Perfect Idol

Perfect Idol
Kaget


__ADS_3

Marcel dan Tirta lari pagi mengitari komplek dorm mereka. Sedangkan Bintang dan Dean berada di dalam dorm, mereka lebih memilih untuk olahraga dengan menggunakan treadmill yang tersedia ketimbang keluar.


Komplek perumahan itu, merupakan komplek yang tidak sembarang orang bisa masuk. Hal itu membuat Marcel dan Tirta tidak khawatir akan dikejar-kejar fans mereka saat berolahraga.


Saat sedang asyik mereka berlari tiba-tiba langkah kaki Marcel pun terhenti. Tirta yang melihat pun ikut menghentikan langkahnya.


"Kenapa, Kak?" tanya Tirta penasaran.


"Lo liat kan cowok itu," tunjuk Marcel kepada seorang pemuda yang sedang mesra-mesraan dengan gadis di depan salah satu rumah.


"Iya liat ... emang gak ada akhlak pagi-pagi udah mesra-mesraan," sahut Tirta.


"Itu pacarnya Fani," ujar Marcel.


"Fani siapa?" Tirta sejenak berpikir dan akhirnya mengingatnya.


"Ah! Fani temennya Hira? Masa sih, Kak? Tapi kok malah mesra-mesraan sama cewek lain." Tirta terlihat heran dan menggaruk kepalanya.


"Iya Fani temennya Hira ... gak tau juga, mungkin udah putus kali," ujar Marcel.


"Ya kalo udah putus biarin," sahut Tirta.


"Kalo belom, gimana?" tanya Marcel sembari menatap Tirta.


Tirta hanya mengendikan bahunya dan mengangkat kedua tangannya.


Tak berapa lama, pacar atau mungkin mantan pacar Fani yang bernama Doni itu pun pergi dari rumah gadis itu. Dengan segera Marcel pun berlari menghampiri gadis itu sebelum dia masuk kedalam rumahnya.


"Maaf permisi, Mbak," sapa Marcel.


Gadis manis bertubuh mungil dan berkuncir kuda itu pun terkejut karena ada seorang pemuda tampan tiba-tiba menyapa dirinya.


Ini orang apa bukan, sih?! Gantengnya gak ketulungan, batin gadis itu.


"E-eh ... iya, ada apa?" tanya gadis itu canggung.


"Maaf mau tanya ... itu yang tadi pacarnya, ya?" tanya Marcel.


"I-iya! Tapi bisa langsung aku putusin demi kamu!" teriak gadis itu spontan.


"Hah?"


Sontak Marcel pun terkejut dan bingung dengan apa yang terjadi. Dia hanya bertanya bukan mau menyatakan cinta kepada gadis itu. Namun sepertinya gadis itu terlalu kepedean.


"Pfftt...."


Tirta yang baru datang pun langsung berusaha menahan tawanya. Walaupun dari jauh dia bisa mendengar teriakkan gadis itu.


Ya Tuhan ... yang satu ini lagi super ganteng! Mimpi apa gua semalem, kok bisa ketemu dua orang cogan pagi-pagi, batin gadis itu.


"Maaf, Mbak ... dia cuma bertanya. Permisi, Mbak," ucap Tirta sembari menyunggingkan senyuman berlesung pipinya kepada gadis itu.


Tak berapa lama mereka pergi, gadis itu malah pingsan. Sehingga membuat mereka panik.


"Waduh ... Ta! Lo senyumin, ya? Sampe pingsan gitu?" tanya Marcel.


"Kalo gak senyum ada yang kurang, Kak," jawab Tirta sambil nyengir.

__ADS_1


Marcel menghela nafasnya dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Satu ... dua ... tiga! Kabur!" teriak Marcel sambil berlari kencang.


"Tunggu, Kak!" teriak Tirta sembari berlari mengejar Marcel.


.


.


.


***


Malam harinya.


Toko roti Kiss Bread.


Fani terlihat sangat sibuk melayani para pembeli. Fani jadi sendirian menjaga toko sejak Hira berhenti dari pekerjaannya.



"Mbak saya mau roti isi coklat, keju dan kacang," pinta pria bermasker dan topi hitam.


"Baik! Tunggu sebentar."


Fani dengan cekatan membungkus roti pesanan pria itu.


"Ini silahkan ... jadi totalnya 24 ribu," ucap Fani.


Pria itu mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu dan memberikan kepada Fani.


"E-eh tapi ... Mas!" teriak Fani.


***


Pria itu tidak memperdulikan Fani dan langsung keluar. Pria itu pun terburu-buru masuk kedalam mobilnya. Dia pun langsung melepaskan masker dan topinya setelah duduk mantap di kursi kemudi mobilnya.


"Huah! Gimana, sih?!"


Pria yang ternyata Marcel itu pun merutuki dirinya sendiri.


Marcel melihat kearah toko roti tempat Fani bekerja.


"Gua kan tinggal ngomong kalo ini gua ke dia ... tapi kok susah banget, ya?"


"Lagian masa sih dia gak kenal gua? Biasanya fans sejati itu paham walaupun idolanya pake masker," ujar Marcel sedikit kesal.


***


Waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Marcel ternyata masih berada di depan toko roti tempat Fani bekerja. Dia memandangi Fani yang sedang beres-beres dan hendak menutup toko dari dalam mobil.


Tak berapa lama, datanglah seorang laki-laki dengan menggunakan sebuah motor Vespa berwarna kuning. Laki-laki itu ternyata Doni yang hendak menjemput Fani.


"Kok dia jemput Fani? Jadi belum putus?" gumam Marcel.


Dilihatnya, Fani mencium punggung tangan kanan Doni dan memakai helm yang diberikan oleh Doni. Akhirnya mereka berdua pun pergi meninggalkan toko roti tersebut.

__ADS_1


Marcel pun reflek menghidupkan mesin mobilnya lalu mengikuti kemana Fani dan Doni pergi. Sepanjang jalan dia terlihat kesal karena Fani memeluk Doni erat, bahkan wajah Fani terlihat sangat bahagia.


"Fani! Dia itu cowok brengsek! Ngapain sih masih dipacarin," gerutu Marcel.


Motor Doni mengarah kearah yang berbeda dengan arah ke kosan Fani. Marcel yang melihat itu pun sontak mengerutkan keningnya.


"Kok kearah yang berlawanan? Emang mereka mau kemana?"


***


Fani protes kepada Doni karena Doni membawanya kearah yang berlawanan dengan arah kosannya.


"Kita mau kemana?" tanya Fani.


"Udah ikut aja ... aku mau buat kamu senang," jawab Doni.


"Mau buat aku senang, gimana? Ini udah malem, kenapa gak besok aja? Besok kan aku libur," ucap Fani.


"Aku maunya malem ini," sahut Doni singkat.


Fani merasa takut tapi dia pasrah ikut dengan Doni. Dia pun mencoba untuk berpikir positif bahwa pacarnya tidak akan melakukan sesuatu yang buruk kepada dirinya.


***


Beberapa saat kemudian, Doni melajukan motornya untuk masuk di sebuah gang sempit. Marcel yang membawa mobil pun tak bisa mengikuti. Akhirnya Marcel memutuskan untuk meninggalkan mobilnya dan berjalan masuk ke dalam gang kecil itu dengan berjalan kaki.


"Mau kemana, sih? Kok mencurigakan banget," gumam Marcel.


Marcel menyusuri gang sempit itu dan akhirnya menemukan motor Vespa kuning Doni terparkir di depan sebuah rumah kecil.


Dengan rasa penasaran yang begitu besar, Marcel pun mengendap-endap untuk masuk ke halaman rumah itu.


Kok kayak gak ada kehidupan? Sepi banget gak ada suara, batin Marcel yang sudah sampai di dekat pintu masuk rumah itu.


Rasa penasaran Marcel makin membuncah karena sama sekali tidak ada suara dari dalam rumah, bahkan lampunya pun tidak dihidupkan sehingga membuat suasananya makin mencekam.


Mereka berdua ngapain, sih?


Arrgghh!


Tak berapa lama terdengar suara teriakan wanita dari dalam rumah itu. Suara teriakan itu jelas sekali adalah suara Fani. Marcel yang panik pun langsung mendobrak pintu masuk dengan sekuat tenaga.


Brak!


"Fani! Lo gak apa-apa, kan?!" teriak Marcel.


Seketika mulut Marcel pun terkunci dan tubuhnya membeku ketika melihat apa yang terjadi didepan matanya.


"Kak Marcel?" tanya Fani memastikan karena suasana begitu gelap hanya ada cahaya lilin yang menerangi.


.


.


.


***

__ADS_1


^Hayo Marcel liat apaan 🙈🙈^


Next episode comming soon 😁👍


__ADS_2