
Sebelum Bintang menemui Hira, dia terlebih dahulu menemui ibunya di rumah sakit. Dia ingin melihat apakah ibunya baik-baik saja pasca bertemu dengan Nyonya Ella.
"Ibu!" teriak Bintang dari arah pintu kamar.
Bintang pun berlari dan langsung memeluk ibunya itu.
"Ibu belum tidur?" tanya Bintang.
"Belum, Nak ... ini buktinya ibu masih nonton TV," jawab Bu Puspa sambil tersenyum.
"Ibu harusnya banyak istirahat ... ini udah jam sembilan malem, Bu," nasihat Bintang.
Bu Puspa hanya tersenyum sambil mengusap tangan Bintang.
"Tumben kamu malem-malem kesini? Biasanya kalo kesini siang kalo gak sore?" tanya Bu Puspa.
Bintang menghela nafasnya dan mulai bertanya pasal Nyonya Ella.
"Bintang mau tanya, Bu ... ibu udah ketemu dengan wanita yang bernama Ella?" tanya Bintang.
Bu Puspa terdiam sejenak lalu mengangguk.
"Dia ancam ibu?" selidik Bintang.
Bu Puspa menggeleng sambil tersenyum.
"Bintang ... sebaiknya kamu menurut dengannya, dia sudah banyak membantu kita, Nak ... dia bahkan sudah mau mengurus kamu dan membantu biaya perawatan ibu selama tujuh tahun ini," ucap Bu Puspa.
Seketika Bintang pun membeku mendengar ucapan ibunya itu. Dia bingung harus berbuat apa. Menurut? Apakah dia harus menerima pertunangan dengan Cleo sebagai bentuk balas budi? Sungguh tidak manusiawi sekali.
"Baik, Bu ... Bintang akan nurut dengan dia," ucap Bintang sambil tersenyum dan mengusap pipi ibunya.
"Sekarang ibu tidur ... ini sudah malem. Bintang pamit pulang dulu, Bu."
Bintang pun berjalan pergi dari ruang rawat ibunya. Langkahnya gontai karena dia sangat putus asa dan bingung.
.
.
.
***
Keesokan paginya, berita tentang rencana pertunangan Bintang dan Cleo pun muncul. Publik terutama para fans Number One pun heboh. Ada yang merasa senang dan ada juga yang menolak karena tidak senang. Tirta yang tidak sengaja menemukan berita tersebut pun langsung menemui Bintang di kamarnya.
"Maksudnya apa ini?" tanya Tirta sambil menunjukkan layar ponselnya yang berisi berita tersebut.
"Oh ... ya lo bisa baca sendiri, kan. Apa perlu gua yang bacain?" tukas Bintang.
"Lo itu udah gila, ya! Terus Hira gimana?!" teriak Tirta emosi.
"Hira? Ha-ha-ha! Lo pikir gua suka beneran sama dia? Sekian banyak cewek cantik ngapain juga gua pilih cewek cupu kayak dia. Lagian Cleo jauh lebih cantik dan pantes buat gua. Kalo lo mau, ambil aja tuh si Hira," ucap Bintang.
__ADS_1
Tirta pun menjadi emosi dan langsung memukul wajah Bintang. Bintang yang tidak terima pun langsung membalas pukulan Tirta. Akhirnya mereka berdua pun menjadi baku hantam. Karena keributan yang mereka berdua buat, teman-temannya yang lain pun datang ke kamar Bintang dan melerai mereka berdua.
"Stop! Berhenti!" teriak Marcel.
Dean dan Jerry pun berusaha memisahkan mereka berdua. Terlihat di bibir dan hidung mereka berdua mengeluarkan darah. Walaupun sudah dilerai mereka masih saja emosi dan masih ingin baku hantam.
"Kalian berdua ini kenapa, sih! Kenapa berantem terus?!" teriak Marcel dengan nada meninggi.
"Dia itu cowok brengsek, Kak!" ujar Tirta sambil menunjuk kearah Bintang.
"Ha-ha-ha! Lo itu cowok aneh! Gak bisa dapetin hati cewek, pas ceweknya udah gak gua butuhin malah marah-marah, harusnya lo seneng, dong," tanggap Bintang.
Tirta makin emosi dan ingin melepaskan diri dari Jerry yang menahannya.
"Jadi maksudnya apa?" tanya Marcel penasaran.
Tirta menghela nafasnya dan meminta Jerry untuk melepaskan dirinya.
"Kakak tanya aja sama si cowok brengsek ini," ucap Tirta sambil menunjuk Bintang dan pergi dari tempat itu.
Sejenak suasana menjadi hening. Bintang pun meminta Dean melepaskannya.
"Kalian bisa keluar?" pinta Bintang.
Akhirnya Marcel, Dean dan Jerry pun keluar dari kamar dan meninggalkan Bintang sendiri.
.
.
.
***
Sesampainya di kosan Hira, Tirta langsung mengetuk pintu kamarnya dengan tergesa-gesa.
Tok-tok-tok!
"Ra! Hira!" panggil Tirta.
Tak berapa lama, Hira pun membuka pintu kamarnya. Terlihat jelas di mata dan wajahnya bahwa Hira baru saja menangis. Tirta yang tidak tega pun langsung memeluk Hira erat. Hira yang tak dapat membendung tangisannya pun menangis sejadi-jadinya dipelukkan Tirta.
"Hiks ... Bintang ... dia tega sama gua, Ta," isak Hira.
Tirta tak menjawab, dia hanya mengusap lembut kepala Hira. Tirta berusaha menenangkan gadis yang sedang patah hati itu. Dia melepaskan pelukannya kepada Hira. Dia menatap dalam wajah gadis yang masih terus mengeluarkan air mata.
"Ra ... liat gua," pinta Tirta.
Hira perlahan mengangkat kepalanya dan mulai menatap kearah Tirta.
"Jangan nangis lagi, Ra...." ujar Tirta sambil menghapus air mata yang terus mengalir di wajah Hira.
Hira mengangguk tanda mengiyakan.
__ADS_1
"Gimana kalo kita pergi jalan-jalan?" ajak Tirta.
"Tapi lo kan banyak kerjaan, Ta?" tanya Hira.
"Hari ini gua bakal izin, buat nemenin lo seharian. Gak masalah absen satu hari doang," jawab Tirta.
Hira yang menatap wajah Tirta pun baru sadar, kalau wajah Tirta lebam dan bibirnya bengkak.
"Wajah lo kenapa, Ta?" tanya Hira.
Tirta tersenyum. "Gak apa-apa, Ra."
Hira merasa tidak enak dengan Tirta jadi dia memutuskan untuk menerima ajakan dari Tirta. Selain itu, dia juga merasa perlu untuk menenangkan dirinya yang sedang kalut karena Bintang.
"Oke! Gua ganti baju bentar ya," ucap Hira.
Tirta pun mengangguk sambil tersenyum.
.
.
.
***
Sementara itu, di dorm Number One. Dean yang baru tahu akan berita rencana pertunangan Bintang dan Cleo pun masuk kedalam kamar Bintang. Sejak dulu Dean sudah menyukai Cleo tapi Cleo tidak pernah menganggapnya dan hanya menatap kearah Bintang.
"Jadi berita ini bener? Lo mau tunangan sama Cleo?" tanya Dean.
Bintang hanya mengangguk.
"Emang lo beneran suka sama Cleo? Terus Hira gimana? Lo selama ini baik-baik aja sama dia, kan. Gua akhirnya paham kenapa Tirta sampe emosi kayak gitu."
Bintang hanya diam karena tak tahu harus menjawab apa. Dia pun merasa pusing dan kalut saat itu.
"Kenapa lo diem aja?" tanya Dean lagi.
"Gak apa-apa," jawab Bintang singkat.
Dean menghela nafasnya dan mengacak rambutnya. Dia seolah kesal kepada sahabatnya itu karena tidak mau terbuka kepadanya.
"Ini yang gak gua suka dari lo! Lo gak pernah mau terbuka sama sahabat-sahabat lo, Bin," tukas Dean.
"Gua bingung harus cerita gimana ke kalian!" teriak Bintang emosional.
Bintang memang bingung bagaimana caranya untuk menceritakannya kepada Dean. Karena selain Tirta, tidak ada satu pun temannya yang mengetahui tentang latar belakang aslinya.
.
.
.
__ADS_1
***
Next Episode 😁👍>>