Perfect Idol

Perfect Idol
Clear


__ADS_3

Tirta menghentikan Bintang dengan menarik lengannya. Akhirnya Bintang pun tidak jadi masuk kedalam kamar. Marcel, Dean, dan Jerry yang tadinya tertawa pun berhenti dan menatap wajah Bintang dengan pandangan memohon.


"Oke, jadi mau jelasin apa?" tanya Bintang dengan raut wajah datar.


Tirta melepaskan genggaman tangannya dari lengan Bintang.


"Gua sama Hira gak ada hubungan apa-apa, foto itu memang bener tapi itu bukan salah Hira, itu karena gua yang tiba-tiba meluk dia," jelas Tirta.


Raut wajah datar Bintang berubah menjadi seperti ingin marah. Bintang menggertakan giginya layaknya orang kesal akan sesuatu.


"Ini karena ayah gua," ujar Tirta dengan suara lirih.


Raut wajah Bintang seketika berubah menjadi khawatir. "Kenapa lo gak bilang?!"


Bintang meremas kencang kedua pundak Tirta. Dua manik berwarna cokelat kehitaman menatap tajam kearah Tirta, seakan membutuhkan penjelasan.


Belum sempat Tirta menjawab pertanyaan Bintang, Bintang pun menyadari bahwa itu adalah salahnya karena dia bahkan tidak mau mendengar penjelasan dari sahabatnya itu.


"Maaf."


"Salah gua yang keras kepala dan gak mau denger penjelasan dari lo tadi, gua malah langsung mukul lo sampe muka lo babak belur gini," ucap Bintang meminta maaf kepada Tirta.


Tirta hanya tersenyum dan langsung memeluk sahabatnya itu. Marcel, Dean dan Jerry pun merasa terharu karena Bintang dan Tirta sudah berbaikan kembali. Akhirnya satu persatu dari mereka bertiga mulai memeluk Bintang dan Tirta sehingga mereka berlima saling berpelukan. Setelah melepaskan pelukan, mereka saling menatap dan tertawa.


"Temuin Hira, deh. Pasti dia gak tenang karena lo marah sama dia tadi," ujar Tirta.


"Oke! Gua bakal temuin dia sekarang," teriak Bintang bersemangat.


Bintang langsung berlari turun ke lantai bawah dan hendak menemui Hira.


"Bin! Ada pesan dari Hira," teriak Marcel.


Seketika Bintang pun berhenti berlari. "Apa?"


"Hira bilang katanya Hira sayang banget sama Bintang!" Marcel menyampaikan pesan singkat dari Hira yang dia dapat saat mengantar Hira tadi.


Bintang seketika tersenyum saat mendengar pesan dari Hira melalui Marcel. Dia pun melambaikan tangannya kearah teman-temannya sambil bergegas menuruni tangga.


"Hati-hati paparazi!" teriak Dean mengingatkan.


.


.


.


***


Tok-tok-tok!

__ADS_1


Suara ketukan pintu terdengar dari dalam kamar Hira. Baru saja Hira membuka pintu terlihat Bintang yang sedang tersenyum, Hira sempat mematung karena bingung. Bintang langsung memeluk kekasihnya yang masih mematung itu.


"Maafin aku," ucap Bintang sambil memeluk Hira.


Hira hanya mengangguk sambil membalas pelukan dari Bintang.


Mereka saling melepaskan pelukan dan Hira menarik lengan Bintang untuk masuk kedalam. Hira mengiring Bintang untuk duduk di tempat tidurnya dan Hira duduk disampingnya. Bintang hanya menatap Hira dengan tersenyum.


"Aku takut ada paparazi jadi aku suruh kamu masuk, jangan berpikir aneh-aneh," tukas Hira.


"Iya, aku baru sadar kalo aku ini publik figur, ha-ha!" Bintang menanggapi ucapan Hira dengan tertawa.


"Aku sama Tirta gak ada hubungan apa-apa, kemaren malem dia datang karena dia baru aja ada masalah dengan ayahnya," jelas Hira tiba-tiba.


Bintang memutar badannya kearah Hira dan memegang kedua pundak Hira sambil menatapnya dengan senyuman.


"Aku tau, kok."


"Kamu udah tau?" tanya Hira.


Bintang menggangguk. "Aku yang terlalu keras kepala karena gak mau dengerin penjelasan kalian."


Hira pun memeluk Bintang lagi dengan erat. Bintang membalas pelukan Hira dengan membelai lembut rambut panjang Hira yang menjuntai.


"Bintang juga sayang banget sama Hira," bisik Bintang ditelinga kanan Hira, masih sambil memeluknya.


Seketika rona wajah Hira memerah karena merasa malu mendengar ucapan Bintang dan langsung melepaskan pelukannya ke Bintang.


Bintang tersenyum smirk dan menyentuh dagu Hira dengan tangannya sehingga wajah Hira terangkat dan rona merah wajahnya terlihat jelas.


"Sampai ketemu besok di agensi, aku pulang dulu," ucap Bintang sambil tersenyum.


Cup!


Bintang pun mengecup lembut kening Hira dan beranjak untuk pergi. Sedangkan Hira masih mematung dan tak dapat berbuat apa-apa. Setelah Bintang pergi, Hira merebahkan tubuhnya dan berguling-guling karena hatinya berdegup kencang akibat perlakuan Bintang barusan.


.


.


.


***


Keesokan paginya, Hira pun bergegas untuk pergi menuju Smart Entertainment. Tugas Hira sebagai penerjemah baru tidak mengharuskannya untuk selalu hadir di agensi. Namun setiap hari pukul delapan pagi, dia harus hadir ke agensi untuk melakukan absensi kehadiran dan setiap jam empat sore harus melakukan absensi pulang. Bisa dibilang Hira merupakan pekerja yang dibutuhkan saat ada salah satu grup idola dari agensi yang akan melakukan kegiatan di luar negeri sehingga membutuhkan seorang penerjemah.


Hari ini Hira baru saja akan mendapatkan kartu pengenal sebagai salah satu staf agensi. Saat menemui pihak HRD untuk mengambil id card-nya, banyak staf yang memandang Hira dengan tatapan sinis dan aneh. Hira merasa tidak nyaman dengan tatapan mereka.


"Nak Hira, ini id card milikmu, selamat bergabung dengan Smart Entertainment," ucap Kepala HRD yang bernama Bu Karin.

__ADS_1


"Terimakasih, Bu." Hira membungkukkan separuh badannya tanda penghormatan.


"Jangan terlalu sungkan, Nak, dan jangan risau dengan perlakuan orang-orang yang berada di agensi ini," pesan Bu Karin sambil tersenyum.


Hira hanya mengangguk dan tersenyum kepada Bu Karin.


***


Hira pun berjalan menuju arah pintu keluar agensi. Baru beberapa langkah berjalan keluar dari ruang HRD, ponsel Hira pun bergetar tanda ada sebuah pesan masuk. Pesan itu berasal dari Bintang.


Drrt-drrt-drrt!


Chat on.


"Lihat keatas."


"Ada apa emangnya?"


"Ada aku 😁."


Chat off.


Hira pun mendongak keatas dan melihat Bintang sedang melambaikan tangannya sambil tersenyum kepadanya. Hira pun membalas senyuman Bintang dengan senyuman yang bahkan lebih manis dari gula.


Bintang pun turun menghampiri Hira dan langsung menariknya menuju salah satu tempat yang ada di agensi.


"Kamu mau ngajak aku kemana?" tanya Hira penasaran.


"Udah ikut aja," jawab Bintang singkat.


Bintang mengajak Hira ketempat favoritnya waktu itu yaitu rooftop gedung agensi. Belum sempat Hira bertanya lagi apa tujuan Bintang mengajaknya ke rooftop, Bintang sudah mengeluarkan sebuah kalung perak cantik berliontin bintang dari saku celananya.


"Ini buat kamu, biar kamu selalu ingat kalau kamu itu sudah milik seseorang yang bernama Mahendra Bintang Agustyo."


Bintang tersenyum manis kepada Hira, sedangkan Hira hanya menatap Bintang dengan kondisi yang masih kaget karena Bintang membuat kejutan yang tiba-tiba. Namun akhirnya Hira pun mengangguk dan tersenyum.


Bintang pun melingkarkan kalung tersebut di leher milik Hira. Bintang terlihat sangat senang ketika melihat kalung itu sudah terpasang di leher kekasihnya itu.


"Aku sayang kamu," ungkap Bintang sambil memegang kedua pipi Hira.


"Aku juga sayang kamu," balas Hira sambil memeluk Bintang.


.


.


.


***

__ADS_1


^Unch so sweet hihi^


Jangan lupa tekan tombol like, vote dan bintang 5 bagi yang belum... agar author lebih semangat menulis... Terimakasih 😁👍


__ADS_2