
Warung pecel Mbok Nah telah tutup pukul setengah 2, Mira berpamitan kepada bang ayi bahwa ia akan jalan- jalan berkeliling disekitar area rumah sakit. Bang ayi berpesan untuk tidak jauh jauh karena bang ayi akan pulang pukul 3 sore dan segera pulang ketempat tinggalnya.
“iya bang, nanti Mira balik lagi ke kantin ya?” mira menyahut ucapan bang ayi
Mira keluar dari rumah sakit dan melihat Gedung bangunan disekitar area. Banyak pedagang kaki lima berjajar disekitar rumah sakit. Mira melihat seorang penjual ice cream yang rupanya sangat enak sekali untuk dinikmati disiang hari.
Mira melihat begitu banyak orang yang sedang mengantre untuk membeli ice cream itu.
Mira yakin bahwa ice cream yang akan ia beli pasti sangat enak, yang antre saja banyak. Mira mulai melangkahkan kaki dan tongkatnya itu menuju pak penjual ice cream. Mira mulai mengantre, mira melihat lihat ice cream apa yang akan menjadi menunya siang itu.
Strawberry vanilla menjadi menu pilihannya saat itu. Mira yang hendak mendapatkan ice cream terdengar suara anak kecil kurang lebih berumur 6 tahun sedang merengek tak sabar untuk mendapat ice cream itu.
Tepat dibelakang Mira seorang anak kecil perempuan dengan rambut dikepang 2. Bapaknya yang sedang mencoba untuk mengajarinya antre harus sedikit kesusahan atas tingkah anaknya itu.
“adik mau ice cream ini,” Mira menawarkan ice cream yang ia pesan kepada si kecil itu dan si anak pun berhenti menangis.
Mira yang seharusnya sudah mencicipi ice cream manja itu harus rela untuk berdiri lagi.
“waduh, terimakasih ya mbak. Maaf anak saya sedang rewel hari ini, kasihan mbak berdiri dari tadi. Pasti capek”
Sang bapak yang meminta maaf terhadap Mira karena ulah anaknya yang rewel tadi.
Bapak itu membayar uang ice cream yang telah dibeli anaknya.
Mira Kembali mendapatkan ice cream strawberry vanilla. Mira membayarkan kepada sang penjual dengan harga 15.000 rupiah untuk satu buah ice cream. Penjual itu menolak pembayaran dari Mira.
“ma’af mbak, bapak itu tadi sudah membayar ice cream mbak. Jadi ndak perlu bayar, terimakasih”
“bapak, bapak mana ya mas?” tanya Mira penasaran
“bapak itu mbak, sama anaknya”
Mira terbengong dan mengucapkan terimakasih kepada penjual. Mira berusaha mengejar si bapak itu untuk mengucapkan terima kasihnya karena telah membayar ice cream.
“Bapak, bapak. Permisi”
Mira yang sedikit kesulitan untuk mengejar bapak tadi karena terhambat oleh tongkat kakinya. Mira hanya ingin mengucapkan terimakasih kepadanya.
“iya mbak, panggil saya” sahut sang bapak itu
Mira mengangguk,
“terimakasih pak, atas ice cream. Tidak perlu repot- repot seperti ini” mira tersenyum tulus dan sangat rama sekali.
Bapak itu mengajak Mira duduk di kursi yang dekat dengan taman. Mereka pun duduk sambil menunggu anak sang bapak yang sedang bermain di playground.
__ADS_1
“kaki mbaknya kenapa? Mohon maaf sebelumnya jika saya bertanya lancang.”
Tanya bapak itu berhati- hati karena takut menyinggung perasaannya.
“nyantai saja pak, ini dulu waktu saya nyebrang mungkin saya kurang berhati- hati, saya tertabrak oleh mobil yang sangat cepat jadi saya terpental sekeras- kerasnya dan membuat kaki saya patah” mira yang menjelaskan dengan tenang dan percaya diri.
“oh, ya ampun. Ngeri dengernya. Tertabrak dimana mbak?”
“di Malang pak!”
“kok di malang.”
“iya, saya asli malang pak.”
“sekarang disini ada pekerjaan kah mbak?” tanya sang bapak
“iya saya berjualan pecel di kantin Rumah sakit Harapan sebelah sana pak,”
“iya kah. Wah, Saya belum tahu. Saya juga di rumah sakit Harapan” jawab sang bapak kepada Mira yang juga terkejut mendengar bahwa bapak itu bekerja ditempat yang sama.
Bapak itu sangat menikmati ngobrol dengan Mira, anak sang bapak menghampirinya dan meminta untuk segera balik pulang.
“ini siapa Namanya?” mira bertanya dengan ramah kepada adik kecil itu
“wah nama yang bagus sekali”
“tante Namanya siapa?” tanya balik anak itu kepada Mira yang dipanggilnya tante, hahaha.
“panggil kakak saja ya,” senyum Mira
“nama kakak, kak Mira” sambung Mira kepada adik kecil itu.
Sang bapak berpamitan kepada Mira yang masih duduk dengan ice cream yang belum habis di genggamannya.
Bapak dan anak itu mulai sedikit menjauhi dari tempat mira duduk. Mira mengawasi sang bapak itu. Mira teringat sosok ayahnya saat masih kecil. Ayahnya yang begitu menyayangi putera-puteri nya.
Tak lama dari itu, sang bapak terjatuh ketika hendak menyebrang jalan. Sang anak menangis dan teriak tolong kepada orang sekitar, orang sekitar pada lari untuk mencoba membantunya tapi tak satupun dari mereka yang membantunya.
Mira yang melihat kejadian itu berusaha untuk lari sebisa mungkin untuk membantu menyelamatkannya. Mira mengambil posisi dan melihat kondisi sang bapak dengan memeriksa lehernya.
Banyak orang mengelilinginya, Mira memberikan CPR secepat mungkin untuk membantu sang bapak agar bisa bernafas Kembali, Mira menekannya sebanyak 3 kali, tak lama seorang dokter menghampirinya dengan menyingkirkan Mira yang sedang mencoba untuk menyelamatkan bapak itu.
“minggir kamu, apa kamu bisa. Jangan sembarangan kamu. Awas!” perkataan yang tak karuan terucap dari mulut fatih.
Ketika dokter hendak menekannya memberikan CPR lagi, sang bapak terbangun dari tidurnya.
__ADS_1
“Alhamdulillah, bapak baik saja?” tanya dokter Fatih kepada Bapak Gery yang merupakan dirut utama Rumah sakit Mitra.
“Iya, baik. Jantung saya kambuh. Terimakasih Fatih sudah menolong saya.” Pak Gery sedang tersengal-sengal.
Sang anak memeluk papa nya dan menangis terisak.
“papa, yang bantu papa tadi kakak ice cream tadi, bukan uncle Fatih”
Papa puteri yang keheranan bahwa ternyata Mira yang ditemuinya tadi yang menyelamatkan nyawa nya.
“kak Mira, putri?”
“iya, pa!” jawab polos sang anak
“kemana kak putri sekarang?” tanya pak gery
“Tadi uncle fatih mengusir kakak ice cream.”
“bukan mengusir tadi pak saya, cuman saya tidak mau saja terjadi apa- apa dengan bapak. Memang dia dokter berani menolong bapak! Kalau ada kesalahan fatal bagaimana pak?” fatih yang berusaha membela dirinya.
“tapi tidak seperti itu juga, buktinya sekarang saya terselamatkan. Lain kali kamu jangan menuduh terlebih dahulu, oke. Kamu dokter loh Fatih jadi harus lebih berhati- hati”
Dokter fatih yang hanya mendengarkan atasannya itu dengan menundukkan kepalanya dan merasa bersalah atas apa yang ia lakukan.
Fatih membantu pak Gery untuk menuju rumah sakit dan memeriksa kesehatannya.
“Dokter tadi siapa ya, sepertinya saya pernah tahu dia. Tapi dimana ya?” Mira termenung memikirkan siapakah dokter yang menyingkirkan Mira tadi itu.
Mira mengingatnya dan itu adalah dokter yang pernah memeriksanya dikala ia sakit 3 tahun yang lalu di Malang.
“tapi kenapa dia sekarang di Jakarta?” mira memikirkannya.
...***...
Kantin……
“Maaf Mira, telat. Bang ayi tadi habis bantuin dokter Gery habis kena serangan jantung dijalan!”
Bang ayi menceritakan alasan ia telat menjemput Mira di kantin.
“Mira tadi juga habis bantuin orang yang jatuh pingsan dijalan bang ayi, tapi ga tau siapa dia?”
Mira menjelaskan balik kepada bang Ayi.
Mira menunjukkan ciri- cirinya kepada bang ayi dan ternyata orang itu memang dokter Gery sang dirut rumah sakit Harapan.
__ADS_1