
Sepertinya tidak begitu asing mendengar suara itu. mira menoleh ke belakang dan benar adanya, itu adalah dinda. Ia datang kerumah mama fatih yang ada di bogor. Betapa bingungnya mira karena dinda yang datang untuk menemui mama fatih. Seakan mereka mempunyai sebuah hubungan yang begitu akrab. Dinda yang menyapa mira saat itu karena melihat bahwa mira juga sedang ada disitu juga.
“hai mira,” sapa dinda dengan santai
Mira hanya menganggukkan kepala nya dan masih sedikit bingung dengan apa yang terjadi. Dinda bertanya kepada mama fatih apa yang membuatnya mira datang saat itu. mama fatih mengatakan bahwa ia memintanya untuk tinggal di bogor karena mama fatih yang begitu merindukannya.
“yang sering dong mira untuk kesini, kasihan kan mama rindu kamu.” Nasihat dinda kepada mira
“fatih gimana kabarnya ma?” tanya dinda kepada mama
Mama fatih melihat mira yang merasa tidak nyaman dengan kedatangan dinda saat itu dan menurut mama itu juga sedikit berlebihan apa yang telah dilakukan oleh dinda, mengingat bahwa dinda adalah mantan fatih yang cukup lama.
“saya ke dapur dulu ya ma, dinda mau dibuatkan minum apa?” tanya mira kepada dinda
“jus jeruk juga boleh,” sahut dinda
“mama bantuin di dapur nak?” sahut mama
Mira menahan mama yang hendak berdiri dan tidak ingin ia direpotkan. Mira mempersilahkan mama untuk mengobrol dengan dinda dan mira akan membuatkan minuman. Mira pergi ke dapur dan membuatkannya jus, namun mira yang terlihat melamun. Tak lama dari itu mama mira menhampiri mira didapur dan mengerti bahwa ia akan kesulitan membawa minumannya. Mama fatih membawa jus itu di hadapan dinda.
“makasih ma,”
“ish, bukan mama. Tapi mira yang buatin”
Dinda meneguk jus itu dan dimuntahkan nya.
“kamu sengaja bikin aku sakit perut ya?” teriak dinda sambil berdiri dan membentak mira
Mira hanya menggelengkan kepala nya dan tidak tahu apa yang dimaksud oleh dinda. Dinda meminta mira untuk meminum jus yang telah disuguhkannya. Mira meminumnya dan melepeh apa yang telah ia minum.
“maafkan aku, aku tidak sengaja, aku tidak tahu jika apa yang aku ambil adalah garam, bukan gula” rasa maaf mira kepada dinda.
Mira merasa mungkin ketika ia sedang melamun tadi dan tidak mengetahui jika yang ia ambil adalah garam bukan gula. Mira berulang kali meminta maaf kepadanya namun dinda masih saja mengomel karena kesalahan yang ia perbuat. Mama fatih berusaha menenangkan dinda yang begitu emosi terhadap menantu nya itu. mama fatih meminta dinda untuk pulang terlebih dahulu karena ia yang masih saja mempermasalahkan. Dinda akhirnya Kembali pulang tanpa harus berlama- lama dirumah mama.
__ADS_1
“nak, mira tidak apa- apa?” perhatian mama kepada mira yang masih Nampak terlihat merasa bersalah.
Mira mengangguk dan menyembunyikan perasaan nya. Mama mengambil handphone dan mencoba menghubungi fatih. Mira mencegah dan tidak ingin suami nya terganggu dalam pekerjaannya. Mama mengajak mira untuk masuk ke dalam rumah dan mira meminta izin untuk masuk ke kamarnya. Mama fatih mengizinkan karena ia tahu mira sedang tidak baik saja.
Jam istirahat fatih tiba, ia menghubungi mira namun tidak menjawabnya, fatih mencoba nya beberapa kali namun masih tidak diangkat. Fatih menghubungi mama nya untuk mencari tahu kabar mira.
“waalaikumussalam, nak?” jawab mama
“mira dimana ma? Dia tidak mengangkat telepon fatih.” Jelas fatih kepada mama
“dia dikamar, apa dia tidak mengangkat telepon kamu nak?”
Fatih tidak menerima pesan atau apapun dari mira. Mama fatih yang teringat bahwa mira melarangnya untuk menghubungi fatih, dan mama menggagalkan niatnya. Mama fatih hanya meminta untuk segera pulang dengan selamat.
“apa mira baik- baik saja ma?” tanya sekali lagi fatih
“iya, dia merindukanmu nak?” jawab mama senyum
“baiklah, fatih akan segera pulang ma,”
“ada masalah dok?” tanya bams
Fatih hanya menggelengkan kepala dan tidak meneruskan pertanyaan dari bams. Bams yang sendiri juga tidak terlalu ikut campur urusan orang lain karena mengingat kejadian beberapa tahun lalu yang membuat semuanya begitu salah faham atas sifat gegabahnya.
“bams, boleh saya bertanya?” sahut fatih tiba- tiba kepada bams
Bams menganggukkan kepala nya dengan sedikit kaget, karena ini kali pertama nya ia mengajukan pertanyaan kepada bams. Bams sedikit penasaran apa yang akan ditanyakan oleh fatih kepada nya.
“menurutmu, mira itu seperti apa? Sepertinya sudah beberapa tahun kita menikah masih ada yang belum aku ketahui dari nya!
Fatih menatap tegas kepada bams yang membuat bams sedikit kesulitan untuk menelan makanan nya saat itu.
“Mir.. mira?” tanya bams memastikan
__ADS_1
Fatih mengangguk dan menjelaskan bahwa ia tidak keberatan sama sekali jika ia harus mencari informasi kepada bams, mantan pacar mira selama ini. Bams lagi lagi memaksakan makanan yang akan ia telan dengan susah payah. Ia menelan ludah dan hendak menceritakan kepada fatih atas apa yang menjadi pertanyaan nya. Fatih menyamankan tempat duduk nya.
Panjang lebar bams menceritakan kepada fatih tentang masa lalu nya bersama mira sambil di iringi senyum gembira nya karena pernah masuk dalam kehidupan mira. Cerita itu membuat fatih sedikit dehem dan cemburu atas apa yang diceritakan oleh bams.
“saya tidak bermaksud apa- apa dokter, saya hanya menjelaskan sesuai dengan pertanyaan dokter.”
Fatih mengangguk dan menerima semua maksud dari bams. Fatih memahami bahwa begitu besarnya rasa cinta bams kepada mira. Namun fatih juga mengatakan kepada bams bahwa ia bodoh karena telah melepas mira hanya karena fisik mira yang tidak sempurna. Bams mengatakan bahwa ia juga menyesal atas apa yang menjadi keputusannya itu. orangtua bams yang menolak dengan kondisi mira saat itu dan orangtua bams yang mencarikan seseorang untuknya dan kini telah menjadi istri dan keluarga kecil nya.
“ngomong- ngomong selamat ya, atas kelahiran puteri kamu. Maaf aku tidak bisa kesana saat itu.” bams mengangguk dan mengucapkan terimakasih atas ucapan dokter fatih.
Fatih meninggalkan bams yang masih duduk dengan rapi. Fatih sedikit kepikiran tentang mira dirumah, ia inginsegera bisa pulang dan berada disampingnya. Fatih seringkali melihat jam yang masih saja menunjukkan pukul satu siang. Masih lama ia harus berada di rumah sakit. ia mencoba menenangkan dirinya dan Kembali focus dalam bekerja.
“sudah Bersiap nak?”
“iya ma, biar nanti mas fatih pulang kita bisa langsung balik ke rumah, kasihan mbok nah menunggu lama.” Ucap mira kepada mama
“kamu baik- baik saja kan nak?” tanya mama khawatir
“tentu mama. Tidak perlu memikirkan yang bukan- bukan.” Senyum mira menjelaskan kepada mama dan membuat mama begitu tenang.
Papa fatih yang muncul dan menghampiri mira yang sedang duduk di ruang tengah dan mengobrol dengan mama.
“nak, boleh papa tinggal dirumah kamu Jakarta, kayaknya disana enak? Sudah rindu sama rumah kalian.”
Mira kaget setelah mendengar ucapan papa. Mira dengan antusias mengizinkan papa fatih untuk tinggal disana tanpa ragu. Mira melirik mama fatih yang mengarahkan tangannya ke kaki papa yang sedang duduk bersilah. Mira cekikikan dengan tingkah mama kepada fatih.
“tidak perlu cemburu. Kamu yang nomor satu.” Papa fatih merayu istri nya
Mira yang melihat itu tersenyum dan senang sekali melihat kesederhanaan mereka saat itu.
“ngapain juga tinggal disana, jangan ganggu kemesraan mereka dong pa?” ucap mama
“tiap hari juga mesra ma, kalau ada papa malah pamer kemesraan.” Pintal mira kepada mama dengan tawa kecil nya.
__ADS_1
Mira masih menunggu suami nya untuk pulang, dan tak lama fatih yang datang dan mengetuk pintu depan rumah. Mira beranjak dari sofa dan membukakan pintu depan dengan antusias. Dibukakan pintu dan fatih sedang berdiri didepan pintu. Mira senyum dan begitu senang dengan kedatangan fatih. Mira mengambil tas nya dan menjabat tangan fatih