
Pukul 8 malam fatih berada dirumah alif dan Mira. Fatih yang tidak menyadarinya karena terlalu asik bercengkerama dengan mereka. Hubungan fatih dan Mira yang semakin dekat, kini tidak ada batasan antara mereka berdua.
Adik bungsu Mira yang juga muncul tiba- tiba didepan rumah itu.
“assalamualaikum, selamat malam?” bunyi suara laki- laki
“Iya, siapa ya?” tanya alif yang tidak tahu siapa yang sedang berdiri didepan rumahnya itu
“Aidin, adik Mira”
Alif yang terkejut kepada Aidin adik Mira dan mempersilahkan dia untuk masuk. Alif tidak mengetahui adik mira selama ini. Ini adalah kali pertama alif bertemu dengannya.
“aidin, kok disini.” Sang kakak yang terkejut melihat kedatangan adiknya itu
Aidin memeluk kakaknya yang sedang duduk disebelah Fatih. Perasaan terharu muncul diantara mereka berdua. Mira yang bingung kenapa aidin bisa tahu keberadaannya.
“adik tahu kakak dari siapa?”
“siapa lagi, Vina kereta itu?”
Mira yang tertawa setelah mendengar kereta itu.
Mira jadi rindu dengan sahabat karibnya itu. vina memang anak yang tidak akan pernah bosan, dia selalu punya cara untuk membuat Mira tersenyum.
“duduk aidin. kenalin, Ini dokter fatih”
Mira memperkenalkan Alif dan juga dokter fatih kepadanya.
Dengan cepatnya mereka saling akrab. Aidin yang mempunyai hari libur kuliah ia bisa menemui kakaknya di Jakarta itu. Aidin sementara harus tidur di tempat kontrak Alif. Aidin akan di Jakarta selama 3 hari ke depan.
“lagi kuliah jurusan apa aidin,” tanya fatih kepadanya
“saya ambil kedokteran, sama kayak anda”
“wah, “
Fatih terkejut dan senang mendengarnya. Fatih memberikan wejangan kepadanya agar kelak ia bisa meneruskan perjuangan kakaknya itu.
__ADS_1
Fatih menceritakan juga kepada dia bahwa adik bungsunya Angel juga berkuliah dengan semester yang sama jurusan kedokteran di Jakarta.
“Aidin, kamu tahu. Abang fatih ini calon kaka ipar kamu?” goda alif kepada mira dan fatih
Mira yang spontan memukul kaki lif yang berada disebelahnya.
Aidin sangat bangga jika ia mendapatkan kakak ipar seorang dokter. Aidin merestui hubungan mereka berdua. Mira yang masih tidak mengerti dengan situasi itu, hanya senyum dan tidak terlalu meladeni.
Fatih berpamitan kepada Mira, ia akan pulang karena jam sudah mulai terlalu larut malam. Fatih menanyakan kepada Mira akankah ia akan berjualan besok. Mira pun tersenyum dan memberikan tanda bahwa ia akan kembali berjualan.
Fatih menawarkan untuk menjemput Mira, tetapi mira menolaknya karena ia ingin adiknya yang akan mengantarkan besok untuk bekerja.
Fatih menerima keputusan mira yang menolak tawarannya itu. mira meminta maaf karena belum bersedia dijemputnya.
Fatih memakluminya. Mereka bertiga beristirahat seadanya dirumah kecil itu. mira yang begitu senang hari itu karena ia dikelilingi dengan orang- orang yang begitu peduli terhadapnya.
...-----...
Keesokan hari pun tiba,
Mira membangunkan aidin tepat pukul 04.00 untuk sholat subuh. Alif yang masih ngelekor dengan iler Panjang di pipinya, hihihi. Aidin terbangun dan menjalankan sholat berjama’ah Bersama.
“bagaimana kabar kakak, kaki kakak, semuanya? Kakak baik- baik saja kan?” aidin tersentuh melihat perjuangan keras kakaknya itu.
Aidin selalu termotivasi dengan semangat kakaknya itu. sedikitpun ia tidak pernah mengeluh akan takdirnya. Mira memang selalu happy dan terlihat tidak pernah punya masalah didepan anggota keluarganya. Ia tidak mau keluarga akan menjadi beban atas kesedihan Mira.
Siapa makhluk dimuka bumi yang tidak punya masalah, semua orang pasti punya masalah masing- masing. Mira hanya mengatakan bahwa ia sangat baik bahkan jauh lebih baik. Fatih menawarkan untuk pulang dan bisa menjaga mbok Nah Kembali.
“Aidin, bukan kakak tidak mau merawat mbok Nah, tetapi kakak harus disini terlebih dahulu sebelum kakak bisa membuktikan itu semuanya, kaka juga tidak lupa selalu mengirim Vina uang. yang sabar ya?”
Mira lagi- lagi menjelaskan alasan kuatnya kenapa ia masih bertahan di Jakarta. Sang adik hanya mendukung kakaknya itu dan berharap semoga kakaknya itu sehat dan Bahagia selalu.
“Ya ampun pagi- pagi sudah berpelukan, ikut”
Alif yang terbangun dan melihat aidin mira saling berpelukan.
Keruwetan pengendara sudah terlihat, Jakarta mulai sesak. Aidin mengantarkan mira menuju rumah sakit harapan. Aidin yang sudah mengantarkan semua peralatan dan kebutuhan dagangan di rumah sakit ditemani bang ayi.
__ADS_1
Mira yang berjalan menuju zebra cross depan rumah sakit harapan yang hendak menyeberang itu. Mira menghentikan para pengendara mobil karena hanya Mira mau melintas. Mira yang berjalan perlahan- lahan terkadang membuat para pengendara merasa sedikit jengkel.
Dokter fatih yang tiba- tiba muncul disampingnya dengan pakaian lengkap dokter menggendong Mira. Mira yang kaget karena ia menggendongnya. Perasaan malu nampak di wajah mira yang mulai kemerahan. Para pengendara yang menyoraki aksi dokter itu karena telah menggendong seorang gadis yang tak berkaki itu.
“Hei, dokter. Kamu ngapain, saya bisa jalan sendiri. Tidak perlu digendong. Jangan bikin malu ya?”
bisik Mira terhadap Fatih yang tengah asik menggendong ditengah zebra cross
“tahu bisa jalan sendiri. Kamu gak tahu jalanan macet apa, ada kamu jalanan semakin macet. Kamu gak kasihan pada mereka yang sudah buru- buru dikejar waktu. Hargailah mereka sedikit, jangan menyusahkan.” Fatih yang membalasnya dengan cuek, mira hanya terdiam dengan melirik sinis.
“lepaskan fatih, sudah sampai ini. Mau gendong saya sampai mana? “ tantang Mira
“berat lagi!” gumam Fatih setelah menggendong Mira
Mira yang spontan memukul lengan Fatih yang telah jahat mengatakan bahwa ia berat. Fatih tertawa melihat aksi kocak Mira yang manyun itu. Semakin manyun semakin Fatih suka.
“maaf. tapi memang berat. Kamu makan apa?”
Mira yang tak hentinya memukul Fatih yang telah menggodanya itu. Fatih menjejeri nya untuk menuju kantin rumah sakit. Fatih mengomel pada dirinya yang tak mendengar ucapan terimakasih sama sekali kepadanya karena ia telah membantu mira untuk datang lebih cepat.
“makasih,” mira yang terpaksa.
“apa maksud kamu yang menghargai waktu tadi” tanya mira
“ya betul kan, masing- masing orang punya kesibukan sendiri. Sebisa mungkin jangan jadi beban orang lain. Waktu itu berharga bagi mereka walaupun itu hanya 5 menit saja.” Nasihat fatih pagi itu yang bijaksana.
“tumben berwibawa, biasanya suka marah dan cuek lagi” sindir mira
“kamu sih…” balas Fatih.
Hubungan mereka semakin dekat, fatih dan mira bak seorang yang baru pacaran. Semi semi cinta terlihat dimata mereka berdua. Walaupun mereka masih enggan untuk mengungkapkannya.
Kemesraan itu terlihat oleh Dinda mantan tunangan Fatih dan teman kuliah Mira yang licik itu. dinda mengetahui Mira dan fatih yang sedang bercengkrama di kantin pagi itu.
“terimakasih ya dik, kamu pulang dulu atau mau jalan jalan keliling Jakarta, atau mau bantuin kakak disini” ucap mira kepada aidin si bungsu.
“aku jalan- jalan keliling dulu kak. Haha” aidin yang mencari kesempatan di jakarta untuk menikmati kemacetan.
__ADS_1
Masih pagi sekali fatih membantu mira mempersiapkan dagangan. Aidin yang sudah kabur demi mendapat cuaca Jakarta yang baik. Dinda yang melihat mereka tengah asik di warung, menghampirinya.