
“sudah siap,?” dokter fatih yang berada dibelakang Mira sengaja mengagetkannya.
Mereka bak teman yang sudah akrab. Maklum sikap mira yang sopan dan ramah itu membuatnya bisa merangkul banyak teman tak peduli dimana pun berada.
“dokter tidak menunggu Dinda?” tanya mira kepada fatih. Ia hanya tidak ingin merusak hubungan mereka yang hendak menikah itu.
“sudah, dia sudah balik duluan mau pergi sama temannya. Saya juga sudah bilang bahwa saya mau ke rumah bang ayi” fatih menjawabnya dengan tenang tanpa gugup karena memang seperti itu keadaanya.
Mira yang mendengarkan hanya manggut-manggut dan percaya dengan ucapan fatih itu. setelah selesai semua,
“nanti malam ada acara Mira?” tanya fatih kepada Mira
“ada dokter,”
Kalau panggil saya jangan dokter, risih. Panggil saja fatih”
“iya, saya keluar sama Roy nanti malam” mira menjawabnya
“kencan ceritanya.” Tanya fatih penasaran
Mira tersenyum dan mengatakan bahwa mereka hanya keluar bersama bukan kencan.
Sebenarnya mira tidak tahu akankah nanti malam adalah sebuah kencan ataukah hanya sebatas keluar bersama teman tongkrongan.
“anda sendiri tidak kencan Bersama Dinda, calon anda?” Mira menanyakan balik kepada fatih
“maunya, tapi….” Fatih tidak melanjutkan ucapannya itu.
Mereka beranjak dari warung dan segera pulang.
“tunggu,” seorang memanggilnya tepat dibelakang dengan berlari
Fatih dan Mira menoleh kebelakang. Itu adalah Bams yang ngos-ngosan.
“kenapa disini, bukankah hari ini cuti?” fatih menyela
“iya, saya ada perlu dengan Mira”
Mira yang masih kebingungan dan mira melihat bams dengan aneh.
Ia sama sekali tidak tahu kenapa Bams ingin menemuinya saat itu. Terakhir kali mira bertemu Bams ketika bang ayi memperkenalkan. Bams meminta waktu mira sebentar. Bams sedikit terlihat gugup karena disitu ada dokter fatih yang sedang bersamanya.
Bams merasa tidak enak untuk memberitahukan ini didepan mereka berdua karena Fatih adalah calon Dinda.
__ADS_1
Akhirnya mereka bertiga duduk, dan menunggu Bams segera menceritakan apa maksud kedatangannya itu. bams berusaha memulainya tetapi sangat berat untuk mengucapkannya.
“Bams, kamu kenapa?” tanya Mira
Bams menarik dalam- dalam nafasnya dan mengucapkannya,
“Dinda”
“dinda! Kenapa dia?” sahut fatih karena Bams menyebut nama pacarnya itu.
“Dinda yang mencelakai kamu, Mira!”
“maksud kamu apa? Aku tidak faham” mira kebingungan setelah mendengar ucapan Bam situ
“waktu ujian 3 tahun lalu, Dinda yang merencanakan itu semua. Dinda menyuruh orang untuk mencelakakan kamu. Ia hanya tidak ingin kamu mengambil posisi nomor 1 di kampus”
bams yang akhirnya memberanikan diri untuk mengutarakan.
“apa, kamu jangan sembarangan nuduh dia seperti itu? kamu tidak ada bukti!” Fatih merasa kesal dnegan tuduhan Bam situ
“saya tidak ngawur dokter, Dinda yang bilang sendiri ke saya.”
Bams menunjukkan bukti dengan menunjukkan suara dinda yang direkam olehnya saat ia bercerita. Mira yang masih tidak percaya atas perlakuan dinda kepadanya hanya menangis dan menutup matanya dengan meresapi apa sebenarnya kesalahan dia hingga tega Dinda menyiksanya seperti itu.
Fatih mulai sangat kesal kepada Dinda, ia tidak menyangka perempuan yang selama ini dianggapnya baik dan akan menjadi istrinya ternyata seorang pembunuh.
Dinda butuh waktu 15 menit untuk sampai ke rumah sakit. Dinda akhirnya sampai ditempat dimana ia harus bertemu dengan Fatih. Dinda menyapanya dengan senyum
“hai sayang, kenapa?”
Dinda kaget karena nampaknya disitu ada Mira dan Bams yang sedang bersamanya.
“oh ada penjual pecel juga. Kenapa disini, memang situ dokter?” dinda yang sok kepada Mira.
“cukup!” fatih kesal terhdap Dinda.
“kenapa kamu marah- marah sayang, siapa yang bikin kamu marah. Mira ya?” dinda masih saja membikin gara- gara
“lebih baik sekarang kamu jujur.” Fatih yang tidak mau bertele- tele menunggu jawaban Dinda.
Dinda yang masih tidak faham maksud dari fatih sebenarnya. Dia bingung apa yang harus dikatakan
“kamu kan yang mencelakai mira, sampai kaki Mira harus patah dan diamputasi. Iya kan? Jawab!” fatih mulai teriak dan bernada tinggi
__ADS_1
Mira yang tidak bisa mendengar suara keras itu nampak kaget dan ketakutan. Dinda yang merasa rahasianya terbongkar. Dia tertekan saat itu. Dia bingung. Fatih sudah emosi, tandanya Dinda harus mengakui segala kesalahan nya.
“iya, aku memang pelakunya. Aku meminta orang untuk mencelakai dia. Puas.”
Fatih yang hendak menggerakkan tangan nya untuk menampar dinda atas segala perbuatannya itu tetapi Mira mencegahnya.
Mira tidak senang melihat seorang laki- laki harus menyakiti seorang perempuan.
“Kenapa, apa mau kamu sekarang!” Dinda yang menatap mata Fatih dengan menantangnya
“saya mau apa, oke. Saya mau putus dari kamu. Faham, jangan pernah hubungi saya lagi. Saya tidak mau calon istri saya ternyata seorang pembunuh seperti kamu!” fatih sudah murka dengan perbuatan Dinda itu. ia benar- benar marah besar dan tanpa sedikitpun memandang Dinda.
Fatih meninggalkan tempat tanpa berpamitan kepada Mira.
Dinda yang sangat kesal saat itu, ia melempar cincin yang pernah fatih berikan kepadanya. Dinda pulang dengan keadaan tak berdaya. Bams yang masih disitu melihat mira yang masih berdiri dengan satu kakinya.
Bams membantunya untuk mencari tempat duduk. Bams berusaha mencoba untuk menenangkannya. Ia menemani Mira sampai benar- benar dia dalam keadaan tenang.
“kenapa kamu tidak menceritakan kepadaku sejak awal Bams,?” tanya mira dengan nadanya yang lemas.
“maafkan aku, aku baru mengetahuinya setelah dinda jujur kemarin”
Bams masih menemaninya.
“kamu boleh pulang Bams, biarkan saya sendirian. Kasihan tunangan kamu Sudah menunggu!”
Mira yang berusaha tegar untuk menghadapi itu semua. Mira menelpon temannya alif agar ia menjemput Mira.
Bams meninggalkan mira sendirian atas permintaan Mira. Sebenarnya dalam hati Bams tidak tega untuk membiarkan dia sendirian. Tetapi itulah yang dia inginkan.
Mira Kembali pulang dan wajah Lelah lebam itu terlihat pada mira yang tak berhenti mengeluarkan air matanya. Mira mengistirahatkan jiwanya. Alif yang tidak berani sedikitpun mengucapkan kata kepadanya. Ia tidak menginginkan kesendirian mira terganggu. Alif membiarkan mira tidur dengan pulas.
Telepon Mira yang berdering, itu sahabatnya Vina di Malang. Alif mengangkatnya
“iya, halo. Maaf saya alif temanya. Kebetulan Mira sedang tidur, dia banyak pekerjaan hari ini”
Akhirnya Vina hanya mengirimkan salamnya saja kepada Mira, dan memintanya untuk menelpon keesokan harinya.
Pagi itu, udara pagi tidak sejuk seperti biasanya. Mira yang selalu terbangun pagi untuk menyiapkan pecelnya itu tetapi tidak untuk hari ini.
“mira tidak kerja hari ini?” tanya Alif
“tidak alif, aku sedang tidak enak badan. Izinkan aku istirahat sebentar ya?”
__ADS_1
“kalau kamu mau makan, duluan saja. Nanti aku menyusul.”
Alif hanya menerima ucapannya itu dan membelikan bubur kepada Mira. Alif berpamitan untuk bekerja pagi itu.