Perfect Idol

Perfect Idol
Jawaban


__ADS_3

Bintang terkesima melihat Hira yang terlihat sangat cantik. Hira pun menjentikkan jarinya didepan wajah Bintang hingga Bintang tersadar dari lamunannya.


"Hey! kenapa lo bengong?" tanya Hira heran.


"Cantik...." gumam Bintang.


"Hah! lo ngomong apa sih?" Hira penasaran dengan apa yang dikatakan Bintang.


"Eh gak kok hehe," tukas Bintang sambil nyengir kuda.


"Terus gua harus ngapain kalo udah kayak gini?" Hira bingung dan penasaran mengapa Bintang memintanya memakai baju yang cantik itu.


"Pengen aja gua liat lo pake baju itu," ujar Bintang santai.


Hira pun merasa aneh dengan kelakuan Bintang. Hira memandangi Bintang dari atas kebawah, dilihatnya rambut Bintang terlihat kusut dan kering. Kulit Bintang pun terlihat sangat gosong karena terbakar teriknya matahari. Hira pun mencoba menyentuh tangan Bintang, Bintang pun sontak terkejut.


"Ih! lengket," ucap Hira.


Hira menarik tangan Bintang dan menyeret Bintang masuk kedalam kamarnya. "Buruan sana lo mandi! lengket banget badan lo," sambung Hira.


"I-Iya ... jangan kenceng-kenceng narik tangan guanya, sakit tau!" protes Bintang.


Bintang pun masuk kedalam kamarnya, namun sebelum masuk dia masih sempat menggoda Hira.


"Lo mau ikut gak? hehe." Bintang nyengir dengan penuh godaan.


"Ih! apa sih ... udah sana lo mandi!" teriak Hira kesal.


Bintang hanya tertawa mendengar dan melihat Hira yang kesal.


"Eh tapi kalo lo nunggu di situ panas banget, lo balik aja ke kamar lo nanti gua nyusul," ujar Bintang.


"E-eh tapi mau ngapain sih?" tanya Hira penuh keheranan.


Bintang tak menjawab pertanyaan Hira dan langsung masuk ke kamarnya untuk mandi dan berganti baju.


.


.


.


***


Hira yang baru sampai ke kamarnya pun langsung berbaring di kasur. Matanya menerawang ke langit-langit kamarnya. Hira sejenak menghela nafasnya sambil berpikir.


Kenapa gua kok sampe nangis pas Bintang tenggelam tadi? apa mungkin gua suka sama Bintang? gua bingung apa ini namanya cinta? dulu waktu kecil gua memang suka sama Kak Fahri tapi rasa yang gua rasain ke Bintang beda, batin Hira.


Lima belas menit pun berlalu, Hira masih memikirkan apakah hal yang dirasakannya pada Bintang adalah cinta. Tak lama kemudian, Bintang pun datang menjemput Hira di kamarnya. Begitu melihat Bintang, Hira pun langsung beranjak dari kasurnya.



"Nunggunya lama gak?" tanya Bintang.


"Ng-gak kok," jawab Hira sedikit canggung.


"Kenapa sih lo jawabnya keputus-putus gitu? terkesima ya sama kegantengan gua? hehe," Bintang memberikan pertanyaan yang terkesan menggoda Hira.


"Siapa bilang?!" protes Hira.


Bintang hanya tersenyum ketika melihat Hira yang wajahnya sudah merona merah.


"Yuk ikut gua jalan-jalan," ajak Bintang.

__ADS_1


"Kemana?" tanya Hira penasaran.


"Udah ikut aja." Bintang menggandeng tangan Hira dan mengajaknya pergi.


.


.


.


***


Di tempat lain, ada suasana canggung juga yang terasa antara Marcel dan Fani. Sedangkan Dean, Jerry dan Tirta masih asik bermain jet sky dan sky air.


Marcel dan Fani duduk disebuah gazebo pinggir pantai sambil menikmati es kelapa muda. Marcel bingung bagaimana cara mengajak bicara Fani yang sedari tadi tidak mau menatap wajahnya.


Gua bingung, kenapa cewek ini dari tadi menghindari gua? terus dia gak mau liat muka gua lagi malah ngeliatin laut aja dari tadi, apa dia gak suka kalo gua deketin? batin Marcel penuh pertanyaan.


Disaat Marcel berpikir begitu, pada kenyataannya jantung Fani berdetak sangat kencang sehingga membuat dia hampir kesulitan bernapas. Sebenarnya dia ingin menghindari Marcel namun apa daya, saat ini Hira tidak ada dan dia bingung harus kemana selain duduk di gazebo itu.


"Ehm ... gak bosen?" tanya Marcel yang memberanikan diri mengajak Fani mengobrol duluan.


Fani langsung terkejut saat mendengar Marcel membuka suaranya. "Ng-gak kok," jawab Fani canggung dengan jantung yang makin berdebar kencang.


Siapa sih yang gak deg-degan kalo ada artis idola lo tiba-tiba ada di depan lo terus ngajak ngobrol lo!batin Fani teriak seolah berbicara dengan orang lain.


"Mau jalan-jalan gak?" ajak Marcel.


Ya Tuhan, dia malah ngajak gua jalan-jalan lagi ... ini disebut apa ya Tuhan? apakah gua beruntung? Suara hati Fani cerewet seperti suara yang keluar dari mulutnya.


"Yuk!" Marcel beranjak dari tempat duduknya dan mengulurkan tangannya kepada Fani.


Fani sempat terbengong dan membeku namun Marcel berinisiatif menarik tangan Fani dan menggandengnya. Fani tidak dapat berbuat apa-apa sehingga jantungnya makin tak karuan dan rasa sesak dalam dada pun tak dapat tertahankan. Tiba-tiba kepala Fani pun terasa pusing dan akhirnya pingsan.


Marcel pun kebingungan melihat Fani yang pingsan.


"Hadeh ... kenapa sih ini cewek suka banget pingsan?" Marcel bingung bukan kepalang.


Akhirnya Marcel memutuskan untuk menggendong Fani dan membawanya ke kamarnya.


.


.


.


***


Bintang mengajak Hira berjalan-jalan disepanjang bibir pantai, tangan Bintang pun masih menggandeng tangan Hira. Hira tak kuasa untuk melepaskan genggaman tangan Bintang karena didalam hatinya tidak ada penolakan sama sekali dengan perlakuan Bintang tersebut.


"Kok tumben lo nurut? gua gandeng gak nolak, malahan dari tadi gak dilepas hehe," tukas Bintang sedikit menggoda.


Hira pun langsung melepaskan genggaman tangan Bintang setelah mendengar pernyataan Bintang. Wajahnya langsung merubah menjadi kusut dan kesal.


"Kok malah dilepas sekarang?" tanya Bintang heran.


"Lo itu suka banget sih godain gua?!" teriak Hira kesal.


"Ha-ha-ha...." Bintang tertawa kencang melihat Hira yang kesal.


Hira pun bertambah kesal karena mendengar Bintang menertawainya.


Ih ini cowok bener-bener deh! kayaknya gua salah, gak mungkin gua suka sama cowok reseh kayak dia! batin Hira memberontak.

__ADS_1


Bintang pun langsung memegang wajah Hira dengan kedua tangannya sambil tersenyum dan mendekatkan wajahnya.


"Udah ya keselnya ... sekarang kita lanjutin lagi jalan-jalannya, oke!" pinta Bintang.


Seketika hati Hira luluh dengan perlakuan dan tatapan mata yang teduh dari Bintang. Hira pun menuruti permintaan Bintang dan mereka pun melanjutkan jalan-jalan mereka.


.


.


.


***


Hari mulai senja, Bintang pun mengajak Hira ke sebuah restoran yang ada disana. Restoran itu pun terlihat sangat menakjubkan karena menyuguhkan pemandangan bawah laut yang luar biasa. Hira yang baru pertama kali melihatnya pun merasa takjub dan terkesima.



"Ini restorannya bagus banget Bin!" teriak Hira girang.


"Iya restoran ini namanya Sea Restaurant Anantara Kihavah," jelas Bintang.


"Kita serasa ada didalam akuarium." Hira masih merasa takjub dengan apa yang dilihatnya.


"Yuk kita duduk," ajak Bintang.


Mereka berdua pun duduk dan memesan makanan yang terdaftar di menu.


Bintang sangat senang melihat Hira yang bahagia saat melihat ikan-ikan laut yang berenang dibalik kaca besar restoran. Dia terus tersenyum saat memandang Hira. Tak lama kemudian, makanan yang mereka pesan pun datang dan mereka menikmatinya.


Setelah mereka selesai makan, Bintang mulai membuka suaranya.


"Ra ... gua mau bilang sesuatu," ucap Bintang dengan nada suara yang lembut.


"Apa?" tanya Hira.


"Gua suka sama lo Ra," jawab Bintang.


"Gu-gua kan udah tau!" teriak Hira canggung.


Bintang hanya menghela nafasnya panjang dan memegang kedua tangan Hira yang berada diatas meja.


"Jawaban?" tanya Bintang dengan wajah penuh harap.


Hira sejenak terdiam, jantungnya berdetak amat kencang saat merasakan sentuhan tangan Bintang dan tatapan mata Bintang yang penuh harap. Hira pun akhirnya sudah memutuskan bagaimana menanggapi perasaan Bintang.


"Uhm ... oke kita coba," jawab Hira malu-malu.


Bintang pun langsung tersenyum lebar mendengar jawaban dari Hira.


"Jadi lo mau jadi pacar gua?" tanya Bintang girang.


Hira hanya menganggukkan kepalanya tanpa berkata sepatah katapun karena malu.


"Hore! Hira akhirnya mau jadi pacar gua!" Bintang sangat girang hingga tidak sadar kalau pengunjung yang lain memperhatikannnya.


.


.


.


***

__ADS_1


^Aku turut bahagia loh 😁😁😁😁^


Next Episode>>


__ADS_2