Penjual Pecel Milik Dokter Handsome

Penjual Pecel Milik Dokter Handsome
Mendapatkan Pekerjaan


__ADS_3

Pagi hari pukul 05.00 suara bising khas Jakarta sudah gemericik di jalanan. Mira terbangun pukul 04.00, alif yang masih tergeletak dibiarkan oleh Mira untuk tidur. Ia tidak mau mengganggu waktu tidurnya barangkali ia capek.


Mira yang keluar dari tempat kontrakan dan keluar hanya sekadar mencoba menghirup udara pagi yang masih ada. Mira senang melihat lalu lalang orang yang sedang bekerja. Mira merasa sangat semangat untuk mengawali harinya disini.


Mira tidak sabar untuk mengelilingi ibu kota ini. Banyak Gedung tinggi menjadi pemandangan baru Mira ketika terbangun dari tidurnya. Perbedaan ia rasakan di Malang dan di Jakarta.


“ayo, cepat.”


“loh Alif.”


Mira terkejut melihat alif yang sudah rapi saja dengan setelannya. Rupanya alif juga sudah mandi.


“kamu kan masih tidur, kok sudah bangun.” Tanya Mira penasaran


“aku kan kalau mandi kayak bebek, hahaha. Ayo cepat mandi habis gini kita olahraga dan cari sarapan dan aku ajak keliling Jakarta, oke”


Alif sahut kepada Mira.


“keliling Jakarta,? Kamu gak kerja!”


“izin.”


“izin, jangan gitu, aku ngerepotin kamu ya,” Mira merasa bersalah karena ia harus izin libur hari ini.


“tidak ada hubungannya sama kamu kali, hiiii GR kamu!”


“terus, kenapa tiba- tiba off kerja.”


Alif yang berusaha memotong pembicaraan Mira yang semakin keluar kritisnya. Alif menyuruh Mira untuk segera mandi dan bergegas untuk olahraga. Mira menuruti tuan rumahnya itu dan segera mandi.


Alif meminta izin kepada bos nya untuk off hari ini.


“boleh ya pak bos? Sehari ini saja!”


Alif yang berusaha memaksa bos nya itu.


“yeeeyyyyyy, makasih pak”


Alif mendapatkan golden tiket untuk izin kerja hari itu.


Alif karyawan yang bisa dikatakan unggulan. Jadi rugi jika bos besarnya memecat dia, Hahaha. Dengan mudahnya alif meminta izin kepada bos besar.


Alif mengajak mira dengan sepeda motornya. Alif mengajak Mira jalan keliling Jakarta. Monas menjadi jujugan pertama mereka untuk menghabiskan pagi harinya. Nampak sangat senang mereka menghabiskan waktu bersama. Teman lama yang bersemi kembali setelah sekian lama terpisah.


Jam makan siang tiba , Alif mengajak Mira berhenti ke sebuah warung makan. Mie Kelontong menjadi menu makan siang mereka saat itu. ada tulisan lowongan kerja yang menempel di kaca warung itu.

__ADS_1


Mira menanyakan kepada sang penjual akankah ia masih menerima lamaran untuk menjadi tukang cuci piring. Mira beranjak dari tempat duduknya dan menanyakan kepada ibu penjual.


Sang penjual melirik Mira dari ujung kepala sampai kaki. Rupanya ibu itu menolaknya karena fisik Mira, sebagai tukang cuci piring Mira harus bisa bekerja cepat dan tanggap.


“maaf Mbak, saya belum bisa menerima mbak untuk bekerja disini, saya butuh karyawan yang bisa cepat. Apalagi untuk membawa piring atau berdiri lama mbak pasti capek.” Tegas ibu itu kepada Mira


Mira hanya tersenyum dan melihat ibu penjual itu dengan ramah. Mira menerima atas penolakan ibu itu. Mira juga positif thinking karena memang ia akan kesulitan jika harus membawa piring dengan satu kaki.


“Sudahlah Mira, tenang saja. Habis gini kita cari yang lain. Jangan khawatir ada aku disini akan membantumu.” Alif yang berusaha menyemangatinya


Alif mengajaknya Kembali jalan- jalan, ditengah perjalanan ia teringat bang ayi. Mira meminta Alif untuk mengantarkannya ke alamat yang dikirimkan bang ayi.


“memang jauh ya dari arah sini?” tanya mira kepada alif.


“tidak kok, tenang saja. Kamu tinggal duduk manis. Hahaha”


Alif yang begitu baik menemani Mira dan membantunya sampai urusannya selesai.


Setiba di alamat rumah Bang Ayi. Rumah yang Nampak sepi dan tidak ada orang didalamnya. Kemungkinan ia tinggal untuk bekerja. Mira mengetok pintu rumah kos bang Ayi dan tidak ada siapapun yang keluar rumah. Mira menelpon bang Ayi untuk menanyakan keberadaannya. bang Ayi menerima panggilan itu dan meminta Mira untuk menemuinya di Rumah sakit tempat ia bekerja.


“telepon siapa Ayi,?”


“ini, telepon tetangga kampung saya pak, mau kesini”


Bang ayi menjawab pertanyaan dokter Fatih dengan lugas.


Bang ayi yang menjadi seorang office boy di rumah sakit merasa sangat nyaman karena para pegawai rumah sakit begitu ramah.


Apalagi dokter Fatih yang selalu menaruh kepercayaan kepada bang Ayi.


“baik, nanti jika sudah menemui tetangga kamu. Langsung keruang saya. Jangan lama- lama ya?”


Fatih meninggalkan ayi dari obrolannya saat itu. Mira yang menelpon bang ayi dan ia meminta Mira untuk menunggu di kantin rumah sakit.


Rumah sakit yang besar dan berada ditengah- tengah ibukota dengan akses kendaraan yang mudah membuatnya tak kesulitan untuk mengingat perjalanan. Ditambah Alif yang suka mencari jalan tikus untuk mendapatkan akses premium agar cepat sampai, Hahaha


“Alif, pernah kamu ke rumah sakit sini sebelumnya, berobat mungkin!” tanya mira kepada alif yang sedang asik menikmati es jeruk di kantin rumah sakit.


“pernah, waktu itu tahu kamu. Aku di tangani sama dokter yang sangat handsome, Namanya dokter Fatih. Suka aku, hahaha. Dia juga dipercaya untuk pegang rumah sakit ini?”


“oh iya kah, wah jadi penasaran!” mira menggapainya


Mira tidak sadar dan belum tahu jika yang dimaksud Alif adalah dokter Fatih yang sempat menangani Mira yang saat ia terjatuh di Malang.


bang Ayi datang menemui Mira dan Alif di kantin. Bang ayi nampak sedikit gendut dan seger terlihat perbedaan yang mencolok selama ia di Malang dan di Jakarta.

__ADS_1


“weee, bang ayi. Gendutan bang, ini dokter Ayi apa ya?”


Ledek mira kepada bang ayi yang terkekeh itu. sudah lama mereka tidak berjumpa. Jadi kangen suasana malang yang biasanya berkumpul Bersama. Mira memperkenalkan alif temannya itu kepada bang ayi.


“terimakasih ya mbak alif, sudah membantu Mira kemarin. Saya teledor tidak membawa handphone saya. Untung mbak alif ada kemarin, kalau tidak bisa gimana nih anak!”


“sama- sama bang, gak ada masalah.”


“bisa bantu saya gak bang,” sambung Alif menggoda


“bantu apa mbak,?”


“kenalkan saya sama dokter Fatih, hahaha”


Alif yang mulai tidak jelas dengan kegilaannya. Mira merasa ada vina di sampingnya sekarang ini. Alif yang mempunyai sifat yang sedikit mirip dengan vina di malang.


“dokter fatih, Abib Alfatih maksudnya mbak!”


Tanya balik bang ayi.


Alif mengangguk kepalanya sambil mesem didepan bang ayi yang masih keheranan.


“wah kalau itu saya kenal banget mbak, orangnya yang pemarah dan cuek, tapi sebenarnya baik sih. Setiap hari sama saya dokter Fatih.”


Bang ayi yang mulai kesombongan. Hahaha. Mereka tertawa kegirangan dan menikmatinya.


“habis gini saya mau bertemu sama beliau. Ada salam mbak Alif?” iming- iming bang ayi kepadanya


“Mauuuuu, hahaha”


Mira yang masih kebingungan dengan apa yang mereka bicarakan, karena Mira memang belum kenal siapa itu. mira Kembali mengingatkan bang ayi untuk membantunya mencari pekerjaan.


Bang ayi akan mendiskusikan dengan ketua kantin dan meminta izin untuk menyewa stand disitu. Bang ayi meminta mira untuk berjualan disitu. Bang ayi yakin pecel Mira akan laris disini. Mira yang semangat mendengar itu dan tinggal menunggu jawaban dari ketua kantin


“sudah ya, mira sekarang pulang dulu dikontrakkan mbak alif, nanti waktu saya pulang tak bantu cari tempat kos” bang ayi berpesan kepada Mira.


“kenapa tidak di kontrakan ku saja, biar ada kawan aku Mira?” paksa Alif,


“kan tidak jauh dari rumah kalau kamu kerja di rumah sakit?” sambung alif


“nah iya tuh Mira, kan enak ada teman. Nanti kalian tinggal bagi berdua saja bayar tempat tinggalnya.


Alif mengangguk dan meminta mira agar tinggal ditempat alif. Mira menerima tawaran itu dan merasa beruntung kali ini di Jakarta.


Bang ayi meninggalkan mereka berdua dan mereka juga lepas landas dari kantin rumah sakit.

__ADS_1


...****...


be continued...


__ADS_2