Penjual Pecel Milik Dokter Handsome

Penjual Pecel Milik Dokter Handsome
Kedekatan Fatih dan Mira


__ADS_3

...Bab 16 – Kedekatan Fatih dan Mira...


Suasana rumah sakit seperti biasanya, fatih datang seperti biasanya dengan jam yang sama tanpa masalah sedikitpun. Dinda yang bertugas hari itu menyapa fatih seperti biasanya alih- alih melupakan kejadian kemarin sore.


Fatih yang pura- pura tak mendengarnya. Fatih tidak sedikitpun menoleh kepada Dinda yang menyapanya pagi itu.


“apa begini banget sikap kamu terhadap aku” dinda mencegat fatih yang hendak pergi


“mau apa lagi, saya kan sudah bilang. Jangan pernah ganggu saya lagi. Kamu faham Bahasa manusia apa tidak?” tegas fatih terhadap dinda.


Dinda yang mulai kehilangan harga dirinya langsung meninggalkan fatih saat itu juga.


Jam menunjukkan masih pagi, sekitar jam 10.00 fatih pergi ke kantin untuk mencari keberadaan Mira. Tetapi warung mira terlihat tutup. Fatih mengecek dan tidak ada satupun barang tercecer didepan. Fatih berpikir bahwa ia sedang libur hari ini. Fatih mencari keberadaan bang ayi dirumah sakit untuk menanyakan keberadaan Mira.


“pagi dokter Fatih,” sapa Bams kepadanya


“pagi, Bams. Eh tahu Mira kok tutup warungnya. Kemarin bagaimana, saya lupa mengantar dia. Kemarin saya sudah janji untuk mengantarnya pulang.”


“aman dok. Kemarin saya menemaninya sampai temannya menjemput Mira di sana.”


“terimakasih, saya permisi dulu”


Dokter fatih meninggalkan Bams di sana dan hendak menemui bang ayi. Bang ayi yang masih di ruangannya dipanggil oleh dokter fatih.


“pak ayi, saya mau bicara.”


“iya dokter fatih kenapa?”


“Mira tidak masuk hari ini dokter?” jawab bang ayi.


“kenapa, tidak masuk hari ini Mira?”


Bang ayi menjelaskan bahwa mira sedang sakit dan izin untuk hari ini. Fatih merasa tidak enak karena kejadian tadi malam. Fatih memutuskan untuk meminta alamat Mira dan hendak mengunjunginya.


“ini dokter alamatnya. Ini rumah teman kos Mira?” sahut bang ayi kepadanya


“terimakasih pak,” nanti saya ke sana


Fatih hendak meninggalkan Bang ayi di sana.


Fatih berencana dia akan mengunjungi sore nanti setelah ia selesai dari tugasnya.


Mira sendirian dirumah. Panggilan telpon untuk mira. Rupanya itu adalah vina yang sedang menanyakan kabarnya.


“halo,vin” suara mira yang begitu serak


“he, kamu tidak apa- apa. Sakit kamu mir?”


tanya vina yang merasa sedikit khawatir karena keberadaan dia yang sendirian di Jakarta.


Mira mengatakan bahwa ia sedikit terkena demam. Mira meminta agar vina tidak khawatir apalagi mbok nah harus tahu kondisinya. Vina mengiyakan, dan vina berinisiatif untuk mengabari adiknya di Surabaya.


Vina ingin adiknya bisa menjenguknya di Jakarta. Mira mematikan telepon vina dan mengistirahatkan dirinya.


Tak lama dari itu telpon mira berdering lagi. Ia berpikir itu adalah vina yang ingin berbicara lain. Ternyata itu adalah panggilan dari roy. Roy menelpon mira karena ia yang tidak bisa ditemui di warung pecel.


“kenapa lagi vin,?” mira yang menahan rasa sakitnya

__ADS_1


“ini Roy, bukan vin.”


Mira yang kaget mendengar suara itu, mata mira terbuka dan mengecek nama yang ada dilayar handphone nya, itu memang roy yang telah menghubunginya. Mira bersyukur ada roy yang masih mengingatnya. Roy meminta izin kepada mira untuk datang kerumahnya.


Sebelum mira membagikan izin, mira bertanya terlebih dahulu kepada alif selaku tuan rumah. Mira pun menghubungi alif, dan alif memberikan izinnya.


Roy datang ke alamat rumah yang telah dikirimkan mira. Roy datang dengan membawakan sebuah bubur.


“assalamu’alaikum, Mira?”


Mira membukakan pintu untuk roy, berhubung dirumah tidak ada siapa- siapa, mira hanya mengizinkan roy untuk duduk didepan.


Mira orang yang masih dnegan aturannya. Mira bukan tipe orang yang sembarangan. Ia benar- benar menjaga. Mira sangat senang kedatangan roy di sana. Mira membutuhkan teman saat itu dan mira membutuhkan teman ngobrol.


Mira dan Roy yang sedang Bersama, tak terasa sudah pukul 02.00. sudah cukup lama roy berada ditempat Mira. Mira senang bisa berteman dengannya. Mira merasa senang ada disampingnya. Roy berpamitan kepada mira karena dia tidak enak sama tetangga disekitar. Mira Kembali kedalam rumah dan merasakan dirinya lebih baik.


...***...


Sore hari pun tiba. Alif yang masih belum berada dirumahnya karena memang alif biasanya sampai rumah pukul 18.00. begitulah kehidupan Alif sebagai seorang yang bekerja di kantor. Mira membereskan rumah dan membersihkan badannya yang hampir sehari belum mandi. Ketika mira menyisir rambutnya yang Panjang lebat itu, terdengar suara mobil yang berhenti didepan rumahnya.


Mira menganggap bahwa itu adalah alif. Alif biasanya yang pulang membawa mobil temannya. Mira membukakan pintu dengan teriak memanggil nama Alif.


“sore, Alif sayang?”


Mira teriak dan terhenti setelah mengetahui bahwa ternyata itu bukanlah Alif, tetapi dokter Fatih.


Fatih yang baru saja menutup pintu mobilnya kaget mendengar suara mira dengan panggilan sayang. Fatih berhenti sejenak dengan menatap mira yang sedang membawa sisir dan rambut hitamnya yang basah.


Mira yang sangat malu setelah mengucapkan kalimat itu. Mira langsung masuk dan mempersilahkan dokter fatih untuk masuk ke rumah. Dokter fatih berjalan ke rumah mira.


“silahkan masuk dokter, tunggu sebentar saya mau ganti baju” teriak Mira kepada dokter fatih yang berada didepan pintu.


Fatih melirik- lirik tentang apa yang ada didalam rumah dengan ukuran yang tak besar itu. tepat pukul 04.50 sore fatih datang ke rumah tempat mira tinggal. Mira memasuki ruang tamu dengan senyum kepada fatih karena mira yang tadinya berteriak kepadanya.


“ma’af” mira dan fatih mengucapkan nya secara berbarengan.


Entah apa sebenarnya yang membuat mereka mengucapkan kata maaf itu.


“kok dokter fatih bisa ada disini? Darimana anda tahu alamat rumah saya?” tanya mira dengan sedikit gugup kepada fatih yang menatapnya dari tadi.


Mira dengan kaos hitam lengan panjangnya itu dengan sepasang celana kulot bermotif batik dan rambut basahnya. Fatih merasa terpesona dengan cantik natural Mira.


“iya, ma’af. Saya meminta alamat kamu dari pak ayi, karena tadi saya rencana mau ke warung kamu ternyata tutup. Akhirnya saya kesini.” Dengan nada cuek tanpa ekspresi


“ada perlu apa ya dokter?” tanya mira


“tidak apa- apa, hanya sekedar ingin mengecek kondisi kamu, katanya sedang sakit.”


“tapi kenapa sekarang terlihat baik- saja, apakah pak ayi salah kasih informasi ke saya?”


Mira yang tertawa setelah mendengar fatih berbicara, dengan polosnya ia mengungkapkan itu kepada mira. Fatih yang bingung melihat mira malah menertawainya setelah ia bicara.


“apa yang salah dengan saya, kamu tertawa?”


“hahaha"


Mira tertawa makin kenceng.

__ADS_1


“anda dokter, kenapa gitu banget?”


Fatih semakin penasaran.


“apa maksud kamu gitu banget?” tanya fatih


Mira yang tidak menjawabnya, mira hanya tertawa dan konyol melihat dokter fatih. Mira memberikan suguhan seadanya kepada fatih yang bertamu itu.


“silahkan dokter diminum, apa adanya ya? Siapa suruh kesini anda gak bilang terlebih dahulu?’ mira bawel


Fatih meminum teh yang ia suguhkan dan mulai pembicaraannya.


“terimakasih sudah diizinkan kesini. Saya hanya minta maaf atas kejadian semalam. Saya Sudah janji sama kamu tetapi saya lupa untuk mengantar kamu. Hehe. Maafkan saya” fatih yang meminta maaf kepada Mira.


Mira mendengarkannya, mira berpikir seolah- olah dia akan memikirkan jawaban apa yang akan ia berikan kepada fatih. Mira mau memberikan maafnya hanya dengan syarat


“syarat. Syarat apa?” fatih bertanya dengan alasan


“tolong mulai sekarang jangan suka marah- marah, apalagi cuek dan satu hal lagi main tangan. Gak baik tahu dokter sebagai seorang imam”


Mira yang memberikan nasihatnya kepada fatih. Fatih mendengarkan dan terdiam cukup lama setelah mendengar nasihat mira. Mira yang tidak tahu apa yang barusan ia katakan. Mira meminta maaf kepada fatih jika ada perkataannya yang lancang.


“ma’af saya tidak bermaksud dokter, ma’af jika saya lancang” mira menundukkan kepalanya dengan rasa bersalah


“tidak, saya hanya kepikiran.”


“kepikiran apa dokter,” mira menyahutnya


“Imam, kamu bilang imam barusan. Apa saya boleh jadi imam kamu?”


Mira yang hendak menyeruput tehnya harus tersedak setelah mendengar kalimat dari fatih. Fatih menyodorkan tisu kepadanya.


Kelihatannya itu adalah konyol tetapi itulah maksud sebenarnya yang ingin disampaikan oleh Fatih. Mira menganggapnya itu adalah guyonan belaka. Jadi mira tidak terlalu menanggapinya.


Mira tidak menyinggungnya sama sekali. Mira hanya mengucapkan terimakasih kepada fatih karena ia bersedia jadi teman Mira. Mereka asik bercengkrama dirumah. Tak lama dari itu, suara salam bersahut ditengah obrolan mira dan fatih


“assalamualaikum, Miraaaa”


Sang pemilik rumah datang. Alif membawa satu kantong kresek buah untuk dikonsumsinya. Ia terkejut dan menjatuhkan barang bawaannya setelah melihat seseorang yang hadir dirumahnya itu adalah dokter yang didambakannya itu.


“My future husband”


“hush, Alif” mira mengagetkan alif yang tidak sadarkan diri dengan ucapannya itu. alif sadar dan merasa malu terhadapnya


“ma’af fatih, kenalin dia teman aku alif. Sang pemilik rumah.


Dan alif, dia dokter fatih …..”


Sebelum mira menyampaikannya, fatih menyahutnya


“calon suami Mira.”


Mira dan alif sangat dan sangat terkejut mendengar itu. mira yang mencubit badan fatih seakan mengingatkan apa yang sedang ia bicarakan,


“apaaaa… miraaaa, tega sekali dikau menyakiti aku?” alif yang jengkel terhadap mira karena ia merebut cowok yang disukai itu.


Sebenarnya alif hanya mengaguminya karena ia memang handsome. Alif tetap bersyukur jika mira yang mendapatkan Fatih bukan orang lain. Mereka bertiga akhirnya menikmati malam itu dengan penuh tawa dan riang.

__ADS_1


to be continued......


__ADS_2