Perfect Idol

Perfect Idol
Hampir saja


__ADS_3

Sesuai janjinya, Marcel pun mencoba menemui ayah Luna di kantornya. Dengan penampilan khas seorang idol yang menyamar, dia mulai memasuki lobby gedung perusahaan tersebut.


"Siapa kamu?!" teriak satpam penjaga gedung.


"Maaf Pak ... saya kesini untuk menemui Pak Ari Dinata," sahut Marcel.


"Ada urusan apa kamu mencari Pak Ari? Tampang mu saja mencurigakan," ujar satpam itu curiga.


Marcel terlihat kesulitan untuk mengakses masuk ke dalam gedung karena dihalangi oleh satpam penjaga itu.


***


Selagi Marcel masih berdebat dengan satpam, datanglah ayah Jerry, Pak Robby Pratama dengan Jerry yang mengekor dibelakangnya.


Satpam tersebut mempersilahkan Pak Robby dan Jerry. Jerry yang sedari tadi fokus dengan game di ponselnya tidak menyadari ada Marcel di sana.


"Pssttt! Jer! Jerry!" desis Marcel seraya memanggil Jerry.


Jerry pun terhenyak dan mencari sumber suara yang mencarinya itu. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan akhirnya menemukan sosok Marcel yang menggunakan masker dan Hoodie.


"Kak Marcel?! Ngapain kakak di sini?" tanya Jerry seraya berjalan mendekati Marcel.


Marcel memberi kode kepada Jerry dengan memainkan bola matanya kearah satpam.


Jerry pun mengerti, bahwa Marcel sepertinya mengalami kesulitan untuk memasuki gedung karena dihalangi oleh satpam.


"Pak ... dia ini teman saya, jangan halangi dia masuk," kata Jerry kepada satpam itu.


"Baik ... maaf dan silahkan masuk," sahut satpam itu.


Jerry tersenyum smirk dan mengajak Marcel untuk masuk bersamanya.


Pak Robby yang menyadari bahwa anaknya berhenti mengikutinya pun menunggu Jerry di depan lift.


"Kamu ngapain?" tanya Pak Robby sembari menatap Jerry dan Marcel.


Jerry hanya nyengir kuda tanpa menjawab.


"Nak Marcel? Ada apa kemari? Ah! Kamu kekasih anak Pak Ari, ya?" ujar Pak Robby.


"Sebenarnya bukan, Om...." jawab Marcel agak bingung menjelaskannya.


"Ya sudah ... kita masuk lift dulu, nanti kamu bisa cerita," tanggap Pak Robby.


Di dalam lift, Marcel menceritakan perihal masalahnya dengan Luna dan ancaman Pak Ari untuk berhenti menjadi investor di agensi milik Pak Agung.


Pak Robby manggut-manggut sembari memegang dagu mendengarkan penjelasan singkat Marcel.


"Nanti saya akan bantu jelaskan pada Pak Ari dan membujuknya untuk tidak berhenti menjadi investor," ucap Pak Robby tiba-tiba.


"M-makasih, Om...." sahut Marcel sambil menundukkan kepalanya.


Pintu lift pun terbuka, Pak Robby keluar terlebih dahulu. Sedangkan Marcel dan Jerry berjalan di belakangnya. Tiba-tiba Marcel menarik lengan Jerry seolah ingin membicarakan sesuatu.


"Jer ... itu beneran bokap lo?" tanya Marcel heran.


"Iya lah ... emang kenapa, Kak?" Jerry penasaran.


"Dia kok jadi pengertian gitu," tukas Marcel.


Jerry hanya memasang tampang yang terlihat sedang menahan tawa.


***


Sejak saat Jerry mengetahui fakta dia memiliki saudara kembar, sikap Pak Robby perlahan berubah lebih lembut dan pengertian. Pak Robby merasa bersalah kepada anak satu-satunya yang masih berada disisinya itu.


Pak Robby pun sudah tidak memaksa Jerry untuk berhenti menjadi seorang idol. Namun Jerry harus tetap belajar mengelola perusahaan, karena suatu saat dia pasti yang akan mewarisi semua aset milik ayahnya.


Syarat bagi Jerry, saat 10 tahun lagi harus berhenti dari dunia hiburan pun sudah dihapuskan oleh Pak Robby.


***

__ADS_1


"Kalian jangan gosipin saya terus ... ayo jalan," celetuk Pak Robby seolah tahu apa yang sedang dibincangkan oleh Jerry dan Marcel.


"Oke! Bos!" sahut Jerry sembari memberi hormat.


Marcel hanya tersenyum melihat situasi itu.


.


.


.


***


Malam harinya, di dorm Number One. Marcel baru saja pulang dari kantor ayahnya Luna. Dengan bantuan Pak Robby, dia berhasil membujuk Pak Ari untuk tidak berhenti menjadi investor agensi. Bahkan Pak Ari merasa tertohok saat Pak Robby berbicara bahwa dia akan menyesal menolak Marcel untuk menjadi calon menantunya.


"Gimana? Sukses, Kak?" tanya Tirta yang sedang rebahan di kursi ruang televisi sambil memainkan ponselnya.


"Sukses dibantuin sama bokapnya Jerry," jawab Marcel seraya membuka masker dan Hoodie-nya.


"Bokap Jerry? Kangen juga sama itu anak, kapan dia balik ke sini?" ujar Tirta.


"Besok katanya dia balik ke sini," sahut Marcel.


Marcel melihat suasana dorm yang begitu sepi pun merasa heran. Pasalnya, dia tidak menemukan Bintang dan Dean di sana.


"Bintang sama Dean kemana? Emang gak pada latihan?" tanya Marcel.


"Bintang ... biasa lah dia ngebucin sama Hira, terus Kak Dean udah tidur katanya ngantuk berat," jawab Tirta.


"Mau latihan gak semangat, gak lengkap, sih...." tambah Tirta.


"Laper, gak?" tanya Marcel.


"Laper tapi males masak," jawab Tirta singkat.


"Tinggal pesen antar aja kok repot," celetuk Marcel.


"Nih!" Marcel melemparkan sebuah bungkusan berisi kwetiau goreng kepada Tirta.


"Makasih, Kak!" sahut Tirta.


"Jangan lupa olahraga, jangan langsung tidur," pesan Marcel sambil berjalan masuk menuju kamarnya.


.


.


.


***


Marcel merebahkan tubuhnya di atas kasur. Tiba-tiba pikirannya tertuju kepada Fani. Dia terpikirkan ucapan Dean yang melihat Fani menangis saat melihatnya dengan Luna malam itu.


"Fani apa kabar, ya? Dia baik-baik aja, kan?" gumam Marcel sambil melihat langit-langit kamarnya.


Marcel beralih melihat jam tangannya, waktu masih menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Dia pun beranjak dari kasurnya dan keluar dari kamar lagi.


Tirta yang sedang menikmati kwetiau pun heran melihat Marcel yang sepertinya terburu-buru ingin pergi lagi.


"Mau kemana lagi, Kak?" tanya Tirta.


"Mau ngejer cinta!" sahut Marcel sembari mengambil kunci mobilnya dan berlari keluar.


Tirta geleng-geleng kepala. "Seenggaknya mandi dulu, lah."


.


.


.

__ADS_1


***


Marcel melajukan cepat mobilnya ke toko roti tempat Fani bekerja. Dia takut Fani sudah keburu pulang dan dia tak sempat menemuinya.


Saat baru sampai, terlihat Fani sedang menutup toko. Marcel hanya memandangi Fani dari kejauhan sembari tersenyum.


Kok gua gak berani ya deketin Fani.


Tak berapa lama, terlihat ada Doni yang datang menghampiri Fani.


Kayaknya emang Fani cinta mati sama Doni.


Marcel terlihat sedikit kecewa dan memutuskan untuk pergi.


***


Doni menghampiri Fani dan memohon untuk dimaafkan.


"Fan ... maafin aku udah kasar malem itu. Aku nyesel, Fan," bujuk Doni.


"Gak perlu minta maaf, lagian kamu udah punya pacar baru, kan," ujar Fani.


"Pacar baru yang mana? Gak ada, Fan ... aku cuma cinta sama kamu," ucap Doni.


"Mending kamu pulang, biar aku pulang sendiri," ujar Fani seraya berjalan meninggalkan Doni menuju halte bus.


Doni masih saja membujuk Fani dan menarik lengannya kasar.


"Kamu jangan sombong jadi orang, Fan!" bentak Doni.


Doni melihat ke sekeliling dan dia pun tersenyum licik melihat tidak ada siapa-siapa disekitar situ.


Doni pun mencoba melecehkan Fani, dia menarik baju Fani hingga sobek sehingga terlihat pakaian dalam milik Fani. Fani mencoba membela diri tapi tak berdaya. Dia hanya bisa menangis dan teriak minta tolong tapi mulutnya dibekap oleh Doni.


"Selama pacaran satu tahun sama lo, gua gak pernah nyicipin lo sekalipun! Gua jadi penasaran," seringai Doni.


Doni menyeret Fani masuk ke gang gelap tepat disamping toko roti dan mendorong Fani hingga tersungkur.


Doni mulai beraksi melecehkan Fani dan Fani menangis sejadi-jadinya.


"Woy! Lepasin dia!" teriak Marcel.


Ternyata Marcel memutuskan untuk kembali dan tidak jadi pergi.


Marcel menarik kerah belakang baju Doni dan melemparnya menjauh dari Fani.


"Kurang ajar!" pekik Doni melayangkan tinjunya kearah wajah Marcel.


Marcel tidak mau kalah dan membalas pukulan Doni. Marcel terlihat sangat murka dan memukuli Doni berkali-kali tanpa ampun.


Akhirnya Doni menyerah dan lari tunggang langgang.


***


Marcel mendekati Fani yang masih terlihat ketakutan.


"Lo gak apa-apa, kan?" tanya Marcel.


"G-gua takut, Kak...." lirih Fani sembari menangis.


Marcel pun memeluk Fani untuk menenangkannya.


"Tenang ... ada gua, Fan ... Doni udah pergi," ujar Marcel sembari mengusap kepala belakang Fani.


.


.


.


***

__ADS_1


Next episode comming soon 😁👍


__ADS_2