
"Vin,"
Fatih memanggil nama Vina berulang kali karena ia tak merespon sedikit pun ucapan Fatih. Fatih begitu khawatir karena takut terjadi apa-apa.
"Kenapa?"
Vina merespon dan menanyakan kenapa nada Fatih yang begitu mengkhawatirkan. Fatih bertanya balik kenapa ia tak kunjung menjawab dan penuh terbata bata. Vina tersenyum karena ia tak tahu bahwa Fatih sangat khawatir saat itu. vina mengatakan bahwa tidak ada apa-apa yang sedang terjadi.
"Maaf, hehe. aku hanya mau bilang sebenarnya..."
Fatih mulai menanyakan lagi atas tebakan Vina
"Apa lagi, jangan bercanda?"
Fatih mendengar kan dengan seksama dan akhirnya menutup telepon Vina saat itu. Bams memperhatikan Fatih yang masih terdiam setelah menutup telponnya. Bams belum berani menanyakan apa yang sedang terjadi kepada Fatih. sampai akhirnya Fatih melihat jam yang ada ditangannya dan menatap Bams.
"Kenapa dokter?" tanya Bams memberanikan diri
Fatih menanyakan akankan ia cepat selesai untuk operasi hari itu. Bams berpikir bahwa ada sesuatu yang sedang dipikirkan olehnya.
"ada masalah kah dokter?"
"Tidak, aku hanya buru buru segera ke Malang."
"Apa ada yang terjadi dengan Mira?"
Bams yang begitu khawatir setelah mendengar jawaban Fatih. Fatih merasa bahwa sikap Bams yang terlalu berlebihan menurutnya. Fatih enggan menceritakan apa yang terjadi mengingat Bams pernah menjadi sosok laki-laki yang pernah ada dalam hidup Mira.
Tak lama dari itu, Operasi segera dilakukan. Fatih dan Bams bersiap untuk melakukan operasi ke seorang pasien. Seorang perempuan yang sedang berjuang melawan kanker.
suasana rumah kos Mira yang nampak gelap menjelang malam. ia pulang dengan sedikit tak bergairah. ia melamun atas apa yang terjadi sore tadi. Mira memikirkan nya sampai rumah. ia tidak tenang. ia mengecek handphone dan melihat apakah ada pesan atau panggilan dari Fatih.
tak ada pesan yang diterima oleh Mira. Mira menghubungi Fatih untuk menanyakan kabarnya hari itu.
bunyi dering telpon jelas datang dari telpon Fatih. namun tak ada jawaban yang didapatkan oleh Mira. Mira sedikit mencemaskan keadaan Fatih.
...Aku berjanji aku tidak akan menganggu hubungan kalian lagi....
jelas itu yang selalu terngiang dari kepala Mira. ia selalu teringat dengan ucapan Elis yang telah berjanji tidak akan mengganggu hubungan nya lagi.
...Kamu pikir aku dengan mudahnya melepaskan Fatih untuk mu Mira,...
mira kembali menutup matanya dan berharap itu hanyalah sebuah mimpi yang akan hilang ketika ia bangun. tapi itu tidaklah mungkin. ini nyata, Elis yang masih menganggu hubungan Mira dan Fatih.
siang itu ketika ia hendak pulang dari kampus, Elis mencegah nya dan mengajak untuk mengobrol. Elis menunjukkan beberapa foto Fatih yang begitu akrab dengan anak yang ada dikandungan Elis. Elis menceritakan bahwa semua yang ia katakan kemarin hanyalah permintaan dari Fatih. Fatih tidak menginginkan rahasia itu terbongkar dan membuat Mira menjadi marah.
Mira mendengarkan dan berusaha untuk menutupi apa yang ia rasakan saat itu. Mira menyayangkan apa yang sedang terjadi. Mira mencoba untuk tidak terlalu percaya dengan apa yang telah dikatakan oleh Elis. Mira mencoba untuk positif thinking terhadap masalah yang sedang ia hadapi sekarang.
__ADS_1
"Gimana kabarnya"
ucap dokter Fatih.
senyum yang manis dikatupkan oleh seorang gadis mungil yang sedang berbaring itu. ia menempatkan posisinya agar terlihat nyaman untuk berbicara bersama dokter Fatih. rambut hitam sebahu dengan tinggi tubuh perempuan itu sedang menatap dokter Fatih yang begitu ramah.
dokter Fatih yang menanyakan keadaan pasien itu disebelahnya lengkap dengan setelan seorang dokter yang begitu 'wise' dan tampan.
tangan gadis itu memegang tangan Fatih yang sedang berada di atas kasur.
"Apa yang ia lakukan,"
Bams yang muncul tepat di pintu pasien itu dan kaget melihat apa yang dilakukan dokter Fatih dengan pasien. Bams yang melihat kejadian itu langsung pergi meninggalkan Fatih dengan buru buru.
...Ada apa dengan dia, kemana dia sekarang, apakah ia sedang sibuk? apa yang kamu lakukan dibelakang ku Fatih?...
Mira merintih karena masih belum mendapatkan kabar dari Fatih setelah ia menelpon nya beberapa kali dan belum mendapat balasan. Mira membiarkan dan tidak ingin begitu memikirkan nya. ia pergi untuk tidur lebih awal.
...Bagaimana ini... haruskah aku memberi tahu Mira akan hal ini? apakah dia sudah tahu tentang apa yang terjadi? apakah dokter Fatih Setega itu kepada Mira yang baru beberapa Minggu menikah?...
pikiran itu yang sedang melanda Bams. ia tidak tahu apa yang seharusnya ia lakukan. tak lama dari itu akhirnya Bams mencoba menghubungi Mira malam itu.
dering masuk di handphone Mira. Mira yang sedang tidur merasa dikejutkan dengan suara telpon itu. tanpa melihat siapa yang sedang menelepon, Mira langsung mengangkat dan menjawab,
"Fatih..."
namun ia tak menjawab,
"Fatih, sayang kemana saja? Aku khawatir. kenapa seharian ini tidak menghubungi?"
Mira yang masih saja mengobrol di telepon.
"Aku Bams, mir. bukan Fatih"
Mira mendengar itu dan mata nya terbelalak untuk mengecek siapakah yang sedang telpon saat itu.
Mira merasa bodoh sekali karena tidak melihat nya terlebih dahulu siapa yang sedang menghubungi nya. Mira kebingungan entah apa yang harus dikatakan nya kepada Bams.
"Lagi ada masalah Mir, sama Fatih?"
tanya nya
Mira menggelengkan kepala tanpa harus menjawab.
"Mir, aku tahu kamu sedang menunggu nya dan kamu tentu tidak tahu apa yang terjadi. tetapi aku tahu? jadi kamu tidak perlu lagi menutupi semua dari aku."
tegas Bams kepada Mira.
Mira tidak mengerti kenapa tiba-tiba terjadi seperti itu. Bams menjelaskan semua apa yang telah ia lihat semua tadi kepada Mira.
__ADS_1
"Kamu.. aku pikir kamu tidak perlu lagi ikut campur masalah saya"
pembelaan Mira kepada Bams.
Bams yang masih menjelaskan dengan penuh sabar kepada Mira. Bams mengatakan suatu hal yang tidak perlu ia katakan dan membuat Mira begitu kesal lalu menutup telpon nya.
Bams kaget atas apa yang diperbuat oleh Mira. Bams tidak menyangka jika Mira akan se marah itu.
Mira yang belum selesai dengan amarahnya, dering telpon berbunyi kembali. Mira mengangkat dan masih dengan nada marah nya. Mira berhenti setelah mengetahui bahwa itu adalah suara Fatih. Mira melihat ke arah handphone nya dan merasa tidak enak dengan Fatih.
"Fatih..."
"Bams,,, kenapa Bams? barusan lagi telpon sayang"
tanya Fatih dengan nada biasa. Mira menjawab bahwa Bams barusan sedang menelpon. Fatih mendengar itu hanya diam tanpa sepatah kata.
"Kemana saja sayang, aku telpon tidak diangkat." tanya Mira mencoba untuk menenangkan
"Iya, maaf sekali. ada pasien yang harus aku layani jadi belum bisa mengangkat telpon"
"Kamu sehat kan,?" tanya Fatih seperti biasa dengan penuh perhatian dan tulus.
Mira mengangguk tanpa mengucapkan
"Aku rindu" Fatih merintih sambil menyandarkan tubuhnya di jendela apartment
Fatih mencoba menyembunyikan perasaan mengenai telpon vina tadi siang. ia tidak berani bercerita kepada Mira tentang mbok nah yang ada di malang. Fatih berulang kali mengatakan untaian manis kepada Mira isyarat bahwa ia benar benar sangat merindukannya. namun Mira yang tidak begitu banyak berbicara di telepon membuat nya penasaran.
"Mira,,,"
"Kenapa dari tadi diam saja?"
"Apa ada yang mengganggumu?"
tanya Fatih
"Apa kamu juga baik-baik saja Fatih?"
"Apa tidak ada yang mengganggumu?"
Fatih berpikir dan apa yang hendak dimaksud oleh Mira. Fatih tidak menggubris dan Fatih hanya memberi nasihat kepada Mira untuk fokus pada ujian kuliahnya 3 hari kedepan.
"tiga hari lagi sudah mau ujian? semangat terus dan jangan lupa berdoa"
"aku usahakan bisa datang tepat waktu ya?"
"makasih" jawab Mira.
malam itu ditutup oleh Fatih dan Fatih membiarkan Mira untuk beristirahat.
__ADS_1