Penjual Pecel Milik Dokter Handsome

Penjual Pecel Milik Dokter Handsome
Pengajar Pembantu


__ADS_3

...Bab 5 - Pengajar pembantu...


Pagi itu suasana Malang sangat adem sejuk, tanpa sedikitpun terik matahari mengawasi kegiatan mereka. Jantung Mira mulai berdegup gak jelas karena ia akan menghadap kepala sekolah dengan kondisi kaki menghilang.


Apa yang akan dipikirkan kepala sekolah, apa yang akan dipikirkan oleh murid- murid di sana, apakah mereka akan mengejek kaki Mira, atau seperti apa. Perasaan gak karuan mulai bermunculan di kepala Mira. Mira takut ia belum bisa menerima jawaban yang tak mengenakkan harus diterimanya.


Vina yang melihat muka Mira merasakan apa yang ia cemaskan. Vina mencoba untuk menenangkan pikiran Mira yang kacau itu. vina Kembali mengeluarkan jurus crocos nya kepada Mira. Hihihi


“buah delima, buah asem, daripada gila mending mesem.”


“ih, apaan sih vin, ya ampun pantun gak jelas.”


Vina yang tak menggubris ejekan Mira.


“buah delima dimakan bu Lulu, dari pada gila mending menikah dulu.”


“hahaha” Mira yang ngakak mendengar pantun terakhir vina yang semakin nyeleneh.


“emang bu lulu siapa, ada disini?” tanya Mira ledek


“ada,”


Spontan Vina menjawab pertanyaan Mira yang tiba- tiba seorang perempuan sedikit tua datang didepan mereka.


“Vina, masuk di ruangan.”


Itu adalah kepala sekolah SD Drajat.


Namanya bu Lulu. Bu Lulu yang tadi telah disinggung oleh Vina di pantun nya ternyata memang ada disekolah. Gak bisa bayangin kan kalian kalau enak enak pantun, orang yang kita sebut tiba- tiba muncul dimuka.


“kenapa sebut nama saya?” tanya Bu lulu dengan tanpa senyum kepada Mira yang tadi terakhir kali ngucapin Namanya.


Perasaan gugup Nampak jelas dimuka Mira. Mira yang berusaha menjawabnya itu dikagetkan kedua kalinya oleh bu Lulu. Bu Lulu hanya menggoda. Karena bu Lulu tipikal orang yang sangat lucu. Bu Lulu hanya berpura- pura untuk terlihat garang. Suasana tegang itu akhirnya mencair dengan suara tawa yang lebar selebar lebarnya.


“makanya jadi orang jangan serius- serius atuh, neng”


Goda Vina kepada Mira.


Pagi itu mira dan vina menceritakan tentang maksud dan tujuannya kepada sang kepala sekolah. Bu lulu selaku kepala sekolah mendengarkan dengan seksama apa yang telah mereka sampaikan. Bu Lulu sangat apresiasi terhadap semangat Mira yang begitu tinggi untuk terus belajar dan memotivasi adik- adiknya agar kelak tumbuh menjadi anak yang berhasil.


Bu Lulu menerima keinginan Mira untuk bisa bergabung menjadi bagian dari SD Drajat. Meskipun ia belum bisa sepenuhnya menjadi bagian sekolah.

__ADS_1


“terimakasih banyak bu telah membantu saya untuk mewujudkan mimpi saya, mudah- mudahan sekolah Drajat selalu memberikan kualitas kualitas yang terbaik buat murid murid disini."


Mira berpamitan kepada bu Lulu. Vina yang harus stay disekolah karena memang ia punya kelas hari itu.


“kalau gitu saya pamit dulu ya bu, Vin aku pulang dulu terimakasih. Ditunggu dirumah!”


Mira kembali pulang dengan menaiki sebuah angkot bewarna orange.


...-------------...


Malang yang indah suara bising mungkin tak sebanding dengan kebisingan yang ada di Jakarta. Polusi dan hawa Malang masih tercium sedap. Cuaca Jakarta yang khas rupanya memberikan pemasukan yang lebih besar. Banyak orang merantau ke Jakarta hanya untuk meraup rejeki yang lebih besar. Belum terpikir oleh Mira untuk menginjakkan kakinya di Jakarta.


Salah satu tetangga Mira pun ada yang bekerja di Jakarta yakni bang Ayi. Bang Ayi adalah tetangga mbok Nah yang kini sudah berusia 40 tahun. Ia bekerja di Jakarta sudah 6 tahun lamanya. Setiap setahun 2 kali ia balik ke kampung halaman untuk menjenguk istri dan anaknya.


Bang Ayi memiliki 2 puteri yang masih bersekolah. Dulunya ia seorang buruh tani di kampung halaman. Namun semakin meningkatnya kebutuhan, bang Ayi, Mira memanggilnya harus merantau ke Jakarta untuk mendapatkan pemasukan yang lebih.


“Ayi, bisa antar susu hangat di ruangan saya?”


“oh iya dokter, baik. Mau susu coklat atau yang vanilla” tanya Bang Ayi kepada dokter Bams.


Bang Ayi memang sekarang ini bekerja sebagai office boy di rumah sakit yang ada di Jakarta. Ia sangat menikmati pekerjaannya itu sebagai seorang office boy. Ayi mengambilkan secangkir susu coklat hangat kepada Bams mantan Mira itu.


“hari ini dokter Fatih cuti ya dok,” tanya Ayi kepada dokter Bams.


Bams menjawabnya, Bams tidak mengetahui bahwa Ayi adalah tetangga Mira di Malang.


...-----------...


Bogor –


Fatih sudah sampai dirumah Bogor. Fatih disambut dengan makanan berjejer dimeja masakan ibunya. Terlihat ibunya yang begitu senang melihat putera bungsunya kembali pulang. Fatih memeluk ibunya dengan erat. Isyarat rindu fatih kepada ibunya. Ayah fatih yang masih belum terlihat dirumah yang tak terlalu besar itu. Ayah fatih yang masih aktif menjadi perangkat desa didaerahnya.


“alhamdulillah kamu selamat sampai tujuan nak,?”


“mana calon mu” tanya ibu Fatih


“ibu, baru datang. Sudah tanya aneh- aneh.”


“Ibu serius. Kamu sudah lama melamar dinda itu, kenapa kamu masih belum menikahinya. Kamu nunggu apa?” desak ibu Fatih


Inilah yang selalu membuat Fatih sedikit risih jika pulang. Ibu fatih yang selalu menanyakan kapan ia harus menikah.

__ADS_1


“kamu ndak ingin menemui ibunya?”


“kapan kamu mengajak ibu bertemu dengan keluarganya?”


Fatih hanya diam dan mengalihkan pembicaraan ibu. Fatih memilih untuk menuju dapur dan menikmati hidangan masakan ibu yang sudah dirindukan.


...- Malang –...


“beib,”


“apa?” jawab vina datar


“besok aku persiapan apa saja ya? Bantu aku nyiapin perlengkapan apa saja buat sekolah”


Antusias Mira untuk hari esok. Mira yang sudah tidak sabar mengajar anak- anak. Mbok Nah selalu memberikan semangat untuk Mira. Mbok Nah tidak ingin membiarkan cucunya itu hilang semangat. Walaupun memang terkadang kerap kali Mira mengeluh dalam doanya atas kondisinya saat ini. Andaikan hidup bisa diputar. Mira tidak menghabiskan waktunya selama dia masih muda.


“nih sudah aku siapin bu Mira?”


Vina yang diam- diam sudah membantu menyiapkan segala perlengkapan yang dibutuhkan Mira untuk pergi ke sekolah besok. Betapa senangnya Mira karena memiliki sahabat yang super perhatian itu. Mira akhirnya bisa tidur nyenyak malam itu.


...***...


Senin pagi di Malang terasa sangat sibuk. Banyak orang kembali melakukan aktifitas sehari- hari. Mira yang memulai harinya dengan tidak berjualan pecel lagi tetapi menjadi seorang guru pendamping di SD Drajat. Mbok Nah yang masih menginginkan untuk menjual pecel khasnya itu, meskipun tanpa ditemani sang cucu.


Mira masih membantu mbok Nah untuk mempersiapkan dagangan.


Mira mulai berdiri didepan gerbang sekolah SD Drajat. Keruwetan sekolah itu penuh dengan anak- anak. Mira mulai memasuki gerbang dengan gugup karena takut melihat reaksi murid di sana. Situasi itu justru terbalik dengan apa yang dipikirkan Mira selama ini.


Anak- anak justru menyambutnya dengan suka cita dan memberi salam hormat kepada Mira. Mira yang begitu senang setelah melihat murid – murid di sana memperlakukan Mira sebaik itu.


“ selamat, pagi. Halo?”


Mira mulai memperkenalkan Namanya kepada anak- anak. Mira yang saat itu harus mengajar Bahasa inggris dan betapa senangnya bisa mengekspresikan dirinya. Mira begitu menikmatinya. Sampai akhirnya mira mendapatkan sebuah kabar.


“Mira,,, mir”


Mira keluar dari kelas dan menjumpai vina yang sedang memanggilnya itu.


“kamu gak bisa lihat orang senang ya, kenapa sih vin”


Vina menceritakan kepada Mira bahwa Mbok Nah sedang dibawah ke rumah sakit terdekat.

__ADS_1


Mira yang kaget mendengar berita itu, ia langsung izin meninggalkan sekolah saat itu juga. Mira yang ditemani vina untuk diantarnya ke rumah sakit.


__ADS_2