Perfect Idol

Perfect Idol
Rencana licik


__ADS_3

Saat Pak Erlangga sedang memperhatikan kebersamaan istri dan anak-anaknya, tiba-tiba ponselnya pun bergetar. Dia pun langsung menyingkir dari tempat itu dan keluar untuk menerima panggilan.


Nampaknya panggilan telepon itu dari seseorang yang cukup penting. Pak Erlangga pun langsung bergegas menuju mobilnya untuk pergi ke suatu tempat.


***


Pak Erlangga mendatangi sebuah restoran mewah, dia terlihat mencari keberadaan seseorang yang sedang menunggunya. Dari kejauhan tampak Nyonya Ella yang duduk disalah satu meja pengunjung restoran.


"Apa Anda sudah lama menunggu, Nyonya Ella?" sapa Pak Erlangga.


Nyonya Ella menoleh kearah pria paruh baya yang masih nampak gagah itu.


"Saya pun baru sampai ... silahkan duduk." Nyonya Ella mempersilahkan Pak Erlangga untuk duduk di kursi yang berada tepat di seberangnya.


Pak Erlangga menggeser kursi tersebut dan duduk disana. Dia pun bertanya-tanya, ada gerangan apa seorang Nyonya Ella menghubunginya untuk makan malam.


"Ada perlu apa Nyonya menghubungi saya dan mengajak makan malam mendadak begini?" tanya Pak Erlangga to the point.


Nyonya Ella tersenyum, nampak ada suatu maksud yang terselubung dibalik senyumannya.


"Anda suka sekali to the point ...baiklah, ini mengenai putra sulung Anda, Tirta," tutur Nyonya Ella.


Pak Erlangga menautkan kedua alisnya. "Ada apa dengan Tirta?"


"Anda sepertinya tidak mengetahui bahwa putra sulung Anda sedang menyukai seorang gadis," tukas Nyonya Ella.


Pak Erlangga memang tidak pernah mengetahui perihal yang berhubungan dengan pribadi Tirta. Dia tidak dekat dengan putra sulungnya itu karena terlalu sibuk mengurusi bisnisnya dan hubungan mereka memang tidak dalam keadaan yang baik.


"Bagaimana Anda bisa mengetahui hal itu?" tanya Pak Erlangga heran.


Nyonya Ella tidak menjawab, dia mengeluarkan beberapa foto kebersamaan Tirta dengan Hira dari dalam tasnya dan meletakkannya di meja.


Pak Erlangga mengambil foto-foto tersebut dan melihatnya secara bergantian. Terlihat Tirta memang sungguh bahagia saat menatap Hira, bahkan ada foto yang menunjukkan Tirta sedang memeluk Hira (foto yang diambil paparazi).


"Saya rasa foto-foto itu cukup mewakili perasaan putra Anda," ujar Nyonya Ella.


Pak Erlangga menaruh foto-foto itu kembali diatas meja.


"Jadi tujuan Anda, apa? Saya rasa tujuan Anda bukan hanya ingin mengurusi perasaan putra sulung saya," seloroh Pak Erlangga.


"Tujuan saya adalah mempersatukan putra sulung Anda, Tirta dengan gadis yang disukainya itu karena gadis itu telah merusak pesta pertunangan putra saya, Bintang dan Cleo," jelas Nyonya Ella.


Pak Erlangga mengeryitkan dahinya.


"Jadi Anda tidak menyukai gadis itu dan malah meminta saya menjodohkan putra saya dengannya? Apa latar belakang gadis itu sebenarnya?" tanya Pak Erlangga.

__ADS_1


"Gadis itu adalah anak yatim dan mempunyai dua adik kembar yang masih berusia sepuluh tahun. Ibunya hanya berjualan nasi uduk di kampung halamannya. Namun sebenarnya gadis itu mempunyai potensi yang besar, dia merupakan gadis yang cerdas dan menguasai berbagai jenis bahasa asing," jelas Nyonya Ella.


Sejenak Pak Erlangga memikirkan penawaran Nyonya Ella. Selama ini dia memang belum pernah membuat Tirta bahagia. Apa mungkin tawaran Nyonya Ella ini bisa membuat putra sulungnya bahagia? Tapi melihat dari ekspresi wajah Tirta difoto-foto tersebut, terlihat jelas bahwa Tirta sungguh menyukai Hira.


"Baiklah ... saya setuju dengan tawaran Nyonya." Pak Erlangga tersenyum sambil mengulurkan tangannya kepada Nyonya Ella.


"Saya suka dengan keputusan Anda yang tidak bertele-tele," sahut Nyonya Ella sambil menyambut uluran tangan Pak Erlangga.


Malam itu, mereka pun merencanakan bagaimana cara untuk memisahkan Bintang dari Hira lalu mempersatukan Hira dengan Tirta.


.


.


.


***


Rencana licik Nyonya Ella pun dimulai sehari sesudah pertemuannya dengan Pak Erlangga. Dengan bantuan Pak Agung, Nyonya Ella meminta untuk dipertemukan dengan Hira.


Hira nampak takut saat hendak menemui Nyonya Ella. Dengan dijemput supir yang dikirim oleh Nyonya Ella, Hira pun dibawa ke sebuah Villa yang berada di puncak Bogor.


Sesampainya di lokasi, Hira melihat Nyonya Ella sedang menikmati secangkir teh hangat dengan duduk menyilang kaki.


Dengan langkah sedikit ragu, Hira pun menghampiri dan menyapa Nyonya Ella.


Nyonya Ella menoleh dan tersenyum kepada Hira.


"Kemari lah, Nak Hira." Nyonya Ella melambaikan tangannya kepada Hira.


Hira pun berjalan perlahan mendekati Nyonya Ella.


"Silahkan duduk, Nak Hira."


Hira dengan perlahan menduduki sebuah kursi khas halaman belakang yang terbuat dari kayu jati itu.


"Ada apa Nyonya memanggil saya?" tanya Hira dengan rasa penasaran.


Nyonya Ella menyesap tehnya hingga menyisakan setengah di cangkirnya. Dia tak langsung menjawab pertanyaan Hira, dia hanya tersenyum menatap gadis cantik yang polos itu.


"Bagaimana jika suatu saat kamu bisa menikah dengan seorang pria mapan yang mempunyai banyak harta?" tanya Nyonya Ella tiba-tiba.


Mata Hira terbelalak, dia sangat terkejut dengan pertanyaan Nyonya Ella yang tak disangka olehnya.


"M-maksud, Anda?"

__ADS_1


"Jauhi Bintang dan jadilah istri dari Tirta di kemudian hari," tukas Nyonya Ella tanpa beban.


"Mengapa Anda bisa berkata begitu? Bagaimana mungkin saya bisa menjauhi Bintang dan menikah dengan Tirta? Tirta pun hanya menganggap saya sebagai sahabatnya," protes Hira.


"Lihat saja nanti." Nyonya Ella tersenyum licik dan kembali menikmati sisa teh di cangkirnya.


***


Benar saja -- tak lama berselang -- datanglah Tirta dengan keadaan yang sungguh memprihatinkan. Wajahnya penuh dengan luka lebam dan darah yang keluar yang keluar dari pelipis kiri serta ujung bibirnya.


"Hira! Hira! Lo gak apa-apa, kan?" pekik Tirta dengan langkah gontai berjalan mendekati Hira.


Hira yang melihat keadaan Tirta pun langsung beranjak dari tempat duduknya dan berlari menghampiri Tirta.


"Tirta! Kok lo bisa luka kayak gini?" tanya Hira dengan mata yang berkaca-kaca.


"Katanya lo diculik, Ra ... jadi gua ke sini buat nyelametin lo, uhuk!" lirih Tirta.


"Gua gak diculik, Ta." Hira menangis sambil mengusap darah di pelipis Tirta.


Pandangan mata Tirta pun mulai kabur, matanya sudah tidak kuat lagi untuk terbuka. Akhirnya Tirta pun pingsan di pangkuan Hira.


"Tirta!" pekik Hira sembari menepuk pelan pipi Tirta.


Nyonya Ella yang menyaksikan kejadian itu pun tersenyum puas karena berhasil menjebak dan mengiring Tirta untuk datang ke Villa tersebut.


Luka yang didapati Tirta juga merupakan pekerjaan dari suruhan Nyonya Ella yang berjaga di depan Villa.


"Nak Hira ... kau sudah lihat sendiri, kan? Kalau Tirta sangat mencintai dirimu. Mengapa kau tega menyakiti hati seseorang yang begitu mencintaimu dengan tulus?" seloroh Nyonya Ella.


Hira masih menangis melihat Tirta yang pingsan dipangkuannya. Dia memang tidak pernah tahu jelas tentang perasaan Tirta kepadanya karena Tirta memang tidak pernah menyatakannya. Mungkin saat ini pun dia masih tidak menyadari perasaan Tirta kepadanya.


Namun dia sangat tidak habis pikir dengan perbuatan Nyonya Ella yang sungguh tidak berperasaan.


"Anda sudah puas menyiksa kami?!" geram Hira.


"Tinggalkan Bintang!" perintah Nyonya Ella.


Nyonya Ella seakan tidak peduli dan meninggalkan Hira dan Tirta.


.


.


.

__ADS_1


***


Next episode comming soon 😁👍


__ADS_2