Penjual Pecel Milik Dokter Handsome

Penjual Pecel Milik Dokter Handsome
Rahasia Besar


__ADS_3

Suasana sore itu begitu ramai. Taman menjadi pilihan terbaik orang sekitar untuk mengistirahatkan pikiran. Mira menikmati jajanan taman yang membawanya Kembali dimasa kecil.


“selamat sore kak, boleh ganggu waktunya sebentar. Perkenalkan saya Roy”


Seorang laki- laki bertubuh gagah, lebih gagah dibanding dokter Fatih sang tampan itu datang menghampiri Mira yang sedang duduk manis disebuah bangku taman yang tak berukuran besar itu. laki laki dengan setelan jaket jeans navy, dan sepatu kets nampak terlihat pemuda itu sangat keren. Ditambah topi krem menempel di kepala, Roy Namanya.


Dia meminta waktu untuk bisa berkenalan dengan Mira.


“saya penulis website resmi www.dapormami.com mbak, boleh saya tahu nama mbak?” tanya Roy dengan sangat ramah yang membuat hati Mira begitu ingin berada di dekatnya.


Sikapnya Roy yang begitu baik, melayani dengan baik, dan memperlakukannya secara baik juga.


“Mira, Ameera Azzana.” Jawab Mira dengan senyum


Roy menceritakan bahwa dia telah lama mendapati kabar bahwa pecel Mbok Nah selalu ramai dan menjadi menu andalan orang sekitar.


Roy semakin mengulik dan memberikan pertanyaan kepada Mira mengenai warung pecelnya itu. Roy mengatakan kepada Mira bahwa dia akan membuat laporan itu menjadi berita di website resmi dia. Dia mengatakan bahwa dia membantu Mira untuk mengenalkan masakan pecel enak di kalangan yang lebih luas.


Melihat sikap Roy yang begitu asik, ramah dan enak diajak ngobrol. Mira dengan senang hati menceritakan semua apa yang dia perlukan.


Mereka menikmati obrolan Panjang lebar itu. roy sedikitpun tidak mempermasalahkan kaki mira itu. Dia kelihatan sangat tulus untuk menemuinya.


“saya sudah lama ingin sekali berkunjung ke warung pecel Mbak, tetapi saya belum kenal mbak.” Senyum Roy kepada Mira.


Roy meminta nomor Mira untuk bisa lebih mudah menjalin kontak. Mira pun memberikannya. Tak terasa matahari mulai menghilang dari permukaan, senja pun berganti.


Roy berpamitan kepada Mira untuk pulang dan bisa dilanjut dilain hari. Roy menawarkan diri untuk mengantarnya pulang. Tetapi Mira yang baru saja mengenalnya tentunya ia menolak karena ia tidak mau akan terjadi apa – apa kepadanya. Roy berpamitan,


“Mira, boleh saya jadi teman kamu?” tanya Roy sebelum meninggalkannya


Mira mengangguk dengan senyum sumringah.


Mira sangat senang sekali, disaat ia merasa sangat kacau, ada seorang yang sedang hadir dalam kehidupannya.


Mira sangat semangat untuk menjalani hidup ini. Mira balik pulang untuk segera bertemu Alif dan menceritakan kejadian hari ini. Mira mengetok pintu kos yang pasti didalamnya ada Alif yang mungkin sudah ngorok. Haha

__ADS_1


“assalamu’alaikum, Alif” teriak Mira kepada Alif didalam


“santai, oey. Aku belum tidur. Nungguin cerita kamu hari ini.” Alif yang sudah mulai ngeledek duluan kepada mira.


Mira yang malu karena memang Mira hobi banget bercerita masalahnya kepada orang lain. Mira bergegas mapan di samping Alif yang sedang menikmati cemilan didepan tv itu.


“aku tadi bertemu dengan Roy.”


“Roy, siapa?” tanya Alif yang sama sekali asing ditelinga nya dengan nama Roy itu.


“dia teman baruku. Dia baik, oke lagi!” imbuh Mira dengan centilnya


“masih juga dokter Fatih” bela Alif


“Fatih, dokter rumah sakit Mitra?”


“iya, mana kamu tahu. Coba nanti aku tunjukin pasti oke.”


Mira yang langsung menyela ucapannya Alif. Mira menceritakan bahwa Fatih adalah orang yang menghalangi nya untuk jadi dokter. Alif tidak percaya akan semua ceritanya. Seakan itu tidak mungkin, tetapi memang seperti itu kenyataannya. Walaupun seperti itu, Alif masih mengagumi sosok Fatih itu.


“ya terserah kamu, aku sudah bilang oke!”


“Iya, Roy”


“Aku sudah menulis tentang pecel kamu, habis gini aku akan kirim alamat web nya ya?”


Sapa Roy malam itu kepada Mira. Roy meminta izin untuk datang di warung tempat ia berjualan pecel di rumah sakit Mitra. Mira memberikan izinnya kepada Roy untuk membantunya besok di kantin.


“oke sampai berjumpa besok pagi”


Mira yang malam itu bisa bermimpi nyenyak dengan kelembutan Roy kepadanya.


Cafe Blue. Tempat Bams dan Dinda malam itu. dinda mengutarakan uneg-uneg nya kepada Bams sebagai tempat curhat dia. Dinda baru mengetahui kemarin bahwa Mira sedang di Jakarta dan bekerja di rumah sakit Harapan.


Bams yang mengetahui sejak awal tidak memberitahukan kepada Dinda karena baginya itu tidak penting.

__ADS_1


“kenapa kamu tidak bilang kepadaku Bams kalau dia disini?”


“memang kenapa, itu penting kah bagi kamu?” tanya Bams.


“penting. Lebih dari sekedar penting.” Dinda merasa kesal


Bams tidak mengerti kenapa itu begitu penting baginya. Sampai- sampai ia harus memikirkan hal yang menurut dia tidak penting itu. apalagi yang harus Dinda kejar dari Mira. Dinda sudah menjadi dokter sedangkan Mira yang hanya penjual pecel.


Dinda memang sejak awal menaruh rasa iri hati terhadap Mira yang berlebihan. Ia sama sekali tidak senang jika melihat Mira bahagia didepan mata dia.


“mengapa kamu benci itu sama Mira? Apa yang kamu iri dari dia? Fisik dia juga tidak sempurna, dia kehilangan satu kaki nya. Kamu iri dengan keberadaan dia sekarang.?” Sahut Bams


“kalau aku tahu dia masih selamat, aku bisa berbuat lebih dari itu!” Dinda yang mulai tak sadar akan ucapannya itu.


“maksud kamu!” bams penasaran


“kamu tahu, aku yang merencanakan semua! Aku yang membuat kaki Mira patah. Aku Bams! Aku meminta orang lain untuk mencelakai dia. Ngerti gak!”


Bams terkejut dengan pengakuan Dinda saat itu, Bams berdiri dan tidak menyangka Dinda yang selama ini, bahkan jauh lebih buruk dari apa yang pernah ia pikirkan. Bams teriak dan memarahi atas apa yang dilakukan dinda


“kamu benar- benar gila ya dinda. Apa mau kamu sebenarnya!”


Bams tidak percaya dengan pengakuan Dinda.


Bams semakin jengkel terhadap dinda


“aku mau dia mati, tahu! Gak pantas dia. Dan sekarang dia disini, mau ambil fatih dari kehidupanku. Tidak akan aku biarkan!” dinda sangat kepikiran hal itu akan terjadi kepadanya


Bams sudah tidak mengerti lagi apa sebenarnya isi otak kepala dia. Bams hanya geleng- geleng tidak percaya. Ia sangat menyesal selama ini dia memarahi Mira, putus dengannya. Bams meninggalkan Dinda yang masih duduk manis di Cafe Blue. Bams sudah bingung dan tidak tahu lagi.


“Hei, Bams. Mau kemana kamu! Jangan pergi.” Dinda yang teriak tidak jelas disebuah Cafe.


Seseorang di sekelilingnya melihat dia bagaikan orang yang gila dan tidak tahu malu. Dinda mengejar Bams yang sudah keluar dari c


Cafe itu. Bams meninggalkan Dinda dengan menaiki mobilnya.

__ADS_1


Dunia yang begitu gelap hari itu. Dinda merasakan keresahan yang teramat mendalam.


...***...


__ADS_2