
RS Medika Gemilang
Kamar VVIP No.1257
Nyonya Ella kembali mendatangi Ibu Puspa yang masih dirawat di rumah sakit. Dia ingin membuat perhitungan karena Bintang telah mengacaukan acara pertunangannya dengan Cleo.
"Kau sudah tahu 'kan tujuanku datang kemari?" tanya Nyonya Ella.
"Apa ini mengenai Bintang?" Ibu Puspa mencoba memastikan.
"Bintang sungguh tidak tahu terima kasih! Berani-beraninya dia membatalkan pertunangan yang sudah saya rencanakan!" geram Nyonya Ella.
Ibu Puspa terdiam dan hanya memperhatikan raut wajah Nyonya Ella yang sudah diselimuti oleh amarah. Dia sejenak memikirkan sesuatu.
"Saya rela mati jika untuk kebahagiaan Bintang," tutur Ibu Puspa.
Nyonya Ella tersentak. "Maksudmu, apa?"
"Kalau salah satu alasan Nyonya menekan Bintang adalah karena saya, Nyonya tidak perlu membiayai saya lagi tapi biarkan Bintang bebas," tukas Ibu Puspa.
"Ha-ha-ha! Kau pikir semudah itu? Kau harus tahu, saya adalah investor terbesar dari perusahaan agensi yang menaungi Bintang sekarang, jika saya menarik semua saham dan berhenti menjadi investor, perusahaan itu akan bangkrut!" ancam Nyonya Ella.
Ibu Puspa semakin bingung mendengar hal itu. Dia harus bagaimana? Dia bahkan tidak tahu bahwa peran wanita itu sangat penting juga bagi kelangsungan agensi yang dikelola oleh Pak Agung, agensi yang menaungi Bintang dan kawan-kawannya.
Ternyata percakapan antara Nyonya Ella dan Ibu Puspa tak sengaja didengar oleh Bintang. Bintang yang hendak masuk ke dalam pun tidak jadi karena ada wanita yang sangat dia benci itu.
***
Di parkiran RS.
Bintang terlihat frustasi, dia tidak jadi menemui ibunya dan kembali ke dalam mobil untuk pergi dari sana. Dia berulang kali memukul kemudi mobilnya dengan kasar karena kesal.
"Dasar Nenek Lampir! Jadi dia terus menerus ancam ibu, gua harus cari cara untuk bebas dari belenggu Nenek Lampir itu," gumam Bintang.
.
.
.
***
Kediaman keluarga Dewantara.
Seperti biasa Pak Erlangga, ayah Tirta, selalu bersikap kasar kepada istrinya. Dia bahkan tidak pernah menghargai apa yang dilakukan oleh Nyonya Amalia untuknya.
"Kau mencoba meracuniku?!" bentak Pak Erlangga.
"Aku tidak ada niat meracuni dirimu, Mas," lirih Nyonya Amalia.
__ADS_1
"Terserah! Rasanya sungguh tidak enak dan membuatku ingin muntah!" ujar Pak Erlangga.
Nyonya Amalia terlihat sedih dan menundukkan kepalanya. Dia hanya ingin mencoba menyenangkan suaminya dengan memasak makanan untuk makan malam.
Kejadian itu dilihat oleh Tirta yang memang sengaja berkunjung ke rumahnya untuk menemui ibu dan adiknya. Tirta menghampiri ibunya dan mencoba menenangkannya.
"Tolong jangan sakiti ibu saya lagi," pinta Tirta dengan nada suara sedikit memohon.
"Cih! Anak dengan ibu sama saja! Keduanya tidak bisa membuat saya senang!" ketus Pak Erlangga.
"Bagaimana agar kami bisa membuat Anda senang?" tanya Tirta.
Pak Erlangga tersenyum miring, mungkin dia mengira istri dan anak sulungnya kali ini akan menyerah.
"Kalian berdua ... tinggalkan dunia hiburan yang terkutuk itu!" tegas Pak Erlangga.
Tirta terlihat begitu kesal, pasalnya setiap ada pertikaian hal itu terus yang selalu dibahas oleh ayahnya.
"Apa tidak ada yang lain selain hal itu?" tawar Tirta.
Nyonya Amalia memandang wajah putra sulungnya. Mata Tirta menyorotkan sebuah kekecewaan terhadap ayahnya. Nyonya Amalia tahu benar kalau Tirta begitu suka menyanyi dan bergaya didepan kamera sejak kecil.
***
Dulu saat Tirta masih berusia delapan tahun, dia selalu ikut dengan Nyonya Amalia ke lokasi syuting. Wajahnya yang tampan membuat Tirta sering kali dilirik oleh produser rekaman film dan iklan. Bukan hanya itu, tawaran pemotretan untuk menjadi model pun banyak berdatangan.
Tirta awalnya malu-malu saat melakukan pemotretan untuk pertama kali. Namun lama-kelamaan, dia menjadi menikmatinya. Tirta juga ditawari untuk rekaman sebuah lagu khusus anak-anak. Akhirnya dia pun menjadi penyanyi cilik kala itu.
Saat itu Pak Erlangga tidak terlalu mempermasalahkan hal itu. Dia berpikir kalau anaknya itu akan berhenti ketika bosan. Namun tanpa disangka saat Tirta berusia 12 tahun, dia ditawari menjadi trainee di Smart Entertainment. Tirta pun menjadi trainee tanpa sepengetahuan ayahnya.
Awal Tirta menjadi trainee, itu lah awal mula dia bertemu dengan Bintang yang baru saja direkrut oleh ayahnya. Tak heran mengapa Bintang dan Tirta begitu akrab, hal itu karena persahabatan mereka memang sejak lama. Sejak mereka berumur 12 tahun dan sama-sama berlatih untuk menjadi seorang idol.
Selama kurang lebih lima tahun menjadi trainee, akhirnya Tirta pun debut bersama member Number One yang lain. Pak Erlangga pun terkejut, karena tanpa sepengetahuan dirinya, Tirta putra sulungnya menjadi seorang idol. Itulah akibat dia jarang berada di rumah dan kebanyakan ke luar negeri untuk melebarkan sayap bisnisnya.
***
Mata Nyonya Amalia berkaca-kaca saat memandang wajah Tirta.
"Biar saya yang berhenti dari dunia hiburan," ucap Nyonya Amalia tiba-tiba.
"Tapi, Bu...."
Ucapan Tirta dihentikan oleh Nyonya Amalia dengan menggeleng.
Pak Erlangga merasa senang karena sudah membuat istrinya menyerah. Dia pun bertepuk tangan untuk mengapresiasi pernyataan dari istrinya itu.
"Ha-ha-ha! Bagus sekali ... kamu memang istri yang pengertian, walaupun sudah sekian lama saya ingin mendengar hal itu dari mulutmu," seloroh Pak Erlangga.
"Tapi biarkan Tirta tetap di dunia hiburan," pinta Nyonya Amalia.
__ADS_1
"Baiklah ... satu orang yang mundur sudah membuat saya senang ... saya pastikan kamu juga akan mundur suatu saat," ancam Pak Erlangga sambil menunjuk kearah Tirta.
Pak Erlangga beranjak pergi dari meja makan. Dia nampak langsung keluar dari rumah untuk pergi entah kemana. Gina, adik perempuan Tirta, seperti biasanya dia hanya melihat kejadian itu dari kejauhan.
Tirta yang melihat adiknya itu pun memanggilnya.
"Sini ... Dek! Ngapain kamu di situ?" panggil Tirta.
Gadis berusia sepuluh tahun itu pun berlari kecil menghampiri Tirta dan ibunya.
"Kakak! Gina kangen kakak tapi takut sama ayah," ujar Gina.
Tirta berjongkok dan mengacak rambut adik satu-satunya itu.
"Gina jangan takut ... kakak juga kangen dengan Gina," ujar Tirta sembari tersenyum.
Gadis kecil itu mengangguk.
Tirta kembali berdiri dan menatap ibunya yang terlihat sedang membereskan meja makan. Raut wajah Nyonya Amalia terlihat sedih karena suaminya tidak mau memakan masakannya.
"Biarin aja, Bu ... biar Tirta yang makan, Tirta laper banget," ujar Tirta sambil menepuk-nepuk perutnya.
"Kata ayahmu gak enak, jadi mau ibu buang," sahut Nyonya Amalia.
Tirta mendekati meja makan dan memakan satu sendok nasi goreng di piring bekas ayahnya.
"Hm ... ini enyak, Bu!" seru Tirta sambil mengunyah makanannya.
Nyonya Amalia tersenyum dan mengusap kepala anaknya.
"Kamu jangan bohong buat nyenengin ibu," tukas Nyonya Amalia.
"Enak tapi asin, Bu!" ujar Tirta sambil tersenyum.
"Gina suka asin ... mana minta!" seru Gina.
Mereka bertiga pun tertawa bersama walaupun mungkin masih ada sisa kepedihan yang ditorehkan oleh Pak Erlangga.
Ternyata Pak Erlangga tidak pergi, dia melihat suasana akrab ketiga orang yang berhubungan erat dengannya itu.
Apa aku terlalu keras memperlakukan mereka? Putri kecilku bahkan takut denganku.
.
.
.
***
__ADS_1
Next episode comming soon 😁👍