
Jakarta,
Jakarta tempat yang penuh dengan Gedung – Gedung tingginya. Tempat banyak orang mendambakan untuk tinggal di Jakarta. Jakarta, tempat banyak orang yang sedang mengadu nasibnya di sana. Begitulah yang sama dirasakan oleh Mira saat ini.
Tepat pukul 09.00 pagi, Mira menginjakkan kakinya di tanah Jakarta. Tidak lupa mira membawa tongkatnya untuk membantu ia berjalan. Mira sedikit merasakan gugup karena ia sudah lama tidak jalan jalan sendiri apalagi ini kali pertama ia travel dengan satu kaki.
Mira mencari tempat duduk hanya untuk mengistirahatkan dirinya.
12 jam mira menghabiskan waktu di dalam kereta api. Tidak bisa dibayangkan betapa capeknya ia harus duduk didalam kereta. Mira merogoh sakunya untuk mengambil handphone genggamnya.
Mira hendak menelepon tetangganya Bang Ayi yang sudah tinggal di Jakarta. Bunyi dering terdengar di handphone Mira. Tapi bang Ayi tak kunjung mengangkatnya. Entah dimana bang Ayi sekarang berada. Mira sudah menelponnya 5 kali, tetapi ia yang tak kunjung mengangkatnya. Perasaan khawatir mulai muncul pada benak Mira.
Mira sedikit kebingungan, mira berpikir apa yang akan dilakukan setelah ini. 1 jam sudah mira mengistirahatkan dirinya di stasiun. Mira yang menunggu jawaban dari bang Ayi tak kunjung mengabarinya.
“Bang Ayi, kemana anda bang, kenapa tidak mengangkat telepon saya?”
Gerutu Mira terhadap dirinya sendiri akibat cemas yang ia rasakan. Mira tidak kenal siapa- siapa. Mira hanya memikirkan bahwa ia sekarang ini harus ada tempat tinggal. Mira yang membawa uang saku hanya bisa dibilang untuk kebutuhan 2 hari.
Mira Kembali duduk dan mencoba untuk menenangkan dirinya. Mira mengingat bahwa ia sempat mengabari teman kuliahnya waktu itu yang sekarang ini tinggal di Jakarta.
Alif Namanya, Alif teman kuliah Mira yang sekarang tinggal di Jakarta. Mira mencoba menghubungi Alif kedua kalinya melalui akun facebooknya. Beruntungnya akun facebook Alif masih berfungsi.
Mira mengirim pesan kepada alif. Sambil menunggu balasan Alif, Mira memutuskan untuk pergi ke warung yang tak jauh dari stasiun itu.
Mira tidak berani untuk pergi terlalu jauh, karena ia masih menunggu bang Ayi yang mungkin bisa menjemputnya di stasiun. 10 menit berlalu, mira mendapatkan balasan dari Alif melalui akun facebooknya. Rupanya Alif masih mengingat Mira teman kuliahnya. Mira sangat senang dan sedikit tenang karena ia mendapat informasi tentang temannya itu.
Mira mencoba mengutarakan maksud dan keinginannya kepada Alif. Mira berharap ia bisa mendapat bantuan dari Alif. Alif pun dengan senang hati membantunya untuk menampung Mira sampai ia mendapatkan kabar dari tetangganya bang Ayi itu.
__ADS_1
Alif yang masih bekerja di kantor, meminta Mira untuk menunggunya sampai jam makan siang tiba. Mira menurutinya dan menunggu alif sampai jam makan siang. 2 jam lagi Mira harus menunggunya. Tetapi Mira sudah sedikit lebih baik karena temannya itu mau membantunya.
“berapa buk, makanannya?” tanya Mira kepada penjual nasi itu.
“15.000,- neng,”
Mira sempat kaget setelah mendengar penjual itu menunjukkan nominal pada nasi pecel yang ia pesan. Itu sangat terbalik dengan nasi pecel yang biasa ia jual di Malang.
Mira memanfaatkan waktunya untuk berbincang dengan penjual nasi pecel itu, karena Mira juga penjual nasi pecel di malang ia sedikit memberikan resep kepada penjual pecel itu untuk merubah bumbu pecelnya.
Mereka begitu asik menikmati setiap detik obrolan mereka. Layaknya hubungan yang sudah akrab bertahun- lamanya. Mira memang orang yang sangat ramah. Ia pandai bergaul dengan orang lain dan sangat baik, tidak pernah Mira dikenal sebagai orang yang pelit.
Tak terasa jam istirahat makan siang pun sudah tiba.
Alif yang telah dihubunginya 2 jam yang lalu menghampiri Mira di warung pecel yang tak jauh dari stasiun. Alhasil Mira bertemu dengan alif untuk kali pertama setelah sekian lama hilang kontak.
“Mira,,” teriak alif.
Alif yang belum sadar terpaksa harus memutuskan peluk eratnya untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi dengan kaki Mira.
Penjual nasi pecel itu menawari alif teman mira untuk menyantap pecelnya secara gratis. Alif pun menerima dengan senang hati. Mira menceritakan semua kejadian yang dialaminya saat itu.
Alif mengajak Mira menuju tempat kos Alif yang lokasinya bisa sampai setengah jam dari stasiun jika menggunakan sepeda motor. Sampai detik itu juga bang ayi belum memberi kabar. Mira juga sedikit khawatir karena bang Ayi tidak kunjung memberinya kabar. Alif mengantarkan Mira ke kos untuk beristirahat dan alif Kembali ke kantor karena tanggung jawabnya yang belum selesai.
Mira mengistirahatkan tubuhnya disebuah Kasur yang tak berukuran terlalu besar itu.
Jam pulang sudah tiba, bang Ayi mencari Mira di stasiun. Tidak Nampak mira sama sekali. Pak man buru- buru segera pulang dan menelponnya.
__ADS_1
Telepon Mira berdering, bang Ayi mengabarinya setelah Mira sudah mendapatkan tumpangan. Tidak mungkin Mira harus meninggalkan Alif. Setidaknya mira tinggal ditempat kos Alif selama sehari.
“assalamu’alaikum, Bang Ayi?”
“Bang Ayi kemana saja, saya telepon berulang tidak menjawab”
Bang Ayi yang lupa membawa handphonenya hari itu ketempat kerja. Alhasil bang Ayi tidak mengoperasikan handphonenya dalam sehari itu. Bang Ayi meminta maaf kepada Mira bahwa ia belum bisa menjemputnya pagi itu. mira berpesan bahwa ia akan tinggal sehari itu di rumah temannya.
Keesokan harinya bang Ayi harus membantu Mira mencari tempat tinggal dan pekerjaan yang pas dengan kondisi Mira.
"tapi Mira sekarang baik- baik saja kan?"
"alhamdulillah bang Ayi baik saja. ndak usah khawatir. besok bantu ya bang. Coba kirim alamat kos bang Ayi!”
Mira yang meminta alamat rumah bang Ayi untuk mengantisipasi bang ayi jika tidak bisa dihubunginya. Mira membuka handphone dan memberi kabar dikampung bahwa ia telah selamat dan telah bertemu dnegan bang ayi.
Keluarga dirumah sangat senang mendengar kabar itu. keluarga dirumah juga lega akhirnya Mira selamat sampai tujuan. Keluarga Mira dan sahabat mendoakan agar Mira diberikan kelancaran dalam menghadapi sehari- harinya.
“selamat,malam. Assalamu’alaikum, Mira?”
Sapa Alif malam malam sekitar pukul 19.00
Alif yang baru pulang dari tempat kerjanya membawakan 2 bungkus nasi penyet untuk disantap malam itu.
Alif memang baik, karena jaman kuliah Mira sering membantunya untuk menyelesaikan beberapa tugas yang dirasa Alif merasa kesulitan.
“ayo, kita santap nih, santai saja disini. Nanti kalau sudah siap aku bantu cari pekerjaan oke.”
__ADS_1
Alif memberikan penawaran kepada Mira untuk dibantu dicarikan pekerjaan. Mira sumringah mendengarnya. Tetapi mira harus berkunjung ke bang Ayi dulu untuk memastikan keberadaannya.
Alif dan Mira bermalam di kos putri yang sederhana itu. Mira akan menemui bang ayi besok pagi ditempat dimana bang ayi tinggal.