Penjual Pecel Milik Dokter Handsome

Penjual Pecel Milik Dokter Handsome
Kembali Normal


__ADS_3

suasana Jakarta begitu hangat. sepasang kekasih banyak menampakkan dirinya di taman dan Monas. keluarga kecil yang menikah belum berumur lama juga sedang asik dengan anaknya. Fatih yang sedang melamun di kantin rumah sakit entah apa yang sedang dipikirkannya. tak lama suara menyahut keheningan Fatih di kantin.


"waduh, lagi melamun apa dokter"


"eh bang Ayi, sudah lama gak ketemu!" Fatih menyahut bang Ayi yang sedang menyapa itu.


kurang lebih dua bulan sudah Fatih tidak bertemu dengan bang Ayi karena pindah tugas ke Surabaya. Fatih sudah balik ke Jakarta dan kembali dengan segala aktifitas di rumah sakit harapan. Fatih pagi itu sedang meminta bang Ayi untuk menemani nya sarapan. jasa bang Ayi selama ini yang telah setia untuk bekerja di rumah sakit harapan. Fatih tak lupa mengucapkan terimakasih kepada bang Ayi karena telah mengemban tanggung jawabnya dengan baik di rumah sakit.


pagi itu Fatih yang menanyakan kepada bang Ayi tentang keluarga nya yang belum pernah di boyong ke Jakarta.


"memang bang Ayi tidak rindu sama istri dan anak?" tanya Fatih


"iya rindu dokter tetapi bagaimana lagi. kalau mau boyong istri dan anak butuh biaya banyak dokter. tidak cukup uang nya hehehe" cerita bang Ayi


Fatih mendengar kan dengan sangat antusias dan respek. bang Ayi begitu merasakan sikap Fatih yang sangat jauh berbeda dengan sikapnya yang dulu. bang Ayi mencoba mengutarakan pertanyaan nya kepada bang Fatih mengenai hal itu.


"ngomong ngomong dokter, boleh saya jujur?"


Bang Ayi yang sedikit gugup karena takut Fatih akan tersinggung atau bahkan marah. Fatih tersenyum dan mempersilahkan bang Ayi untuk bicara kepadanya. bang Ayi mengatakan bahwa ia lebih suka dokter Fatih yang seperti ini dari pada yang dulu. Fatih yang sedikit bingung dengan pernyataan yang dikeluarkan oleh bang Ayi. Fatih bertanya balik tentang apa maksud pernyataan yang diucapkan oleh bang Ayi.


"iya, dulu dokter kan suka marah-marah, sekarang sudah gampang senyum apalagi menyapa"


"dulu kalau mau menyapa dokter Fatih sedikit takut, hehehe" sambung bang Ayi tanpa sungkan kepada dokter Fatih


Fatih pun tersenyum dan mengungkapkan Bahwa perubahan dia berubah sejak kenal dengan tetangga Bang Ayi itu, Mira. Fatih mengungkapkan rasa syukurnya karena Tuhan telah mengatur ini semua. Fatih juga turut mengucapkan terima kasih kepada bang Ayi karena telah mengenal kan Mira kepada nya.


"kabar dokter Dinda bagaimana ya pak Fatih?"


Fatih menggelengkan kepalanya karena ia tidak tahu tentang keberadaan nya sekarang. bang Ayi menanyakan apakah dokter Fatih dan Dinda baik baik saja meskipun mereka sudah berpisah.


Fatih tidak menggubris omongan bang Ayi itu dan berpura-pura bahwa ia tidak mendengar.

__ADS_1


"saya berharap dokter Fatih sama mbak Dinda baik baik saja" sambung bang Ayi


"kita baik baik saja bang Ayi. terimakasih sudah mengingatkan" sahut Fatih yang merasa tidak enak


ditengah obrolan hangat bang Ayi dan Fatih, bunyi dering handphone bang Ayi. nampaknya itu istri dari bang Ayi. bang Ayi mengangkat telepon dan berbicara sejenak.


"Iya, nanti jalan-jalan"


"sudah dulu, saya sama dokter Fatih. malu buk"


sambung bang Ayi


"iya, I love you too" bisik pelan bang Ayi berusaha menyembunyikan itu dari Fatih


Fatih yang berada disampingnya mendengar bisikan itu dan mengeluarkan sedikit suara tanda senyum akibat tingkah bang Ayi dan istrinya di telepon. bang Ayi menutup telepon sambil senyum terhadap Fatih.


sedikit kesunyian terjadi karena canggung atas kejadian tersebut dan tak lama dokter Fatih yang mencoba untuk bertanya.


bang Ayi nampak kaget dan sedikit malu dengan pertanyaan yang diajukan Fatih. tetapi bang Ayi menjawab dengan santainya dan memberikan beberapa tips pernikahan untuk Fatih dan Mira ketika sudah menikah.


"Sudah 20 tahun, hehe."


"nanti kalau dokter sudah nikah sama Mira tolong diperhatikan dokter, karena perempuan itu memang kodratnya minta diperhatikan."


"sebisa mungkin dimanja, dokter kan banyak uang pasti gak bakal susah untuk memanjakan Mira."


bang Ayi senyum setelah menjelaskan itu dan bang Ayi juga menjelaskan bahwa memanjakan itu bukan selalu mengeluarkan uang banyak tetapi hal hal kecil yang terkadang itu dianggap remeh, quality time misalnya. Bang Ayi juga turut menambahkan bahwa dokter Fatih harus lebih peka.


Fatih mendengar dengan sangat baik dan menimpali pembicaraan bang Ayi Dengan ramah. obrolan itu menjadi sangat harmonis dan menyenangkan. Fatih langsung mengajukan pertanyaan,


"Kalau anak bang Ayi?" Fatih terkekeh

__ADS_1


bang Ayi sontak ikut kaget dan terkekeh setelah mendengar pertanyaan Fatih. Fatih membenarkan bahwa maksud Fatih ingin menanyakan berapa jumlah anak bang Ayi.


"oh tanya anak saya dok, saya kira yang lain? haha"


"Anak saya dua saja dok, cukup. nanti kalau dokter pengen punya anak banyak gapapa tinggal konsultasi sama Mira, hehe"


dokter Fatih akhirnya tersenyum mendengar jawaban bang Ayi.


"Boleh, sebelas deh bang buat tim jaga gawang"


Fatih dan bang Ayi turut tertawa dengan obrolan kecil santai dan bermakna.


Surabaya,


Elis masih ada di Surabaya dan ia tinggal bersama kedua orang tuanya. suami Elis yang sudah tidak lagi bersamanya. anak yang ada dikandungan Elis masih belum menemukan siapa bapak yang mau merawat nya nanti. Elis sedang dekat dengan Mira. Mira dengan mudah melupakan masalah kemarin setelah semuanya jelas. Mira dengan baik hati mendengar semua keluh kesah Elis itu.


Elis mengucapkan terimakasih karena Mira mau menjadi teman curhat Elis di saat Elis sangat membutuhkan support dari orang sekitar. Elis dan Mira sedang berada di warung mbok Ci dirumah Gea. mereka bertiga telah mengobrol panjang lebar tentang masalah Elis. Gea dan Mira merasakan apa yang sebenarnya dirasakan olehnya. Mira turut bersedih atas apa yang dialami oleh Elis.


kesedihan Elis mengingat kan dia kembali ke masa lalu betapa peduli nya Fatih kepada nya saat itu. Elis mengatakan bahwa Fatih lelaki yang sangat baik, peduli, dan perhatian dengan seorang perempuan. Elis mengatakan kepada Mira bahwa ia telah beruntung bisa mendapatkan lelaki seperti fatih. Mira tidak bicara panjang lebar, ia hanya menundukkan kepalanya karena ia tidak tahu apakah harus bangga atau merasa cemburu karena Elis yang masih mengingat tentang masa lalu bersama Fatih.


Elis yang merasa Mira mulai sedikit berbeda saat itu seketika, ia menegaskan kepada Mira bahwa ia berjanji tidak akan merusak hubungan Mira dengan Fatih. Elis juga menjelaskan bahwa Fatih sepenuhnya telah memilih Mira didalam hidupnya. Mira mengangkat kepalanya dan melihat Elis yang sedang meyakinkan itu. Elis tersenyum dan Mira memeluk Elis.


"terimakasih dan minta maaf"


Mira yang memeluk Elis.


"kenapa minta maaf,?" tanya Elis


"aku telah menghalangi kalian!"


Elis pun tertawa dan berpikir bahwa Mira sedang ada ada saja. Elis tidak menggubris dan tetap mendoakan yang terbaik untuk mereka.

__ADS_1


__ADS_2