Penjual Pecel Milik Dokter Handsome

Penjual Pecel Milik Dokter Handsome
Lebih lama


__ADS_3

Di dapur Nampak begitu banyak wadah berserakan kemana- mana itu tandanya mama fatih sedang sibuk mempersiapkan makanan untuk disantapnya malam ini. Mira menghampiri mama fatih dan menegurnya.


“apa ini ma?” kaget mira setelah melihat mama nya fokus dengan wadah yang sedang dihadapnya


“hai sayang? Mama menyiapkan semua untuk kamu.”


“ini makanan kesukaanmu” mama menyodorkan makanan dihadapan mira


Mira begitu senang sekali setelah melihat makanan itu. mira begitu antusias untuk segera melahapnya malam itu juga. Mama fatih segera berteriak kepada anaknya itu untuk membawa semua makanan ke meja makan. Fatih dan papa yang langsung beranjak dari ruang tamu dan segera menuju dapur untuk membawa semua makanan. Mira dan mama yang sdang bercakap- cakap di ruang tengah untuk menunggu sang pelayan datang menghampiri, hihihi.


“nasi kebuli sudah hadir?” ucap mama


Mira yang begitu menyukai nasi kebuli buatan mama pertama kali ia masakkan untuknya setelah sehari menjadi istri sah fatih. Ini kali ketiga ia akan merasakan nasi kebuli buatan mama. Mereka semua menyantap makanan itu tepat pukul 22.00 malam. Tidak peduli jam berapakah mereka akan makan tetapi hanya kebersamaan yang sudah ditunggu mereka sebagai orang tua. Berulang kali mira mengucapkan perkataan yang begitu membuat mama merasa sangat dihargai dan dijunjung tinggi karena pujian itu. mira begitu sopan terhadap apa yang sudah dihadapannya. Mama lagi- lagi merasa bersyukur karena mendapatkan seorang menantu yang begitu baik.


“mama sedang baik saja?” tanya mira sambil memegang tangan mama fatih


Mama fatih menghadap dan menganggukkan kepala nya bahwa ia sedang baik-baik saja. Mama fatih melontarkan pertanyaan kepada mira tentang hubungan nya dengan fatih.


“apakah kalian juga sedang baik- baik saja?”


Fatih dan mira saling menatap setelah mendengar pertanyaan mama. Kompak fatih dan mira mengatakan bahwa mereka sedang baik- baik saja dan tidak ada masalah.


“syukurlah kalau begitu.” Pintal mama


“klinik kamu bagaimana nak?”


Mira begitu cepat merespon pertanyaan itu karena mira memng begitu senang dengan pekerjaannya. Ia merasa dokter sudah menjadi bagian yang seharusnya ada dalam hidupnya. Volume panjang lebar ia menceritakan itu dihadapan mama dan papa, namun tiba- tiba mama yang mengucapkan perkataan yang membuat mira dan semua merasa kaget.


“apa sebaiknya kamu kurangi saja nak kegiatan kamu, mungkin kamu kecapekan?”


“maksud mama?”


“iya, kasihan suami kamu. Mungkin dia butuh kamu lebih.” Tutur mama fatih


Sesekali mira melihat mata fatih dan memegangnya,


“kita baik- baik saja ma, iya kan sayang?”


“iya maksud mama ….” Mama belum sempat menyelesaikan ucapannya namun papa yang mencegah dengan mengalihkan pembicaraan yang tidak seharusnya diucapkan olehnya. Papa menarik mama dan meminta untuk membuatkan teh hangat malam itu.


Sedikit gugup malam itu, namun semuanya Kembali membaik dan mira fatih yang tidak terlalu memikirkan masalah itu. mama dan papa fatih Kembali ke ruang makan untuk melanjutkan makanannya.


“sampai kapan disini nak?” tanya papa kepada mira dan fatih

__ADS_1


“besok pagi pulang ayah,” mira menjawab dan fatih yang menganggukkan kepala nya


Mama fatih yang menyahut dan memarahinya kenapa mereka hanya sebentar untuk tidur di Bogor. Mira begitu senyum dan kaget setelah melihat mama fatih yang memarahinya. Mira meminta izin kepada fatih agar ia bisa lebih lama tinggal di bogor. Mama fatih yang spontan mengiyakan izin mira. Namun fatih yang masih menanyakan kepada mira apakah ia serius dengan ucapannya.


“bagaimana dengan klinik kamu sayang?” tanya fatih


“tidak apa- apa, libur sehari saja. Besok nya kan bisa Kembali lagi.” Sahut mira dengan santai kepada fatih


Fatih pun memberikan izin kepada sang istri untuk berada di bogor dan akan Kembali pulang sore hari. Mama dan papa begitu senang setelah mendengar berita itu. malam pun kian semakin larut. Mira dan fatih selesai dengan cengkrama bersama orangtua fatih. Kini mereka harus mengistirahatkan tubuhnya karena mengingat besok pagi fatih yang masih bekerja di rumah sakit. melihat kamar fatih yang masih saja terlihat rapi tidak pernah berantakan. Itulah yang membuat mira begitu nyaman berada dirumah fatih.


“wow, memang kamu tipikal sekali ya?” mira mengucapkan itu didekat fatih yang hendak menutup pintu kamar


“kenapa?” tanya nya sambil membantu mira membopong badannya


“ini kamar, tidak pernah berantakan.” Puji nya


Fatih hanya tersenyum atas pujian sang istri. Fatih bercerita bahwa sejak kecil ia di ajarkan tentang disiplin oleh papa nya. Papa fatih begitu disiplin dan tegas terhadap anak- anaknya. Mira pun bertanya kepada fatih tentang sumbangsih gen apa yang diberikan oleh mama nya.


“ini”


Fatih menunjukkan jari nya tepat di kepala. Mira mengangguk dan tak heran ia begitu pintar karena gen mama nya juga sangat pintar. Mira duduk di atas Kasur dan menyinggung pertanyaan terhadap fatih tentang anak.


“kalau anak kita gimana ya nanti?” Nampak sedikit sedih terlihat dari raut wajah mira malam itu. fatih menoleh dan memegang Pundak mira untuk berusaha menenangkannya.


“tapi,,” fatih mencegah mira untuk membicarakan hal- hal yang nantinya akan membuat ia bersedih. Fatih menyiapkan bantal mira dan menaruh selimut diatas tubuh mira.


Mira memahami bahwa fatih yang sedang mencoba menyembunyikan semua itu dari mira. Fatih membaringkan tubuhnya dengan memeluk tubuh mira. Fatih sedang menutup matanya dan membiarkan malam itu akan segera berlalu.


“sayang” panggil mira


“hem” jawab fatih yang sudah memejamkan matanya, namu mira yang hanya memeluk dan menatap wajah sang suami.


“sudah mengantuk?” tanya mira


“kenapa?” balas fatih yang masih tetap memejamkan matanya


“maaf?”


Seketika fatih membuka matanya dan bertanya apa yang membuat mira meminta maaf kepadanya. Mira tidak menjawab namun semakin mengencangkan pelukan eratnya. Fatih membisikkan kata ‘I love you’ kepada mira untuk membautnya merasa lebih tenang dan tidak terbebani.


Keesokan harinya, mira terbangun tepat pukul 02.00 dini hari. Ia ebranjak dari kasurnya dan meliaht sang suami yang begitu lelap dalam tidurnya. Ia tersenyum dan mengecup kening sang suami. Mira meninggalkan Kasur dan pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Mira melaksanakan sholat malam dan menangis saat itu. fatih terbangun karena mendengar tangsian itu. fatih sedikit membuka matanya dan melihat air mata itu terjatuh di wajah mira. Satu jam mira bercengkrama dengan sang pencipta hanya untuk melepas rasa rindunya. Mira menanggalkan mukena nya dan Kembali ke Kasur dengan membawa sebuah buku di tangannya. Fatih membuka matanya dan seolah tidak mengetahui jika mira sudah menangis.


“baca buku apa sayang, sepagi ini?”

__ADS_1


Mira kaget karena sang suami terbangun. Mira menaruh bukunya dan menidurkan fatih Kembali agar ia bisa beristirahat lebih lama.


“pukul berapakah ini?” tanya fatih


Mira menjawab bahwa saat itu adalah pukul 03.00. masih cukup pagi mira terbangun. Fatih menanyakan kenapa ia tidak tidur. Mira pun menjawab bahwa ia sedang merindukan sosok orangtua nya. Fatih menemani mira yang masih terjaga dan mengajaknya untuk terus mengobrol dan bercerita.


“kenapa jadi bangun? Tidur lah? Kamu besok bekerja.” Nasihat mira


Fatih menggelengkan kepala nya dan tidak membiarkan mira untuk terjaga sendirian. Fatih menawarkan kepada mira untuk pergi berlibur selama sepekan ke luar negeri. Lantas mira yang langsung menolaknya karena ia tidak mau libur terlalu lama dari pekerjaannya. Ia tidak mau mengorbankan banyak pasien. Fatih sedikit mencoba untuk memaksa mira agar ia tidak terlalu sibuk bekerja. Namun mira masih saja yang kekeh dengan pendiriannya dan akan membuka klinik itu.


“kamu yakin, jaga Kesehatan kamu sayang?” tegas fatih


Mira hanya mengangguk dan menikmati semua yang ada sekarang ini.


Pagi ini, mira mengantarkan fatih keluar rumah dan hendak pergi kerumah sakit pukul 06.30. fatih harus Kembali ke Jakarta untuk bekerja di rumah sakit. mira yang harus tetap dirumah bogor sampai nanti sore dan akan Kembali pulang kerumah.


“sudah berangkat suami kamu nak?”


“iya ma.” Jawab mira lembut terhadap orangtua fatih


Mama fatih menggandeng tangan mira dan mengajaknya untuk pergi ke kebun belakang dan menyiram taman. Mira antusias karena sikap baik yang ditunjukkan oleh orangtua fatih.


“papa kemana ma?” tanya mira kepada mama


“tadi olahraga dia, belum balik rupanya.” Jelas mama


Mama mira yang penuh kesabaran terhadap mira walaupun ia adalah menantu dengan satu kaki tetapi tidak sedikitpun mama fatih merasa mengeluh dengan kondisi nya. Tiba- tiba mira menanyakan itu kepada mama fatih,


“ma?”


“iya nak.” Jawab mama


“mama tidak pernah menyesal dengan mira sebagai menantu mama.” Tanya nya


Mama fatih terdiam dan memikirkan perkataan mira


“kamu bukan menantu mama. Kamu anak mama.” Tegas mama


Mira terdiam dengan melihat mata mama yang sedang berbinar itu. mira tidak menyangka jika sang mama akan menganggap mira seperti anak sendiri. Namun tak lama suara ketuk pintu terdengar, mira yang hendak membuka namun mama yang tidak mengizinkan karena pasti sedikit kesulitan.


“masuk, nda”


Suara terdengar dari mama. Mira pun menoleh kea rah siapa kah yang sedang bertamu pagi itu.

__ADS_1


__ADS_2