Perfect Idol

Perfect Idol
Jika cinta sudah datang


__ADS_3

Marcel melepaskan Hoodie-nya dan memakaikannya ke Fani. Dia pun menuntun Fani yang masih terlihat trauma itu menuju mobilnya.


Sepanjang jalan pulang, Fani hanya diam sambil menatap kearah jendela samping kirinya. Marcel terlihat begitu khawatir karena Fani bersikap seperti itu.


"Lo gak apa-apa 'kan, Fan?" tanya Marcel.


"Gak apa-apa, Kak ... makasih, ya," jawab Fani.


Marcel menghela napasnya lega ketika mendengar Fani menjawab pertanyaannya.


"Setiap hari lo pulang sendirian, Fan?" tanya Marcel.


Fani hanya mengangguk.


"Mulai besok kalo gua gak ada kegiatan keartisan ... gua yang bakal jemput lo," tukas Marcel.


Fani pun terkejut dan langsung menengok kearah Marcel.


"Tapi nanti tunangan kakak marah," sahut Fani.


"Ha-ha-ha! Tunangan dari mana? Gua mana punya tunangan," tanggap Marcel sembari masih fokus mengendalikan kemudi mobilnya.


"Kan beritanya udah tersebar luas, Kak ... lagian waktu itu gua liat kakak ciuman...." Fani tiba-tiba menghentikan ucapannya.


Marcel pun menghentikan mobilnya di bahu jalan.


"Lo liat kejadian itu? Terus lo lari sambil nangis?" selidik Marcel sembari menatap tajam mata Fani.


Deg!


Jantung Fani berdegup kencang bagai orang yang habis lari maraton.


Kak Marcel! Tolong jangan tatap gua kayak gitu! Jantung gua bisa copot!


"Fan...." lirih Marcel.


"I-iya ... Kak?" sahut Fani kikuk.


"Kenapa lo nangis waktu malem itu?" tanya Marcel.


"Kapan, Kak? Gua gak pernah nangis," kilah Fani.


"Dean yang kasih tau," ungkap Marcel.


Waduh! Iya gua lupa kalo ketemu Kak Dean, batin Fani merutuki dirinya.


"G-gua cuma...." Fani bingung melanjutkan kata-katanya, dia hanya menundukkan kepalanya.


"Dia itu Luna, mantan pacar gua sebelum gua debut jadi member Number One ... malem itu entah kenapa dia dateng dan tiba-tiba cium gua ... gua juga udah gak ada perasaan apa-apa ke dia," jelas Marcel.


Tanpa disadari, wajah Fani terlihat lega saat mendengar penjelasan dari Marcel. Marcel tersenyum melihat perubahan wajah Fani walaupun Fani menundukkan kepalanya.


"Lo juga suka sama gua 'kan, Fan?" tanya Marcel tiba-tiba.


Deg!


Lagi-lagi jantung Fani ingin lari dari tempatnya. Pertanyaan Marcel membuat dirinya terkejut. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa dia memang menyukai Marcel, bukan hanya sebagai seorang fans tapi sebagai seorang gadis yang menyukai pemuda pujaaan hatinya.


"I-iya...." jawab Fani kikuk.


"Lo mau 'kan jadi pacar gua?" tanya Marcel.


Dengan malu-malu, Fani menganggukkan kepalanya.


Marcel yang terlihat senang pun sontak memeluk Fani.


"Makasih, Fan!" teriak Marcel girang.


Suasana canggung pun terjadi lagi saat Fani hanya diam saja saat dipeluk oleh Marcel.

__ADS_1


"M-maaf ... Fan," ujar Marcel sembari melepaskan pelukannya.


Fani hanya diam saja tapi dia tiba-tiba tersenyum dan mengecup bibir Marcel sekilas.


Cup!


Kali ini bukan hanya gadis itu yang pipinya memerah. Tapi wajah Marcel pun memerah karena kecupan manis yang tiba-tiba dari Fani.


Mereka pun saling menatap dan tersenyum. Malam itu mungkin tidak jadi malam yang penuh dengan rasa trauma bagi Fani, melainkan menjadi malam yang sungguh membuatnya bahagia.


Seorang Marcel telah menghapus jejak trauma yang diberikan oleh Doni. Jejak yang tersisa hanyalah sebuah kebahagiaan bagi gadis itu.


.


.


.


***


Keesokan siangnya.


Jerry terlihat sedang mengendarai mobilnya. Dia mengendarai mobil sambil mendengarkan lagu. Akhirnya dia bisa kembali ke dorm setelah sekian lama disandera oleh orang tuanya, untuk belajar cara mengelola perusahaan dan membangun relasi bisnis.


Tak sengaja Jerry melihat gadis yang dikenalnya sedang kebingungan di pinggir jalan. Dia pun memberhentikan mobilnya di bahu jalan. Jerry pun turun dan menghampiri gadis itu yang ternyata adalah Luna.


"Ngapain?" tanya Jerry yang sontak membuat Luna yang sedang berjongkok itu kaget.


"Bikin kaget aja, sih!" pekik Luna.


"Ha-ha-ha! Gitu aja kaget," ejek Jerry.


"Terserah!" sahut Luna dengan wajah kesal.


Jerry pun memperhatikan ban mobil Luna yang ternyata kempes.


"Oh ... jadi kempes, toh," gumam Jerry.


"Aw!" pekik Luna kesakitan.


"Ha-ha-ha! Ban mobil gak salah ditendang, kena batunya, kan," ujar Jerry sembari tertawa terbahak-bahak.


"Kalo cuma mau ngejek mending lo pergi sono!" usir Luna.


Jerry terkekeh melihat wajah Luna yang kesal.


"Ada ban serep, gak?" tanya Jerry.


"Gak ada," jawab Luna singkat.


"Mending panggil mobil derek dan bawa ke bengkel ... kalo lama-lama di sini mobil lo bisa kena denda," saran Jerry.


"Lo ada nomornya?" tanya Luna.


"Gak ada, lo browsing aja di internet," jawab Jerry.


Jerry melihat jam tangannya.


"Gua duluan, ya ... jangan lupa panggil mobil derek, terus lo mending pesen taksi online dan pulang, soalnya panas banget," ucap Jerry sembari menghalangi wajahnya dengan tangan dari sinar matahari siang yang panas.


Jerry pun berjalan menuju mobilnya dan meninggalkan Luna.


"Tunggu!" panggil Luna.


Jerry menoleh. "Kenapa?"


Luna berlari kecil mendekati Jerry.


"Gua nebeng dan tolong teleponin mobil dereknya," pinta Luna sambil sedikit menundukkan wajahnya.

__ADS_1


Jerry tersenyum smirk.


"Nyusahin," gumam Jerry.


"Apa?!" tanya Luna penasaran.


"Gak apa-apa, ya udah kalo mau ikut gua," ajak Jerry.


Luna pun berjalan cepat mengikuti Jerry. Dia tidak memperhatikan langkahnya dan kepalanya menabrak punggung Jerry.


Buk!


"Aw!" pekik Luna sembari mengusap kepalanya.


Sontak Jerry menoleh, dia tersenyum melihat Luna yang sedang mengusap kepalanya yang sakit.


"Makanya jalan itu pake mata," ujar Jerry sembari mengusap kepala Luna.


Jerry sangat tinggi dibandingkan Luna, dengan postur tubuh setinggi 183 centimeter. Sehingga Luna harus mendongak saat menatap Jerry.


Tanpa disadarinya, wajah Luna pun bersemu merah akibat perlakuan Jerry. Jerry hanya bersikap biasa saja dan melanjutkan langkahnya menuju mobilnya.


"Gua jalan pake kaki!" pekik Luna dengan wajah yang masih bersemu merah.


"Buruan! Nanti gua tinggal juga," ancam Jerry.


Luna pun terburu-buru mengikuti Jerry agar tidak ditinggal.


***


Di dalam mobil Jerry.


Luna menaiki kursi belakang mobil Jerry. Hal itu pun sontak membuat Jerry menjadi protes.


"Ngapain lo duduk belakang? Lo pikir gua supir!" protes Jerry.


"Iya bawel gua pindah!" sahut Luna.


Luna pun akhirnya pindah ke kursi depan samping kemudi.


"Pake seat belt-nya," perintah Jerry.


"Iya cerewet banget, sih!" pekik Luna.


Luna pun mencoba memasang seat belt-nya tapi dia terlihat kesulitan. Jerry yang tidak tahan melihatnya pun akhirnya mencoba membantu Luna.


"Pake gitu aja gak becus!" ejek Jerry.


Tak sengaja tangan Jerry menyentuh tangan Luna.


Deg!


Jantung keduanya pun berdegup kencang. Mata mereka saling menatap satu sama lain cukup lama.


Ceklek!


Seat belt sudah terpasang. Jerry dan Luna pun langsung menghindar masing-masing. Suasana pun menjadi sedikit canggung.


"Mau gua anter ke mana?" tanya Jerry kikuk.


"Sebenernya gua mau ke Mall, mau shopping," jawab Luna sedikit ragu.


Jerry pun menghela napasnya. Apa mungkin Luna minta ditemani shopping oleh Jerry? Jerry tidak suka shopping.


.


.


.

__ADS_1


***


Next episode comming soon 😁👍


__ADS_2