
Pagi ini hawa sejuk terhirup di kota malang. cuaca dingin yang khas sedang menyelimuti tubuh. suara petok petok ayam terdengar khas di telinganya. Pagi itu tercium bumbu khas dan ikan asin yang biasa digoreng oleh Mbok Nah.
"Assalamualaikum, mbok Nah?"
Aidin menyerobot rumah yang dihuni Vina dan mbok Nah itu.
Mira yang geleng-geleng akan tingkah adik bungsunya itu. tak lupa Aidin menggeret tangan panjang sang kekasih gelap, Angel.
"Aidin, jangan tarik gini? bukan tampar ini?" Angel teriak kepadanya.
Aidin sedikitpun tidak marah. Aidin cukup tersenyum kepada Angel yang memang manis itu.
Mira mengajak sang tunangan Fatih untuk masuk kedalam. tangan Fatih yang menjulur panjang dipundak Mira sambil menuntun nya.
"Makasih Fatih," sapaan pagi Mira ditelinga Fatih.
Vina yang mendengar suara Aidin itu. lari terbirit dari dapur dan sesegera memeluk Aidin. keakraban mereka begitu dekat. jadi tidak kaget kalau mereka saling berpelukan.
"Oey, jangan kencang-kencang dong kereta"
Aidin yang mulai dengan ledakan nya itu.
Vina yang tidak menggubris Aidin makin erat dia memeluk nya. Maklum adik yang telah lama menghilang.
"Keretaaaa... jangan gitu. ini pacarku cemburu ya tuhan?"
Vina yang kaget setelah mendengar Aidin yang mengucapkan kata 'pacar' itu.
"Pacar?"
"mana?"
"Eh, gak kelihatan ini kereta."
Aidin yang langsung memegang pundak Angel yang berada disampingnya. Angel tersenyum dan memperkenalkan dirinya.
"kenalkan, saya Angel. musuh bebuyutan Aidin"
Angel mengenal kan dengan percaya dirinya.
Vina tertawa setelah mendengar Angel mengucapkan itu kepadanya. Vina menepuk punggung Aidin sekaligus meledek nya.
Aidin memanyunkan bibirnya karena kesal terhadap Angel itu. Vina lanjut memeluk tubuh Mira itu. sudah lama sekali mereka tidak ketemu. Vina yang melongo melihat Fatih yang begitu semakin berwibawa dan tampan itu. Fatih menjulurkan tangannya dan menjabat tangan Vina dengan sopan.
Vina mempersilahkan mereka untuk masuk dan beristirahat didalam.
Mira menemui mbok nah dan memeluk mbok nah dengan Isak tangis. Mira teringat betapa tegar nya mbok nah selama ini merawat Mira dan Aidin dengan sabar sampai seperti ini.
mbok nah menangis dan berbicara kepada Fatih sang tunangan.
"Fatih, titip Mira. jaga baik-baik Mira ya Fatih. mbok sangat berterima kasih karena Tuhan memilih kan laki laki seperti Fatih untuk selalu berada disampingnya.
"Titip Mira, barangkali sebentar lagi mbok Nah sudah tidak ada di bumi ini"
mata Fatih berkaca kaca mendengar apa yang diucapkan Mbok Nah itu. Fatih memeluk Mbok Nah dengan tulus.
__ADS_1
suasana menjadi haru saat itu juga. Vina yang tidak mau terlarut dalam kesedihannya mencoba untuk mencairkan suasananya.
"He, kamu kira pemakaman rumah ini, balik balik nangis" celetuk Vina
semua tertawa dan mereka menuju ruang makan untuk menyantap makanan yang telah disiapkan untuk mereka.
Jakarta,
Jakarta masih menjadi pusat perhatian masyarakat. Jakarta masih ramai dengan ribuan transportasi lalu lalang. Dinda mantan Fatih yang kini sudah tidak bekerja lagi dirumah sakit harapan. Dinda hendak melanjutkan studi nya di luar negeri.
Dinda mendatangi rumah sakit harapan dan hendak berpamitan dengan Fatih seraya ucapan terakhir nya.
"pagi Bams," Dinda menyapa Bams yang sedang sarapan itu.
Bams menengok ke arah siapa yang memanggil nya itu.
"Din...da,"
"Ngapain Din"? tanya bams kepada Dinda yang sedang menyapanya kala itu.
"Mau ketemu sama Fatih, ada kan dia sekarang!"
Bams melongo, Dinda menggertak Bams yang sedang melamun itu.
"Oh, Fatih sedang cuti. dia sedang ke Malang, ke rumah Mira"
Dinda terdiam setelah mendengar kabar itu. Dinda sedikit kecewa dengan apa yang telah didengar nya itu.
"oh, oke makasih ya Bams"
...---...
Siapa Fatih?" Tanya Mira kepadanya karena Fatih yang meninggalkan meja makan saat itu.
"Itu.. Dinda,," Fatih sedikit gugup ketika Mira menanyakan itu kepadanya.
Mira mengangguk dan kembali melanjutkan makannya. Mira melirik Fatih yang mulai tak tenang setelah mendapat telepon dari Dinda. Mira mulai sedikit bingung terhadap sikap yang ditunjukkan oleh Fatih.
suasana dingin itu dipecahkan oleh celetukan Aidin kepada mbok Nah.
"mbok, Aidin mau nikah! boleh?" tanya Aidin kepada mbok nah yang sedang menelan nasi itu.
mbok nah hanya tengok karena ia tidak faham atas apa yang dikatakan Aidin barusan
semua mata tertuju pada Aidin saat itu.
"Kenapa mbok diam saja?" tanya Aidin untuk memastikan.
"Kamu bercanda Aidin?"
"Tidak mbok?" Aidin merengek sambil menarik tangan mbok nah.
mbok nah berusaha mencerna omongan Aidin yang diluar kepala itu.
"siapa, bawa kesini."
__ADS_1
mbok menyahut.
Aidin tersenyum sambil menyenggol pundak Angel yang sedang makan itu. semua mata tertuju pada Angel. Angel yang sedang menikmati makanan itu tersedak akibat ulah Aidin.
"minum, minum."
"gitu saja tersedak!" sindir Aidin.
...---...
Bams sedang asik melayani pasien. Dinda mengetok pintu ruang Bams itu. Bams mempersilahkan siapa yang mengetok pintu itu. Dinda pun masuk ke ruang Bams.
Bams terkejut ternyata Dinda yang telah mengetuk pintu.
"duduk, dok"
Bams menyapa Dinda kala itu. Dinda mengangguk dan duduk di sofa ruangan.
pasien dokter Bams masih di ruangan. Dinda menunggunya dengan sabar. tak lama dari itu Bams selesai melaksanakan tugasnya.
"istirahat ya Bu, sehat sehat. semoga lekas sembuh" Dinda menyapa ibu yang sedang berobat tadi.
Dinda pada dasarnya sebenarnya baik. cuma terkadang sifat Dinda yang perfeksionis itu membuat jengkel Fatih. Bams menanyakan maksud kedatangan Dinda saat itu.
"kenapa Dinda? ada perlu denganku?" tanya Bams.
"Fatih di Malang? ngapain?"
"oh.. dia ambil cuti untuk bertemu keluarga Mira" sahut Bams tanpa harus menutupi.
Dinda berdiri dan meninggalkan Bams saat itu juga. Dinda keluar pintu dengan tatapan kosong ke depan. Bams merasakan sebenarnya apa yang dialami Dinda. Bams yang masih melongo dengan sikap Dinda, tak lama suara dering handphone Bams berbunyi.
"Halo Bams."
"halo, kenapa?"
" di sana baik baik saja kan?"
"iya, aman. cuma dia tadi seperti mau ngomong sesuatu"
Bams menutup teleponnya.
Malang,,,
kebersamaan di Malang cukup membuat beban pikiran mereka sedikit berkurang. Mereka menghabiskan sisa waktu dengan happy sebelum mereka harus kembali ke Jakarta.
"Fatih," Mira menepuk pundak Fatih karena ia melihat nya sedang melamun.
"Hei, yuk istirahat" Fatih mengajak nya
"istirahat! pukul berapa ini?"
"iya nih, capek banget." Fatih berusaha merengek agar apa yang ia sembunyikan tidak terlihat di mata Mira.
Mira hanya menyadari bahwa memang perjalanan sangat jauh. Mira memaklumi dan mempersilahkan Fatih untuk beristirahat.
__ADS_1
Vina, Aidin dan Angel sedang ke sungai yang sedang mengalir deras dibelakang. mereka menikmati pemandangan yang penuh dengan kedamaian. Mira menyusul mereka untuk menenangkan pikirannya.