
Hira terlihat sangat bahagia saat mendapatkan kejutan dari Bintang. Saat mereka sedang berdua bercengkrama sambil tertawa, datanglah Tirta sambil membawa sekaleng minuman berkarbonasi ditangannya.
"Ups! Sorry, gua ganggu, ya," ujar Tirta.
Bintang tidak fokus dengan ucapan Tirta tapi dia malah fokus dengan kaleng minuman yang dipegang oleh Tirta. Bintang pun berjalan kearah Tirta.
Grep!
Bintang mengambil kaleng minuman itu dari tangan Tirta.
"Eh! Balikin, Bin!" teriak Tirta.
Bintang mengode Hira dengan matanya untuk menangkap kaleng minuman tersebut, karena Bintang akan melemparkannya kepada Hira. Saat Bintang melemparkan kaleng minuman tersebut, dengan ancang-ancang pas Hira pun bersiap untuk menangkapnya. Akhirnya, Hira dapat menangkap dengan tepat.
"Yey! Berhasil!" teriak Hira sambil tersenyum girang.
Tirta pun dengan cepat menghampiri Hira dan hendak merebut kaleng minumannya itu. Tirta berusaha mengambil kaleng minuman itu dari Hira tapi Hira dengan hebat memainkan tangannya untuk mengecoh Tirta. Hira yang merasa senang karena dapat mempermainkan Tirta pun tak sadar dan melangkahkan kakinya mundur perlahan, hingga kakinya terantuk sesuatu dan keseimbangan tubuhnya mulai goyah.
Ah!
Saat tubuh Hira akan terdorong jatuh ke belakang, Tirta dengan sigap menopang tubuh Hira dengan tangan kanan yang dilingkarkan di pinggang Hira. Reflek Tirta menarik Hira dan wajah mereka berdua menjadi berjarak sangat dekat.
Deg-deg-deg!
Jantung Tirta berdegup kencang saat bertatapan mata dengan mata Hira. Dalam benaknya, ada rasa ingin memiliki gadis manis berkacamata yang ada dihadapannya. Namun semua itu mungkin hanyalah angan miliknya belaka, karena gadis manis itu sudah dimiliki oleh sahabatnya.
"Maaf," ujar Tirta sambil melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang Hira.
***
Bintang pun mendekati mereka berdua dengan berlari kecil.
"Kamu gak apa-apa? Untung aja ditangkap Tirta." Bintang terlihat sangat khawatir dengan gadis pujaan hatinya itu.
"Gak apa-apa, kok." Hira tersenyum kearah Bintang dengan sangat manis.
Bintang mengusap pucuk kepala Hira dengan penuh kasih sayang.
"Mana sini kaleng minumannya," pinta Bintang kepada Hira.
Hira menyerahkan kaleng minuman yang menjadi permasalahan itu kepada Bintang.
Tirta yang berdiri canggung sambil melihat kemesraan Bintang dan Hira pun kaget saat Bintang menghampirinya.
"Jangan lagi coba-coba minum minuman kayak gini!" ucap Bintang dengan nada sedikit meninggi.
"He-he, sekali-sekali kan gak apa-apa sih, Bin," ujar Tirta sambil tersenyum menampakkan gigi serinya yang nampak berbaris rapih dan putih.
__ADS_1
"Gak boleh!"
"Lo gak inget? Kalo habis minum minuman bersoda pasti maag lo kambuh, lo mau cari penyakit?!" teriak Bintang mengingatkan sahabatnya itu.
Tirta tak dapat berkata-kata saat melihat dan mendengar Bintang menasehatinya perihal penyakitnya yang akan kambuh saat meminum minuman berkarbonasi itu.
Seketika senyuman mengembang dari bibir Tirta yang nampak berwarna merah muda layaknya bibir seorang gadis yang memakai lip balm. Dia merasa senang karena Bintang begitu peduli dengannya.
Bintang perhatian banget dengan gua, kenapa gua merasa kalo gua gak begitu pantes jadi sahabatnya. Sahabat macam apa yang sempat berpikir untuk merebut pacar sahabatnya sendiri? Tapi gua gak ngerti, kenapa tiap gua ngeliat Hira, rasa ingin memiliki itu ada? batin Tirta.
Tirta sejenak memandang kearah Hira. Terlihat Hira mengembangkan senyum manis kepada dirinya. Senyuman Hira memang manis tapi tingkat level kemanisannya hanya sebatas senyuman kepada seorang sahabat. Berbeda dengan senyuman yang Hira berikan kepada Bintang.
"Gua turun duluan, kalian lanjutin aja mesra-mesraannya," ucap Tirta sambil hendak melangkah pergi.
Bintang menghentikan langkah Tirta dengan tiba-tiba merangkul sahabatnya itu.
"Yuk, kita turun bareng."
Bintang menengok kearah Hira memberi tahu bahwa lebih baik mereka meninggalkan rooftop bersama dengan Tirta. Hira yang mengerti pun langsung mengekor Bintang dan Tirta dari belakang.
.
.
.
***
Hira menggunakan kendaraan umum busway untuk pergi ke toko roti. Di dalam busway terlihat ada dua gadis remaja yang berbisik-bisik sambil melirik kearah Hira.
"Eh, liat deh cewek itu ... mirip gak, sih, sama cewek difoto yang tersebar kemaren? Cewek yang dipeluk sama Tirta itu."
"Iya mirip banget, pake kacamata juga, kan?"
"Iya, keliatannya biasa banget gitu, pasti dia itu yang duluan keganjenan sama Tirta."
"Ih! Kalo bukan tempat umum aja, udah gua labrak dia!"
Hira sepertinya merasa bahwa kedua gadis itu sedang membicarakan dirinya. Namun Hira tetap bersikap biasa saja karena tidak ingin membuat masalah di tempat umum, apalagi dia juga belum sepenuhnya yakin kalau kedua gadis itu sedang membicarakannya.
***
Akhirnya Hira tiba di perhentiannya, ternyata kedua gadis tadi pun kebetulan turun di perhentian yang sama. Hira berjalan menuju arah toko roti dengan melewati jalan pintas di sebuah gang sepi. Tak disangka, kedua gadis tadi malah mengikuti Hira.
Splash!
Salah satu dari gadis itu mendekati Hira dan menyiram Hira dengan air teh dalam kemasan botol ke kepala Hira. Hira pun tersentak kaget karena diperlakukan buruk seperti itu.
__ADS_1
"Ah! Siapa kalian?! Kenapa tiba-tiba nyiram kepala gua?!" pekik Hira sambil memegang rambutnya yang basah.
"Lo gak perlu tau siapa kita, yang jelas lo itu jadi cewek jangan kemenelan!" teriak salah satu gadis itu.
"Hah? Kemenelan? Maksudnya apa?" Hira tidak mengerti apa yang dimaksud oleh salah satu gadis itu.
"Kemenelan karena udah berani deketin dan goda Tirta kami!"
Hira pun akhirnya mengerti, mengapa kedua gadis itu berlaku tidak sopan dan menyiram kepalanya.
Jadi karena foto waktu itu? Mereka berdua ini fansnya Tirta ... mereka gak terima karena difoto itu, Tirta meluk gua.
"Eh malah bengong lagi!"
Salah satu gadis itu pun mendekati Hira dan menjambak rambut Hira. Hira berusaha melawan tapi gadis yang satunya lagi ikut memegang tangan Hira sehingga Hira tidak dapat melawan.
Gang itu begitu sepi dan sunyi karena sisi kiri dan kanan hanyalah tembok tinggi sehingga tidak ada orang yang melihat perlakuan bullying kedua gadis itu kepada Hira.
Tiba-tiba ada seseorang datang menolong Hira, orang itu memegang tangan salah satu gadis yang mem-bully Hira dengan kencang.
"Lepasin dia!"
Seketika gadis yang tangannya dipegang pun langsung menyahut dengan nada tinggi tanpa melihat kearah orang tersebut.
"Bukan urusan lo!"
"Tentu urusan gua."
Gadis itu seketika membisu ketika melihat sosok yang berbicara kepadanya, padahal baru saja ia ingin mengumpat.
"Ti ... Tirta?!" Gadis itu terlihat sangat kaget ketika melihat Tirta yang berdiri dihadapannya.
Tirta tidak memperdulikan kedua gadis itu dan langsung mendekati Hira. Dia mengandeng erat tangan Hira untuk menuju mobilnya yang terparkir diujung gang. Hira hanya menurut tanpa berkata apa-apa.
Langkah Tirta terhenti sejenak dan menoleh kearah dua gadis tadi.
"Perbaiki attitude kalian, jangan jadi orang yang suka main hakim sendiri," pesan Tirta kepada kedua gadis itu.
Tirta pun kembali berjalan sambil mengandeng erat tangan Hira. Sedangkan salah satu gadis tadi langsung terduduk lemas dan bahkan yang satunya menangis karena menyesal.
.
.
.
***
__ADS_1
Next Episode>>