Penjual Pecel Milik Dokter Handsome

Penjual Pecel Milik Dokter Handsome
Tak ada Kabar


__ADS_3

Tujuh hari berlalu, Mira yang tidak ada kabar sama sekali tentang keberadaan nya. Fatih kerap kali mengunjungi tempat kos nya di Surabaya tetapi tak pernah bertemu.


Fatih menghubungi berulang kali, tetapi sedikitpun tak diangkat olehnya walaupun nomor handphone Mira sebenarnya masih aktif.


perasaan khawatir fatih tentang keberadaan nya. ia takut akan terjadi apa-apa terhadap Mira. Elis yang juga mencoba mencari keberadaan Mira dikampus tetapi tidak pernah menjumpai nya.


"Mau sampai kapan seperti ini Mir,"


kelihatan wise pagi itu sosok Vina yang terkenal cerewet nya itu.


"kamu sudah satu Minggu ini tidak menjumpai nya. telepon, pesan juga gak kamu jawab!" nasihat Vina kepada sahabatnya.


"Aku sakit hati Vin, perilaku dia memang aneh di beberapa Minggu kemarin, dia tidak jujur sama aku"


"terakhir aku tanya dimana dan ngapain dia, tidak dijawab. tiba-tiba datang ke Surabaya dan ngeliat dia pelukan sama Elis, rasanya....."


Mira meremas bantal yang ada di pangkuan nya. Mira saat ini yang sedang berada di rumah Puteri mbok ci.


"Mira, sini makan dulu?" panggil Gea Puteri mbok ci.


"siapa Mir,!" tanya Vina


"Oh Gea. putri mbok Ci. aku nginep dirumah dia satu Minggu ini?"


"dasar ya, memang suka nginep dirumah orang. kamu nyusahin mulu!" kesal Vina terhadap sahabat nya itu.


Mira tertawa sekencang kencangnya karena ia tak bisa bayangin muka resek Vina itu kalau suka ngeledek. kerasnya tertawa Mira membuat Gea datang menghampiri.


Mira mengenal kan Gea kepada Vina sahabatnya.


"Salam kenal, Vina. aku Gea teman Mira"


"jangan terlalu sibuk ngurusin Mira, memang dia suka ngerepotin. maafkan dia ya?"


Vina alih-alih meminta maaf. Gea senyum dan pamit untuk meninggalkan obrolan mereka.


Mira yang masih menelpon Vina mengatakan kejujuran yang sebenarnya.


"Tahu gak kamu Vin"


"tahu apa?"


Mira sedikit gugup karena selama ini dia menyembunyikan dari Vina.


"Aku sebenarnya tidak seperti ini jika tidak ada sesuatu yang mengganggu pikiran ku!" tegas Mira.


"Apa?" Vina yang mulai penasaran


"sebenarnya......"


Mira mulai menceritakan tentang kejadian saat ia bertemu sama Elis di kantin kampus.


"Apa, hamil!" kaget Vina


Mira yang ngomel akibat suara Vina yang terlalu kencang.


"Iya, sebenarnya aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi antara Elis dan Fatih? aku butuh kejelasan"


"kemarin kemarin aku sempat telepon dia untuk bercerita masa lalu nya, tetapi dia menolak. dia mau cerita secara langsung tidak melalui telepon" Mira yang masih menceritakan


"nah terus!" makin penasaran

__ADS_1


"Aku meminta dia untuk bertemu secepat mungkin biar kita bisa bicara masalah itu, eh tapi belum ada jawaban" tegas Mira


"Apa mungkin kedatangan Fatih ke Surabaya ini karena masalah kamu itu mir? coba deh positif"


Vina yang masih menasehati


"gak mungkin. jika iya harusnya kabari dulu, jangan tiba-tiba muncul lalu pelukan sama Elis, apalagi dia waktu aku tanya dia sedang dimana gak jawab."


"Karena kemarin Elis juga bilang kalau dia mau ketemu Fatih" Mira mulai sesenggukan.


Vina yang tidak ada disampingnya berusaha menenangkan Mira yang sedang menangis itu.


"coba deh balas dulu pesan dia, angkat telepon dia?"


"belum siap." Mira menjawab


Mira menutup telepon Vina dan menuju ruang makan karena Gea yang dari tadi memanggil nya untuk makan.


***


Fatih yang sedang bertugas sungguh tidak konsentrasi. bagaimana tidak, ia yang sudah satu Minggu belum ada kabar. Telepon Fatih berdering. Fatih langsung mengangkat telepon nya barangkali itu panggilan masuk dari Mira.


"Halo Mira? kamu dimana?" tanya cemas Fatih di telepon itu.


"Ini Bams, bukan Mira dokter Fatih...?"


Fatih yang tidak mengecek panggilan masuk terlebih dahulu merasa malu karena ia ternyata bukan Mira yang telah ditunggu.


"Ada masalah kah sama Mira. Aku mungkin bisa bantu jika tidak keberatan" Bams menawarkan itu kepada Fatih barangkali ia butuh teman untuk meluapkan masalahnya.


"Oh gapapa Bams, semuanya baik"


nada Fatih yang membuat Bams semakin yakin bahwa mereka sedang punya masalah.


tak lama dari itu akhirnya Fatih menceritakan apa yang terjadi.


"Sudah seminggu aku tidak ada kabar dari Mira. aku datang ke tempat kos dia tidak ada. Aku telepon tidak diangkat, pesan juga gak replay dia"


"Aku bingung..." Fatih mulai resah dan mengeluh


"Nanti saya coba cari tahu ya dokter Fatih. saya akan coba menghubungi nya barangkali diangkat" Bams menawarkan kepada Fatih


Fatih menerima tawaran Bams dan meminta nya segera menghubungi jika sudah ada kabar. Bams berjanji dan menutup telepon Fatih.


Fatih hanya menunggu kabar dari bams sebentar lagi.


"Nanti siang Mira ke warung kah?" tanya Gea yang sedang duduk di samping Mira saat sarapan.


Mira mengangguk kepada Gea.


"Iya, nanti aku ke sana ya? sehari absen bantu mama kamu Gea."


Mira tersenyum sambil malu merasa bersalah.


Gea meminta Mira untuk tidak terlalu repot. Mira di warung mbok ci juga tidak dibayar. Mira dengan ikhlas membantu nya.


"Kuliah Mira selesai kapan?" tanya Gea.


"aku usahain sih akhir tahun ini harus selesai" Mira dengan percaya diri menjawab.


"doa nya ya?"

__ADS_1


"Iya, didoakan biar cepat nikah juga sama Fatih!" senyum doa Gea kepada Mira.


Mira mengehentikan kunyahan nya itu dan menaruh sendok diatasnya. Gea menanyakan apakah ada yang salah dengan ucapannya. Mira meneguk segelas air sebelum ia harus menceritakan.


"kenapa Mira?"


"aku sama Fatih....?"


Mira yang tidak kuat untuk melanjutkan ucapannya itu. Mira menangis didepan Gea pagi itu. Gea dengan sigap memeluk Mira agar dia merasa tenang dan terlindungi.


"sudah, semua akan baik-baik saja Mira."


"coba deh telepon dia, dia pasti khawatir sama kamu!" nasihat Gea kepada Mira.


"aku gak berani, aku takut belum siap Gea!"


"satu Minggu ini dia juga tidak ada usaha mencari ku," sambung Mira membela dirinya


"bagaimana kamu bisa tahu! kamu kan disini. bagaimana jika dia mencari kamu tiap hari dikampus dan di kos kamu?" Gea menjelaskan


Mira hanya mendengarkan apa yang telah di nasehat kan Gea kepadanya. seminggu itu Mira juga izin cuti campus. Mira tidak pergi ke kampus selama seminggu itu.


Mira benar benar mengurung diri selama seminggu itu.


Bams menepati janjinya kepada Fatih. ia mencoba menghubungi Mira siang itu. dan alhasil..


"Bams, ngapain dia telepon tiba-tiba begini!" Mira bertanya pada dirinya.


tak panjang lebar ia mengangkat telepon Bams siang itu.


"Halo Bams, kenapa tumben siang begini telepon!" tanya Mira pada Bams.


"Halo Mira, senang bisa dengar suara kamu. apakah kamu sehat?" tanya Bams seperti biasa


"oh sehat Bams seperti biasa. kenapa ya?"


"oh syukurlah. ini mau tanya kabar saja sekalian mau ngantar undangan ku?"


"wah selamat ya Bams, semoga hubungan kamu sama calon istri langgeng sampai nanti."


"Aamiin," Bams menjawab doa Mira


"semoga kamu juga segera nyusul sama dokter Fatih ya?" celetuk Bams dengan sengaja


Mira mendengar dan tidak menjawabnya. Bams bingung kenapa suara Mira tiba-tiba senyap. Bams memanggil nama Mira di telepon


"Mira, Mira masih disitu kah?"


"Iya iya Bams. disini, hehe"


"Kapan Mira sama Fatih menyusul?" tanya Bams


"Oh, mungkin cancel" Mira sigap menjawabnya


Bams kaget dan memastikan pendengaran nya dengan bertanya kembali.


"Iya begitulah. sudah lah tidak usah dibahas kan!". Mira berusaha dengan tegar


Bams tidak mau terlalu terlarut dalam dengan masalah mereka. Bams hanya menanyakan keberadaan nya dia sekarang.


"baiklah, sehat-sehat terus ya. semoga dilancarkan semua! sampai nanti di Jakarta Dan segera lulus!"

__ADS_1


Bams mengakhiri percakapan dengan Mira dan melanjutkan kesibukan masing-masing.


__ADS_2