
Fatih terbaring lemas di ranjang
Kedekatan fatih dan mira membuat dinda semakin penasaran tentang hubungan mereka. Dinda menghampiri dan menyapa dengan muka songong nya.
“wah, semakin dekat ya kalian berdua. Jadi ini alasan kamu putus dari aku fatih, gara- gara Mira yang sok baik ini?” dinda yang tak henti nya mengutarakan perasaan bencinya itu.
Fatih yang kesal dengan ucapan Dinda, ingin sekali menamparnya. Mira yang menahannya karena ia tidak mau ada kegaduhan di area rumah sakit.
“selamat ya mira, sudah berhasil menjadi perusak bab 2 dalam hidup saya”
Dinda langsung pergi meninggalkannya.
Mira berkali- kali meminta fatih untuk bersabar. Bagi mira itu adalah hal wajar, karena dinda baru saja putus darinya. Fatih segera pergi dari warung dan hendak melaksanakan tugasnya.
...***...
Jakarta yang terik,
Jakarta membawa suasana yang tak jauh beda dengan surabaya. Sepertinya aidin sudah terbiasa dengan kemacetan dan cuaca panasnya. Aidin memutuskan untuk jogging di taman.
Banyak dari warga Jakarta yang sedang jogging pagi hari itu karena kebetulan weekend, jadi tak heran jika banyak orang yang sedang keluar untuk menyegarkan tubuhnya. Aidin yang sedang asik berlari dengan setelan baju olahraga menutupi tubuhnya yang kekar. Aidin memang suka berolahraga.
Di manapun berada ia selalu menyempatkan dirinya untuk berolahraga, ia tidak mau calon dokter terlihat kurus, hahaha.
Kaleng minum terlempar mengenai kepala Aidin.
“oey” spontan aidin yang teriak karena merasa kesakitan
Aidin yang menoleh ke sana kemari mencari siapa yang tega melempar kaleng itu dikepala nya. Tak sengaja aidin melihat bocah kecil laki- laki yang terlihat masih berumur 7 tahun itu tertawa ketika melihatnya.
Aidin menghampirinya dengan wajah marah mendidik. Aidin mulai mendekati sang anak kecil itu dan jongkok dihadapannya. Aidin memberikan nasihatnya kepada sang bocah dengan menggerakkan anggota tubuhnya seakan terlihat aidin sedang memarahinya.
Tak lama dari itu lemparan kaleng kedua kalinya mengenai tepat di kepala Aidin.
“Woy, jangan macem- macem. Mau menculik kamu” seorang perempuan sedang teriak dan berlari menuju si bocah dan aidin yang sedang berada disampingnya.
Aidin yang masih kesakitan dengan memegang kepalanya itu tidak punya kesempatan untuk memarahi balik perempuan itu. akhirnya sang perempuan mendekat dan memukul aidin lagi dengan sekencang- kencangnya.
“stop, berhenti.” Suara aidin yang begitu keras membuat sang perempuan berhenti untuk memukul, sang anak ketakutan dengan merangkul si perempuan itu.
“saya bukan penculik, saya korban!” aidin mengambil napas dalam- dalam dan berhenti emosi.
Si perempuan itu malah melongo karena melihat kepala aidin yang benjol merah akibat lemparan kaleng itu.
“kepala kamu mas, ma’af tidak sengaja” Perempuan itu meminta maaf kepada Aidin karena telah menuduh sembarangan.
“mari duduk, saya obatin”
__ADS_1
Perempuan itu mengajak duduk aidin dan mengobati luka yang dialami oleh aidin.
“lain kali gak boleh begitu ya? Tidak baik sama om.” Perempuan itu yang memberi nasihat kepada sang bocah. Aidin hanya melirik sampai akhirnya mengeluarkan kalimatnya
“anaknya mbak,!”
“sembarangan. Memang saya ada muka punya anak?” perempuan memukul aidin kesekian kalinya
“aduh mbak, hobi mbak ini mukul ya?” aidin yang sedikit merintih akibat pukulan mbak itu.
Sang mbak hanya tersenyum dan meminta maaf.
Perempuan itu merawat luka aidin dengan baik, bak seorang dokter yang sudah faham betul.
“dokter ya mbak?” celetuk aidin
“bukan, saya masih mahasiswa. Kenalkan saya Angel.”
“Aidin, Aidin Ali” mereka saling memperkenalkan dirinya. Dan aidin harus berpamitan pulang terlebih dahulu karena ia harus membantu kakaknya di kantin.
“hati- hati,,,,,” ucapan Angel
...***...
Mira sendiri di warung sambil menunggu kedatangan sang adik, datanglah Roy yang sudah lama tidak berjumpa. Mira menyambutnya dengan sangat baik.
“hai roy, darimana saja. Sudah 2 hari tidak pernah ada kabar!” tanya mira kepada roy yang datang menghampirinya.
Mira mengangguk.
Roy yang tiba- tiba muncul lagi setelah dua hari tak bertemu. Tanpa ada rasa curiga sedikitpun mira terhadap roy. Roy memang terlihat baik- baik saja dan juga tulus.
“buat siapa pecel ini, kok lain!” tanya roy kepada mira
“iya ini buat dokter fatih” mira tersenyum kepada Roy.
Mira yang sedang mempersiapkan makanan itu, ia harus pergi ke toilet karena kebelet. Mira meminta Roy untuk menjaga piring pecel itu yang akan diberikan kepada Fatih buat makan siang.
Ini kesempatan Roy untuk melaksanakan tugasnya. Roy mencampurkan racun dipiring pecel yang akan diberikan kepada Fatih.
Fatih datang ke kantin Mira. Fatih yang melihat roy di warung Mira menanyakan keberadaannya.
“kenapa disini?”
“aku kangen saja bro sama Mira. Yasudah saya balik dulu deh, saya tidak mau ganggu kencan kalian”
Fatih yang tidak bermaksud mengusirnya tetapi roy meninggalkan warung mira.
__ADS_1
“Hei, dokter fatih sudah datang rupanya. Roy kemana!” tanya mira kepada fatih
“sudah balik, katanya tidak mau ganggu kita kencan”
Mira tersenyum dan mengambilkan sepiring nasi pecelnya kepada fatih.
“yang inis khusus buat dokter saya!”
Mira yang sudah berani menggombali nya.
Fatih tersenyum tapi sedikit mahal karena ia takut cool nya akan hilang. Hahaha. Mira menyuguhkan agar dimakannya. Fatih menyantap dengan semangat. Ia begitu lahap memakan nasi pecel itu. aidin menghampiri,
“sudah pulang jalan- jalan rupanya”
“iya kak, teman kakak yang laki- laki tadi kemana?” tanya Aidin
“pulang. Kenapa?” tanya mira balik
Aidin hanya menggelengkan kepalanya.
Ia melihat roy tadi bertemu dengan dinda dan memintanya memasukkan racun di piring pecel yang sekarang ini dimakan oleh fatih. Aidin belum berani menuduhnya karena tidak ada reaksi apa- apa yang terjadi kepada fatih. Aidin juga terlambat untuk mencegah fatih untuk memakan pecel itu.
“makasih ya, kenyang hari ini.” Fatih memberikan kedua jempolnya untuk mira.
Fatih yang berdiri hendak pergi ke kamar mandi tercegat karena busa yang keluar dari mulutnya. Mira panik dan tidak bisa berbuat apa- apa. Aidin yang berada disitu menolongnya dengan membawa dia UGD.
Fatih diberikan pertolongan pertama, mira yang tidak bisa berlari cepat hanya menangis ditempat sedangkan aidin yang menemani fatih untuk menuju ruang pemeriksaan. Mira tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Mira merasa hanya membuatkan nasi pecel untuknya.
...***...
Sebelum kecelakaan
“bagaimana, lancar hari ini? Sudah kamu taruh racun kan disitu?”
“sudah, tugas ku sudah selesai. Berikan uangnya kepadaku” roy menagih janjinya kepada Dinda.
Roy sudah dari awal menjadi orang suruhan Dinda untuk mencelakai Fatih. Sejak kehadiran Mira dalam kehidupan Fatih, dinda sengaja menghadirkan Roy dalam kehidupan Mira.
Kehadiran roy di kehidupan mira bukan tanpa alasan. Selama ini Roy hanya berpura- pura untuk mendekati Mira. Ia hanya menuruti atas perintah Dinda mantan tunangan Fatih.
Dinda berniat untuk mencelakai fatih karena ia tak mau Mira mendapatkan fatih sepenuhnya.
Fatih yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. fatih dengan kondisinya yang masih belum sadarkan diri.
Obat racun yang berbahaya itu begitu kuat didalam tubuh fatih. Aidin meninggalkan fatih yang masih terbaring. Aidin menemui kakaknya itu untuk menenangkan dirinya. Dinda datang untuk menjenguk Fatih yang sedang terbaring lemah. Fatih sadarkan diri, ia mendapatkan ceritanya tentang tuduhan yang dikarang oleh dinda.
“jadi begitu ceritanya Fatih, Mira tidak sebaik yang kamu pikirkan. Dia punya rencana untuk mendekati kamu fatih”
__ADS_1
Dinda yang menunjukkan rasa iba nya terhadap fatih seolah ia merasa peduli dengan keberadaan fatih.
Fatih masih sedikit tidak percaya dengan apa yang telah diperbuat oleh Mira. Fatih merasa sedih dan kecewa atas apa yang telah ia perbuat.