Penjual Pecel Milik Dokter Handsome

Penjual Pecel Milik Dokter Handsome
MALDIVES


__ADS_3

Cuaca cerah menyapa fatih dan mira yang telah menginjakkan kaki nya di surga dunia Maldives. Negara yang harus ditempuh dengan waktu 8 jam 5 menit penerbangan yang berada di samudera hindia disebelah selatan- barat daya india dengan 100% penduduknya adalah muslim. Begitu hangat pelayanan yang diberikan oleh seluruh staf yang ada di Maldives. Cuaca cerah dengan langit biru sedikit terik matahari ditambah sepoi angin dan laut yang biru dan bening membuat mereka tak sabar untuk memasukkan tubuhnya di area itu. tak terlalu banyak pengunjung saat itu karena hari itu bukan hari liburan, fatih memilih untuk hari weekday karena ia tak mau terlalu banyak pengunjung.


“This is your keyroom, you can enjoy the holiday sir,” sapa pelayan itu terhadap fatih


Fatih yang begitu tampan dan wise-nya dengan pakaian kemeja lengan pendek bewarna biru muda berkerah dan juga mira dengan gaun bewarna putih dengan lengan pendek dilengkapi kacamata hitam menempel lekat di matanya. Suami istri itu memasuki ruang tidur yang telah di pesan nya. Sarapan pagi sudah disiapkan oleh pihak room, mereka berdua menyantap makanan yang sudah tersaji sebelum akhirnya makanan itu berpindah di alam baru nya.


“how do you feel?” tanya fatih dengan tatapan cinta nya kepada mira


Mira senyum dan melihat fatih yang menyandarkan punggungnya di kursi tepat didepannya.


“kenapa tidak bilang, jika bilang aku bisa bantu mempersiapkan semuanya.” Ucap mira


Fatih beranjak dari tempat ia duduk dan menghampiri mira dibelakang kursi yang ia tempati. Fatih membisikkan di telinga mira dnegan lembut.


“tidak perlu dipersiapkan, di sampingmu sudah lebih dari cukup mira sayang” fatih senyum


Mira membalikkan badan dan menatap fatih. Mira melihat dan mencium fatih dengan begitu hangatnya,


“weh,, aku belum minta. Kenapa buru- buru..” goda fatih kepada mira yang sudah menciumnya terlebih dahulu


Mira Kembali menatap dan Kembali mencium fatih yang masih saja cerewet didepannya. Fatih Kembali mengomel dengan nada yang tinggi dan merasa yang paling sok dan tahan dengan wajah menggoda mira. Mira menarik fatih dan menutup cerewetnya itu dengan menciumnya sedikit lebih lama dari yang kedua tadi. Fatih mencoba masih tidak memberikan ciuman nya itu. mira melepas dan menunggu fatih berbicara.


“sudah… sudah tidak mengomel lagi!” tanya mira meledek kepada fatih yang wajahnya kian terlihat memerah dan panas setelah mendapat ciuman panjang dari mira.


“ehm,” batuk kecilnya


Fatih menarik dalam- dalam nafasnya untuk mempersiapkan dirinya untuk ngomong.


“kalau aku tahu dari dulu cerewet ku ini mendapat ciuman darimu lebih lama, kenapa tidak aku pertahankan!” ledek dan goda fatih terhadap mira yang terlihat sedikit malu


Mira menatap sambil memanyunkan bibirnya, sesekali mira melihat bibir fatih yang sudah merah, mira mendekatkan langkahnya berdiri tepat dihadapan fatih dan meletakkan jarinya di bibir fatih. Fatih yang gugup dengan tatapan mira saat itu dan mira semakin mendekat dan menciumnya. Tanpa menolak untuk ketiga kalinya fatih dengan sangat terbuka melayani ciuman mira yang diberikan begitu tulus.


Namun terhenti yang tidak begitu lama karena handphone fatih berdering. Fatih mengomel karena seseorang berani menelponnya pagi itu. mira melihat fatih yang begitu kesal karena seseorang telah menelponnya. Mira yang cekikikan dan fatih mengangkat telponnya.


“kamu tidak mau mas bersenang- senang ya?”


Rupanya itu adalah angel yang sengaja menelpon saat itu


“opps sorry, sengaja lah. Biar tidak bermesraan terus, masih ada tiga hari lagi!” ledek wajah angel yang sedang vcall


Mira menarik handphone fatih dan memintanya untuk mengobrol dengan angel. Fatih pergi dan berenang terlebih dahulu di air bening itu.


“bagaimana mbok, dik? Apakah aidin sudah disana!”

__ADS_1


Angel mengangguk kepada mira dan mengatakan bahwa aidin sudah dari kemarin berada dirumah mira. Angel meminta mira agar tidak merisaukan masalah mbok nah. Mira percaya terhadap adiknya itu dan menutup telponnya. Fatih yang dari tadi teriak karena ia tak ingin mira yang hanya menghadap handphone dan tidak menikmati ciptaan tuhan itu. mira menghampiri fatih yang sedang berenang.


Tepat pukul 05.00 pagi, bunyi klutekan terdengar di telinga aidin yang masih dikamar untuk beberapa tugas nya. Aidin keluar dan melihat mbok nah ayng begitu asik di dapur sambil menyanyi sendirian. Aidin menghampiri dan menirukan nyanyian mbok nah. Mbok nah menoleh dan senyum dengan tingkah laku aidin yang menyanyikan lagu itu. aidin mendekat dan memeluk mbok dengan eratnya. Mbok nah membisikkan kepada aidin yang masih saja menyanyi.


“sudah tumbuh dewasa kamu nak? Mbok bangga, orangtua kamu juga sangat bangga melihat kamu yang begitu bertanggung jawab. Terimakasih!” mbok nah mengucapkan dnegan lembut


Aidin menatap mata mbok nah yang sedang meneteskan air matanya. Ia mengusapkan dengan begitu lembut kepada mbok nah orangtua satu satunya yang begitu ia cintai. Aidin mengatakan bahwa betapa beruntungnya tuhan telah menghadirkan mbok nah dalam kehidupannya. Begitu berharganya mbok nah dalam kehidupan aidin.


“masak apa sih mbok? Kan bisa beli, jangan repot!” tanya aidin


“tidak ada yang repot, ini masakan kesukaanmu” jawab mbok nah


“biar aku bantu mbok” mbok nah mempersilahkan cucu nya untuk membantu menyiapkan semua


“mbok,” panggil aidin kepada mbok nah


Jawaban kecil terdengar ditelinga aidin. Aidin melirik mbok nah dan memberanikan diri untuk bertanya kepada mbok nah. Aidin menjelaskan akankah mbok nah mengijinkan jika angel dirumah fatih untuk beberapa hari ini. Mbok nah mengerutkan dahi dan itu menandakan bahwa mbok nah tidak setuju dengan permintaan aidin.


“sebentar saja mbok, kan biar aidin punya teman, masa kakak sama bang fatih saja yang bisa bermesraan?” goda aidin


Mbok nah memukulkan sendok ke kepala aidin yang tidak tahu malu itu. ‘aduh’ teriak aidin karena kesakitan akibat mbok nah yang memukul.


“kamu minta di pukul!” mbok nah yang mengomel


“hihihi, bercanda mbok? Habis gini kan nikah juga.” Jawab aidin


Mbok nah menanyakan kepada aidin bagaimana persiapan kebutuhan pernikahan aidin dan angel yang kurang dua bulan lagi. Sebentar lagi angel akan menjadi menantu dari mbok nah. Kakak beradik itu menjadi menantu dari mbok nah. Seorang keluarga sederhana yang mendapat menantu seorang dokter.


“aku berangkat sekarang, tunggu dirumah aku jemput!” aidin yang sedang menghubungi angel untuk diantarnya ke rumah sakit.


“hati- hati ya, salam buat angel dan jangan lupa ajak kesini nanti.” Jelas mbok nah


Aidin memberikan anggukannya kepada mbok nah dan siap berangkat untuk menjemput angel. Bams menyapa bang ayi yang sedang menyuguhkan minuman untuknya. Bams menanyakan kepada bang ayi kemana dokter fatih yang sedang tidak masuk hari itu.


“apakah dokter fatih tidak bilang ke dokter bams?”


Bams menggelengkan kepala nya karena ia tidak tahu atas ketidakhadiran dokter fatih di rumah sakit. bang ayi mengatakan bahwa fatih sedang izin cuti untuk honeymoon. Bams yang Nampak kaget setelah bang ayi mengatakan itu kepadanya.


“honeymoon! Kenapa honeymoon lagi” pertanyaan konyol yang keluar dari mulut bams


“maklum dokter, pengantin baru.” Senyum bang ayi


Bams merasa ill feel dengan sikap fatih. Bams seakan menunjukkan rasa cemburu nya kepada keluarga fatih dan mira. Ia seakan tidak terima dengan kebahagiaan yang mereka ciptakan. Lamunan bams dibuyarkan oleh bang ayi karena bams yang tidak bergeming sama sekali. Bang ayi izin meninggalkan dokter bams yang masih terhenti.

__ADS_1


“iya, bang ayi. Terimakasih” ucapnya


 


“gimana sayang, pekerjaannya?” tanya fatih kepada mira


“Alhamdulillah, sejauh ini aku sangat menikmatinya. Aku begitu bersyukur karena tuhan sudah memberikan takdir ini kepadaku. Mengirimkan seorang lelaki yang begitu sabar dan bertanggung jawab.”


Fatih keluar dari air dan duduk berada di samping mira. Fatih mengucapkan terimakasih kepada mira karena ia telah sabar dalam menghadapi fatih. Mira mengalungkan handuk di punggung fatih karena ia terlalu lama untuk berenang. Ucapan terimakasih keluar dari fatih.


“sayang, kita jalan- jalan”


Mira mengangguk kecil kepada fatih dan bersiap untuk mandi.


Bams masih saja terpikir oleh mira lagi dan lagi ia harus mengingat masa lalu ia selama di kampus. Nampak sekali pasangan yang begitu serasi dan selamanya akan terus Bahagia. Namun itu dihentikan oleh dinda yang begitu dengki kepadanya. Bams yang tidak menginginkan tubuh mira yang cacat terpaksa ia harus putus darinya. Bams yang masih terus melamun dan menyalahkan dirinya atas perbuatan yang ia perbuat.


“bams.. bams!” dokter gery yang mengagetkan bams yang sedang duduk melamun.


“iya dokter,”


Dokter gery mengajak bams untuk segera rapat operasi salah satu pasien darurat. Dengan bergegas bams mengikuti langkah dokter gery yang terburu- buru. Terlihat panik jelas di wajah dokter Gery dan tidak seperti biasanya ia harus seperti itu.


“dokter gery baik baik saja?” tanya dokter bams memastikan


Dokter gery hanya terus lari dan tidak menjawab pertanyaan dokter bams. Rumah sakit terlihat begitu rame, mobil ambulance sudah 5 kali berturut- turut tiba di rumah sakit. bams begitu kaget ternyata ada kecelakaan beruntun yang sedang terjadi siang itu. banyak penumpang yang mengalami luka parah akibat benturan yang begitu keras. Dokter gery bingung karena salah satu personil terbaiknya dokter fatih sedang izin cuti. Bams yang tidak tahu lagi harus apa, ia segera menghubungi dokter fatih apapun kondisinya.


Bams mencoba menghubungi nya namun tidak diangkat oleh dokter fatih. Bams mencobanya untuk kesekian kalinya.


“tunggu disini, aku mau ambil handphone ketinggalan”


Fatih mengambil handphone yang tertinggal di atas meja kamar. Panggilan bams masuk di handphone mira, dan ia mengangkatnya.


“iya bams?” jawab mira dan fatih yang baru saja menghampiri mira dengan bertanya tanya apa yang membuatnya menghubungi mira


Mira menjawabnya dengan kaget setelah apa yang terjadi. Fatih bingung dan menunggu mira untuk bercerita. ‘balik’ kalimat yang keluar dari mulut mira dengan tatapan kosong. Fatih menanyakan apa yang membuatnya ia mengucapkan itu.


“balik sayang? Kamu dibutuhkan disana, dirumah sakit” fatih langsung beranjak dan membeli tiket untuk terbang ke Jakarta.


Mira dan fatih harus balik ke Jakarta untuk bertanggung jawab atas tugas yang harus ia kerjakan. Fatih begitu kebingungan dan cemas, mira yang sesekali memegang kaki fatih agar tidak bergetar, ia mencoba menenangkannya. 


...Maldives at night


__ADS_1


...


__ADS_2