
Marcel terkejut dengan apa yang dilihatnya. Di dalam rumah itu ternyata ramai sekali orang yang memegang lilin. Terlihat Doni sedang memakaikan sebuah kalung dileher Fani.
"Kak Marcel kok bisa ada disini?" tanya Fani heran.
Marcel terlihat sangat bingung bagaimana cara menjelaskan semuanya kepada Fani.
"E-eh ... itu tadi gua pikir lo diculik," ujar Marcel beralasan.
Marcel kok bodoh banget jadi orang! Alasan apa itu? Gak nyambung banget.
Doni merasa tidak suka melihat Marcel ada di situ.
"Idupin lampunya ... surprise gua gagal gara-gara cowok banci ini," ucap Doni terhadap salah satu temannya.
Marcel merasa emosi karena Doni mengatainya banci. Namun dia berusaha meredam amarahnya karena ada Fani di situ.
"Tadi kenapa lo teriak?" tanya Marcel.
"He-he ... tadi gua kaget, Kak ... soalnya Doni munculnya mirip hantu," jawab Fani sembari nyengir kuda.
Lampu sudah hidup. Wajah orang-orang yang berada di dalam rumah itu pun terlihat jelas. Terlihat pula sebuah kue tart bertuliskan "Happy 1st Year Anniversary" diatas meja.
"Jadi ini acara apa sebenernya?" tanya Marcel gagal paham.
"Eh! Lo udah bikin kacau acara surprise satu tahun jadian gua sama Fani!" bentak Doni.
"Sekarang lo pergi, deh!" usir Doni kepada Marcel.
Marcel yang merasa bingung pun perlahan melangkahkan kakinya. Namun dia merasa ragu karena dia mengetahui bahwa Doni tidak baik untuk Fani, setelah apa yang dilihatnya tadi pagi.
Grep!
Fani meraih lengan Marcel dan mencoba menghentikannya.
"Gak usah pergi, Kak ... disini aja sama kami," pinta Fani sembari memberi kode tatapan kepada Doni.
Doni sepertinya mengerti dan menganggukkan kepalanya walaupun hatinya merasa tidak senang.
"Lo boleh gabung tapi jangan macem-macem sama Fani! Inget ya ... Fani itu pacar gua!" ujar Doni.
Marcel merasa tidak enak tapi masih ada rasa khawatir terhadap Fani. Akhirnya dia pun memutuskan untuk ikut berpesta bersama mereka.
***
Marcel hanya duduk bagai orang bodoh sembari melihat kemesraan Doni ke Fani. Ada perasaan tidak suka saat Doni merangkul Fani dengan mesra.
Kok gua ngerasa kesel, ya? Ngeliat Fani sama cowoknya itu mesra-mesraan. Masa sih gua ada perasaan sama Fani? Tapi ngapain juga gua ngikutin dia sampe sini kalo gua gak ada perasaan ke dia? Ah! Tau lah!
Waktu menunjukkan hampir pukul sebelas malam. Marcel merasa penat pun permisi untuk pergi ke teras depan. Tiba-tiba ponsel Marcel bergetar, ternyata yang menelepon adalah adiknya.
In call.
__ADS_1
"Kenapa, Dek?"
"Kak! Ayah, Kak! Hiks ... hiks...."
"Ayah kenapa, Dek?"
"Ayah kecelakaan, Kak! Kakak cepetan kesini."
"Tapi ayah gak apa-apa, kan?"
"Ayah langsung dibawa ke UGD rumah sakit umum, Kak ... cepetan kesini, Kak!"
Tut!
End call.
Marcel langsung terduduk lemas di lantai. Fani yang kebetulan keluar, melihat Marcel yang terduduk lemas pun merasa khawatir.
"Kenapa, Kak?" tanya Fani.
"Ayah gua kecelakaan, Fan...." jawab Marcel.
"Terus gimana, Kak?" Fani terlihat ikut panik.
"Gua harus langsung kesana," ujar Marcel sembari berdiri.
"Tapi kan jauh, Kak! Kakak mau nyetir sendiri? Lagian ini udah malem kalo mau naik pesawat juga," ucap Fani.
"Gua bisa bawa mobil sendiri kesana," ucap Marcel.
"Tenangin diri dulu, Kak," ujar Fani.
"Gimana gua bisa tenang, Fan....," sahut Marcel.
"Kakak gak perlu terburu-buru ... besok pagi baru kakak berangkat naik pesawat, kalaupun kakak malam ini berangkat naik mobil, sampenya juga besok," saran Fani.
Fani mengusap-usap punggung Marcel untuk menenangkan dirinya. Hal itu pun tidak sengaja dilihat oleh Doni. Doni pun langsung marah dan tiba-tiba menarik tangan Fani lalu menampar pipinya.
Plak!
"Udah tau ada cowoknya! Masih berani mesra-mesraan sama cowok lain!" teriak Doni.
Fani pun menangis sembari mengusap pipinya. Marcel yang melihat hal itu pun langsung tersulut emosi. Dia pun langsung memukul wajah Doni.
"Cowok apaan yang berani mukul cewek!" pekik Marcel.
"Apa urusan lo brengsek!" sahut Doni sembari membalas pukulan Marcel tepat di pipinya.
Akhirnya terjadi baku hantam antara Marcel dan Doni. Perkelahian itu pun membuat teman-teman Doni yang di dalam rumah keluar. Mereka pun berusaha melerai perkelahian antara Marcel dan Doni.
Doni masih terlihat begitu emosi dan mengusir Fani. "Pergi sana sama cowok banci kedemenan lo!"
__ADS_1
"Tapi, Don ... kamu salah sangka," jelas Fani sembari masih menangis.
Marcel yang terlihat begitu kesal pun menarik tangan Fani dan membawanya pergi dari rumah itu.
"Ayok kita pergi, Fan!" ajak Marcel.
"Tapi, Kak...."
Marcel tetap menarik tangan Fani dan menjauh dari rumah itu. Mereka sudah berjalan cukup jauh dari rumah itu. Namun Fani sepertinya tidak rela meninggalkan Doni.
"Berhenti, Kak!" teriak Fani.
Fani pun melepaskan genggaman tangan Marcel.
"Hari ini tepat kami satu tahun berpacaran tapi gua malah buat Doni marah ... gua gak bisa ninggalin dia gitu aja," ujar Fani.
Marcel hanya terdiam dan Fani pun berjalan kembali menuju rumah tadi untuk menemui Doni.
"Segitunya lo cinta sama dia, Fan?" tanya Marcel tiba-tiba.
Pertanyaan Marcel sontak membuat Fani menghentikan langkahnya.
Fani menghela nafasnya panjang. "Tentu, Kak ... Doni selalu ada buat gua. Walaupun tempramennya buruk tapi dia baik dan gua nyaman deket dia. Gua sayang sama dia, Kak."
Marcel pun membeku karena pernyataan dari Fani. Mungkin dia patah hati mendengar pernyataan bahwa Fani benar-benar mencintai dan menyayangi Doni.
"Kalo perasaan lo ke gua?" tanya Marcel lagi.
Fani tak langsung menjawab, dia menatap wajah Marcel lekat. Sosok Marcel yang tampan dan juga idola nomor satunya memang sangat mempesona.
"Fani suka sama kakak hanya sebagai fans ke idola," jawab Fani.
Rasanya hati Marcel seperti tersambar petir mendengar pernyataan Fani. Ada sensasi menyesakkan yang dirasakan oleh Marcel. Kala itu Marcel baru menyadari benar perasaannya kepada Fani.
Marcel perlahan berjalan mendekati Fani. Mata sendunya menatap wajah Fani.
"Apa perasaan suka itu gak bisa berubah? Dari seorang fans yang menyukai idolanya jadi seorang wanita yang menyukai lawan jenisnya?" tanya Marcel lagi.
Deg!
Jantung Fani mendapatkan serangan yang luar biasa karena pertanyaan Marcel. Tubuhnya pun langsung kaku tak dapat bergerak.
Marcel masih menatap lekat wajah Fani, perlahan tangannya meraih dagu Fani dan mulai mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu. Mata sendunya pun perlahan terpejam sebelum mendaratkan sebuah ciuman ke bibir mungil milik gadis yang masih mematung itu.
Fani pun memejamkan matanya saat mendapatkan ciuman tiba-tiba dari Marcel. Tubuhnya bergetar seperti ada sebuah sengatan listrik yang mengalir. Entah mengapa rasanya dia pun menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh bibir Marcel.
.
.
.
__ADS_1
***
Next episode comming soon 😁👍