
Mira menceritakan kejadian tentang apa yang terjadi dimasa lalu Mira
...-----...
...Cerita masa lalu Mira kepada dokter Gery...
...saat itu saya adalah seorang mahasiswa jurusan kedokteran pak di Malang, saya sudah menempuh semester 6. Bisa dibilang saya mahasiswa terbaik di sana. Pada saat itu saya harus mengikuti ujian tes tahap 1 yang wajib diikuti oleh calon dokter. Salah satunya adalah saya. Ketika saya hendak menyeberang menuju rumah sakit tempat saya melaksanakan ujian, kecelakaan menimpa saya. Sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menghantam tubuh saya yang mengakibatkan saya terpental jauh. Itulah yang membuat kaki saya harus diamputasi. Saya langsung dilarikan ke rumah sakit. Saya yang tidak menghadiri ujian tahap 1 saat itu tepaksa saya harus gagal untuk tahun ini. Saya sudah tahu konsekuensi sebelumnya. Saya sangat kecewa, saya depresi. Bams teman saya mengatakan saya harus mengulanginya untuk tahun depan. Saya sudah capek, saya tidak bisa lagi. Saya hilang arah dengan kaki saya yang hanya 1 ini, apakah masih bisa bertahan. Saya tidak yakin, akhirnya saya memutuskan untuk keluar dari kampus....
...-----...
“karena saya mahasiswa kedokteran, jadi saya tahu pak bagaimana cara menangani orang yang sedang sakit. Apalagi penyakit jantung yang secara tiba-tiba dapat menyerang siapa saja. Saya hanya melakukan tugas saya meskipun tanpa almamater dokter menyelimuti tubuh saya” Mira semakin sedih mengingat kejadian itu.
Dokter Fatih tersadar,
“sebentar, apa kamu Ameera Azzana!” tanya Fatih
Mira yang kaget mendengar dokter Fatih mengucapkan nama lengkap Mira.
“iya, saya. Bagaimana anda tahu nama saya pak Fatih?” tanya Mira penasaran.
“saya pengujinya. Saya dokter Fatih yang menguji tes saat itu yang ada di Malang.”
“saya yang tidak memberikan kesempatan kamu untuk mengikuti ujian itu”
Mira tercengang mendengar jawaban dokter Fatih saat itu. Mira tidak menyangka, orang yang menghalangi mimpi Mira itu adalah Fatih, dokter tampan yang saat ini sedang berada dihadapannya.
Mira terdiam sejenak karena dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang itu.
“saya minta maaf. saya hanya menjalankan tugas saya Mira, seorang dokter harus konsisten. seorang dokter harus bertanggung jawab.”
“tanpa kabar apapun, Bams juga tidak memberitahu apa-apa kepada saya jika kamu kecelakaan”
__ADS_1
Dokter Gery yang merasa bingung setelah mendengar mereka berdialog karena dokter Gery tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Dokter Gery menyela pembicaraan mereka dan bertanya kepada Mira tentang keadaannya.
“Mira, baik baik saja”
Mira tersenyum, dan menjawab.
“tentu saya sangat baik dokter. Saya tidak ada masalah, saya tahu kondisi saya. Ini sudah menjadi takdir tuhan”
Dokter Gery izin meninggalkan Mira saat itu karena akan ada tugas lain yang menjadi tanggung jawabnya. Dokter Fatih yang bersamanya meminta izin 30 menit untuk bisa berbicara dengan Mira saat itu di kantin. Beberapa hal akan disampaikan oleh Fatih kepada nya.
“hati- hati dokter, setelah ini saya menyusul”
“Bams dan Dinda sudah di sana sepertinya”
Dokter Gery mengangguk dan meninggalkan mereka berdua.
Mira mendengar dokter Fatih berbicara nama Bams dan Dinda. Nama yang selalu tidak asing untuk berada di telinganya.
“saya tahu Bams, tapi Dinda. Apa boleh tahu Dinda siapakah itu dokter?” tanya Mira kepada Fatih dengan sedikit gugup untuk mendapati sikap Fatih yang terlihat cuek dingin itu.
“ya, mereka teman sekampus kamu. Saat itu….”
Memory 3 tahun lepas…..
...Dokter Fatih menjadi penguji tes di kampus malang. Iya mendapati 2 mahasiswa yang begitu pintar. Dinda dengan urutan nomor satu kemudian Bams dengan urutan kedua. Mereka mahasiswa yang pintar dan berprestasi. Tidak salah dia merekrutnya untuk bisa menjadi bagian dari rumah sakit Harapan di Jakarta. Setelah mereka lulus dokter Fatih menarik ke Jakarta untuk bekerja di sana. Dokter fatih membantu untuk memperkenalkan kepada dokter Gery....
...***...
“jadi sekarang mereka disini,…” sambung Fatih
Mira menyimak baik- bai kapa yang sedang dibicarakan oleh Fatih. Mira menarik napas panjang-panjang Panjang untuk membuatnya merasa lebih tenang.
__ADS_1
Mira meminta izin untuk bisa sambung pekerjaannya. Mira meminta Fatih untuk balik ketempat kerjanya dan bertanggung jawab terhadap pekerjaannya. Alih-alih Mira hanya ingin menenangkan diri.
Dokter Fatih meninggalkan Mira di kantin, perasaan sedikit bersalah Fatih membuat hatinya tak tenang. Dia memikul beban yang ada di kepalanya sekarang. Mira mencoba kembali konsentrasi dengan pikirannya yang sedikit kacau. Mira menelepon temannya
“Alif, kamu nanti bisa pulang lebih awal tidak. Bisakah kamu menjemput ku jam 2. Aku ingin jalan-jalan" Mira menghubungi Alif yang sedang bekerja itu.
“sorry Mira. Aku tidak bisa, lagi banyak pekerjaan hari ini, bagaimana kalau besok?”
Mira sadar bahwa Alif memang sibuk. Mira sedang berusaha menerimanya.
“oke, gapapa. Boleh besok sampai nanti di rumah ya? Jaga Kesehatan Alif sayang.” Mira yang tetap berusaha tegar meski dia sebenarnya sedang banyak masalah.
“kamu kemana saja sayang, dokter Gery sudah balik dari tadi. Kamu kemana? bertemu cewek itu? Mira, kamu suka sama dia. Bilang, jangan diam gini!”
Fatih yang baru datang untuk menemui Dinda dan Bams yang sedang berkumpul. Fatih yang hanya melirik Dinda setelah mendengar dia begitu cerewet kala itu. Bams yang tidak mau ikut campur urusan mereka. Bams meninggalkan mereka berdua agar bisa menyelesaikan masalahnya.
“ngomong dong kamu sayang, dokter Fatih yang cuek ini?”
“aku capek loh, sudah dua tahun kita. Nih, lihat cincin kamu yang melingkar di jari aku! Kapan kamu bisa kenalin aku ke keluarga kamu? Kapan kamu punya keseriusan untuk datang meminta aku di keluargaku. Kamu faham gak sih, Fatih?”
“Kamu faham gak pernikahan, tidak. Tidakkah kamu berusaha untuk belajar!”
Dinda yang mulai dengan nada tingginya itu. dinda yang sangat kesal dengan perbuatan dan sikap Fatih.
Fatih entah merasa bingung atas apa yang dituduhkan Dinda kepadanya.
“apa yang kamu pikirkan, kamu pikir aku punya hubungan sama Mira. otak kamu dimana?”
Fatih lebih tajam untuk mengeluarkan kata- katanya. Fatih yang enggan melihat cewek yang begitu kasar. Meskipun sikap Fatih yang memang cuek dan kaku itu, ia tetap tidak suka dengan sikap Dinda yang seperti itu.
Mereka melanjutkan cekcok nya, sampai Fatih harus meninggalkan Dinda saat itu juga.
__ADS_1
“Bang Ayi, Mira pulang lebih awal. Mira jalan-jalan dulu ya bang Ayi, nanti bang Ayi langsung pulang saja. Aku ada teman, biar nanti diantar oke!”
Mira menghubungi bang Ayi supaya dia tidak menjemputnya. Ia berpamitan karena dia mau jalan-jalan. Mira pergi ke taman yang jaraknya 60 menit perjalanan dari rumah sakit Harapan. Mira menghabiskan sorenya di sana.