Perfect Idol

Perfect Idol
Pembalasan untuk si jahat


__ADS_3

Keesokan paginya sebelum pukul delapan pagi, Bintang bergegas menemui Nyonya Ella di kediamannya. Bintang terlihat terburu-buru mencari Nyonya Ella dan memasuki rumah tanpa memberikan salam lagi. Wajahnya nampak serius karena memikirkan kondisi Hira dan Tirta yang sedang dalam bahaya.


Terlihat Nyonya Ella dan Tuan Harris sedang menikmati sarapannya di ruang makan. Nyonya Ella nampak santai dan tidak memperdulikan suara gaduh yang dibuat Bintang dari kejauhan. Sedangkan Tuan Harris tak dapat berbuat apa-apa.


Brak!


Bintang menggebrak meja makan dan menatap penuh amarah kepada ibu tirinya itu. Mungkin amarahnya sudah mencapai puncaknya. Rasanya dia ingin mencabik-cabik ibu tirinya itu agar tidak mengganggu kehidupan pribadinya dan berbuat semaunya.


Nyonya Ella nampak santai, dia mengelap bibirnya dengan sapu tangan setelah menyelesaikan sarapannya. Raut wajahnya tak menampakkan ekspresi apapun, terlihat seperti biasa.


"Lepaskan Hira dan Tirta sekarang juga!" perintah Bintang.


Nyonya Ella tersenyum smirk menanggapinya.


"Kau sudah memutuskan? Tinggalkan gadis itu maka aku akan melepaskannya dan temanmu, Tirta," ucap Nyonya Ella santai.


Bintang menggertakan giginya, dia makin kesal melihat reaksi ibu tirinya itu.


"Dasar gila!" maki Bintang.


Nyonya Ella tak menanggapi, dia melihat jam tangannya, terlihat sudah pukul 07.57 pagi. Tiga menit sebelum gas beracun itu disebar di seluruh Villa.


"Pikirkan dalam waktu tiga menit atau kau akan menyesal," ancam Nyonya Ella.


Nyonya Ella meminta salah satu pelayannya untuk mengambil laptop yang berada di ruang kerjanya. Dari laptop itu terlihat Hira dan Tirta yang masih berusaha untuk mencari jalan keluar.


"Apa kau ingin melihat mereka mati perlahan?" Nyonya Ella kembali memberikan peringatan.


Bintang mengepal kencang tangannya. Apa yang harus dia lakukan? Apa dia harus menyerah begitu saja? Tapi mungkin memang harus begitu karena dia tidak punya pilihan lain.


Dua menit sudah berlalu, tinggal satu menit bagi Bintang untuk memutuskan sebelum gas beracun itu disebar.


.


.


.


Villa penyekapan Hira dan Tirta.


Hira dan Tirta mencoba mengakali agar mereka berdua bisa keluar dari rumah itu. Namun usaha mereka sepertinya sia-sia saja. Sudah dari semalam mereka mencoba keluar tetap saja gagal.


"Kita harus gimana, Ta?" Hira terlihat sangat khawatir karena mereka tak kunjung bisa keluar dari dalam villa tersebut.


"Kita tunggu aja ... pasti nanti kita bakal dibebasin, Ra," ujar Tirta sembari menenangkan Hira.


Hira pun mencoba untuk tenang dan mencoba mendengarkan saran Tirta.


Baru saja mereka memutuskan untuk tenang, tiba-tiba ada suara bunyi gas yang keluar dari celah-celah plafon villa itu. Mereka berdua saling menatap dan bingung sebenarnya apa yang telah terjadi.


"Ta ... itu bunyi apa? Itu gas apa juga?" Hira terlihat kebingungan dengan situasi yang terjadi.

__ADS_1


Tirta yang menyadari kalau itu adalah gas beracun pun langsung menarik Hira pergi ke ruangan lain. Tapi usaha mereka berpindah ke ruangan lain pun sia-sia karena seluruh ruangan sudah tersebar gas beracun tersebut.


"Gawat, Ra! Kita bisa mati kalo kita gak segera keluar dari sini," ucap Tirta sembari mengacak rambutnya.


"Kita harus gimana, Ta!" Hira terlihat kebingungan dan bahkan menangis.


Mereka berdua terbatuk-batuk akibat menghirup gas beracun itu. Lama-kelamaan mereka berdua pun ambruk dan tak sadarkan diri.


.


.


.


Kediaman Nyonya Ella.


Bintang masih belum memutuskan sehingga melihat pemandangan buruk itu lewat layar laptop. Sudut matanya terlihat berair dan bola matanya memerah. Dia tidak tega jika terus berlama-lama membuat Hira dan Tirta menderita.


"Lepaskan mereka! Aku akan mengikuti semua kemauan, Anda," pinta Bintang.


"Tinggalkan gadis itu dan bertunangan lagi dengan Cleo," tukas Nyonya Ella.


"Baik," lirih Bintang dengan terpaksa.


Nyonya Ella tersenyum penuh kemenangan dan langsung menelpon anak buahnya yang berjaga di villa. Dia memerintahkan untuk menghentikan persebaran gas beracun serta menyelamatkan Hira dan Tirta.


.


.


.


Hira dan Tirta langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan. Beruntung nyawa mereka masih bisa diselamatkan karena belum terlalu lama menghirup gas beracun itu.


Ternyata Nyonya Ella memang tidak main-main. Dia memang ingin membunuh Hira dan Tirta kalau Bintang tidak memenuhi kemauannya. Wanita itu sungguh licik dan jahat. Dia menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya.


Rumah Sakit.


Mata Bintang terlihat berkaca-kaca saat memandang Hira yang terbaring tak sadarkan diri di ruang rawat. Dia menggenggam erat tangan Hira dan kadang sesekali menciuminya.


"Maafin aku yang terlambat kasih keputusan ... akhirnya buat kamu dirawat di sini," lirih Bintang.


"Kamu harus sabar tunggu aku, aku pasti akan balas perbuatan si nenek lampir."


Bintang beranjak dari tempat Hira dirawat dan pergi ke suatu tempat.


.


.


.

__ADS_1


Bintang ternyata menemui Cleo di atap agensi. Saat itu Cleo baru saja selesai latihan dengan para member grup idolanya. Cleo berlari menghampiri Bintang yang sudah menunggunya sedari tadi.


"Gimana keadaan Kak Hira dan Kak Tirta?" tanya Cleo dengan napas yang masih belum beraturan.


Bintang menoleh kearah Cleo. "Mereka baik-baik aja ... untunglah masih belum terlambat."


Cleo menghela napasnya lega dan terduduk di lantai.


"Gua gak habis pikir, kenapa Tante Ella jahat banget kayak gitu," ucap Cleo seakan tidak percaya.


"Entahlah ... gua juga gak paham," tanggap Bintang.


Cleo beranjak berdiri dan berjalan mendekati Bintang yang berada di pinggiran atap gedung. Dia mensejajarkan posisinya tepat disebelah kanan Bintang berdiri.


"Besok kita jadi konferensi pers?" tanya Cleo.


Bintang mengangguk. "Jadi sesuai rencana kita, gua mau bikin nenek lampir itu jera."


"Oke!"


Cleo menepuk bahu Bintang pelan, dia pun berjalan kearah pintu keluar atap agensi untuk segera turun kebawah.


.


.


.


Keesokan harinya, konferensi pers pun diadakan. Tujuan diadakannya konferensi pers ini adalah untuk mengumumkan ulang mengenai acara pertunangan Bintang dan Cleo yang sempat gagal. Nyonya Ella sudah menyuruh bawahannya untuk menyebar rumor tersebut kepada publik.


Nyonya Ella merasa dirinya sudah menang dan berbangga diri karena tujuan dia menikahkan Bintang dan Cleo akan berhasil.


Bintang dan Cleo sudah hadir dan berdiri didepan podium. Mereka berdua saling menatap satu sama lain dan saling mengangguk.


"Selamat siang semuanya, saya Bintang ingin mengumumkan bahwa saya dan Cleo sudah memutuskan untuk tidak akan bertunangan kembali. Kami memutuskan untuk menjalin hubungan sebagai sahabat bukan pasangan kekasih apa lagi suami-istri," tutur Bintang.


"Saya Cleo dan saya membenarkan pernyataan dari Bintang karena kami berdua tidak mempunyai kecocokan untuk menjadi pasangan," tambah Cleo.


"Kami mohon maaf jika ada beberapa pihak yang merasa tersinggung atau tidak setuju dengan keputusan kami berdua," ucap Bintang.


Bintang dan Cleo bergeser ke samping podium dan menundukkan kepalanya sebagai tanda permintaan maaf.


Nyonya Ella beranjak dari kursinya dan merasa tidak terima dengan hal yang Bintang serta Cleo lakukan. Matanya berapi-api karena menahan emosinya.


.


.


.


Next episode comming soon 😁👍

__ADS_1


__ADS_2