Penjual Pecel Milik Dokter Handsome

Penjual Pecel Milik Dokter Handsome
Jarak


__ADS_3

Suasana Surabaya begitu sepi. Hati mira yang kembali merasa kesepian karena sang suami yang tidak menemani nya. Terhitung 2 minggu lamanya mereka menjadi suami istri. Namun jarak mereka yang harus terpisah untuk sementara waktu karena tugas masing- masing dari mereka. Mira yang harus menyelesaikan studi nya yang masih tinggal dua semester. Fatih harus Kembali bekerja di rumah sakit Harapan. Tiga minggu berlalu fatih masih belum pulang ke Surabaya untuk menjenguk sang istri. Mira begitu merindukannya begitupun sebaliknya. Telpon tidak pernah terlepas dari mereka.


Aidin adik mira yang bekerja di Jakarta begitupun angel yang sebentar lagi akan menjadi adik ipar nya. Kabar mbok nah yang sedang baik- baik saja di malang bersama Vina yang masih menemani nya. Kehangatan keluarga itu yang akan selalu di rindukannya.


“Mbok naahhhh,”


Tepuk vina seraya mengagetkan lamunan mbok nah pagi itu.


Mbok nah terbangun dari lamunan nya dan memarahi vina yang berhasil mengagetkan dari belakang.


“hehe, maaf mbok. Mbok nah sih ngapain pagi- pagi udah senyum- senyum,” tanya vina sinis kepada nya


Mbok nah tak menjawab pertanyaan vina dan Kembali melanjutkan senyum mbok nah yang Nampak sumringah sekali di wajahnya.


“eehhh,, malah tambah senyum.”


“mbok nah gapapa kan!”


Tanya vina sambil mengangkat tangannya di dahi mbok nah


Ngawur ceplos mbok nah kepada vina yang membuat vina semakin tertawa. Vina yang mencoba membujuk mbok nah untuk menceritakan apa yang telah membuatnya senyum pagi itu. mbok nah meminum seteguk teh hangat yang disuguhkan vina untuknya dan menceritakan kepada vina kenapa ia tersenyum.


Mbok nah mengatakan bahwa ia rindu sekali kepada Mira. Mbok nah sangat bersyukur dan senang sekali setelah melihat pernikahan mira dan fatih. Mbok nah sangat banyak bercerita tentang mira dan mendoakan untuk kebahagiaan mereka. Vina yang dengan seksama mendengarkan mbok nah bercerita ikut tersenyum dan tak lama raut wajah mbok nah yang berubah seketika.


Vina yang masih berada disampingnya menegur mbok nah.


“kenapa mbok menangis sekarang?”


Mbok nah hanya menggelengkan kepala dan tak menjawab.


“mbok,, cerita.”


Vina membujuknya untuk menceritakan


“mbok hanya takut,?”


“takut kenapa?”


“takut kalau mbok tidak bisa melihat cucu mbok nah,”


Saat itu tangis vina pecah dan langsung memeluk mbok nah

__ADS_1


“mbok jangan seperti itu? mbok nah pasti akan sehat terus, insha allah”


“kita doakan yang terbaik ya mbok?” vina memeluk sambil mengatakan dengan suara terbata.


Suara dering telpon memecahkan suasana sedih itu. anak perempuan kuat telah menelpon. Isyarat hati sepertinya berlaku untuk nya. Vina mengangkat telpon mira dengan antusias.


“halo, panjang umur?” sapa vina di telpon


“hah,, kenapa?”


“pake hah, ngomong aamiin saja susah ya?”


Mira tertawa kepada vina.


“mbok nah kemana? Aku rindu?”


Vina menyodorkan handphone ke mbok nah dan mengatakan bahwa ia sangat rindu.


Mbok, mira rindu nih, pengen ngobrol. Bisikan vina kepada mbok yang ada di samping. Mbok nah mengangkat telepon dan berbicara kepada mira. Entah apa yang membuat mbok nah Kembali meneteskan air mata nya setelah mendengar suara mira menyapa.


"Mbok.. mbok nah bisa dengar Mira? Mira tidak bisa mendengar suara mbok nah disini"


Mira yang dari tadi menyebut nama nya karena ia tak kunjung menjawab panggilan Mira.


"Iya Vin, mbok nah kemana?" Mira penasaran


"Iya tadi mbok tiba-tiba kebelet, hehe jadi langsung ke kamar mandi"


Vina berusaha menutupi kepada Mira.


Mira menutup telepon dan meminta Vina untuk menyampaikan salam nya.


Mira yang bersiap untuk pulang dari kumpus siang itu setelah mata kuliah selesai. Mira hendak menaiki sebuah bus kota bewarna merah tetapi salah seorang mencegatnya. Mira berhenti dan menoleh kepada seorang itu. Mira tak berkutik dan terdiam setelah melihatnya.


bunyi dering telepon diangkatnya,


"halo" datar nampaknya suara yang keluar dari mulut Mira.


tidak seperti biasanya yang antusias dan ramahnya ia ketika menyapa seseorang. Fatih merasa heran apa yang terjadi kepada Mira saat itu. Fatih menegur Mira yang masih tidak mengucapkan kalimat sepatah kata setelah ia menyapa.


"Mira?"

__ADS_1


"apa kamu baik-baik saja, sayang?"


tanya Fatih


Mira menganggukkan kepala dan menutup telepon tanpa pamit.


"Kenapa tidak dijawab? aku menunggu kok Mira!"


ia menyahut


"Boleh kita duduk sebentar!" Tanya nya


Mira bingung dan tak tahu apakah ia harus menerima permintaan nya atau tidak.


ia pun menyeret tangan Mira dan mengajak nya untuk kembali duduk ditempat.


beberapa detik suasana hening dan seketika Mira menanyakan kepadanya.


"Sehat?"


"Lebih dari pada sekedar sehat"


"Ada perlu? Elis..."


Elis, mantan Fatih yang bertemu dengan Mira untuk kesekian kalinya. nampak senyum yang terlihat di wajah Elis setelah mendengar pertanyaan dari Mira.


___


Jakarta,


kesibukan Fatih masih terus berputar. ia tak pernah berhenti hanya untuk sekadar Leha Leha. Fatih kala itu yang harus menangani pasien yang hendak melakukan operasi. Fatih ditemani dokter Bams untuk operasi hari itu. Bams yang telah menikmati keluarga kecilnya dengan seorang istri yang selalu standby dirumah.


"Kapan dokter Mira lulus, dok" tanya Bams yang hanya sekadar mencairkan suasana yang sedang dingin saat itu.


Fatih menoleh ke arah Bams dan menjawabnya.


"Tahun ini, doain ya" senyum Fatih sambil melihat Bams.


ditempat duduk itu Fatih menyandarkan punggungnya sambil melihat atap yang sedang baik baik itu. namun dering telpon berdering di handphone Fatih. Fatih merogoh saku dan melihat nya.


Vina kereta yang rupanya sedang menelepon. Fatih tersenyum dan mengangkat telepon nya. Fatih hanya berpikir apa yang membuatnya ia telpon sore itu.

__ADS_1


Fatih mengucapkan salam dengan nada yang begitu ramah. namun tak terdengar suara sama sekali. Fatih melihat handphone nya sekali lagi untuk memastikan bahwa Vina masih dalam panggilan. Fatih memanggil nama Vina hanya untuk mendengar jawaban nya.


namun, Vina yang gagap mengatakan kepada Fatih. Fatih mengangkat badannya yang sedang bersandar dan menunjukkan wajah yang begit khawatir. Bams yang berada disampingnya turut kaget dengan apa yang terjadi kepada Fatih.


__ADS_2