
Jakarta,
Seketika dokter fatih tiba di rumah sakit harapan, ia berlari menuju ruang operasi yang masih berlangsung. Ia menemui dokter gery untuk mendapatkan instruksi apa yang harus ia lakukan. Mira Kembali menuju rumah untuk beristirahat. Ia mengistirahatkan tubuhnya dan akan membuka klinik dirumahnya karena sudah dua hari tutup. Mbok nah yang meminta mira agar istirahat terlebih dahulu dan tidak membuka kliniknya tetapi mira tidak menghiraukan itu dan meminta mbok nah untuk beristirahat. Klinik telah dibukan satu demi satu pasien datang untuk berobat kepada Mira. Senyuman itu Kembali terlihat di wajah mira yang senantiasa tulus membantu pasien.
“selamat sore dokter?” senyum salah seorang pasien
Mira memberikan senyumnya dengan memegang pipi gembul anak yang di gendong ibu itu. Mira mempersilahkan ibu itu untuk duduk dan menanyakan keluhannya.
“ada yang bisa dibantu ibu?” tanya mira
Mira sibuk memberikan saran dan obat kepada anak tersebut yang sedang sakit. setiap hari seperti itulah mira sekrang disibukkan, bertemu dengan berbagai macam pasien dan karakter yang berbeda- beda. Tepat pukul 20.00 klinik Mira sudah sepi dan siap untuk tutup. Mira merogoh handphone nya dan menghubungi Fatih yang dari tadi pagi sudah dirumah sakit untuk mengurus pasien yang sedang operasi. Sekali Mira menghubungi Fatih namun tidak ada Jawaban dari Fatih. Dan Mira menghubungi untuk kedua kalinya tetapi masih saja tidak ada jawaban yang ia terima, Mira berpikir mungkin ia sedang sibuk dengan pasien mengingat kecelakaan beruntun yang terjadi kemarin pagi. Mira membiarkan handphone nya dan bersiap di tempat rias.
Seorang perawat membangunkan Fatih yang sedang beristirahat sebentar malam itu.
"Dokter Fatih?" Fatih terhentak dan bangun
Fatih tidak menyadari bahwa ia tertidur sebentar saat itu setelah operasi berhasil dikerjakan nya. Fatih menanyakan kepada perawat itu berapa lama ia tertidur. Perawat itu tersenyum sambil mengucapkan,
"16 menit dokter"
Fatih nampak kaget karena cukup lama ia tertidur dan merasa tidak enak. Fatih mengecek handphone nya dan melihat notifikasi panggilan tidak terjawab dari Mira 2 kali. Ia menelpon kembali untuk memastikan bahwa tidak terjadi apa apa terhadap Mira.
"Sayang tidak apa apa? Maaf ini tadi aku tertidur"
Sapa Fatih kepada Mira di handphone sambil meminta maaf
"Sepertinya kamu capek sekali, kapan pulang?" Tanya Mira
Fatih mengatakan bahwa ia tidak akan pulang malam itu karena masih ada perawatan intensif yang harus ia lakukan. Fatih menanyakan apa yang membuatnya menelpon. Mira meminta izin kepada Fatih untuk keluar menemani Aidin membeli seperangkat kebutuhan pernikahan yang sudah 1 bulan lagi tersisa.
"Jangan larut malam, jika tidak memungkinkan, apakah besok pagi tidak bisa?" Tanya Fatih
"Aku sudah janji sayang? Apakah mas Fatih mengizinkan?"
Fatih mengizinkan selama Aidin yang menjemput dan mengantar nya pulang. Mira mendapat izin dan tak lama Aidin menjemput Mira dirumahnya. Tak lama lagiemang pernikahan sang adik Aidin dan juga adik ipar Angel yang mana mereka sama sama seorang dokter. Bagaimana tau takdir tuhan memberikan pasangan pasangan yang sama sekali tidak tertebak. Seorang dari Malang yang sempat putus harapan karena kecelakaan itu namun Tuhan berkehendak lain dan memberikan lebih dari batas yang ia pikirkan.
Tuhan tidak tidur dan bahkan tidak perlu kita repot memikirkan apa yang sudah menjadi tugas tuhan karena itu akan terasa berat dan merepotkan. Tugas ciptaan nya hanyalah berikhtia, berusaha dan melakukan apa yang ia minta, karena ketika kita sudah diambang kedekatan dengan Tuhan nya tidak perlu diminta pun, tuhan akan melaksanakan tugasnya. Nikmat mana yang harus kita dustakan.
"Sudah kak, besok aku pergi lagi sama Angel, kita pulang dulu sudah malam" nasihat Aidin kepada kakaknya
Aidin mengantarkan sang kakak untuk segera pulang kerumah dan mbok nah yang telah menunggu di ruang tamu untuk kedatangan kedua cucunya.
"Apa sebaiknya kamu tidur disini saja dulu nak?" Tanya mbok nah kepada Aidin
Aidin menggelengkan kepala dan ingin segera pulang. Aidin kembali ke mobil dan melajukan mobilnya untuk segera pulang.
__ADS_1
H-3
Rumah Fatih nampak ribet dimana Aidin menyiapkan segala perlengkapan pernikahan di rumahnya, tidak terkecuali Angel dan keluarga nya. Fatih yang berperan sebagai kakak kandung Angel dan juga kakak ipar dari Aidin, ia begitu bijak dalam membagi segala tugasnya. Angel yang tidak kekurangan teman untuk membantu segala persiapan nya karena ada kedua kakaknya nya lagi ditambah kakak ipar yang senantiasa membantu.
Sudah kurang tiga hari lagi menuju pernikahan mereka berdua Angel dan Aidin. Kegugupan jelas nampak di wajah Aidin karena ia sebentar lagi akan merubah statusnya menjadi seorang suami.
"Ushh, jangan melamun saja" gertak Mira kepada Aidin yang sedang melamun
Aidin senyum dan membuyarkan lamunan nya, Aidin yang sedang duduk di kursi kamarnya menarik dan merangkul kakak satu satunya itu dengan tangis haru
"Kenapa menangis?" Tanya nya
"Terimakasih sudah membantu Aidin sebanyak ini kak?"
Mira mengangkat kepala Aidin untuk tidak perlu berterima kasih. Ia menjelaskan bahwa sudah seharusnya keluarga yang akan menjadi orang pertama dalam hidupnya. Ia juga memberikan nasihat bahwa apapun yang terjadi masalah rumah tangga mereka, hendaklah mereka menyelesaikan berdua, jika diperlukan maka keluarga yang akan membantu nya.
Aidin mengangguk dan melepaskan pelukannya kepada Mira.
"Kapan aku ini bisa dapat keponakan?" Senyum Aidin kepada kakaknya
"Doakan kakak mu ini." Cubit Mira di pipi Aidin.
Mira meninggalkan kamar dan kembali membantu mbok nah dan Vina yang sedang menyiapkan segala sesuatu. Vina datang jauh dari Malang.
"Tidak usah teriak, aku juga denger dokter!" Sinis Vina menjawabnya
Mira yang tidak menghiraukan dan tertawa karena Vina yang tetap saja. Mira hendak menghubungi Fatih namun suara ketukan pintu terdengar diluar. Mira senyum kepada Vina dan membukanya.
"terus saja ngeledek. bener bener ni anak" usik Vina
Mira perlahan membuka kan pintu depan dan Vina yang menanti di ruang tamu menanti siapakah yang datang malam itu. dilihatnya dari ujung bawah, dan sebuah sepatu sudah nampak. itu adalah Fatih suami Mira yang masih lengkap dengan setelan jas putih.
Fatih memasuki ruang tamu dan Mira menutup pintu. Mira memegang tas yang dibawa nya dan memegang tangan Fatih sambil mencium nya. Fatih mencium kening Mira setelah nya.
batuk kecil terdengar dari suara Vina. mbok nah yang asik di samping Vina memberikan senyum atas kecemburuan Vina. mbok nah mengetahui bahwa itu adalah guyonan nya.
"Capek sekali saya, ingin dipeluk istri di kamar" ledek suara keras Fatih dihadapan Vina.
spontan Vina melemparkan selendang yang hendak di rapikan. Mira dan mbok nah tertawa dan Fatih yang balik melemparkan itu kepadanya.
"Dasar ya, ada tamu ini. jangan bermesraan didepan umum" omel Vina
Fatih menuju dapur dan mengambil sebuah piring. Martabak manis yang dibeli oleh Fatih sebelum pulang yang akan disantap bersama sama malam itu.
Hari H
__ADS_1
Gerimis kecil mengiringi pagi itu, hujan berkah nampak diberikan oleh tuhan kepada pernikahan Aidin dan Angel. Suasana sakral ada dirumah Keluarga Angel. segenap keluarga besar Fatih sudah menunggu rombongan dari keluarga Aidin. nampak anggun sekali Angel dengan balutan baju kebaya bewarna putih.
Fatih mencoba menenangkan Aidin agar tidak terlalu tegang.
Mira yang disambut hangat oleh mertuanya itu. kedua kalinya Mira melihat situasi ini. beruntungnya Mira dan Aidin yang masih ditemani oleh kehadiran mbok nah disampingnya. Tempat itu seakan bertema dokter karena mereka semua yang telah menjadi dokter. nuansa putih menjadi atribut hari itu.
"Dinda," celetuk Mira
tak sengaja Vina yang mendengar itu, memastikan apa yang telah diucapkan oleh Mira.
"Dinda siapa?" tanya nya
"tidak apa-apa" jawab Mira
Mira tidak memikirkan itu dan hanya kembali fokus dengan pernikahan sang adik. Vina yang merasa kehausan ia meninggalkan Mira dan mengambil segelas es untuk ditelan nya.
"terimakasih mba" ucap Vina kepada penjaga es, hihihi
tak sengaja Vina melihat Dinda yang sedang berdiri dan berbincang dengan seseorang. Vina begitu kaget dan berpikir apa yang membuatnya menghadiri pernikahan ini. Vina berusaha melihat siapakah yang sedang asik berbicara dengannya. dan dilihat nya bahwa dia adalah Fatih. Fatih yang sedang mengobrol dengan Dinda. dari kejauhan Fatih dan Dinda nampak menikmati obrolan itu.
Vina kembali dan bingung apa yang akan ia katakan kepada Mira. haruskah ia jujur dan menunjukkan apa yang telah ia lihat atau alangkah baiknya harus diam. Vina melamun dan Mira yang hendak pergi untuk mengambil es seperti apa yang ia minum. Namun Vina mencegatnya karena ia tidak siap jika harus ada masalah hari itu juga.
"Jangan, nanti dulu. acara kan mau dimulai" tahan Vina
"Belum ah, haus. disini dulu"
Mira tidak menghiraukan Vina dan pergi mengambil es. Vina sudah gugup terlebih dahulu dan memikirkan apa yang akan terjadi jika Mira melihat Dinda dan Fatih sedang mengobrol.
tak lama dari itu Mira dan Fatih tidak lupa es telah kembali duduk di samping Vina. Vina bingung dan memikirkan yang bukan bukan karena tidak terjadi apa-apa diantara keduanya.
"Kenapa lihat begitu amat" tegur Mira
Vina hanya geleng geleng dan tidak menghiraukan
SAH
Terdengar sudah kalimat itu dari para saksi yang telah hadir di pernikahan Aidin dan Angel. Alhamdulillah acara itu berjalan dengan lancar dan kini sang adik sudah mempunyai tanggung jawab yang lebih besar.
ucapan selamat diberikan begitu banyaknya kepada Aidin dan Angel. Rasa syukur itu patut disyukuri karena Tuhan yang sudah mengatur ini semua. Vina yang masih dengan sikap konyol nya itu, mencium pipi Aidin karena gemas sang adik tiri hihihi, telah menyunting seorang dokter perempuan.
tertawa itu seakan tersedak karena Dinda hadir didepan mereka semua. Angel menyapa,
"Kak Dinda" semua melihat ke arah kedatangan Dinda
"Maaf sekali harus mengganggu candaan kalian" ucap Dinda ditengah tengah Fatih, Mira, Vina, Aidin dan Angel.
__ADS_1