Perfect Idol

Perfect Idol
Penyelesaian


__ADS_3

Bintang kembali bergeser ke podium dan mengumumkan sesuatu yang membuat Nyonya Ella makin panas dan bahkan dia pingsan setelah mendengar hal tersebut.


"Saya pun ingin mengumumkan bahwa saya bukanlah anak kandung Nyonya Ella. Ibu kandung saya sekarang sedang dirawat di Rumah Sakit Medika Gemilang," ungkap Bintang.


"Saya mohon maaf sebesar-besarnya kepada kalian semua terutama The One -- fandom dari Number One, karena membohongi kalian semua. Selama ini, yang kalian ketahui bahwa saya adalah anak dari seorang pengusaha sukses tapi kenyataannya bukan."


Cleo yang mendengar hal tersebut pun langsung terkejut karena baru mengetahui kenyataan bahwa Bintang bukanlah anak kandung Nyonya Ella.


"Yang terakhir, saya minta kepada pihak yang berwajib untuk mengusut kasus penculikan dan percobaan pembunuhan terhadap kekasih saya -- Hira dan teman satu grup saya -- Tirta, yang dilakukan oleh Nyonya Ella."


Bintang pun mengucapkan salam perpisahan dan pergi meninggalkan tempat jumpa pers. Setelah Bintang pergi pihak keamanan langsung mengamankan Nyonya Ella yang pingsan itu.


Setelah penyataan dari Bintang, banyak sekali opini publik yang berseliweran di dunia Maya.


.


.


.


***


Satu minggu setelah jumpa pers.


Kegiatan keartisan para member Number One dibekukan sementara dan jadwal come back mereka pun ditunda. Mereka hanya datang ke agensi hanya untuk sekedar berlatih atau hanya sekedar berkunjung.


Nyonya Ella pun dituntut oleh jaksa penuntut umum dengan hukuman 5 tahun penjara karena terbukti melakukan tindak pidana penculikan dan percobaan pembunuhan terhadap Hira dan Tirta.


Pers pun sudah mengetahui bahwa Bintang adalah anak kandung dari Pak Agung -- CEO Smart Entertainment dengan seorang wanita yang bernama Puspa.


Pak Agung tidak bisa mengelak lagi, karena dari mulut Bu Puspa dan Bintang sendiri yang mengatakan bahwa dia adalah ayah biologis dari Bintang.


Pak Erlangga -- ayah Tirta pun meminta maaf kepada anak dan istrinya karena perbuatannya selama ini. Dia tidak menyangka bahwa Nyonya Ella tak segan-segan menghabisi nyawa putra sulungnya demi tujuan pribadinya.


Kediaman keluarga Dewantara.


"A-ayah minta maaf kepada kalian," lirih Pak Erlangga.


"Kami selalu bersedia untuk memaafkan ayah," sahut Tirta dengan mata yang berkaca-kaca.


Nyonya Amalia menangis haru karena mendengar suaminya meminta maaf kepadanya dan anak-anaknya. Gina -- adik perempuan Tirta pun menangis bahagia karena keluarga hangat yang dia idam-idamkan mungkin akan dia rasakan setelah ini.


Keluarga itu pun saling berpelukan dalam suasana haru.


.


.


.


***


Atap gedung Smart Entertainment.

__ADS_1


Bintang berdiri dipinggiran atap sambil memandang hiruk pikuk kota Jakarta. Suasana sore hari membuat panas matahari tidak terasa menyengat di kulit, tapi malah terasa hangat.


Hira yang baru datang pun mensejajarkan posisi Bintang dan berdiri disampingnya.


"Kamu udah lega?" tanya Hira.


Bintang mengangguk sembari tersenyum.


"Aku lega banget karena akhirnya publik tau kalo Bintang bukanlah anak pengusaha sombong sukses yang bernama Ella," ungkap Bintang.


Bintang menghela napasnya sejenak sebelum melanjutkan ucapannya.


"Tapi akhirnya mereka tau kalo Bintang sebenernya anak yang tidak diinginkan alias anak haram," tambah Bintang lagi.


Hira menyentuh bibir Bintang dengan jari telunjuknya. "Sstt ... jangan bilang gitu! Ibu kamu sayang banget sama kamu, jangan bilang kalo kamu anak yang gak diinginkan!"


Bintang tersenyum dan menyingkirkan jari Hira dari bibirnya. Dia menggenggam erat kedua tangan gadis yang amat dicintainya itu.


"Kamu juga inginkan aku, kan?" goda Bintang sembari mendekatkan wajahnya ke wajah Hira.


Wajah Hira berubah merah layaknya tomat matang yang segar. Dia begitu malu mendengar kalimat yang mengandung unsur menggoda dari mulut Bintang.


"Kamu jangan goda aku terus, dong!" protes Hira.


Bintang pun tertawa melihat reaksi malu-malu dari Hira. Dengan gemas dia mengacak rambut gadis berkacamata itu.


"Makanya sesekali kamu dong yang godain aku," tanggap Bintang.


Hira yang mendengar hal itu pun hanya mencebikan bibirnya.


Tiba-tiba tanpa aba-aba dan tanpa disangka, Hira mengecup bibir Bintang sekilas.


Cup!


Bintang terkesiap dan Hira malah kabur berlari meninggalkannya. Bintang yang sadar pun langsung mengejar Hira.


"Kamu berani-beraninya curi start! Awas kamu!" ancam Bintang sambil tersenyum dan berlari mengejar Hira.


"Biarin! Wlek!" Hira menjulurkan lidahnya mengejek Bintang.


Kedua muda-mudi itu larut dalam romantisme masa muda.


.


.


.


***


Cleo mencoba memberanikan diri mendekati Dean yang sedang fokus membuat kopi di pantry. Gadis itu terlihat ragu untuk menyentuh pundak Dean yang berada tepat didepannya.


Tiba-tiba Dean pun berbalik badan dan tak sengaja menumpahkan kopi di baju Cleo.

__ADS_1


"Sorry! Gua gak sengaja," ucap Dean panik sembari mencoba membersihkan baju Cleo dengan sapu tangan yang diambil dari saku celananya.


Lagi-lagi Cleo salah fokus melihat sapu tangan yang digunakan oleh Dean dan mengambilnya. Cleo melebarkan sapu tangan itu dan melihat ada namanya tertulis di sapu tangan itu.


"Kakak dapat sapu tangan ini dari mana? Kenapa ada banyak?" selidik Cleo.


Dean pun terkejut, dia menarik napasnya perlahan dan menarik lengan Cleo untuk duduk di kursi yang berada di pantry. Dia pun mencoba menceritakan mengenai sapu tangan itu.


"Sapu tangan ini cuma ada dua, warna biru muda dan pink," ungkap Dean.


"Ini?" Cleo mengeluarkan sapu tangan pink yang diberikan Dean kepadanya saat mereka berada di Dubai.


Dean menganggukan kepalanya.


Tatapan mata Cleo menyorotkan sebuah rasa penasaran yang amat sangat.


"Sapu tangan yang pink ini kakak temuin waktu kita gak sengaja tabrakan di deket toilet agensi waktu kakak pertama kali debut. Sapu tangan ini jatuh terus kakak ambil. Mau kakak pulangin belum ketemu waktu yang pas, sampe saat di Dubai kemaren," jelas Dean.


"Kalo yang biru muda?" Cleo mencoba mengorek semua informasi.


"Ini sapu tangan yang lo kasih waktu pertama kali kita ketemu," ungkap Dean.


Cleo menautkan kedua alisnya. "K-kapan?"


"Delapan tahun yang lalu," jawab Dean.


Cleo mencoba mengingat kejadian delapan tahun yang lalu. Dia pun akhirnya mengingatnya.


"Kak Dean itu anak cowok yang nangis? Yang aku kasih permen juga?!" tanya Cleo bersemangat.


Dean hanya mengangguk.


Cleo tidak menyangka bahwa Dean masih mengingat dirinya tapi dia bahkan tidak mengenalinya sama sekali.


"Kenapa kakak gak bilang?" protes Cleo.


"He-he, gak apa-apa ... tapi sekarang lo udah tau, kan," ujar Dean.


Cleo mengangguk tapi tetap merasa tidak terima.


"Tapi harusnya kakak kasih tau dari dulu!"


"I-iya maaf, deh," sahut Dean.


Dean pun permisi untuk membuat kopi lagi karena teman-temannya sudah menunggu lama. Cleo menatap punggung Dean lama sekali sembari memikirkan sesuatu.


Apa karena hal itu Kak Dean jadi peduli banget sama gua? Padahal kejadian itu udah lama berlalu dan gua juga udah lupa.


.


.


.

__ADS_1


***


Next episode comming soon 😁👍


__ADS_2