
Hari itu dari pagi hingga sore, Fani terlihat begitu gelisah, pikirannya penuh dengan rasa bersalah kepada Marcel. Dia pun mencoba menghubungi Hira untuk bercerita tentang apa yang terjadi dengan dia dan Marcel.
Sore itu, akhirnya Fani pun memantapkan hatinya untuk menemui Hira di agensi Smart Entertainment walaupun mungkin dia akan bertemu dengan Marcel di sana.
Terlihat Hira melambaikan tangannya dari arah dalam gedung agensi.
"Fan! Sini masuk," panggil Hira.
Fani pun masuk ke dalam gedung agensi.
"Mau cerita apa, Fan?" tanya Hira penasaran.
"Mending ceritanya di luar aja, deh," saran Fani.
"Kenapa gak di dalem aja?" ujar Hira.
Fani menarik lengan Hira dan membisikkan sesuatu. "Ada Kak Marcel, gak?"
Hira menggeleng. "Gak ada, dia kan lagi ke Palembang ... ayahnya kecelakaan kemaren."
Gua lupa kalo ayahnya Kak Marcel kecelakaan ... kenapa sih gua malah nambahin luka dihatinya, batin Fani merutuki dirinya.
"Yuk, masuk!" ajak Hira.
***
Hira mengajak Fani ke ruangan kerjanya di Smart Entertainment. Walaupun Hira didapuk menjadi seorang penerjemah saat para artis Smart Entertainment konser dan bepergian, dia pun mempunyai pekerjaan lain disana, yaitu sebagai penerjemah surat penggemar.
Sebenarnya pekerjaan itu hanya akal-akalan Bintang agar Hira bisa berada di agensi. Pak Agung yang merasa banyak bersalah kepada anaknya itu pun menyetujui, walaupun sebenarnya Hira tidak perlu berada di agensi sepanjang hari. Namun Hira merasa senang, karena pekerjaan itu bisa menambah wawasan dan perbendaharaan kata dari berbagai negara. Hitung-hitung sebagai praktik umum dari kampus.
"Duduk, Fan...."
"Iya, Ra," sahut Fani.
Fani melihat ke sekeliling ruang kerja Hira. Ruangan itu tidak cukup besar tapi terlihat cukup nyaman.
"Ada apa dengan lo dan Kak Marcel?" tanya Hira.
Fani pun terkejut karena dia sedang fokus melihat sekeliling.
Akhirnya Fani pun menceritakan kejadian semalam. Hira mendengarkan dengan seksama apa yang diceritakan oleh Fani.
"Kak Marcel cium lo, Fan?!" teriak Hira kaget.
"Sttt ... jangan kenceng-kenceng kenapa, Ra!" protes Fani.
"Ups ... sorry, Fan ... gua kaget, sih." Hira nyengir kuda kepada Fani.
"Terus kenapa lo malah nolak Kak Marcel? Katanya lo suka banget sama dia?" selidik Hira.
Fani terdiam sejenak, dia seolah memikirkan bagaimana merangkai kata agar Hira mengerti dilema apa yang dirasakan olehnya saat ini.
"Gua minder, Ra," aku Fani kemudian.
"Minder?" Hira mengeryitkan dahinya.
Fani mengangguk.
"Kenapa? Gua dengan Bintang aja biasa aja, Fan ... Bintang idola terkenal sedangkan gua cuma anak yatim yang gak punya apa-apa," ujar Hira.
"Tapi walaupun gitu, lo pinter dan mahasiswi berprestasi ... sedangkan gua apa, Ra? Gua gak kuliah, terus gua cuma pelayan di toko roti. Lo tau kan betapa kejamnya netizen? Nanti gua auto dihujat kalo pacaran sama Kak Marcel," alasan Fani panjang lebar.
__ADS_1
Hira menghela napasnya, dia memegang kedua pundak Fani dan menatap tajam sahabatnya itu.
"Kalo lo suka dengan Kak Marcel ... perjuangkan ... apalagi dia udah nyatain cintanya ke lo, Fan ... coba pikirin baik-baik," nasihat Hira.
Fani hanya mengangguk dan dia pun pamit untuk pulang.
***
Fani berjalan keluar dari gedung agensi. Tak sengaja, Marcel yang baru tiba melihat Fani. Namun Fani tidak melihatnya. Marcel ingin mengejar Fani tapi diurungkan olehnya, karena mengingat kejadian tadi malam.
Gua gak akan ganggu lo lagi, Fan ... semoga lo tau kebenarannya tentang Doni dan dapetin cowok yang jauh lebih baik dari Doni.
Mata Marcel masih menatap punggung Fani yang mulai menjauh dari gedung agensi. Matanya begitu sendu, sama seperti tadi malam. Setelah Fani menghilang dari pandangannya, dia pun masuk ke dalam gedung agensi.
.
.
.
***
Fani pulang dengan menggunakan ojek online, tak sengaja dia berpapasan dengan Doni yang sedang membonceng seorang gadis. Gadis itu memeluk Doni dengan erat, bahkan wajah mereka terlihat bahagia.
Itu Doni?! Dia dengan cewek lain? Jadi bener kata Kak Marcel, kalo Doni emang gak baik buat gua.
Fani merasa sedih sekaligus lega, karena dia tidak perlu merasa bersalah kepada Doni. Sekarang waktunya untuk dia memantapkan hatinya, apakah benar dia hanya menyukai Marcel sebagai seorang fans atau menyukainya sebagai seorang perempuan kepada laki-laki.
.
.
.
***
Marcel berjalan masuk menuju ruang latihan. Terlihat tiga orang temannya sedang berlatih untuk mempersiapkan come back mereka jika video klip mereka selesai dibuat.
"Masih bertiga aja?" Marcel memecah konsentrasi ketiga temannya.
"Cepet banget pulangnya? Bokap gimana? Gak kenapa-kenapa, kan?" tanya Bintang penasaran.
"Alhamdulillah gak parah, kok," jawab Marcel.
"Bawa oleh-oleh pempek, gak?" tanya Dean tiba-tiba.
Tirta merangkul tubuh Dean yang kecil dengan badannya yang besar tinggi. Dia pun menggendongnya seperti mengangkat karung beras.
"Woy! Turunin gua! Kenapa lo tiba-tiba angkat gua?!" pekik Dean.
Bintang dan Marcel yang melihat hal itu pun tertawa. Kelakuan Tirta ada-ada saja, sehingga membuat mereka terhibur.
"Lagian Kak Dean ... udah tau Kak Marcel lagi berduka malah mikirin oleh-oleh," kata Tirta sambil masih mengangkat Dean.
"Turunin gua!" perintah Dean.
Akhirnya Tirta pun menurunkan Dean dan terkikik geli melihat tampang Dean yang kusut.
"Gua cuma bercanda kali!" jelas Dean.
"Ha-ha-ha!"
__ADS_1
Ketiga temannya itu menertawakan Dean yang masih terlihat kesal.
"Kalian emang bisa bikin mood gua jadi bagus," ucap Marcel.
Bintang, Tirta dan Dean pun tertawa. Mereka bertiga merangkul Marcel bersamaan.
"Semoga bokap cepet sembuh, ya." Dean menepuk punggung Marcel.
"Jerry belum balik lagi?" tanya Marcel.
Ketiga temannya menggeleng bersamaan.
.
.
.
***
Malam itu sekitar jam tujuh malam, Fani merasa galau. Akhirnya dia pun menelepon Hira dan memintanya untuk bertanya kepada Bintang, apakah Marcel sudah pulang atau belum. Tak berapa lama, Hira memberi kabar kalau Marcel sudah pulang dan berada di dorm.
Fani pun langsung bergegas berdandan dan berangkat menuju dorm Number One. Dia sudah memantapkan hatinya untuk menyatakan perasaannya kepada Marcel. Dia ingin memperbaiki yang terjadi tadi malam.
Gua udah yakin 100% kalo perasaan suka gua ke Kak Marcel itu perasaan suka dari perempuan ke laki-laki.
Sepanjang jalan wajah Fani begitu sumringah, rasanya angin dingin malam itu terasa menyejukkan hatinya.
"Neng ... ini sudah sampai," ucap tukang ojek online.
"Makasih, Bang."
Fani pun langsung bergegas dan berlari menuju dorm Number One. Dia tidak turun langsung di depan dorm tapi turun di depan pos satpam. Fani berlari dengan wajah bahagia sambil mendendangkan lagu Number One yang sangat dia sukai. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti.
Di bawah temaramnya lampu jalanan, dia melihat seorang gadis mengalungkan kedua tangannya pada leher seorang laki-laki. Gadis itu mengecup bibir laki-laki itu sekilas tepat di depan dorm Number One.
Mata Fani pun berkaca-kaca dan tanpa disadarinya air matanya pun menetes.
"Kak Marcel...." lirih Fani.
.
.
.
***
Next episode comming soon 😁👍
Jangan lupa loh baca novel temen author yang gak kalah seru 😁👍
Mimpiku Menikahi CEO - Mrs. Nicegirlz
Cinta Cowok Dingin - Yuli Sumarni
Love A Mafia King - Liska Oktaviani
__ADS_1