Perfect Idol

Perfect Idol
Pertemuan kembali


__ADS_3

Di dorm Number One.


Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Bintang dan Hira masih asik ngobrol berdua di depan ruang TV. Sedangkan Jerry, Marcel dan Dean hanya bisa mengintip mereka berdua sambil menatap nanar. Tirta tidak ada di dorm karena dia belum pulang.


"Coba waktu itu Kak Hira terima Jerry jadi pacarnya, pasti yang disana bukan Kak Bintang tapi Jerry," ujar Jerry sedih.


Pletak!


"Ngimpi lu!" Dean menjitak kepala Jerry sambil melenggang pergi ke kamarnya yang di lantai atas.


"Ish! Kak Dean! Sakit tau!" protes Jerry sambil mengusap kepalanya.


Karena kericuhan yang mereka buat, akhirnya Bintang dan Hira pun sadar kalau mereka berdua sedang diawasi.


"Wah pada ngintip, ya?" selidik Bintang.


"Gak! Cuma kebetulan mau keluar terus liat orang pacaran," kilah Marcel sambil berjalan kearah pintu keluar dan memutar-mutar kunci mobilnya.


"Yang ngintip tuh, si Jerry sama Dean," tambah Marcel.


Tiba-tiba Dean menyahut dari lantai atas. "Enak aja! Fitnah itu!".


"Jerry gak ngintip cuma ngeliat," ujar Jerry ngambek dan masuk ke kamarnya.


Marcel pun terkikik geli melihat kelakuan teman-temannya yang salah tingkah.


"Gua pergi keluar dulu, ya ... bosen pengen jalan-jalan," ucap Marcel.


"Oke, Kak!" sahut Bintang.


"Jangan lupa pulangin anak orang kerumahnya, jangan malem-malem."


Marcel memperingatkan Bintang yang terlihat masih asik berpacaran dengan Hira.


.


.


.


***


Marcel menaiki mobilnya dan mulai mengendarai mobilnya itu berjalan kearah taman kota yang tidak jauh dari komplek tempat tinggal mereka. Sebenarnya, Marcel juga bingung harus kemana karena dia memang tidak punya tujuan.


"Hah! Mau kemana gua ini sebenernya?"


"Tapi gua agak laper, sih. Cari makan dulu kali, ya."


Marcel pun memutar balik mobilnya untuk membeli nasi goreng kesukaannya. Penjual nasi goreng itu, biasanya mangkal didekat komplek dorm mereka. Baru saja sampai dan belum sempat turun dari mobil, Marcel sepertinya melihat sosok gadis yang dikenalnya. Ternyata gadis itu adalah Fani.

__ADS_1


"Eh! Itu kan temennya Hira, si Fani. Ngapain dia makan nasgor disitu?"


Pertanyaan Marcel pun terjawab saat ada seorang lelaki yang mengusap lembut pucuk kepala Fani. Bahkan mereka berdua terlihat sangat mesra dan bahagia dengan bercanda tawa bersama.


"Ah! Sama pacarnya? Jadi dia udah punya pacar?"


Sepertinya Marcel sedikit kecewa karena Fani sudah memiliki kekasih. Padahal saat mereka liburan di Maldives, Marcel sedikit tertarik kepada Fani.


"Ah! Masa bodo! Gua laper jadi gua turun aja, deh."


Marcel mengambil masker yang ada didalam dasbor mobilnya. Marcel pun turun dan memesan nasi goreng kepada Abang penjual nasi goreng langganannya.


"Bang! Satu porsi, biasa pedes."


"Eh! Tumben pake masker, biasanya santai aja, lagian kan udah malem gini," ujar Abang penjual nasi goreng itu.


Ampun dah! Abang nasgor ini gacor amat, gua kan sengaja pake masker biar gak dikenal sama si Fani, batin Marcel.


"Ha-ha-ha, saya lagi flu, Bang," ujar Marcel beralasan.


Fani sepertinya mengenali sosok Marcel walaupun Marcel memakai masker dan hoodie yang menutupi kepalanya. Fani pun menghampiri Marcel.


"Kak Marcel!" sapa Fani sambil menepuk pundaknya.


Marcel pun terkejut saat Fani menyapa dirinya.


Gatot! Gagal total gua menghindari Fani! Hadeh....


Fani tersenyum kearah Marcel dan terlihat sangat senang bisa bertemu dengan idola nomor satunya itu. Tentu saja Fani dapat mengenali Marcel, bisa dibilang karena sangking nge-fans berat dengan Marcel, dia tahu apapun tentang idolanya itu.


"Jelas tau, dong! Fani gitu, he-he."


Cowok yang merupakan pacar Fani pun menghampiri Fani dan Marcel. Wajahnya terlihat tidak suka memandang kearah Marcel. Cowok itu pun terlihat seram dengan tato yang memenuhi tangannya. Gayanya pun mirip layaknya anak punk.


Buset! Fani suka sama cowok ginian? Tadi sumpah gak keliatan seremnya, pas deket eh serem banget, mana tatoan kayak gitu, batin Marcel.


"Siapa dia, Beib?" tanya Doni yang merupakan pacar Fani.


"Kamu tau gak dengan Number One? Dia ini Marcel Number One!" jelas Fani antusias.


"Oh! Sekumpulan banci yang suka joget itu, ya?" ujar Doni dengan nada suara sedikit mengejek.


"Ih! Bukan!" protes Fani.


Marcel terlihat kesal dengan perkataan dari Doni. Namun dia lebih memilih menahan amarahnya dan bersikap tenang karena itu adalah tempat umum dan ada Fani disana. Marcel hanya tidak ingin membuat keributan disana.


"Ha-ha-ha, kami memang suka joget tapi kami bukan banci," protes Marcel.


Fani pun memperkenalkan Marcel dengan Doni. Mereka berdua saling berkenalan walaupun hati mereka tidak suka. Semua itu dilakukan hanya karena Fani yang meminta mereka.

__ADS_1


Nasi goreng mereka pun sudah jadi, Fani meminta Marcel untuk duduk dan makan bersama mereka. Marcel sebenarnya ingin menolak tapi mulutnya tidak sanggup mengatakannya. Sebelum makan, tentu Marcel membuka maskernya. Hal itu membuat Fani terkagum melihat keindahan sosok idolanya itu.


Marcel ganteng banget! Sumpah, deh! Tapi dia seorang artis terkenal, mungkin kalo berharap pacaran sama dia kemungkinannya cuma 0,01%. Udah bisa kenal sama dia aja gua bersyukur. Lagian gua udah punya Doni, walaupun kelihatannya dia anak nakal tapi hatinya baik, batin Fani.


Doni yang melihat Fani sedang terkagum melihat kearah Marcel pun kesal.


Sialan! Si Fani kayaknya nge-fans banget sama ini cowok. Emang ganteng dan keren, sih. Dia ganteng dan keren kan karena dia artis yang banyak duit, wajar aja. Tapi gua gak suka aja liat Fani segitunya mandang dia, batin Doni.


Marcel yang sedang menikmati nasi goreng pun merasa tidak nyaman karena diperhatikan. Seketika nafsu makannya menghilang entah kemana. Rasanya dia ingin cepat-cepat pergi dari tempat itu, bukan karena Fani tapi karena ada Doni yang sungguh membuatnya tidak nyaman.


Marcel dengan terburu-buru menghabiskan nasi gorengnya. Tak sengaja dia pun tersedak dan terbatuk-batuk.


"Uhuk ... uhuk ... uhuk."


Fani begitu panik dan langsung memberikan air minum untuk Marcel. Doni yang melihat hal itu pun menjadi geram.


"Gak usah drama, pake acara batuk-batuk gitu," ujar Doni.


Marcel yang mendengar hal itu pun menjadi kesal karena dia tidak berpura-pura.


"Maaf gua gak pura-pura," protes Marcel.


"Cih," dengus Doni kesal.


Doni pun langsung beranjak dari tempat duduknya dan menarik tangan Fani.


"Yuk kita pulang!"


Fani menepis tangan Doni. " Nanti dulu kenapa! Gak liat kalo Marcel abis tersedak nasgor?"


Doni makin kesal dan marah, akhirnya dia meninggalkan Fani. "Oke! Sono lu sama cowok banci itu! Gua gak butuh cewek kayak lu!"


Fani pun terkaget mendengar ucapan Doni. Dia mencoba menahan Doni tapi semuanya sia-sia. Doni tetap meninggalkannya pergi dan melajukan motornya kencang.


"Doni! Hiks ... hiks, kamu kok tega, sih!"


Fani menangis tersedu-sedu melihat kepergian Doni dengan amarah yang membara.


Marcel merasa tidak tega dan langsung menenangkan Fani.


"Udah-udah, yang sabar," ucap Marcel sambil menepuk-nepuk pundak Fani.


.


.


.


***

__ADS_1


Next Episode 😁👍>>


__ADS_2