Perfect Idol

Perfect Idol
Aku ingin lebih mengenalnya


__ADS_3

Bintang masih terlihat sangat kesal karena mendengar berita Tirta dan Hira berkencan. Dia masih tak beranjak dari tempat dimana dia menabrak pohon, kebetulan suasana sepi jadi tidak ada orang yang melihat. Tak berapa lama ponsel Bintang pun bergetar.


Drrt-drrt-drrt!


Bintang tak memperdulikan panggilan di ponselnya, ternyata panggilan itu berasal dari Hira. Berulangkali ponsel Bintang bergetar, panggilan-panggilan itu berasal dari Hira dan teman-temannya.


"Ck!" dengus Bintang.


Bintang melajukan mobilnya pergi dari tempat itu.


.


.


.


***


Sementara itu, Hira dan para member Number One yang lain sudah berada di dorm. Raut wajah mereka terlihat khawatir karena Bintang tak kunjung mengangkat telepon dari mereka. Selang beberapa saat, terdengar suara deru mesin mobil yang berasal dari depan halaman dorm. Mereka pun langsung bergegas menuju halaman depan dorm, terutama Hira yang berlari lebih dahulu.


"Bintang!" teriak Hira dengan wajah yang khawatir.


Hira berlari mendekati Bintang tapi Bintang terlihat tidak peduli dan melewatkan Hira begitu saja. Bintang dengan memasang raut wajah muramnya terus berjalan masuk kedalam dorm.



"Bin...." lirih Tirta sambil memegang pundak Bintang yang lewat didepannya.


Bintang tidak peduli dan langsung masuk menuju kamarnya yang ada di lantai dua.


Mereka hanya saling menatap dan tak dapat berbuat apa-apa.


"Biarin Bintang tenang dulu," saran Marcel kepada Hira dan teman-temannya.


Mereka pun hanya mengiyakan saran dari Marcel.


"Ra, mending lo pulang dulu, gih. Bintang kayaknya lagi gak bisa diganggu. Bintang itu anaknya sedikit keras kepala. Jadi, dimaklumi ya, Ra?" Marcel memberi pengertian kepada Hira.


"Bener kata Marcel, nanti kalo Bintang emosinya udah stabil, kami hubungi, deh." Dean menimpali ucapan Marcel.


Tirta hanya terduduk lemas di kursi kayu yang berada di teras dorm. Dia nampaknya memikirkan sesuatu atau bahkan menyesali sesuatu.


Ini salah gua ... wajar Bintang marah. Gua juga gak ngerti, kenapa tadi malam gua malah nemuin Hira. Hira yang gak tau apa-apa akhirnya jadi korban kemarahan Bintang. Gua harus segera kasih tau yang sebenernya ke Bintang.


"Ta? Tirta?!" teriak Dean kepada Tirta yang masih melamun.


Tirta pun sadar dari lamunannya. "Eh! Iya."


"Jangan ngelamun, yuk masuk," ajak Dean.


Tirta pun menuruti ajakan Dean untuk masuk kedalam.


Tersisa lah Hira, Marcel dan Jerry yang berada di teras dorm.


"Jer, lo masuk dan pantau situasi sampe Bintang bener-bener stabil emosinya, biar gua yang nganter Hira balik," ucap Marcel.


"Biar Jerry aja, Kak, yang nganter Kak Hira," bantah Jerry.

__ADS_1


"Gak boleh! Lo belum genap 17 tahun dan belum punya SIM," ujar Marcel.


Jerry hanya pasrah dan tak membantah lagi ucapan Marcel.


.


.


.


***


Di dalam mobil Marcel.


Suasana terasa sangat hening karena tidak ada percakapan diantara mereka berdua selama perjalanan. Marcel yang sedari tadi mencuri pandang ke Hira pun berusaha untuk memulai percakapan.


"Ra ... jadi kejadiannya memang gimana?" tanya Marcel.


Hira yang sedari tadi diam dan menunduk pun tersadar dari lamunannya.


"Tirta semalem dateng nemuin gua, tapi bukan karena gua dan Tirta ada hubungan dibelakang Bintang," jawab Hira.


Marcel mencoba memahami jawaban dari Hira dan menganggukkan kepalanya.


"Gua gak pernah liat Bintang semarah itu kalo urusan cewek," ujar Marcel.


"Bintang gak pernah punya mantan pacar? Atau seseorang yang dia sukai gitu?" tanya Hira penasaran.


Marcel menggeleng dan menjabarkan apa yang dia ketahui tentang Bintang. "Gak pernah punya dan dia gak tertarik sama sekali kayaknya, selama ini dia cuma fokus dengan karir, dia itu paling patuh sama peraturan agensi yang gak ngebolehin pacaran sebelum lima tahun berkarir."


"Terus Tirta ngapain nemuin lo semalem? Tirta lagi ada masalah? Ayahnya?" selidik Marcel lebih jauh.


Hira hanya mengangguk tanpa menjawab sepatah katapun.


Marcel menghela nafasnya dalam-dalam. "Tirta biasanya tertutup dengan orang lain, bahkan dengan kami pun dia gak pernah cerita."


"Sifat Tirta itu gak beda jauh dengan Bintang, mereka berdua sama-sama suka menyimpan rahasia." Marcel menambahkan perkataannya.


"Tapi darimana Kak Marcel tau, kalo Tirta ada masalah sama ayahnya?" tanya Hira penasaran.


"Kebetulan ibunya Tirta itu temen ibu gua, kadang ibunya Tirta sering cerita ke ibu gua kalo dia sering dipukuli sama ayahnya Tirta. Dia gak pernah cerita sedikit pun ke kami," jawab Marcel.


"Dan Kak Marcel, tau darimana kalo Bintang suka menyimpan rahasia?" Hira merasa penasaran mengenai kekasihnya itu.


Marcel tersenyum menanggapi rasa penasaran Hira dan menceritakan panjang lebar kepada Hira. "Belum lama ini, sikap Bintang berubah drastis ke kami, entah ada masalah apa. Tapi sebelum ke Jepang waktu itu, akhirnya dia minta maaf dan sikapnya sedikit lebih hangat, terutama setelah ketemu dengan lo, Ra."


Hira mencoba memahami apa yang sudah diceritakan oleh Marcel. Hira merasa bahwa dia bahkan belum mengenal sosok Bintang yang menjadi kekasihnya sekarang. Mulai saat ini Hira ingin sekali mengenal sosok Bintang lebih dalam.


Akhirnya mereka berdua sampai didepan kosan Hira.


"Makasih, Kak." Hira menundukkan kepalanya kearah Marcel.


"Ha-ha, kayak apa aja, kita kan teman." Marcel tersenyum kepada Hira.


Marcel hendak menutup kaca mobilnya tapi Hira menginterupsinya.


"Kak! Nanti kalo Bintang emosinya udah reda, titip omongan, ya?" ujar Hira.

__ADS_1


"Omongan apa?"


"Hira sayang banget sama Bintang!" Hira berteriak kencang dengan rona merah yang muncul dikedua pipinya.


"Oke!" Marcel mengacungkan jempol kanannya kepada Hira sambil tersenyum simpul.


Marcel pun berlalu dengan melajukan kencang mobilnya.


.


.


.


***


Di dorm pukul 21.47 WIB.


Kamar Bintang.


Bintang terlihat tidak dapat memejamkan matanya dan hanya berguling-guling di atas kasurnya. Sedari tadi dia hanya mengunci dirinya didalam kamar. Berkali-kali temannya mengetuk pintu tidak ada yang digubrisnya. Tirta pun berulang kali ingin menjelaskan kejadian sebenarnya pun tidak ditanggapi. Bintang memang terkenal keras kepala jika sudah marah.


Tiba-tiba Marcel berteriak dengan suara yang terdengar sedikit khawatir tetapi kencang serta emosional.


"Bin! Buruan buka pintunya! Hira ... Hira, Bin ... dia mengalami ... hiks."


Dengan cepat Bintang membuka pintu kamarnya dan terlihat panik.


"Hira, kenapa?!" Bintang menggoncang kedua pundak Marcel dengan tenaga maksimal.


Marcel tidak menjawab hanya memasang wajah sedih, begitu pun ketiga temannya yang lain.


Bintang terlihat sangat kebingungan dan sangat khawatir. "Hi-ra kenapa?!"


Tiba-tiba raut wajah mereka semua berubah menjadi ceria dan mereka tertawa terbahak-bahak melihat reaksi Bintang.


"Ha-ha-ha! Hira gak kenapa-kenapa, Bin." Dean menjawab sambil tertawa.


"Kak Hira itu mengalami rasa rindu yang membuncah ke Kak Bintang, ha-ha-ha," sahut Jerry masih sambil tertawa.


"Betul, tuh, ha-ha-ha," timpal Marcel.


Bintang memasang wajah datar saat melihat temannya yang masih tertawa. Bintang pun hendak masuk lagi ke kamarnya. Namun tangannya ditahan oleh Tirta.


"Tunggu! Dengerin dulu penjelasan gua," ucap Tirta.


.


.


.


***


^Semoga mereka akur lagi deh, hehe 😁👍^


Next Episode>>

__ADS_1


__ADS_2