Penjual Pecel Milik Dokter Handsome

Penjual Pecel Milik Dokter Handsome
kesibukan nya


__ADS_3

fatih memegangi Mira yang berdiri disampingnya Dan berjalan kedalam.


"jangan pulang dulu, biarkan suami mu makan dulu nak?” nasihat mama kepada mira


Mira mengangguk dan membiarkan suami nya untuk beristirahat dan makan terlebih dahulu. Fatih beberapa kali melihat wajah sang istri untuk memastikan apakah dia baik- baik saja? Sesekali ia teringat atas cerita bams siang tadi mengenai sifat istri nya itu. Mira masih terlihat biasa seperti tidak terjadi apa- apa kepadanya, namun telepon fatih yang tadi siang tidak diangkatnya membuatnya penasaran.


“ma kita pulang dulu ya” pamit fatih kepada mama dan papa


“hati- hati ya nak, jangan terlalu ngebut. Pelan- pelan asal selamat.” Nasihat mereka kepada fatih


Fatih mengangguk dan mira masuk kedalam mobil. Suasana mobil begitu sepi, mira yang sama sekali tidak bersuara ataupun menanyakan kabar kepada fatih.


“sayang?”


“heemm” sahut datar mira


“kenapa?”


“tidak apa- apa”


Fatih memberhentikan mobil nya dan hendak menanyakan apa yang sedang terjadi.


“kenapa? Jika memang tidak ada masalah, kenapa tadi tidak mengangkat telepon?” teter fatih kepada mira.


Mira tidak menjawab beberapa menit, fatih melanjutkan perjalanan dan membiarkan mira untuk diam beberapa saat. Setelah itu mira berucap kepada faatih tentang dinda.


“dinda” sahut fatih


“kenapa lagi?” tanya fatih


“ada hubungan apa dengan mama? Kelihatan akrab sekali.”


Fatih menjelaskan kepada mira untuk bisa lebih memaklumi karena hubungan fatih dan dinda beberapa tahun yang lalu.


“waktu pernikahan aidin dan angel, kenapa saya tidak tahu jika ia turut hadir? Sedekat itukah?” tanya mira


“mungkin karena angel.”


“angel?”


“ya, dinda partner angel sekarang di rumah sakit. ia bekerja di rumah sakit yang sama sekarang ini dengan angel, tidak salah kan jika angel mengundang dinda, apalagi dulu mereka juga dekat.” Jelas fatih tanpa menyembunyikan sesuatu kepada nya


“sayang, aku sama sekali tidak ada hubungannya dengan dinda, biarkan dinda menjadi masa lalu. Bukankah kamu sudah menerima semua keadaan ku?” imbuh fatih dengan penuh harap


Mira terdiam dan membiarkan semua itu begitu saja, ia menimpali ucapan fatih dengan meminta izin kepadanya bahwa ia pekan depan akan ada konferensi dokter yang harus ia ikuti.


“harus berangkat?” tanya fatih

__ADS_1


“iya, wajib. Aku harus ikut.” Jelas mira kepada suami.


Fatih sedikit keberatan karena mira yang harus mengikuti kegiatan tersebut, mengingat kaki mira yang tidak normal. Namun mira begitu memaksa dan ingin memastikan bahwa ia akan berangkat selama dua hari di Surabaya. Tanpa berpikir panjang lebar, fatih mengiyakan permintaan istrinya itu dan mira nampak senang setelah mendengar suami nya memberikan izin kepada nya.


Mereka tiba di rumah Jakarta dan mbok nah yang sedang tertidur di sofa ruang tamu. Mira dan fatih yang tidak berani membangunkannya, fatih mengambil selimut dan menyelimutkan kepada mbok nah. Mereka berdua masuk ke kamar untuk istirahat, namun fatih yang masih pergi ke dapur untuk membuatkan susu hangat kepada mira. Diberikannya segelas susu kepada mira, fatih yang duduk disampingnya melihat mira sambil mengucapkan bahwa ia tidak perlu begitu kecapekan. Mira tersenyum dan menaruh gelas yang sudah diminumnya.


Pekan konferensi,


hari ini waktu tiba ia harus mengikuti seminar kedokteran di Surabaya. Mira mengikuti atas izin dari fatih. Mira begitu antusias Dan menyiapkan segala sesuatu nya sendiri. fatih yang melihat istrinya itu ikut tersenyum walaupun sebenarnya fatih tidak menginginkan ia pergi karena terlalu jauh.


"hati hati ya, jangan kemana sebelum aku datang" ucap fatih kepada istrinya


Mira yang mengangguk untuk membuat fatih tenang. Mira dan Salah satu temannya sudah di stasiun Dan siap untuk berangkat. Mira meminta fatih untuk berangkat kerja terlebih dahulu karena sudah sedikit kesiangan. fatih meninggalkan stasiun Dan berangkat ke rumah sakit.


Mira begitu asik mengobrol dengan rekan mahasiswa kedokteran di Surabaya saat itu. ia sudah mempersiapkan segala sesuatu nya untuk Mengikuti seminar.


-- Surabaya --


sudah banyak rupa nya sekelompok dokter yang memasuki ruangan. sepuluh menit lagi acara telah di mulai. begitu gemuruh Dan antusiasme orang orang tidak terkecuali Mira dan temannya Afa.


"Kenapa tidak diangkat?" cemas nya


sudah tiga Kali menghubungi namun tidak ada pula jawaban. 'Afa' muncul di benak Dan menghubungi nya


suara yang masih berdengung namun tidak juga diangkat nya.


Bams memanggil nya dan mengajak nya untuk makan.


"Lagi kepikiran apa dokter?" Tanya bams


"Seharusnya Mira sudah sampai karena ini sudah pukul dimana ia harus mengikuti seminar?" gerutu fatih


"masalah nya?"


"Dia tidak menjawab telepon dari ku" jawab fatih


"Bolehkah aku menghubungi nya fatih?"


Tanya bams


fatih mengangguk Dan memberikan izin kelada Bams untuk menghubungi Mira. tak lama dari itu Mira mengangkat telepon dari bams.


"iya mira"


Sepintas fatih mengangkat kedua bola matanya dan mendengarkan seksama kepada bams. Fatih memikirkan bahwa kenapa ia tidak mengangkat telepon dari suami nya dan harus mengangkat telepon bams. Bams memberikan telepon nya kepada dokter fatih dan membiarkan mereka untuk berbicara masalah keluarga nya.


“kenapa telepon ku tidak dijawab sayang?” datar fatih bertanya kepada mira

__ADS_1


“iya, maaf. Aku tidak tahu jika kamu sedang telpon, ini tadi kebetulan aku menaruh handphone ku di meja dan bams langsung menelponku”


“maafkan aku sayang” mira meminta maaf


Seakan tidak lega dengan jawaban yang diberikan oleh mira, fatih menanyakan tentang kondisi nya sekarang ini. Mira dengan jawaban yang begitu semangat dan Nampak begitu menikmati aktifitas nya disna. Fatih cukup tersenyum mendengar itu tetapi juga merasa sedih karena mira yang dirasa tidak merindukan suami nya itu.


“kamu senang sayang?” tanya fatih


“tentu. Aku begitu senang disini, aku sangat senang. Sangat,s angat dan sangat senang.” Jawab lega mira kepada suami nya


Fatih tidak bisa berkata banyak dan bingung dengan perasaan nya saat itu. fatih menasihati mira agar tidak lupa untuk memberi nya ia kabar bagaimana kondisi nya. Mira menjawab dengan iya dan menutup telepon. Fatih Kembali ketempat dan memberikan handphone kepada Bams.


“terimakasih” ucap fatih kepada Bams,


“siapakah yang sedang telepon itu?” tanya Afa teman Mira


Mira hanya menggelengkan kepala dan tidak perlu menjawab pertanyaan dari Afa. Afa merasa bahwa mira sepertinya sedang ada masalah. Afa memperhatikan baik- baik wajah mira yang langsung berubah setelah mendapat telepon tadi.


“kenapa?” tanya paksa afa


Mira menatap mata afa dan memeluk temannya itu. afa tidak berani bertanya melainkan menunggu mira untuk lebih tenang dan membiarkan ia menceritakan dengan sendiri nya.


“aku khawatir?”


“khawatir kenapa?”


“sampai sekarang aku belum hamil,” Nampak sedih mira menceritakan itu kepada afa


“sabar lah mira, mungkin menurut tuhan sementara ini yang lebih baik.” Nasihat nya


“namun, Dinda?”


“kenapa dengan dia?”


“Dinda begitu dekat dengan mama, aku takut apa yang akan terjadi dengan kondisi ku sekarang ini” cerita dengan terbata mira kepada Afa


Afa menanyakan tentang siapa yang menelpon tadi dan tidak diangkatnya. Mira menjelaskan bahwa ia sengaja tidak mengangkat telepon fatih.


“apa? Kenapa seperti itu?” tanya afa


“aku hanya ingin menenangkan diriku, dan membiarkan mas fatih bisa lebih bebas disana, aku hanya ingin melatih diriku?”


“apa yang coba kamu rencanakan?” penasaran afa kepada mira


“jika mama menginginkan mas fatih untuk dinda, aku siap.”


Afa memberhentikan cerita mira yang sudah mulai ngawur, dia tidak ingin mendengarkan itu keluar dari mulut mira. Mira pergi untuk ke kamar mandi dan membersihkan muka nya. 

__ADS_1


__ADS_2