
Cleo masih menatap tajam kearah Bintang dan Hira sedangkan Bintang makin mengeratkan genggaman tangannya kepada Hira. Bintang menghela nafasnya dan mulai membuka suaranya.
"Emang apa urusannya sama, Lo?" Bintang bertanya sambil membalas tatapan mata Cleo yang tajam dengan tatapan mata yang tajam pula.
Cleo tersenyum smirk seakan merendahkan. "Jadi, cewek model begini yang buat lo nolak gua?"
Hira tak berani menatap mata Cleo dan hanya menundukkan wajahnya. Bintang menyadari bahwa Hira berada dalam posisi yang tidak nyaman.
"Kenapa? Memangnya ada masalah dengan cewek pilihan gua? Inget ya, Cleo Renata, gua gak akan pernah mau terima perjodohan konyol itu." Bintang pergi meninggalkan Cleo sambil menuntun Hira.
Sial! Bintang kena pelet ya sama cewek kampungan itu? Gua gak bisa terima! Gua harus dapetin Bintang! batin Cleo.
.
.
.
***
Bintang membawa Hira menuju atap gedung agensi, karena tempat itu adalah tempat favorit Bintang saat tak ada kegiatan. Baru saja sampai, Hira melepaskan genggaman tangan Bintang.
"Kenapa dilepas?" tanya Bintang heran.
"Gak apa-apa, kok." Hira menjawab dengan nada suara yang canggung.
"Kamu kenapa? Kok jadi aneh?" Bintang terlihat khawatir melihat perubahan sikap Hira setelah bertemu Cleo.
Hira tak langsung menjawab pertanyaan Bintang, dia hanya diam sehingga membuat Bintang bingung.
"Sayang?" Bintang melambaikan tangannya ke wajah Hira.
Akhirnya Hira pun mengungkapkan apa yang membuatnya berubah sikap. "Kamu mau dijodohin sama si Cleo?"
Bintang mengacak rambut Hira sambil menyunggingkan senyuman. "Kamu cemburu?"
"Ih! Bukan gitu, aku ini nanya, loh," protes Hira sambil merapikan rambutnya.
Bintang pun menjawab pertanyaan dari Hira. "Iya, kemaren pas baru aja sampe di dorm tiba-tiba aku dijemput dan disuruh pulang ke rumah sama orang tua aku."
"Mereka ternyata udah ngundang Cleo dan orang tuanya untuk ngebahas masalah perjodohan," sambung Bintang.
Hira pun berusaha mencerna perkataan dari Bintang. "Terus gara-gara itu kamu dateng ke kosan aku tanpa ganti baju dulu?"
Bintang hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Aku belum siap kalo ngomong mencintai kamu tapi yang jelas perasaan aku ke kamu tulus," ungkap Bintang.
Hira mengeryitkan dahinya. "Jadi, kamu gak cinta sama aku?"
"Bukan aku gak cinta sama kamu, tapi aku takut buat ungkapin kalimat itu," jelas Bintang.
"Takut kenapa?" tanya Hira heran.
__ADS_1
"Takut kamu baper dan gak mau lepasin aku, he-he!" canda Bintang.
Hira memukul-mukul pundak Bintang karena merasa kesal telah digoda dan dibuat heran. "Dasar kamu!"
Bintang hanya tertawa melihat Hira yang nampak kesal. Dia pun meraih kedua tangan Hira dan menggenggamnya sambil tersenyum kepada kekasihnya itu. Bintang selama ini belum pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya. Selama ini hidupnya hanya berkutat seputar ibunya yang terbaring koma di rumah sakit dan kesibukannya sebagai seorang idola. Namun kini ada Hira yang mengisi hatinya.
.
.
.
***
Malam harinya, di dorm Number One.
Bintang sedang sibuk eksperimen memasak sesuatu di dapur. Jerry yang sedari tadi menonton televisi pun terkaget karena keributan yang dibuat oleh Bintang. Jerry pun menghampiri Bintang ke dapur.
"Kak Bintang, ngapain?" tanya Jerry.
"Gak liat gua lagi masak?" Bintang berbalik tanya kepada Jerry.
"Kayaknya lebih pantes disebut perang bukan masak," tanggap Jerry dengan muka malas.
Bintang hanya cengar-cengir menanggapi ucapan Jerry.
"Sedari tadi gua gak liat Tirta, kemana ya dia?" tanya Bintang penasaran sembari mengiris bawang bombai.
"Kak Tirta pulang ke rumahnya tadi sebelum Kak Bintang pulang," jawab Jerry.
"Kakak mau masak apa, sih?"
"Mau bikin spaghetti carbonara."
Bintang tidak fokus dengan Jerry yang masih mengoceh. Dia hanya terfokus dengan jawaban Jerry yang mengatakan kalau Tirta pulang ke rumah.
Tumben si Tirta pulang, ada apa ya? batin Bintang.
"Kak! Awas jari lo kepotong!" teriak Jerry.
Bintang pun terkaget karena teriakan dari Jerry.
"Eh! Iya!"
"Mikirin apa sih, Kak? Sampe gak fokus gitu?"
"Uhm ... gak mikirin apa-apa, cuma takut gagal bikin spaghetti-nya," kilah Bintang.
.
.
.
__ADS_1
***
Rumah utama keluarga Dewantara.
Suasana terlihat mencekam karena hari hampir menjelang malam dan ditambah dengan langit yang terlihat gelap dan ingin menangis. Baru saja Tirta menginjakan kaki di halaman rumahnya, sudah terdengar suara jeritan seorang wanita. Wajah Tirta tampak panik dan langsung berlari menuju pintu rumahnya. Baru saja masuk kedalam rumah, Tirta terkaget dengan apa yang dilihatnya.
"Ibu! Ibu gak apa-apa?!" teriak Tirta sambil membantu seorang wanita paruh baya yang terduduk lemas dilantai dengan muka lebam di wajahnya.
"Jadi, masih ingat rumah?!" teriak seorang pria paruh baya berperawakan tinggi dan memakai setelan jas branded berwarna hitam.
Pria tersebut adalah ayah kandung dari Tirta, yaitu Erlangga Dewantara. Dia merupakan seorang CEO perusahaan properti terkaya di Indonesia.
Tirta tidak menanggapi perkataan ayahnya, dia hanya fokus membantu wanita paruh baya itu yang merupakan ibu kandungnya. Ibu kandung Tirta adalah seorang aktris papan atas di era tahun 90an dan masih terkenal hingga sekarang, dia bernama Amalia Dewi.
"Dasar anak durhaka!" teriak pria itu yang merupakan ayah kandung Tirta.
Prang!
Sebuah gelas melayang tepat dilantai tidak jauh dari Tirta berdiri.
Tirta merasa tidak dapat menahan emosinya, dia pun membantu ibunya duduk disebuah sofa dan datang menghampiri ayahnya.
"Saya kesini hanya untuk bertemu ibu saya," tukas Tirta tegas.
"Ha-ha-ha!" tawa Pak Erlangga seakan membuat suasana yang tegang itu menjadi semakin mencekam.
"Dasar penghibur! Tirta anak ayah, sudah pernah ayah katakan bahwa lebih baik kamu jangan ikuti jejak wanita j*lang itu," ucap Pak Erlangga sambil menunjuk istrinya.
Tirta mendengus kesal mendengar ucapan dari ayahnya itu. "Apa salahnya menjadi seorang penghibur?"
"Kalian itu hanyalah sebuah boneka yang dipaksa tersenyum didepan orang banyak dan kamera, lihat saja betapa menjijikkannya wanita itu ketika tersenyum dihadapan semua orang terutama pria," ucap Pak Erlangga.
Tirta tersenyum smirk menanggapi ucapan ayahnya itu. Rasanya dia ingin menghantam wajah ayahnya dengan sebuah vas bunga yang berada tidak jauh dari tempat dia berdiri. Namun hal itu diurungkan olehnya karena dia melihat sosok gadis berumur sepuluh tahunan yang berdiri ketakutan dibalik sebuah tangga. Gadis itu merupakan adik kandung Tirta satu-satunya, yang bernama Gina.
"Saya tidak ingin membuat keributan disini, permisi." Tirta menghampiri ibunya dan membantu ibunya berjalan menuju kamarnya.
Pak Erlangga hanya tertawa mendengar ucapan dari anak sulungnya itu.
"Dulu saya memang tergila-gila pada sosok Amalia Dewi, saya menikahi dia agar dia berhenti dari dunia hiburan yang terkutuk itu namun dia tidak menurut dan malah menyeret anak laki-laki saya satu-satunya untuk masuk ke dunia terkutuk itu."
Langkah Tirta sejenak terhenti mendengar ucapan dari ayahnya.
"Ibu tidak pernah menyeret saya kesana, itu kemauan saya sendiri jadi jangan pernah salahkan ibu dan jangan menyiksanya lagi, saya mohon," lirih Tirta.
Tak ada jawaban dari Pak Erlangga, yang terdengar hanya suara dengus kesal darinya dan suara langkah kaki yang terdengar menuju pintu keluar rumah.
.
.
.
***
__ADS_1
^Hola guys... maafkan aku ya yang up nya sangat slow ya dikarenakan ada banyak hal yang harus aku lakukan di dunia nyata tapi aku berjanji akan tetap up kok, terimakasih sudah setia membaca cerita ini 😁👍^