
"Ta! Bangun!" Hira pun terlihat bingung karena Tirta tak kunjung sadar.
Hira mencoba mengangkat Tirta dengan badannya yang mungil itu. Dia menarik Tirta untuk dinaikkan ke sofa yang tidak jauh dari tempat Tirta pingsan.
Hira mencoba merogoh kantong dan mencari ponselnya. Namun ternyata tidak ada sinyal ditempat itu. Hira mencoba berlari keluar untuk mencari bantuan tapi ternyata Nyonya Ella meninggalkan mereka dengan mengunci semua pintu akses keluar.
Hira terlihat bingung, dia hanya mondar-mandir karena khawatir dengan keadaan Tirta. Tiba-tiba matanya pun tertuju pada sebuah kotak P3K yang berada di ruang tengah. Hira pun bergegas mengambilnya untuk mengobati luka Tirta.
Perlahan Hira mulai membersihkan darah yang ada di wajah Tirta. Dia terlihat sangat sedih memandang wajah Tirta yang penuh dengan luka lebam.
"Ta ... lo ngapain nyusul gua kesini? Sekarang lo luka dan pingsan ... gua bingung, Ta." Hira berkata lirih sembari membersihkan luka dan mengobati wajah Tirta.
Tiba-tiba mata Tirta perlahan terbuka, Hira merasa senang karena Tirta mulai sadar dari pingsannya. Tirta terlihat memegang kepala dan perutnya. Dia meringis karena berusaha menahan sakit.
"R-ra?" lirih Tirta.
"Akhirnya lo sadar juga, Ta!" ucap Hira langsung memeluk Tirta sambil menangis.
Tirta mencoba untuk bangun dan duduk. Dia memegang kepala belakang Hira dan membalas pelukannya.
"Gua udah gak apa-apa, Ra ... lo gak usah khawatir," kata Tirta sembari mengusap kepala belakang Hira.
"Kita kekunci di rumah ini, Ta." Hira menangis sesenggukan dipelukkan Tirta.
Tirta melepaskan pelukannya ke Hira, dia pun berusaha untuk berdiri dan hendak memeriksa sekeliling.
"Lo mau kemana, Ta?" tanya Hira.
"Gua mau coba periksa sekeliling ... siapa tau ada jalan keluar," jawab Tirta.
"Tapi lo kan masih sakit, Ta ... lo aja sampe pingsan tadi." Hira mengkhawatirkan keadaan Tirta.
Tirta tersenyum dan memegang kedua pundak Hira, dia berusaha meyakinkan Hira dengan kode tatapan matanya bahwa dia akan baik-baik saja.
.
.
.
***
Smart Entertainment.
Ruang Latihan.
Bintang terlihat was-was sambil berusaha menelpon Hira berulang kali. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Semenjak siang tadi Hira tidak dapat dihubungi sama sekali.
"Kenapa, Bin?" tanya Dean.
"Hira gak bisa dihubungi, Kak ... terakhir kali dia on WhatsApp jam dua siang tadi," jawab Bintang.
"Mungkin hapenya lowbet kali, Bin," sahut Marcel.
Bintang masih terlihat bingung dan khawatir, akhirnya dia memutuskan untuk mencari Hira langsung ke kosannya.
"Gua cabut dulu!"
"Mau kemana, Bin?!" teriak Marcel.
Bintang tak menjawab dan berlari kencang.
Jerry yang baru masuk ke ruang latihan pun terheran karena melihat Bintang yang terlihat terburu-buru.
"Kak Bintang, kenapa? Buru-buru banget kayaknya," tanya Jerry.
"Dia tadi bilang kalo Hira dari siang gak bisa dihubungi, mungkin aja si Hira lagi ngambek sama Bintang," jawab Dean menerka-nerka.
__ADS_1
Jerry mengangguk dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruang latihan, dia melihat ada yang kurang di sana.
"Kak Tirta, belum balik juga?" tanya Jerry.
"Belum, Jer ... dari tadi siang semenjak terima telpon belum balik ke sini," jawab Marcel.
"Kemana 'sih dia?"
Marcel dan Dean kompak mengendikan bahunya.
.
.
.
***
Tirta memeriksa sekeliling Villa tersebut, ternyata memang tidak ada celah sedikit pun untuk keluar. Akhirnya karena lelah, dia memutuskan untuk beristirahat.
"Kayaknya nyokapnya Bintang udah ngerencanain mateng-mateng buat nyekap kita disini, Ra ... semua pintu dan jendela di Villa ini udah dipasang teralis besi," tukas Tirta.
"Terus kita harus gimana, Ta? Mau sampe kapan kita disini?" Hira terlihat bingung sambil duduk meringkuk memeluk kedua lututnya.
"Gua gak tau rencana dia apaan, yang jelas dia gak mungkin nyekap kita lama-lama disini. Mending lo istirahat aja," ujar Tirta berusaha menenangkan Hira.
Hira menatap sosok Tirta yang duduk di sampingnya. Tirta terlihat masih meringis menahan sakit sembari memegang perutnya, wajahnya pun dipenuhi oleh luka lebam.
Hira menjadi penasaran dan akhirnya menanyakan sebuah pertanyaan yang membuat Tirta terkejut.
"Lo suka sama gua, Ta?" tanya Hira.
Tirta menoleh kearah Hira dan tak langsung menjawab.
"Kenapa lo tanya begitu?" Tirta balik tanya kepada Hira.
"Gua memang suka sama lo, Ra ... bahkan semenjak kita ketemu pertama kali. Gua ngerasa lo itu cewek yang unik. Kadang gua berharap kalau yang ketemu lo buat pertama kalinya itu gua bukan Bintang. Sampe sekarang pun perasaan gua tetap sama, tapi...." Tirta menjeda penyataannya.
Hira menatap Tirta, terlihat jelas pandangan matanya yang sendu itu.
"Tapi gua gak mungkin memaksakan perasaan seseorang, Ra...." Tirta melengkapi penyataannya.
Hira terdiam sejenak sebelum menanggapi pernyataan dari Tirta.
"Maafin gua, Ta ... gua gak bisa terima perasaan lo karena perasaan gua hanya untuk Bintang," tanggap Hira.
Tirta tersenyum sembari mengacak rambut Hira. "Jangan khawatir, Ra ... gua juga gak minta perasaan gua dibales."
Tirta menghela napas lega karena setelah sekian lama, dia bisa mengatakan perasaan yang sesungguhnya kepada Hira walaupun dia sudah tahu jawabannya adalah tidak.
.
.
.
***
Bintang kembali ke dorm karena tidak mendapati Hira dimana pun. Saat itu ketiga temannya juga tengah was-was karena Tirta juga belum kunjung kembali padahal waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari.
"Kalian belum tidur?" tanya Bintang.
"Tirta belum pulang, Bin ... jadi kami gak bisa tidur," jawab Dean.
"Tirta belum pulang juga?" Bintang terkejut.
"Hira udah ketemu, Bin?" tanya Marcel.
__ADS_1
Bintang hanya menggeleng, wajahnya terlihat frustasi.
Tiba-tiba ada notifikasi pesan masuk di ponsel Bintang.
Ting!
Pesan itu ternyata berasal dari Nyonya Ella.
Nenek Lampir : Kalau mau temanmu Tirta dan pacarmu selamat segera tinggalkan pacarmu yang bernama Hira itu. Segera kasih keputusan esok pagi, kalau tidak mereka berdua akan mati.
Bintang membulatkan matanya sempurna melihat pesan tersebut.
"Brengs*k!" umpat Bintang sembari melemparkan ponselnya.
Dengan sigap Jerry menangkap ponsel Bintang dan membaca pesan tersebut.
"Kak Tirta dan Kak Hira dalam bahaya!" pekik Jerry.
"Apa?!" Marcel dan Dean langsung berebut untuk membaca pesan tersebut.
Mereka pun tak habis pikir, Nyonya Ella begitu jahat dan kejam.
"Terus gimana, Bin?" Marcel terlihat khawatir.
"Gua harus temuin nenek lampir itu sekarang!" Bintang terlihat emosi.
"Sabar, Bin! Jangan gegabah! Kalo kita gegabah Tirta dan Hira lebih dalam bahaya," nasehat Dean sambil menahan Bintang.
Ting!
Suara notifikasi dari ponsel Bintang berbunyi, dia pun langsung mengambil ponselnya dari tangan Jerry dan membaca pesan tersebut.
Nenek Lampir : Aku sudah menyetel penyebaran gas beracun pukul delapan pagi. Mereka tidak akan bisa lolos karena Villa itu sudah terkunci rapat dan ventilasi udara pun sudah tertutup. Segera kasih keputusan sebelum jam delapan pagi.
Bintang makin meradang dan frustasi. Dia terduduk di sofa dan mengacak rambutnya kasar.
.
.
.
***
Kediaman Nyonya Ella.
"Apa kamu sudah gila berbuat seperti itu?!" pekik Tuan Harris kepada istrinya.
"Ha-ha-ha! Tidak ada yang bisa menghalangiku termasuk kamu!" sahut Nyonya Ella.
"Apa Pak Erlangga tau rencana licikmu ini?" Tuan Harris terlihat emosional.
"Tentu saja tidak ... mana mungkin dia rela menempatkan putranya dalam bahaya. Kamu tidak usah ikut campur! Kamu diam saja dan lihat saja hasilnya."
Tuan Harris bagai kerbau yang dicucuk hidungnya jika berhadapan dengan istrinya itu. Dia tidak dapat berbuat apapun untuk menghalangi rencana licik istrinya itu.
Nyonya Ella tak memperdulikan suaminya itu dan beranjak tidur.
.
.
.
***
Next episode comming soon 😁👍
__ADS_1