
Berteman dengan Roy
Pagi ini mira senyum semangat menyambut kedatangan Roy di warung nya. Mira sangat bersyukur bisa kenal dengan Roy. Roy yang membantu dia untuk mengenalkan warung pecelnya melalui akun website.
“eh, Mira. Kamu dari tadi senyum- senyum diri mengapa? Tidak sabar bertemu Bams?” goda bang Ayi pagi itu.
“ih bang Ayi, ngawur. Dia mau menikah kan?”
“nanti Mira mau kedatangan tamu spesial bang Ayi?” Mira dengan percaya dirinya yang level tinggi.
“syukurlah kamu sudah punya teman spesial.” Goda bang ayi.
Mira yang makin semangat setelah mendapat goyangan semangat bang Ayi untuknya. Ia bersyukur karena bang ayi support meskipun bang Ayi belum kenal dia. Hihihi
“aku hanya ingin yang terbaik untukmu Mir, ingat mbok mu di sana juga pasti ingin yang terbaik buatmu”
Mira manggut-manggut menyetujui semua perkataan bang Ayi yang sangat memotivasi sekali pagi itu. bang ayi menanyakan akankah ia menjemput mira atau tidak.
“iya bang, nanti Mira pulang sendiri saja. Hehe”
mereka pun menuju rumah sakit Harapan.
Sesampainya di rumah sakit, Mira membuka warungnya itu. Mira menata dengan baik dan bersih. Dia tidak mau warungnya terlihat kotor dan bau. Tepat pukul 08.55 seorang wanita datang menghampirinya.
“wah, selamat pagi penjual pecel. Kelihatannya enak!”
Tak lain dia adalah Dinda. Dinda menghampiri Mira pagi itu rupanya hanya sekadar ingin menggunjingnya dan meng-upload energi negatif di pagi hari. Mira yang mencoba untuk menyibukkan diri dengan membereskan segala perlengkapan warung.
“oh Dinda disini. Mau pesan apa dokter Dinda?”
“apakah pecel sehat untuk dokter?” Mira yang menyahutnya dengan sedikit sinis terhadapnya.
“tidak ada waktu saya untuk makan disini terimakasih.”
Mira hanya tersenyum dan menanyakan keberadaannya dia menemui Mira di warung.
“saya hanya mau tanya, ada hubungan apa kamu sama Fatih?” tanya dinda
“Fatih, dokter pemarah itu?” mira memastikan
Dinda tidak terima ketika mira harus mengatakan itu kepadanya. Dinda melakukan pembelaan.
“hanya itu yang terlihat dimata saya? Dekat saja tidak, saya hanya tahu dia orang yang menghalangi mimpi saya!” tegas Mira
“well, lanjutkan pekerjaanmu.”
Dinda merasa puas dengan jawabannya.
__ADS_1
Dinda meninggalkan Mira yang tidak sama sekali penting. Mira menghela napas panjang- panjang untuk membuatnya merasa lega. Mira yang sibuk melayani penjual, terdengar suara sepatu menghampiri,
“beli pecel 1 dimakan disini”
Suara itu, suara satu satunya milik Roy seorang. Mira mengangkat wajahnya dan menyapa Roy dengan senang hati.
“hei, sejak kapan.?”
“barusan”
Roy membantu mira yang sedang menyiapkan pecel untuk pembeli, tak lama itu seorang dengan setelan jas putih datang menghampiri warung Mira. Itu adalah Fatih. Entah apa yang membuat Fatih datang untuk menghampirinya. Fatih menyapanya,
“selamat pagi, Mira.”
“Pagi dokter,” Mira yang menjawab sapaan dokter Fatih dengan baik.
Nampak seperti Fatih yang tak pernah berbuat salah apapun. Mira melayaninya dengan baik. Memang hati Mira yang super baik hati itu mampu mengalahkan segalanya.
“itu,”
Fatih Nampak seorang laki- laki berada disebelah mira. Roy langsung menjabat tangan dokter Fatih
“hei, kenalin bro. Roy.” Senyum sapa roy kepada Fatih
Fatih balik untuk memperkenalkan dirinya
“pacar Mira?” tanya Fatih
Roy hanya menerima keputusan Mira. Fatih Nampak lega setelah mendengar jawaban itu. Fatih meminta waktu untuk mengobrol dengan Mira.
“boleh kita ngobrol sebentar Mira?” izin Fatih
Mira mengiyakan permintaan dokter itu dan mereka duduk di tempat yang tak jauh dari warung Mira.
Mira menegaskan kepada dokter Fatih jika dia bertemu hanya untuk meminta maaf, Mira sudah memaafkannya meskipun memang sedikit berat hati. Fatih sedikit senyum kepada Mira karena dia tahu apa maksud kedatangannya.
“haha, terimakasih sudah pandai menebak. Saya benar- benar tidak bermaksud apa, saya hanya berusaha menjalankan aturan dan bertanggung jawab atas apa yang harus saya lakukan”
“saya faham dokter, saya mengerti. Saya bahkan kagum sama anda yang sangat konsisten dengan tanggung jawab anda. Jika saya diposisi anda mungkin saya seperti itu” Mira menjelaskan dengan detail.
“kaki kamu Mira?”
Mira menarik nafas dalam dalam,
“ya, oke. Semuanya oke. Saya bersyukur saya masih hidup dan kembali menikmati dunia ini. banyak belajar tentunya.”
“saya minta maaf karena saya menganggap and sangat buruk, tapi sebenarnya anda tidak seperti itu. anda baik, anda juga ramah. Cuma sedikit saja pemarah, cuek bebek”
__ADS_1
Mira menahan tawa takut mendapati fatih yang akan meledak
Fatih melongo dan mengerutkan dahinya. Fatih tidak menyangka ia akan jujur dihadapannya. Fatih mengangkat tangannya dan menaruh di kepala nya karena tak tahu apa sebenarnya yang dipikirkan mira tentangnya.
Mira yang sedang melihat putihnya tangan dokter Fatih itu, kembali mempertanyakan pertanyaan kepada Fatih
“dokter Fatih mau menikah, itu cincin melingkar”
Fatih melihat jarinya karena dia lupa ada cincin yang melingkar di jarinya. Fatih hanya menganggukkan kepalanya tanpa harus menjawab. Entah apa sebenarnya yang ada di hati Mira, antara perasaan senang dan sedih.
“sama siapa dokter?”
“Dinda,”
“maksud dokter Dinda Airin,”
“ya”
Mira sangat kaget, ternyata dokter Fatih hendak menikah dengan Dinda yang licik itu. Mira tidak bisa bicara apa- apa hanya saja bingung.
“kalau jodoh,”
Mira mengatupkan bibirnya dan hendak berpamitan kepada Fatih karena ia harus berjualan. Mira mengangkat tubuhnya dan fatih memanggilnya,
“boleh saya mengantar kamu nanti sore, sekalian saya mampir ke rumah bang Ayi!”
Mira tersenyum dan mengiyakan ucapan dokter Fatih itu. Mira Kembali ke warungnya. Roy yang lama menunggu penasaran apa yang sedang mereka bicarakan.
Mira menolak untuk memberitahukannya, Mira mengalihkan pembicaraan dengan mengajaknya keluar nanti malam. Roy setuju dan mereka akan berkencan untuk kali pertama nanti malam.
Bams yang dilemma setelah mendengar pengakuan Dinda kemarin malam. Dia berencana untuk memberitahukan pengakuan itu kepada Mira. Dia tidak tenang, dia dipenuhi rasa bersalah. Dia menginginkan Mira bisa mengetahui ini semua sebelum terlambat.
Bams menelepon bang Ayi yang sedang bekerja.
“halo bang Ayi, apakah mira berjualan hari ini?” tanya Bams kepada bang Ayi
“iya dokter, kenapa? Ada yang perlu di sampaikan.”
“oh tidak, saya mau berjumpa dengannya.”
“bukankah dokter Bams tidak ada jadwal hari ini?”
“iya, tapi saya harus ketemu nanti. Sampaikan salam saya kepada mira ya bang Ayi, suruh tunggu saya di kantin. Ini penting.”
Bang Ayi yang tidak tahu menahu hanya mengiyakan dan menuruti permintaan dokter bams. Bams menutup telponnya dan bergegas bersiap untuk pergi ke rumah sakit.
Mira sedang membereskan warungnya itu. Mira menunggu dokter Fatih yang katanya akan mengantar dia pulang hari ini. Bang Ayi belum menyampaikan pesan Bams kepada Mira. Mungkin bang Ayi yang lupa atas pesan itu.
__ADS_1
Mira menunggu Fatih sambil mengirimkan pesannya terhadap Roy yang telah berjanji untuk menemaninya jalan- jalan nanti malam.
Terdengar suara sepatu itu mendekat kearah Mira…….