Penjual Pecel Milik Dokter Handsome

Penjual Pecel Milik Dokter Handsome
Mbok Nah Sakit


__ADS_3

Mbok Nah tergeletak di ranjang rumah sakit ditemani pak man, tetangga Mira. Kondisi mbok Nah sudah sadar setelah pingsan didepan halaman rumah. Mira yang sangat khawatir dengan kondisi mbok Nah langsung memeluknya. Entah apa yang sebenarnya terjadi, Mira belum bisa bertanya Panjang lebar terlebih dahulu kepada Mbok Nah yang kondisinya masih belum stabil.


Mira menawarkan makanan kepada mbok Nah agar lekas membaik. Vina yang menemani Mira kala itu menelpon adiknya Aidin yang sedang berada di Surabaya. Jika mbok Nah tahu, ia tidak akan mengijinkan untuk menelpon aidin.


Mbok nah jauh lebih menginginkan aidin fokus untuk belajar daripada harus memikirkan kondisinya.


“cepetan pulang, kamu. Mbok Nah dirumah sakit!”


Aidin yang shock setelah mendengar kabar bahwa mbok nah sedang sakit. Aidin langsung pulang ke malang untuk menemuinya. Untuk melanjutkan sebagai seorang guru pembantu di sekolah, Mira harus berpikir 1000x lipat lagi.


Mira menduga bahwa mbok nah sudah kelelahan. Tenaga mbok nah yang semakin berkurang menjadi alasan mbok nah jatuh pingsan. Mira akan sedikit membantu mbok nah berjualan jika ia melanjutkan mengabdi diri di SD Drajat.


Mira sangat kebingungan saat itu. Mira mengalami dilemma yang tinggi, disisi mira berkeinginan tetap mengajar dan terus berkarya, disisi lain mira harus bingung untuk merawat mbok nah. Mira yang juga tidak bisa selincah dulu, kini Mira hanya bisa pasrah dan melakukan pekerjaan sesuai yang dia mampu.


Ekonomi terkadang menjadi sebuah masalah dalam hidupnya.


“mbok,”


Aidin yang terlihat baru datang untuk menemui mbok Nah dirumah sakit.


Mbok Nah kaget melihat kedatangan Aidin karena baru saja Aidin balik ke Surabaya.


“kenapa disini, mbok gapapa?” siapa yang suruh kamu kesini,”


Aidin tidak menggubris omongan mbok Nah, aidin hanya memeluk mbok nah yang masih terlihat lemah itu. aidin, mira dan vina membiarkan mbok nah tertidur. Mira sekarang yang sedang memikirkan tentang biaya yang harus ditanggungnya.


Aidin meminta agar Mira tidak memikirkannya, karena Aidin memang tahu bahwa Mira dan Mbok Nah hanya berjualan pecel, jadi aidin tahu berapa uang yang hanya dihasilkan dari seorang penjual pecel.


Aidin mengurus administrasi rumah sakit. Ia menabung dari uang saku beasiswa. Aidin tidak merasa kecewa sama sekali karena uang yang ia kumpulkan harus dipakai untuk kebutuhan lain. Mira yang sempat melarangnya karena ia tahu, bahwa uang itu akan digunakan untuk kebutuhan kuliah. Mira hanya tidak menginginkan bahwa nantinya adik semata wayangnya itu harus berhenti kuliah akibat ekonomi.

__ADS_1


“gapapa, kak. Nanti kan dapat lagi uang saku dari beasiswa biar nanti aku simpan lagi. Yang terpenting sekarang mbok Nah bisa segera pulang.”


Beruntung Mira dan Aidin anak yang sangat baik, tuhan menitipkan mereka kepada mbok nah yang begitu baik dan telaten merawatnya.


Setelah mendapat kabar tentang kondisi mbok Nah sebenarnya ia terkena penyakit asma, Akhirnya Mbok Nah bisa Kembali pulang setelah 2 hari lamanya ia dirumah sakit. Dokter menyarankan agar lebih banyak beristirahat dan meninggalkan pekerjaan yang terlalu berat.


Mbok Nah yang tipikal orang yang suka bekerja, mbok Nah tidak bisa begitu saja berhenti untuk berjualan pecel. Tetapi jika hanya mengandalkan penjualan pecel untuk kehidupan sehari- hari, ditambah terkadang sepinya penjualan, bagaimana uang bisa cukup untuk memenuhi kebutuhan dan ditambah untuk beli peralatan obat mbok Nah.


Mira sangat kebingungan. Mira berpikir bahwa ia harus merantau ke Jakarta untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan mencari pekerjaan yang pas di sana. Aidin sempat tidak setuju dengan keputusan Mira yang sangat kontroversi itu, dengan kondisi kaki Mira yang seperti itu apakah bisa ia mendapatkan pekerjaan di ibukota. Vina pun tidak setuju jika Mira harus menginjakkan kakinya di Jakarta sendirian.


Mira lagi- lagi memberi penjelasan yang kuat alasan kenapa ia harus merantau ke ibukota. Mira beralasan bahwa di sana dia akan menemui bang Ayi tetangga mbok Nah yang sudah enam tahun lamanya ia merantau di Jakarta.


Mira juga sempat ragu jika ia harus merantau ke Jakarta bagaimana dengan Mbok nah. Tidak mungkin Mira meninggalkan mbok Nah sendirian. Ia harus ada teman yang bisa menjaganya. Vina menaruh belas kasih terhadap mira. Vina yang sudah mengetahui kondisi mira sejak awal merasa sangat sedih melihat kehidupan Mira. Ia tidak bisa membantu banyak, ia hanya menawarkan diri untuk bisa merawat mbok Nah.


“kamu serius vin,” mata Mira yang berkaca- kaca mendengar ucapan Vina


Vina mengangguk sambil memeluk erat sahabatnya Mira itu. Mira meminta nomor telepon bang Ayi kepada istrinya. Mira menghubungi dan menanyakan tentang semua yang ia butuhkan di Jakarta.


Memang berat kehidupan Mira. Ia harus berputar dan bergerak untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Mira menghampiri mbok Nah yang sedang memasak itu, ia mencoba izin kepada mbok Nah dengan alasan ia diterima kerja di Jakarta karena ia telah melamar melalui online.


Mbok Nah yang tidak memikirkan Panjang lebar, ia begitu bangga dan bersyukur bahwa cucunya itu bisa diterima kerja di Jakarta diharapkan memang bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik.


Mira bukan bermaksud membohongi Mbok Nah, tetapi hanya dengan alasan itu ia bisa merantau dan mendapat penghasilan yang lebih tinggi tanpa harus membuat Mbok Nah kepikiran.


Meskipun sebenarnya Mira masih belum memikirkan bahwa ia akan bekerja sebagai apa di Jakarta. Mira menghubungi bang Ayi untuk meminta alamatnya di Jakarta.


Mira meminta bantuan bang ayi untuk mencarikan pekerjaan untuknya. Bang ayi tidak tahu alasan kenapa Mira harus merantau ke Jakarta. Mira menyembunyikan itu dari bang Ayi karena ia takut ia akan memberi kabar ke istrinya. Mira bersyukur bang ayi dengan tangan terbuka mencoba membantu Mira mencari pekerjaan di Jakarta.


Keesokan harinya Mira akan beranjak menuju Jakarta.

__ADS_1


Mira menitipkan mbok Nah kepada sahabatnya itu, dan berharap vina bisa menjaga mbok Nah dengan baik. Vina yang sedikitpun tidak merasa canggung dengan mbok Nah karena memang sejak kecil ia sering main ke rumah mbok Nah bak cucu sendiri. Vina membantu Mira menyiapkan perlengkapannya untuk merantau.


Mira sempat kepikiran untuk meminta adik bungsunya agar mengantar ia ke Jakarta. Tetapi mira harus memikirkan uangnya lagi. Dengan terpaksa mira harus berangkat sendirian.


Mira sedikitpun tidak merasa kebingungan untuk mempersiapkan semuanya, mira sudah mempunyai pengalaman selama ia kuliah dulu. Ia sempat ke Jakarta saat kuliah dan mengunjungi salah satu temannya di Jakarta.


Mira telah memesan tiket kereta ke Jakarta. Ia memastikan bahwa sesampainya di Jakarta ia akan bertemu bang Ayi dan tanpa harus terlantar di Jakarta. Mira sempat mengontak temannya dulu, tetapi masih belum ada jawaban darinya.


Mira berpamitan kepada Mbok nah dan vina yang saat itu juga berkumpul dirumah mbok nah. Istri bang ayi juga menitipkan salam rindunya kepada suaminya itu. istri bang ayi sangat senang karena tetangganya akan menyusul ke Jakarta juga. Mereka tak hentinya memberikan doa kepada mira agar selamat sampai tujuan dan dilancarkan perjalanannya.


Mira meneteskan air matanya dan merasa tuhan begitu baik kepadanya. Disaat seperti ini tuhan masih membantunya dalam menyelesaikan segala liku kehidupan.


Mira diantar pak Man ke stasiun, mira yang sudah lama tidak melakukan perjalanan sendirian merasa aneh dan perlu beradaptasi lagi. Kaki mira yang tinggal satu itu membuat Mira sedikit kesusahan. Tetapi mira yang pantang menyerah membuatnya ia semangat Kembali setelah mengingat pengorbanan mbok Nah.


Mbok Nah yang tanpa mengeluh dan begitu tinggi semangat hidupnya membuatnya harus tetap kuat dan mandiri. Mira juga mengingat selalu pesan orangtuanya,


...------...


...Janganlah takut terhadap sesuatu, jika apa yang kamu lakukan itu baik....


...Tapi takutlah jika kamu berada pada jalan yang tidak ia sukai....


...Tutup matamu sebentar jika kamu merasa ketakutan, ingatlah dia bahwa dia selalu bersamamu, ialah pelindung abadi untukmu....


...-----...


Pesan orang tua Mira yang selalu diingatnya. Mira pun menginjakkan kakinya di ibukota.


Jakarta,………….

__ADS_1


To be continued.


__ADS_2