Nasihat bang ayi kepada mira.


Mira mengangguk


“saya nanti pulang jam 3, kamu tutup jam berapa terserah kamu. Yang penting jam 3 harus disini ayo pulang.”


“iya bang ayi, siap makasih loh bang”


“iyo, tak tinggal bersih- bersih dulu.”


Mira mulai membuka warungnya. Aneka ragam orang yang jual makanan. Beruntungnya tidak ada yang berjualan pecel. Hanya mira seorang yang berjualan pecel. Tertulis nama Mbok Nah di warung Mira. Karena pecel itu warisan mbok Nah, hahaha.


Alif yang baru terbangun dari tempat tidurnya langsung membaca pesan yang ditinggal oleh mira ditempat makan.


...Jangan lupa makan ya Alif, nanti aku balik lagi, jangan kangen...


...Pecel khas buatan Mira siap menanti...


...dr. mira (pecel)...


Alif semakin lahap memakan pecel itu. alif beruntung karena ada teman sekamar sekarang. Ia jadi tidak merasa kesepian.


“pagi dokter Bams.”


“pagi ayi, pagi sekali.”


“iya tadi saya bantu tetangga saya yang baru berjualan di kantin sini”


“iya kah, jual apa”


“jual pecel dokter. Nanti boleh mampir, hehehe gratis”


Bams tersenyum dan meniggalkan ayi.


Tidak Nampak dokter fatih pagi ini. Mungkin dokter fatih ada izin hari ini. Jam makan siang, ayi mendatangi mira yang sudah banyak orang yang mengantri untuk makan. Bang ayi membantu mira untuk berjualan.


“rupanya disini, pak ayi.”


“eh dokter, silahkan duduk. Saya kenalkan tetangga saya”


Mira yang masih sibuk melayani pembeli, bang ayi memperkenalkan Mira kepada dokter yang mampir di warung nya.


“Mira, kenalin ini dokter Bams…….”

__ADS_1


Mira dan Bams menoleh setelah bang ayi memperkenalkan. Mereka sangat terkejut setelah mengetahui bahwa mereka pernah menjalin hubungan semasa kuliah.


“Mira,,,” Bams yang terkejut dengan memanggil nama mira


Mira yang bengong seketika melihat bams seorang dokter Nampak dihadapannya. Bams yang masih dengan ketampanannya tetapi sifatnya yang seenaknya membuat Mira Kembali merasa jengkel terhadapnya.


Mira memutuskan Kembali bekerja dan tidak melihatnya. Bang ayi yang kebingungan dengan sikap Mira.


“mira, itu dokter Bams. Dia sangat baik, dia senang bantu bang ayi disini. Sapa dia.”


Bang ayi yang mengomel kepada Mira, karena ia hanya sibuk berjualan tanpa melihat Bams. Bang ayi mengambilkan sepiring pecel untuk diberikan kepada dokter Bams.


“silahkan dokter, dimakan pecelnya. Buatan Mira enak loh dokter. Pecel ini terkenal di Malang.”


Bams yang tersenyum sambil melihat Mira yang sedikitpun tidak menggubris Bams. Bams merasakan bersalah setelah kejadian 3 tahun silam antara mereka. Bams mengakui atas sikapnya yang salah terhadap Mira. Mira tetap perempuan cantik dengan rambut hitamnya yang Panjang. Hanya saja perubahan pada kaki mira yang hanya tersisa satu.


Bams mengakui semangat Mira dan sifat Mira yang pantang menyerah sejak dulu. Ia memang patut jadi mahasiswa paling berprestasi di kampus karena sifat gigihnya dan konsisten dalam berusaha.


“Cantik ya dia pak Ayi, ndak berubah”


“memang cantik dari dulu. Dokter mau dikenalkan?”


“eh tapi dokter bilang ndak berubah? Pernah kenal dokter sama tetangga saya?”


“iya, di kampus Malang, teman saya pak?” Bams menundukkan kepalanya


Bang ayi kaget ternyata dokter Bams teman sekampus Mira. Bang ayi yang kesal dnegan sifat mira yang tidak ramah terhadap temannya itu. bang ayi memanggil Mira disaat sudah sepi pembeli.


“Mira, sini. Duduk”


Bang ayi teriak.


Mira mendatangi bang ayi dan Bams yang sedang duduk berhadapan itu. sebelum bang Ayi memarahinya, Mira menyapa Bams dengan sangat terpaksa. Ia hanya tidak ingin bang Ayi mengomel disiang bolong.


“hei, Bams. Bagaimana kabar kamu, sehat kan! Sudah lama tidak ketemu. Jadi dokter hebat ya sekarang, dengar- dengar kamu sudah mau menikah. Kenapa tidak kasih kabar?”


Nada Mira yang sedikit menyindir Bams seakan memaksakan keadaan


“Mira, yang sopan sama dokter”


“bang ayi ini, dokter Bams ini teman mira bang?”


Sahut Mira kepada bang ayi yang duduk disebelahnya.


Bams yang masih mendengar terdiam dan merasa sangat bersalah dan malu atas apa yang telah ia lakukan. Mira meminta Bams untuk melanjutkan makanannya. Sambil melirik sekitar mira mengamati Bams dengan segala perubahannya.


“bagaimana dokter, enak kan Pecel masakan Mira?” tanya bang ayi kepada dokter dengan polosnya.


Bams mengangguk dan menikmatinya. Tak lama bams menyahut:


“enak pak ayi, ini makanan favorit saya dulu di malang. Sekarang pecel kesukaan saya ada di Jakarta, bersyukur sekali.” Bams yang menatap penuh makna terhadap Mira.


“bang Ayi nanti Mira tutup lebih awal jam setengah 2 ya, Mira jalan- jalan sebentar!”


“kaki kamu gimana, gak capek?” sahut bang ayi


“kaki Mira kuat bang, meski Cuma 1” Mira melihat Bams dengan menunjukkan bahwa ia masih kuat tanpa keberadaannya.


Bams yang merasa bahwa ia telah menyindirnya. Bams berusaha bersifat care dengan Mira. Ia pun menanyakan keadaan kakinya itu setelah kecelakaan.


“kaki kamu baik mira.”


Mira mengangguk, “baik, untung ada Vina yang setia di sampingku”

__ADS_1


Mira menyindir dan meninggalkan bams saat itu. Mira membereskan warungnya dan bersiap untuk berkemas.


__ADS_2