
Bibir Marcel dan Fani masih berpagut satu sama lain. Tanpa disadari air mata Fani pun keluar dari ekor matanya. Tiba-tiba Fani mendorong tubuh Marcel menjauh hingga ciuman mereka berdua pun terlepas.
"Kak Marcel ngapain?!" pekik Fani.
"Lo nangis, Fan?" tanya Marcel khawatir.
Fani tidak menjawab dan hanya menatap Marcel dengan mata yang masih mengeluarkan air. Marcel merasa bersalah dan menyesali perbuatannya itu.
"Maafin gua, Fan," lirih Marcel.
"Kak! Apa yang kita lakuin barusan gak bener! Gua ngerasa bersalah sama Doni, Kak!" teriak Fani masih sambil menangis.
"Doni itu gak baik buat lo, Fan!" teriak Marcel.
"Kakak tau dari mana kalo Doni gak baik?! Kakak punya buktinya?" tanya Fani.
Marcel tidak bisa menjawab pertanyaan dari Fani. Bodohnya tadi pagi dia tidak memfoto kemesraan Doni dengan gadis lain sebagai bukti.
"Maaf, Kak ... gua gak bisa terima perasaan kakak. Gua emang mengidolakan kakak sejak kakak pertama kali debut tapi itu bukan berarti kita bisa jadi sepasang kekasih. Maaf ... gua lebih memilih Doni, Kak ... dia punya status yang setara dengan gua," ujar Fani.
Marcel hanya terdiam, hatinya terasa perih mendengar penolakan telak kepada dirinya. Ciumannya pun tak dapat meluluhkan hati gadis pujaannya itu.
Marcel hanya bisa melihat punggung Fani yang mulai menjauh darinya. Fani lebih memilih kembali kepada Doni ketimbang bersama Marcel.
Dengan langkah gontai Marcel menuju tempat mobilnya terparkir. Pikirannya kacau balau, mulai memikirkan ayahnya yang kecelakaan dan Fani yang menolaknya. Bisa dibayangkan betapa hancurnya hati sang idola tampan itu.
.
.
.
***
Keesokan harinya, Marcel pun berangkat ke Palembang untuk melihat keadaan ayahnya. Tak butuh waktu lama untuk sampai di Bandar Udara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II di kota Palembang. Dari bandara, Marcel langsung bergegas menuju rumah sakit di mana ayahnya berada.
RSUD kota Palembang.
Marcel langsung menuju tempat ayahnya dirawat. Setelah baru sampai, Marcel mendapati ayahnya terbaring di ranjang rumah sakit dan dua orang adiknya yang menunggu ayahnya. Adik perempuannya yang berumur sekitar 15 tahunan duduk di sebuah kursi sambil merebahkan kepalanya di ranjang tempat ayahnya terbaring. Sedangkan adik laki-lakinya yang berumur sekitar 10 tahun tidur disebuah karpet yang digelar di lantai.
"Dek....," panggil Marcel sambil memegang pundak adik perempuannya itu.
Adik perempuannya yang bernama Anna pun terjaga. Setelah melihat kakaknya datang, dia langsung beranjak dari kursinya dan langsung memeluknya sembari menangis.
"Kak! Ayah, Kak ... hiks," ucap Anna sambil menangis.
__ADS_1
"Gimana ceritanya ayah bisa kecelakaan, Dek?" tanya Marcel sembari memeluk Anna dan mengusap rambutnya.
"Ayah mabuk lagi, Kak ... pas mabuk manggil-manggil nama ibu terus, habis itu dia keluar dari rumah ... baru aja dia mau nyebrang jalan, ada mobil yang ngebut dan nabrak ayah," jelas Anna.
Marcel hanya diam sembari masih memeluk adiknya, matanya tertuju kepada seorang pria tua yang terbaring tak sadarkan diri itu. Matanya berkaca dan mulai mengeluarkan air mata.
Ayah masih mikirin ibu? Semenjak kepergian ibu, ayah jadi suka mabuk-mabukan padahal udah sembilan tahun berlalu, batin Marcel.
***
Saat usia Marcel masih 10 tahun, hubungan antara ayah dan ibunya memang sudah tidak harmonis lagi. Penyebabnya adalah karena kebangkrutan dari usaha milik ayahnya. Tadinya ayah Marcel adalah seorang pengusaha kaya pemilik konveksi. Namun usahanya menjadi gulung tikar karena salah satu orang kepercayaannya yang mengelola keuangan menyalahgunakan keuntungan dari penjualan pakaian untuk berfoya-foya, tanpa sepengetahuan dari ayah Marcel.
Lebih parahnya lagi orang tersebut melakukan peminjaman uang atas nama perusahaan konveksi milik ayahnya Marcel. Ayah Marcel terlalu percaya kepada sahabatnya sendiri sehingga dia tidak tahu bahwa sahabatnya itu menyalahgunakan kepercayaan yang telah dia berikan selama ini.
Semenjak kejadian itu, banyak orang yang menagih hutang kepada ayah Marcel. Bahkan banyak dari pihak Bank yang datang untuk meminta pertanggungjawaban pembayaran hutang piutang. Akhirnya semua harta keluarga Marcel pun habis. Rumah, mobil dan semua aset disita oleh pihak Bank. Semenjak itu kehidupan mereka menjadi sulit.
Ibunya yang selama ini hidup dalam kecukupan bahkan kemewahan pun merasa tidak senang karena kebangkrutan suaminya itu. Dia berselingkuh dengan pria kaya dibelakang suaminya. Dia tidak memperdulikan ketiga anaknya, padahal anak bungsunya masih baru saja berusia enam bulan. Ayah Marcel yang mengetahui istrinya berselingkuh pun menjadi frustasi dan mulai mabuk-mabukan.
Sampai satu tahun kemudian, ibunya Marcel pun akhirnya meninggalkan mereka. Tidak ada kabar berita dari ibunya itu sampai sekarang. Bahkan semenjak Marcel menjadi idola terkenal pun, keberadaan ibunya tidak diketahui.
***
Tak berapa lama, akhirnya ayah Marcel pun sadar. Marcel langsung menghampiri ayahnya dan menangis.
"Ayah gak kenapa-kenapa, kan?" tanya Marcel.
"Iya ini Marcel, Yah."
Marcel langsung memeluk ayahnya itu. "Ayah jangan mabuk-mabukan lagi, ya?"
Ayah Marcel tidak menjawab, dia hanya menangis sambil memeluk putra sulungnya itu.
"Maafkan ayah, Nak ... ayah selalu menyusahkan kamu, ayah berpikir lebih baik ayah mati saja," ucap ayah Marcel.
"Ayah jangan berpikir begitu! Marcel sudah memutuskan setelah ayah sembuh, ayah dan adik-adik ikut Marcel pindah ke Jakarta. Walaupun Marcel gak bisa setiap hari bertemu kalian, seenggaknya kalian deket dengan Marcel," ucap Marcel.
Adik laki-laki Marcel yang bernama Rendi pun terbangun. Begitu melihat Marcel dia langsung memeluk kakaknya itu.
"Kak Marcel ... Rendi kangen," ucap Rendi.
"Kakak juga kangen Rendi," sahut Marcel sembari membalas pelukan dari adiknya itu.
"Rendi mau kan pindah ke Jakarta?" tanya Marcel.
Rendi hanya mengangguk, Marcel pun mengacak rambut adiknya itu dan tersenyum.
__ADS_1
"Alhamdulillah ... ayah gak terlalu parah lukanya ... Marcel harus balik lagi ke Jakarta sekarang, Marcel masih banyak kegiatan di agensi. Kalian berdua jaga ayah, ya? Nanti setelah ayah pulih, kalian pindah ke rumah Marcel yang di Jakarta, sayang kalo gak ditempatin," ucap Marcel.
Marcel kembali menatap ayahnya yang masih terbaring. Dia tersenyum dan memegang tangan ayahnya.
"Ayah gak usah mikirin ibu lagi, ya ... nanti kalo memang ibu masih inget kita, ibu pasti balik ke kita, Yah," tambah Marcel.
Marcel pun berpamitan dan bergegas kembali lagi ke Jakarta.
.
.
.
***
Fani masih terbaring di atas kasurnya siang itu, matanya menatap langit-langit kamarnya. Hari itu hari dia libur kerja tapi dia tidak melakukan apa-apa. Semalam dia tidak jadi menemui Doni, dia berlari kembali ke Marcel tapi Marcel sudah tidak ada. Akhirnya dia pun memesan ojek online untuk pulang ke kosannya.
"Kak Marcel pasti marah dan kecewa sama gua ... gua udah jahat banget sama dia semalem, gua juga gak ngerti kenapa gua malah ngomong hal sejahat itu ke Kak Marcel!" gumam Fani sembari memukul-mukul kepalanya sendiri.
Fani merutuki dirinya yang plin plan itu.
.
.
.
***
Next episode comming soon 😁👍
Sembari menunggu up nya boleh mampir ke novel teman author ya 😁👍
Nikah Kontrak - Tya Gunawan
Tentang Hati - Aldekha Depe
Istri Kedua Tuan Krisna - Syala Yaya
__ADS_1
Apa Aku Berbeda? - Lina Agustin